Klan Jenderal Cang yang agung berdiri di ujung jurang kehancuran. Titah rahasia Kaisar Yan telah turun, mengincar nyawa setiap anggota keluarga yang memegang kendali militer. Sebagai pewaris tunggal, Cang Qixuan memilih jalan yang paling dibenci dunia demi menyelamatkan klannya: menjadi sampah. Ia menenggelamkan diri dalam lautan arak, judi, dan wanita, menghamburkan emas kekaisaran seolah debu. Di balik cemoohan rakyat dan tawa meremehkan musuh-musuhnya, Qixuan merajut Jaring Bayangan. Setiap keping emas yang ia lempar di rumah bordil adalah investasi intelijen; setiap aib yang ia ciptakan adalah perisai pelindung. Berawal dari kultivasi yang hancur, ia memanjat kembali dari dasar jurang kekuasaan, menelan penghinaan untuk kelak menelan seluruh Kekaisaran Yan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 10 runtuhnya tembok es dan lahirnya naga bayangan
Satu bulan telah berlalu sejak Perjamuan Bunga Persik. Musim dingin akhirnya tiba di Benua Surgawi. Salju pertama turun menyelimuti ibukota Jinling dengan lapisan es tipis, menyamarkan kotoran di jalanan, namun gagal menutupi hawa dingin yang merayap dari arah istana.
Di dalam Istana Naga Langit, suhu ruangan terasa seperti berada di dalam peti es. Kaisar Yan Wudi berbaring lemah di atas Ranjang Sembilan Naga, selimut tebal dari bulu monster api menutupi tubuhnya, namun bibirnya tetap berwarna biru pucat. Racun dingin di jantungnya merajalela setelah hilangnya Bunga Jiwa Hitam yang seharusnya menjadi bahan penawar sementara.
Menteri-menteri senior, dipimpin oleh Han Mian, berlutut di luar kamar kaisar dengan wajah tegang.
"Lapor, Yang Mulia," suara seorang utusan militer bergetar, membawa gulungan perkamen berlambang elang darurat dengan warna merah—tanda bahaya tingkat tertinggi.
Kasim Wei mengambil gulungan tersebut dan membacakannya dengan suara yang gemetar.
*"Laporan darurat dari Perbatasan Utara! Pasukan Naga Hitam mengalami epidemi misterius! Seratus ribu prajurit elit secara bertahap kehilangan energi kultivasi mereka. Para tabib militer gagal mendiagnosis penyakit tersebut. Meridian mereka menyusut, tenaga mereka berkurang hingga setara rakyat jelata. Suku Barbar Badai mencium kelemahan kita dan telah menembus Garis Pertahanan Tembok Serigala! Jenderal Mu Chenghai terluka parah saat mencoba menahan gempuran pemimpin suku. Tiga kota di perbatasan telah jatuh. Kami memohon bala bantuan segera!"*
Kaisar Wudi terbatuk hebat, memuntahkan segumpal darah hitam pekat ke atas selimut emasnya. Keheningan yang mengerikan menyelimuti ruangan.
Pasukan Naga Hitam lumpuh? Tiga kota jatuh?! Ini adalah malapetaka terbesar sejak dinasti ini didirikan!
"Epidemi misterius?!" Kaisar menggeram, mencoba bangkit namun kembali jatuh terjerembab. "Omong kosong! Ini pasti ulah pemberontak atau racun yang disebar oleh musuh! Panggil Mu Chenghai pulang! Aku ingin memenggal kepalanya sendiri karena telah menghancurkan pasukan kebanggaan kita!"
"Y-Yang Mulia," Han Mian melangkah maju, wajahnya menua sepuluh tahun dalam sehari. "Menarik Mu Chenghai sekarang berarti membiarkan perbatasan terbuka lebar. Jika Suku Barbar Badai melewati Lembah Ngarai Besi, mereka akan langsung mengancam ibukota dalam waktu kurang dari sebulan! Kita harus mengirim bala bantuan!"
"Gunakan Pengawal Kekaisaran! Kirim Panglima Pei Ji!" teriak Kaisar.
"Panglima Pei Ji telah dicopot dari jabatannya, Yang Mulia," Han Mian mengingatkan, menahan napas. "Selain itu, sisa perbendaharaan negara belum pulih akibat kekosongan saat krisis pangan bulan lalu. Kita tidak memiliki cukup uang untuk membiayai pergerakan pasukan berskala besar di tengah badai musim dingin ini."
Kaisar Yan Wudi menutup matanya. Ia menyadari rentetan bencana ini tidak normal. Krisis harga gandum, pecahnya skandal korupsi, jatuhnya reputasi keluarga kerajaan di perjamuan, pencurian pusaka, dan kini kelumpuhan massal pasukan terbaiknya. Seperti ada tangan raksasa tak kasat mata yang menjahit semua benang ini menjadi satu jaring pencekik yang mengarah langsung ke lehernya.
