Kebebasan dari balik jeruji ternyata bukanlah akhir dari hukuman.
Setelah bertahun-tahun mendekam di penjara, Indri berharap dapat memulai hidup yang baru. Namun, dosa masa lalu yang telah menghancurkan kehidupan seseorang membuatnya menjadi sasaran balas dendam.
Di balik kepulangannya, Evan telah menyiapkan sebuah permainan yang dirancang dengan sempurna. Bukan untuk membunuh Indri, melainkan membuat wanita itu merasakan penderitaan yang jauh lebih menyakitkan daripada kematian. Sedikit demi sedikit, kehidupan Indri direnggut—harga dirinya, kebebasannya, hingga harapan untuk hidup bahagia.
Namun, semakin jauh Evan melangkah menjalankan rencana balas dendamnya, semakin dalam pula ia terjebak dalam perasaan yang tak pernah ia duga.
Lantas... Akankah Indri berhasil terbebas dari belenggu dendam yang mengikat hidupnya? Ataukah justru Evan yang akan terperangkap dalam rasa yang sama beracunnya dengan kebencian yang selama ini ia pelihara?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syitahfadilah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7
Pagi itu, Indri memutuskan untuk tidak lagi mengabaikan semua kejadian aneh yang menimpanya.
Surat tanpa nama.
Pesan misterius.
File yang menghilang.
Bunga lili tanpa pengirim.
Semuanya bukan lagi kebetulan.
"Seseorang memang sedang mengincarku," gumamnya pelan.
Ia membuka laptop, lalu menuliskan semua kejadian itu dalam sebuah catatan. Semakin lama ia memperhatikan, semakin jelas pola yang terbentuk.
Semua gangguan muncul setiap kali ia terlibat dalam proyek bersama Evara Capital.
Indri menggeleng cepat. "Tidak... mungkin hanya kebetulan."
Ia tidak ingin menaruh curiga pada orang yang selama ini justru bersikap baik kepadanya.
Di ruang kerja Haris...
Haris memanggil Indri. "Duduk."
Indri menarik kursi dan duduk di hadapan papanya.
"Papa ingin bicara soal proyek."
"Apa ada masalah, Pa?"
"Tidak." Haris tersenyum. "Pak Evan meminta agar kamu menjadi perwakilan tetap perusahaan dalam proyek ini."
Indri sedikit terkejut. "Aku?"
"Iya. Beliau bilang komunikasi kalian berjalan baik."
Indri terdiam. Ia memang beberapa kali bertemu Evan. Namun semua itu hanya sebatas urusan pekerjaan.
"Kalau menurut Papa itu yang terbaik, aku siap."
Haris mengangguk puas. "Papa tidak salah mempercayakan perusahaan kepadamu."
Siang harinya...
Evan datang ke Haris Group untuk rapat lanjutan. Pertemuan berlangsung singkat. Setelah rapat selesai, mereka berjalan berdampingan menuju lobi.
"Bu Indri."
"Iya, Pak?"
"Terima kasih atas kerja samanya."
"Sama-sama."
Keheningan kembali menyelimuti mereka. Sesaat kemudian Evan berkata. "Saya dengar Pak Haris sudah jauh lebih sehat."
Indri tersenyum lega sembari mengangguk. "Papa saya bahkan sudah mulai memaksa ingin kembali bekerja."
Evan terkekeh pelan. "Orang tua memang sulit diminta beristirahat."
Untuk pertama kalinya, Indri melihat senyum yang benar-benar tulus di wajah pria itu. Seketika perasaan tidak nyaman yang selama ini muncul sedikit demi sedikit mulai memudar.
Tanpa mereka sadari. Di kejauhan Dimas memperhatikan mereka dari balik kaca.
Sore hari...
Saat hendak pulang, Indri melihat seorang anak laki-laki menangis di depan kantor. Anak itu tampak kebingungan. Indri segera menghampiri.
"Dek, kenapa menangis?"
"Mama ... Mama," ujar anak lelaki itu tersendat-sendat karena menangis.
Indri berjongkok. "Nama kamu siapa?"
"Rafa."
"Jangan takut. Tante akan bantu cari Mama kamu."
Tak lama kemudian, seorang perempuan berlari menghampiri.
"Rafa!" Wanita itu langsung memeluk putranya. "Maaf, Bu. Saya lengah menjaga anak saya."
Indri tersenyum. "Tidak apa-apa. Yang penting sekarang anaknya sudah ketemu."
Perempuan itu berkali-kali mengucapkan terima kasih sebelum pergi.
Tanpa disadari, kejadian itu dilihat Evan yang baru saja keluar dari gedung.
Rio berdiri di sampingnya. "Bapak lihat?"
Evan mengangguk pelan. Perempuan yang dulu hanya ia kenal sebagai penyebab kehancuran hidup adiknya...
