Bagi Arunika Nirmala, mencintai Marsellino adalah luka yang paling dalam. Namun, saat Marsellino memilih wanita lain, sebuah tawaran gila datang dari Thomas Adiputra—kakak Marsel sekaligus CEO dingin bermulut pedas yang selalu menghinanya.
Sebuah kontrak pernikahan disodorkan. Thomas butuh tameng dari perjodohan ibunya, dan Arunika butuh harga diri di depan pria yang membuangnya.
Arunika pikir ini hanya transaksi bisnis dua tahun yang hambar. Ia tidak tahu bahwa bagi Thomas, kontrak ini adalah rencana sepuluh tahun untuk menjerat satu-satunya gadis yang pernah ia cintai dalam diam.
"Hapus sampah itu dari ponselmu, Arunika. Sekarang, kamu adalah milikku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4
Sinar matahari pagi menyusup malu-malu melalui celah tirai otomatis yang belum terbuka sempurna di kamar apartemen Arunika. Gadis itu mengerjap, mencoba mengumpulkan kesadarannya yang masih tertinggal di alam mimpi. Setelah bergulung sejenak di balik selimut sutra yang terasa sangat lembut, ia akhirnya menyeret langkah kakinya keluar kamar dengan rambut yang sedikit berantakan dan piyama bermotif beruang kutub.
Namun, langkahnya terhenti di ambang ruang makan. Matanya membulat sempurna.
Di sana, Thomas Adiputra sudah berdiri tegak. Pria itu sudah mengenakan kemeja biru muda yang disetrika sangat licin, celana kain berwarna arang, dan jam tangan yang berkilat tertimpa lampu dapur. Aroma kopi yang kuat dan harum memenuhi udara, bercampur dengan aroma gurih mentega yang meleleh.
Arunika melirik jam dinding digital di atas kulkas dua pintu itu. 06.05 WIB.
"Loh? Ini kan baru jam enam lewat sedikit, Mas. Rapi banget? Emang kantornya sudah buka jam segini?" tanya Arunika dengan suara serak khas orang baru bangun tidur. Ia menggosok matanya, masih merasa tidak percaya melihat pemandangan "pria kantoran sempurna" di depannya sepagi ini.
Thomas menoleh, matanya menyisir penampilan Arunika dari ujung kepala sampai ujung kaki—terutama piyama beruang itu. Ia berdeham, mencoba mengalihkan pandangan.
"Saya— maksudnya aku..." Thomas meralat ucapannya dengan canggung, mengingat kesepakatan semalam. "Aku terbiasa bangun pagi. Produktivitas dimulai sejak matahari terbit, bukan saat jam kantor dimulai. Duduk dan makan sarapan kamu."
Arunika mendekat ke meja makan. Di atas piring porselen putih, tersaji sebuah omelet lipat yang terlihat sangat cantik, lengkap dengan parutan keju yang meleleh di atasnya dan dua potong roti gandum panggang.
"Wahhh... ini omelet kesukaan aku! Kok Mas tahu?" Arunika berseru riang, menduduki kursinya dengan semangat. Ia segera memotong sedikit bagian omelet itu dan memasukkannya ke mulut. "Hmm! Enak banget! Makasih ya, Mas. Aku nggak nyangka CEO kayak Mas Thomas bisa masak."
Thomas menyesap kopinya, berusaha terlihat tidak peduli meskipun hatinya sedikit lega melihat Arunika makan dengan lahap. "Hanya teknik dasar. Jangan berlebihan."
"Tapi beneran enak, kok. Dulu Marsel kalau aku buatin omelet sering komplain kalau keasinan atau kurang matang," gumam Arunika tanpa sadar.
Suasana mendadak menjadi dingin. Thomas meletakkan cangkir kopinya dengan denting yang sedikit keras di atas meja. "Bisakah sehari saja kamu tidak menyebut nama itu? Kamu sedang berada di meja makanku, memakan masakan yang aku buat. Simpan nama laki-laki lain di luar pintu apartemen ini."
