Faris Arjuna hanyalah pemuda kampung yang datang ke Jakarta dengan modal nekat, sebuah tas usang, dan mimpi besar untuk mengubah nasib keluarganya.
Diremehkan karena miskin, dihina karena tidak punya koneksi, Faris harus menghadapi kerasnya kehidupan ibu kota. Dari jalanan yang penuh preman, persaingan bisnis yang kejam, hingga konflik dengan orang-orang berkuasa, semuanya menjadi ujian yang harus ia taklukkan.
Namun mereka tidak tahu satu hal. Di balik penampilannya yang sederhana, Faris memiliki keberanian, kecerdasan, dan tekad yang tidak bisa dihancurkan.
Mampukah seorang anak kampung menaklukkan Jakarta dan membuktikan bahwa kesuksesan bukan milik orang kaya saja
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Malam Penentuan
Malam itu, awan hitam menutupi seluruh langit, tidak ada bintang, tidak ada bulan. Gelap gulita menyelimuti kawasan pabrik Adhitama Corp. Angin malam bertiup kencang, membawa hawa dingin dan debu-debu jalanan, menciptakan suasana yang sangat pas buat niat jahat. Di kejauhan, hanya terlihat sedikit cahaya remang dari lampu jalan yang jauh.
Di sebuah ruangan kecil di lantai dua gudang utama, tersembunyi di balik tumpukan barang tinggi, Viona duduk diam di sebelah Faris. Di sana aman, terlindung, tapi punya pandangan luas ke seluruh halaman depan dan gerbang utama. Di tangan mereka ada alat komunikasi dan layar monitor kecil yang menampilkan gambar dari kamera-kamera tersembunyi yang dipasang Faris.
Viona memeluk dirinya sendiri karena dingin sekaligus tegang. Jantungnya berdegup kencang. Di sampingnya, Faris malah duduk bersila santai di lantai, punggungnya bersandar dinding, sedang asyik ngerokok pelan-pelan. Asapnya dia tiupkan ke arah ventilasi biar nggak ketahuan. Mukanya tenang banget, seolah dia lagi nunggu makanan datang, bukan lagi mau menghadapi belasan penjahat berbahaya.
"Tenang aja Bu, tarik napas... buang... Begitu aja terus. Masih lama nih, mereka biasanya suka drama-drama dikit sebelum bertindak," bisik Faris pelan sambil senyum miring.
Belum lama berselang, di layar monitor terlihat gerakan. Dari kegelapan luar, mulai muncul bayangan-bayangan orang. Banyak sekali. Mereka berjalan merayap, diam-diam, membawa parang, celurit, gergaji, bahkan ada yang bawa botol berisi cairan minyak. Itu pasukan Mang Kuncung. Jumlahnya dua kali lipat dari kemarin, lengkap dengan senjata lebih berbahaya.
Di belakang mereka, agak jauh di pinggir jalan, terlihat mobil hitam mewah terparkir mati mesin. Di balik kaca gelapnya, ada Pak Hendro yang mengawasi sambil bicara lewat alat komunikasi kecil di telinganya.
"Mereka udah sampe, Bu. Lihat tuh, si orang tua munafik itu juga ikutan nonton dari jauh. Dih, takut ketangkep tapi kepengen nonton maling kerjain rumah orang," celetuk Faris pelan sambil menunjuk layar.
Viona menahan napas, matanya terbelalak melihat betapa banyak dan ganasnya mereka. Kalau Faris tidak ada di sini, kalau rencana ini tidak ada, pasti perusahaan ini sudah hancur rata tanah malam ini.
Mang Kuncung memberi kode diam ke anak buahnya. Mereka mulai membuka paksa gerbang samping yang sudah diketahui titik lemahnya. Kreeek... Gerbang terbuka pelan. Tanpa suara, rombongan penjahat itu masuk berbondong-bondong, menyebar ke seluruh halaman pabrik. Ada yang menjaga pintu masuk utama, ada yang langsung menuju gudang barang, ada yang bawa obor siap nyalain api.
"Semuanya masuk... pasukan saya juga udah siap ngunci semua jalan keluar. Jaring udah rapat banget, nggak ada yang bisa lolos, nggak ada yang bisa kabur," gumam Faris sambil mematikan puntung rokoknya, menaruh di kotak khusus biar nggak ada sisa api.
Dia berdiri perlahan, mengelap celananya yang sedikit berdebu. Matanya yang tadi santai, sekarang berubah tajam dan dingin.
"Udah waktunya Bu. Siap-siap ya, pertunjukan mau dimulai."
Dengan gerakan cepat, Faris menekan satu tombol besar di alat kendali di depannya.
ZRRRT!
Secepat kilat, seluruh halaman pabrik yang tadinya gelap gulita, mendadak jadi terang benderang banget. Puluhan lampu sorot raksasa yang tersembunyi di atap dan tiang-tiang menyala serentak, menyinari setiap sudut, setiap orang, setiap senjata yang mereka bawa. Terang banget sampe bikin mata mereka silau dan menutup muka.
Di saat yang sama, suara pengeras suara bergema kencang ke seluruh penjuru, suara Faris yang dingin dan mengecho.
"Malam yang indah ya, Bapak-bapak sekalian! Dingin, gelap, pas banget buat nyuri, ngerusak, sama mau bakar-bakar tempat orang. Asik banget ya kerjanya?"
Semua orang kaget setengah mati. Mang Kuncung sampai melompat kaget, parangnya hampir jatuh. Dia natap ke atas, nyari asal suara itu.
"SIAPA?! SIAPA DI SANA?! MUNCUL SANA KALAU BERANI!" teriak Mang Kuncung marah dan panik.
Belum kelar kaget mereka, tiba-tiba dari segala arah, dari balik gudang, dari balik tumpukan besi, dari atas atap, muncul belasan orang berbadan kekar berpakaian seragam gelap. Mereka semua bawa tameng dan tongkat besi, mengelilingi gerombolan Mang Kuncung dengan rapat, membentuk lingkaran tembok yang nggak bisa ditembus.
Dan di tengah-tengah lingkaran itu, turunlah Faris perlahan lewat tangga darurat, berjalan santai banget, tangan masuk saku celana, senyum sengkleknya paling lebar, berjalan mendekati Mang Kuncung yang udah pucat banget mukanya.
"Saya dong Pak... orang yang kemarin bikin anak buah Bapak pulang bawa sakit. Katanya kemarin cuma kebetulan ya? Katanya mau nyoba lagi? Nah, ini saya udah nungguin dari tadi. Ayo dong, lanjutin rencananya, mau bakar apa, mau habisin siapa? Saya ada di sini nih, maju sini kalau berani," tantang Faris santai banget tapi nadanya bikin seluruh nyawa orang-orang itu rasanya beku.
Di kejauhan, Pak Hendro di dalam mobilnya gemetar hebat. Dia melihat semuanya lewat kaca depan. Rencananya gagal total, pasukannya terperangkap, dan dia sendiri... ternyata ada dua orang berbadan besar yang sudah berdiri di samping mobilnya, mengetuk kaca jendela pengemudi sambil menunjuk alat perekam di tangan mereka.
Permainan sudah berakhir. Sang dalang dan anak buahnya, semuanya sudah masuk ke dalam perangkap buatan satu orang bernama Faris.