Tiba-tiba, wajah Jenderal Besar Cang Baotian melintas di benaknya. Hanya Jenderal Tua itu yang mampu mengendalikan perbatasan utara, tapi kaisar sendiri yang melucuti kekuatannya dan membiarkannya mati pelan-pelan karena racun.
"Panggil... panggil Jenderal Cang Baotian," perintah kaisar dengan suara serak, mengalahkan ego dan rasa bangganya demi keselamatan takhta. "Jika dia masih hidup, perintahkan tabib istana terbaik untuk menyembuhkannya dengan pil kelas langit mana pun yang tersisa. Dia harus kembali ke perbatasan!"
Sementara kepanikan melanda istana, di sisi lain Jinling, Kediaman Cang justru sangat tenang.
Salju turun dengan lembut di halaman dalam kediaman. Qixuan duduk di paviliun teh, mengenakan jubah sutra putih tebal berlapis bulu rubah hitam. Tangannya menggenggam secangkir teh panas, matanya menatap tajam ke arah papan catur batu di depannya.
Di seberang meja, Jenderal Besar Cang Baotian duduk tegap. Pria tua itu tidak terlihat seperti orang sekarat. Kulitnya memerah segar, napasnya teratur, dan matanya memancarkan ketajaman seekor harimau veteran. Akar Nadi Naga yang dimurnikan Qixuan telah sepenuhnya menyembuhkan dan bahkan memperkuat organ dalam sang jenderal.
Qixuan meletakkan bidak hitamnya di atas papan, mengepung tiga bidak putih milik kakeknya. "Mati."
Cang Baotian menghela napas, menatap cucunya dengan rasa kagum sekaligus ngeri. "Kau bukan hanya pandai bermain catur kayu, Xuan'er. Kau telah bermain catur dengan ratusan ribu nyawa manusia. Laporan intelijenmu benar. Pasukan di utara telah lumpuh."
"Mu Chenghai yang melumpuhkan mereka," koreksi Qixuan tenang. "Dia yang menandatangani pembelian logistik beracun itu. Dan dia sendiri yang memastikan racun itu masuk ke perut pasukannya dengan perintah wajib minum arak musim dingin. Aku hanya menyediakan racunnya."
"Tetapi jika Suku Barbar Badai menembus utara, rakyat jelata yang akan menderita, Xuan'er. Ribuan desa akan dibakar. Apakah itu tidak mengusik hati nuranimu?" tanya Baotian berat.
Qixuan mengangkat kepalanya, matanya sedingin badai salju di luar. "Jika Jenderal Baotian yang menjaga perbatasan, akankah Kaisar mengizinkan klan kita hidup tenang? Tidak. Kaisar ingin kita mati demi mengamankan takhtanya. Jika negara ini menganggap kita pengkhianat dan mencampakkan kita saat kita terluka, untuk apa aku peduli pada perbatasan mereka? Kekaisaran Yan sudah terlalu busuk dari dalam, Kakek. Untuk membangun sesuatu yang baru, rumah yang lama harus dibakar habis."
Cang Baotian terdiam. Ia menyadari cucunya tidak salah. Kesetiaan butanya di masa lalu hampir memusnahkan keturunannya sendiri.
Tiba-tiba, seorang pelayan berlari dengan wajah panik menembus salju. "T-Tuan Besar! Tuan Muda! Utusan dari Istana tiba! Kasim Wei membawa Titah Darurat! Mereka meminta Jenderal Besar menghadap Kaisar segera!"
Qixuan tersenyum sinis. "Ah. Anjing yang dulu menggigit kita sekarang merengek meminta tulang. Kakek, rencana kita sudah masuk ke tahap tengah. Ini saatnya kau kembali ke panggung sandiwara."
Baotian mengangguk. Dalam sekejap, pria gagah itu mengatur sirkulasi qi di dalam tubuhnya, membalikkan alirannya. Kulitnya langsung pucat pasi. Ia memejamkan mata dan mengatur napasnya menjadi tersengal-sengal, sementara Qixuan membantunya berbaring di atas kursi bambu roda yang sudah disiapkan, menyelimuti tubuhnya dengan kain tua.
Hanya dalam hitungan detik, pahlawan perang itu kembali berubah menjadi pria cacat yang sedang menghitung hari menuju kematiannya.
Qixuan mengusap sedikit bawang bombay ke ujung matanya, memaksakan air mata keluar, lalu mendorong kursi roda kakeknya ke ruang tamu depan.