Arunika tersedak pelan. Ia menatap Thomas yang wajahnya kembali mengeras. "Maaf, Mas. Refleks."
"Biasakan refleksmu untuk hal yang lebih berguna," sahut Thomas ketus. Pria itu berdiri, lalu berjalan menuju sofa ruang tamu di mana terdapat beberapa tas belanja bermerek dari butik ternama yang diletakkan di sana.
Thomas mengambil tas-tas itu dan membawanya ke dekat Arunika. "Setelah makan, pakai ini. Aku sudah menyuruh sekretarisku membelikan beberapa baju kantor yang layak untukmu. Aku tidak mau asisten risetku datang ke kantor dengan pakaian yang tampak seperti akan pergi ke pasar kaget."
Arunika mengintip ke dalam tas belanja itu. Matanya berbinar melihat beberapa setel blazer dengan potongan modern, rok pensil yang elegan, dan beberapa blus sutra dengan warna-warna earth tone yang cantik.
"Mas... ini mahal-mahal banget. Mas totalitas banget ya jadi suami idaman, walaupun cuma ya... kontrak," ujar Arunika sambil membelai halus bahan salah satu blazer tersebut. Ia mendongak, memberikan senyum tulus yang membuat pertahanan Thomas goyah sesaat. "Tapi makasih banyak, ya. Mas baik banget hari ini."
Thomas memalingkan wajah, pura-pura memeriksa ponselnya. "Aku hanya tidak ingin citraku rusak karena memiliki asisten yang tidak modis. Itu bagian dari investasi kontrak kita."
"Investasi atau memang Mas perhatian?" goda Arunika sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Jangan mulai, Arunika. Cepat habiskan makanmu. Kita berangkat dalam tiga puluh menit," Thomas berjalan cepat menuju kamarnya untuk mengambil tas kerja, mencoba menyembunyikan rona merah yang merayap di lehernya.
Perjalanan menuju kantor diisi dengan keheningan yang cukup nyaman, setidaknya sampai mobil mewah Thomas berhenti di lobi Adiputra Group. Thomas keluar dari mobil dan, seperti biasa, ia berjalan memutar untuk membukakan pintu untuk Arunika.
Banyak mata karyawan yang mulai berbisik saat melihat sang CEO turun bersama seorang gadis muda yang mengenakan blazer baru dan tampak sangat segar.
"Mas, mereka semua liatin kita," bisik Arunika saat mereka berjalan menuju lift khusus petinggi.
"Biarkan saja. Mereka butuh sesuatu untuk dibicarakan selain laporan keuangan," jawab Thomas santai.
Di dalam lift yang tertutup, Thomas menekan tombol lantai paling atas. "Nanti di ruangan, akan ada banyak dokumen riset pasar yang harus kamu baca. Aku tidak ingin kamu hanya duduk diam. Kamu harus paham dasar-dasar proyek yang sedang kita kerjakan."
"Siap, Bos!" Arunika melakukan gerakan hormat yang lucu. "Eh, maksudnya... siap, Mas Thomas."
Thomas menatap pantulan Arunika di dinding lift yang mengkilap. Gadis itu terlihat sangat cantik dengan rambut yang kini tertata rapi dan blus yang ia belikan. "Arunika?"
"Ya?"
"Pakaian itu... cocok untukmu. Kamu terlihat lebih dewasa."
Arunika tersenyum lebar. "Tuh kan, Mas Thomas sebenarnya pinter kasih pujian, tapi gengsinya setinggi gedung ini."
Thomas hanya mendengus, tapi sudut bibirnya hampir terangkat membentuk senyuman. Namun, suasana ceria itu mendadak berubah saat pintu lift terbuka. Di lobi lantai atas, sudah berdiri Marsellino yang tampak sedang menunggu sesuatu.