Kini justru dengan sabar menenangkan anak orang lain.
Bayangan Laura kembali muncul di benaknya.
"Seandainya waktu itu Laura juga mendapat seseorang yang melindunginya tepat waktu..."
Evan memejamkan mata.
Ia mulai membenci dirinya sendiri karena keraguan itu semakin besar.
Malam harinya... Di rumah Haris.
Laura kecil duduk di samping Indri sambil menggambar. "Tante."
"Iya?"
"Kalau Tante punya anak nanti, mau anak perempuan atau laki-laki?" Pertanyaan polos itu membuat Indri tersenyum.
"Tante belum pernah kepikiran."
"Tapi aku mau punya adik, Tante."
"Kan sudah ada Brian," ujar Indri.
"Aku maunya punya adik perempuan, Tante. Kalau Brian itu nakal, suka rebut bonekaku. Kan dia itu laki-laki."
Indri tertawa kecil. Tawa mereka memenuhi ruang keluarga.
Cinta memperhatikan dari dapur.
Hatinya terasa hangat melihat hubungan Indri dan Laura kecil semakin dekat.
Namun di saat yang sama, ia masih menyimpan kegelisahan.
Masa lalu mereka terlalu kelam untuk benar-benar dilupakan.
Di apartemennya. Evan membuka sebuah kotak kayu yang selama bertahun-tahun selalu ia simpan.
Di dalamnya terdapat foto-foto Laura yang ia dapatkan dari Cinta yang merupakan sahabat mendiang adiknya.
Matanya memerah mengingat setiap kata yang diceritakan oleh Cinta tentang adiknya.
Bagaimana Laura yang selalu menangis, histeris, karena menjadi korban pemerkosaan. Bagaimana adiknya meregang nyawa setelah melahirkan bayinya karena pendarahan hebat hingga tidak tertolong.
Evan tahu siapa yang melakukan itu pada adiknya. Vano, suami Cinta, dialah laki-laki yang merudapaksa Laura. Tapi, itu semua karena ulah Indri yang berusaha menjebak Vano untuk tidur dengannya, tapi justru Vano melampiaskan pada Laura.
***
Satu minggu berlalu.
Hubungan kerja sama antara Haris Group dan Evara Capital berjalan semakin baik. Berkat kerja keras seluruh tim, proyek yang mereka tangani berhasil melewati tahap pertama tanpa kendala berarti.
Pagi itu, Haris memanggil Indri ke ruang kerjanya. "Indri."
"Iya, Pa?"
"Duduk dulu."
Indri mengambil kursi di depan meja papanya.
Haris menutup map yang sedang dibacanya. "Papa ingin mengadakan makan malam sederhana di rumah."
"Makan malam?"
"Iya. Sebagai ucapan terima kasih kepada Pak Evan."
Indri sedikit terkejut. "Papa sungguh ingin mengundangnya?"
Haris mengangguk. "Kalau bukan karena dia, mungkin malam itu Papa terlambat sampai ke rumah sakit."
Indri tidak bisa membantah.
Memang Evan yang mengantarnya pulang saat Haris tiba-tiba sesak napas.
"Baik, Pa. Nanti aku yang menyiapkan semuanya."
Sore harinya...
Undangan itu sampai ke meja kerja Evan. Rio menyerahkannya sambil tersenyum kecil.
"Pak, undangan makan malam dari Pak Haris."
Evan membaca kartu undangan itu tanpa ekspresi.
"Beliau benar-benar menganggap Bapak sebagai tamu kehormatan."
Evan meletakkan kartu tersebut. "Siapkan mobil."
Rio tampak bingung. "Bapak akan datang?"
"Iya."
Rio mengernyit. "Saya pikir Bapak akan menolak."
Evan berdiri sambil merapikan jasnya. "Kalau ingin mengenal musuh ... kenali keluarganya."
Meski begitu, bahkan Evan sendiri tidak yakin apakah itu alasan sesungguhnya.
Malam yang dijanjikan pun tiba.
Rumah Haris tampak hangat dengan lampu-lampu taman yang menyala lembut. Indri sibuk membantu Cinta menata hidangan di meja makan.
"Kak."
"Iya?"
"Menurut Kakak, Pak Evan orangnya seperti apa?"
Cinta terdiam sejenak. "Kenapa bertanya begitu?"
Indri menggeleng. "Tidak apa-apa. Hanya penasaran."
Cinta tersenyum tipis. "Kamu hampir setiap hari bertemu dengannya, seharusnya kamu sudah mulai bisa memahami bagaimana karakternya."
Bel rumah berbunyi. Vano segera keluar membukakan pintu.
"Selamat malam, Pak Evan," sapa Vano.