Di sana, Kasim Wei berdiri dengan tidak sabar. Saat melihat kondisi Cang Baotian yang tampak seperti mayat hidup, Kasim Wei menelan ludah. "Tuan Besar Cang... Yang Mulia Kaisar memanggil Anda. Perbatasan Utara dalam bahaya kritis."
"Kakekku tidak bisa berjalan, apalagi memegang pedang, Paman Kasim!" ratap Qixuan dengan suara bergetar, memerankan pemuda tak berguna yang panik secara sempurna. "Kau lihat sendiri! Kakekku batuk darah sejak bulan lalu! Kau mau membunuhnya dengan menyuruhnya berkuda ke istana?!"
Kasim Wei mengernyit jijik melihat Qixuan yang menangis seperti anak kecil, lalu menoleh pada para pengawal. "Tandu Jenderal Cang. Bawa dia perlahan. Kita harus segera tiba di istana. Tuan Muda, Anda juga ikut."
Di dalam Ruang Belajar Kekaisaran, suasananya semakin menekan.
Saat tandu Cang Baotian dibawa masuk, para menteri menundukkan wajah mereka. Beberapa bulan lalu mereka mencaci pria tua ini sebagai pembelot, kini mereka menggantungkan nyawa pada sisa napasnya.
"Baotian..." suara Kaisar Wudi melemah, melihat rekan seperjuangannya dulu terbaring pucat di atas tandu. "Kondisimu... sangat buruk."
Cang Baotian membuka matanya perlahan. "Ampun, Yang Mulia... hamba yang tidak berguna ini tidak bisa bersujud. Ada titah apa hingga menyuruh hamba datang dengan sisa nyawa ini?"
"Utara runtuh. Mu Chenghai terluka parah. Pasukan kehilangan tenaga," Kaisar tidak berani menatap mata Baotian, rasa bersalah bercampur rasa malu membuatnya menghindari tatapan jenderal tua itu. "Aku ingin menunjukmu kembali sebagai Panglima. Berapa lama kau butuh untuk pulih jika aku memberimu seluruh pasokan pil di perbendaharaan istana?"
Sebelum Baotian menjawab, Qixuan yang berdiri di samping tandu menyela dengan kasar, "Yang Mulia! Kakek saya diracun oleh... uhuk... penyakit misterius di perbatasan! Tabib terbaik pun mengatakan meridiannya sudah mati! Menunjuk kakek saya kembali sama saja dengan membunuhnya!"
"Tutup mulutmu, Anak Tidak Berguna!" bentak Han Mian. "Kaisar sedang berbicara dengan Jenderal!"
"Menteri Han benar," Baotian pura-pura terbatuk keras. "Hamba tidak akan bisa mengangkat pedang lagi, Yang Mulia. Namun... Pasukan Naga Hitam adalah anak-anakku. Hamba mengenal setiap kapten dan strategi pertahanan di utara. Hamba bisa memberikan rencana taktis untuk menahan suku barbar."
Mata Kaisar sedikit cerah. "Katakan! Apa rencanamu?"
"Pasukan kita saat ini kekurangan energi, namun mereka masih memegang Formasi Tombak Darat," Baotian berbicara dengan napas terputus-putus. "Tarik seluruh pasukan yang tersisa mundur seratus li ke belakang, pusatkan pertahanan di Lembah Ngarai Besi. Tempat itu sempit, keunggulan kavaleri barbar tidak akan berguna di sana. Gunakan formasi bertahan mutlak. Namun, taktik ini membutuhkan suplai panah besi hitam tingkat tinggi dan jatah makanan musim dingin yang memadai. Jika mereka kelaparan di lembah itu, formasi bertahan akan hancur dalam tiga hari."
"Makanan... dan Panah Besi Hitam," Kaisar memijat pelipisnya.
"Masalahnya, Yang Mulia," sela Menteri Pendapatan Lu Zhen ragu-ragu. "Pasokan gandum kekaisaran masih belum pulih. Dan tambang besi militer kita di sekitar Jinling... baru saja diketahui telah berpindah tangan kepada pedagang swasta secara ilegal minggu lalu!"
Kaisar menggebrak meja. "Apa?! Tambang militer berpindah tangan?! Siapa yang berani membelinya?!"
"K-Konsorsium Katak Emas, Yang Mulia," lapor Lu Zhen, keringat dingin membasahi dahinya. Ia sendiri sebenarnya adalah bidak Qixuan, dan ia tahu persis arah percakapan ini. "Laporan penyelidikan rahasia mengatakan Konsorsium itu mendapatkannya dari Mu Chenghai sebagai ganti logistik beberapa waktu lalu."
"Mu Chenghai si bangsat itu!" Kaisar murka.
"Lalu, sita tambang itu kembali!" seru Putri Yan Ling.