Marsel menoleh saat mendengar denting lift. Matanya membelalak melihat kakaknya keluar bersama Arunika yang terlihat sangat berbeda—sangat berkelas.
"Mas Tom? Nika?" Marsel melangkah mendekat, wajahnya menunjukkan kebingungan yang nyata. "Nika, kamu kok bisa bareng Mas Tom? Terus baju itu... bukannya itu koleksi terbaru dari butik langganan Mama?"
Arunika merasa jantungnya berdegup kencang, tapi ia teringat kata-kata Thomas semalam. Ia harus berdiri tegak. Ia merapatkan posisi berdirinya ke samping Thomas.
"Aku sekarang asisten riset Mas Thomas, Sel," jawab Arunika dengan suara yang diusahakan setenang mungkin.
"Asisten? Tapi kan kamu belum lulus, Nik. Kenapa nggak bilang aku dulu?" Marsel tampak sedikit tidak suka, ada gurat posesif yang aneh meskipun ia sudah memiliki Aletta. "Lagian kenapa harus bareng Mas Tom berangkatnya?"
Thomas melangkah maju, meletakkan tangannya di pinggang Arunika—sebuah gerakan yang sangat posesif dan mendominasi. Arunika tersentak, tapi ia membiarkannya.
"Arunika sekarang berada di bawah tanggung jawabku sepenuhnya, Marsel," ucap Thomas dengan suara rendah dan dingin. "Dia tidak perlu izin darimu untuk melakukan apa pun dalam hidupnya. Bukankah kamu sudah punya Aletta untuk diurus? Jadi, jangan mencampuri urusan karyawanku."
Marsel terdiam, ia melihat tangan Thomas di pinggang Arunika dan merasa ada yang tidak beres. "Mas, ada apa sih sebenarnya? Nika, kamu kok diem aja?"
Arunika menatap Marsel, pria yang dulu ia puja-puja. Namun hari ini, melihat Marsel, ia merasa ada sesuatu yang patah, namun juga membebaskan. "Mas Thomas benar, Sel. Aku cuma mau fokus kerja dan belajar. Nggak ada urusannya lagi sama kamu."
Thomas memberikan tatapan tajam pada adiknya sebelum menarik Arunika masuk ke dalam ruang kerjanya. "Jangan ganggu kami, Marsel. Kami punya banyak pekerjaan."
Pintu ruang kerja tertutup rapat, meninggalkan Marsel yang berdiri mematung di koridor dengan rasa penasaran dan kekesalan yang mulai membakar dadanya.
Di dalam ruangan, Thomas melepaskan tangannya dari pinggang Arunika. Ia berjalan menuju meja kerjanya dan duduk dengan wajah yang lebih gelap dari biasanya.
"Maaf soal tadi," gumam Thomas.
Arunika menggeleng. "Nggak apa-apa, Mas. Justru... makasih. Aku nggak tahu kalau aku bisa ngomong kayak gitu ke Marsel kalau Mas nggak ada di samping aku."
Thomas menatap Arunika lama. Ada rasa bangga, namun juga rasa takut yang terselip di hatinya. Takut jika suatu saat Arunika sadar bahwa ia hanya menjadikan kontrak ini sebagai cara untuk menjauhkan Marsel, padahal sebenarnya Thomas hanya ingin egois memiliki gadis itu untuk dirinya sendiri.
"Duduklah. Mari kita mulai kerjanya," ucap Thomas akhirnya, berusaha kembali profesional.
Arunika duduk di meja kecil yang sudah disiapkan di sudut ruangan Thomas. Ia mulai membuka dokumen-dokumen itu, namun sesekali matanya melirik ke arah Thomas yang sedang serius bekerja. Pria itu benar-benar penuh kejutan—mulai dari omelet yang enak, baju-baju mahal, hingga perlindungan yang begitu tegas.
Mungkin, menjadi 'Mrs. Adiputra' tidak seburuk yang ia bayangkan sebelumnya.
gagal
coba lagi dong 🤭