Evan melirik kebelakang Vano, tidak ada siapapun. "Tidak usah terlalu formal," ujarnya datar, lalu segera melangkah masuk sambil membawa bingkisan buah.
Begitu memasuki ruang tamu, Evan langsung disambut Haris. "Pak Evan. Senang sekali Anda datang."
Evan tersenyum tipis. "Saya juga."
Mereka berjabat tangan hangat.
Pandangan Evan perlahan menyapu seluruh ruangan.
Foto-foto keluarga terpajang di dinding.
Tawa Laura kecil terdengar dari ruang tengah. Rumah itu terasa hangat. Begitu hangat hingga membuat dada Evan terasa sesak.
Laura juga seharusnya memiliki keluarga seperti ini.
"Tante!" Laura kecil berlari menghampiri Indri. "Lihat, aku menggambar lagi."
Indri berjongkok. "Wah."
"Bagus sekali."
Evan memperhatikan pemandangan itu. Laura kecil memeluk Indri dengan begitu akrab. Seolah tidak pernah mengetahui bahwa perempuan itu pernah menjadi penyebab ibunya kehilangan kehidupan.
"Evan." Suara Haris membuyarkan lamunannya. "Mari ke meja makan."
Makan malam berlangsung hangat. Haris beberapa kali menceritakan pengalaman membangun perusahaan.
Vano sesekali ikut menanggapi.
Cinta lebih banyak memperhatikan kedua anaknya.
Sedangkan Indri membantu menyajikan makanan.
"Pak Evan." Haris tersenyum. "Silakan tambah."
"Terima kasih."
Saat hendak mengambil mangkuk sup, tangan Indri tanpa sengaja menyenggol gelas.
Brak!
Air tumpah membasahi taplak meja.
"Maaf!" Indri buru-buru mengambil tisu.
"Tidak apa-apa." Evan lebih dulu mengangkat gelas agar air tidak mengenai dokumen yang dibawanya.
"Terima kasih."
"Sama-sama."
Tatapan mereka bertemu sesaat.
Indri kembali merasakan perasaan aneh itu. Tatapan Evan... Selalu terasa menyimpan sesuatu yang tidak pernah ia ucapkan.
Usai makan malam.
Haris mengajak Evan berbincang di taman belakang.
"Pak Evan. Saya ingin berterima kasih. Indri memang masih banyak belajar. Tapi sejak Anda menjadi rekan kerja kami, saya melihat dia jauh lebih percaya diri."
Evan tersenyum tipis. "Bu Indri memang memiliki kemampuan dan bisa bekerja dengan baik."
Haris mengangguk.
"Dia sudah banyak berubah."
Kalimat itu membuat Evan terdiam.
Berubah. Semua orang mengatakan hal yang sama. Namun setiap kali ia mulai mempercayainya, bayangan Laura yang menangis histeris kembali menghancurkan keyakinannya.
Saat Evan hendak pulang, Laura kecil tiba-tiba berlari menghampirinya. "Om!"
Evan menghentikan langkah. "Iya?"
Laura kecil mengulurkan sebuah permen. "Ini buat Om."
Evan tampak bingung. "Kenapa untuk Om?"
"Mama bilang kalau berbagi itu baik."
Evan menerima permen itu perlahan. "Terima kasih."
Laura kecil tersenyum lebar sebelum kembali berlari ke dalam rumah.
Evan menatap permen di tangannya cukup lama. Sudah bertahun-tahun... Tidak ada seorang pun yang memberinya sesuatu dengan tulus.
Dalam perjalanan pulang, suasana mobil dipenuhi keheningan. Rio akhirnya bertanya, "Bagaimana menurut Bapak?"
Evan masih menatap permen kecil di genggamannya. "Aneh."
"Maksud Bapak?"
"Aku datang untuk melihat musuh. Tapi yang kulihat... hanya sebuah keluarga."
Rio tidak menjawab.
Beberapa saat kemudian, Evan memasukkan permen itu ke dalam saku jasnya.
Ia sadar. Semakin sering ia mendekati Indri dan keluarganya... Semakin sulit baginya menjaga kebencian tetap hidup.
Namun di saat yang sama, ia juga belum sanggup mengkhianati janjinya sendiri.
Janji yang pernah ia ucapkan di depan makam Laura.
"Aku akan membuat orang yang menghancurkan hidupmu merasakan penderitaan yang sama."
Dan tanpa disadari Evan, janji itu perlahan mulai berbenturan dengan hati nuraninya sendiri.
semoga saja benar Evan masih hidup... Evan jangan lama" sembunyi nya entar si Indri jadi milik Royco, cepat keluar ya bikin surprise Indri kamu masih hidup...mau ku 😩🤣🤣🤣🤣
sepertinya kecebong babang Evan udah berubah jadi berudu kecil ❤️😁