"T-Tidak bisa, Tuan Putri," Lu Zhen menunduk. "Konsorsium itu memiliki kekuatan pelindung bayangan yang mengerikan. Saat Pengawal Daerah mencoba mendekati tambang kemarin, seluruh pengawal tewas tanpa jejak. Konsorsium itu juga mengancam akan membakar seluruh pasokan gandum dan besi yang tersisa di ibukota jika kita menggunakan kekerasan istana. Kita... harus bernegosiasi atau membelinya dari mereka."
Kaisar Yan Wudi bersandar lemas di kursi naganya. Negosiasi dengan pedagang saat negara sedang diserang musuh? Ini adalah titik terendah bagi sebuah kekaisaran.
Namun, tepat pada saat itulah, Qixuan mengeluarkan tawa kecil yang terdengar sangat tidak pantas di tengah ruangan yang tegang itu.
Semua pasang mata menatap pemuda berjubah putih itu dengan tajam.
"Tuan Muda Cang, apakah kehancuran negara ini lucu bagimu?!" geram Han Mian.
"Tidak, tidak, aku hanya teringat sesuatu," Qixuan mengibaskan tangannya, melangkah maju mendekati meja kaisar dengan santai, sama sekali mengabaikan tatapan membunuh para pengawal.
"Konsorsium Katak Emas... ah, nama yang sangat norak. Tapi tahukah kalian?" Qixuan merogoh lengan bajunya, lalu melemparkan sebuah medali giok keemasan berlambang katak ke atas meja Kaisar. Medali itu berdenting keras memecah kesunyian.
Mata Lu Zhen membelalak (kali ini bukan akting, ia benar-benar terkejut). Itu adalah Segel Pemilik Utama Konsorsium Katak Emas!
"K-Kau... dari mana kau mendapatkan medali itu?!" tunjuk Han Mian gemetar.
Qixuan menyeringai, matanya memancarkan arogansi absolut. "Ah, kalian ingat emas yang selalu ku-hambur-hamburkan? Sebagian besar uang jajan dari kakek kupakai untuk berinvestasi. Ya, Konsorsium Katak Emas itu... sayalah pemilik utamanya. Pemilik saham tunggal. Bos besarnya."
Keheningan meledak di dalam Ruang Belajar. Kaisar, Putri Yan Ling, para menteri, bahkan Kasim Wei tidak bisa bernapas.
Pemuda sampah tanpa meridian ini... adalah dalang di balik krisis pangan utara dan pemilik baru tambang besi militer?!
"Kau! Kau merampok negaramu sendiri?!" bentak Yan Ling, menghunus pedang esnya, siap menebas leher Qixuan.
Qixuan tidak bergerak. Ia justru tertawa dingin. "Menarik. Saat Klan Pei memanipulasi dana militer utara, kalian menyebutnya 'kesalahan administrasi'. Saat aku menggunakan sisa harta kakekku untuk berdagang secara sah dengan Jenderal utusan kaisar, kalian menyebutnya merampok? Mu Chenghai sendiri yang menandatangani kontrak itu padaku. Aku adalah pedagang yang patuh hukum!"
"Tangkap dia!" perintah Kaisar Wudi dengan mata memerah.
"Yang Mulia, sebelum pedang itu menyentuh leherku, izinkan aku mengatakan satu hal," Qixuan mengangkat tangannya santai. "Gudang Konsorsium Katak Emas saat ini memiliki seratus ribu ton gandum segar, lima juta anak panah besi hitam kualitas terbaik, dan sepuluh ribu set Zirah Pelopor. Semuanya siap dikirim ke utara malam ini juga untuk menyelamatkan pasukan dari pembantaian barbar. Jika kepalaku terpisah dari badanku... anak buahku telah diperintah untuk meledakkan seluruh gudang itu dengan bubuk mesiu spiritual."
Para pengawal yang baru melangkah maju seketika membeku.
Ini bukan ancaman kosong. Pedagang gila yang berani membeli aset militer pasti berani menghancurkannya.
"Apa yang kau inginkan, Cang Qixuan?" suara Kaisar bergetar menahan amarah yang luar biasa. Ia menyadari telah masuk ke dalam perangkap yang sangat dalam, dirajut bukan oleh jenderal tua di depannya, melainkan oleh pemuda bodoh yang selalu ia remehkan.
"Aku seorang pedagang. Tentu saja aku ingin berbisnis," Qixuan berjalan memutar, menatap para menteri yang dulu mencemoohnya. "Pertama, pulihkan nama baik Jenderal Besar Cang Baotian. Beri dia gelar 'Raja Pelindung Utara', sebuah status yang sejajar dengan keluarga kerajaan. Kedua, kembalikan Segel Harimau milik pasukan utara ke tanganku. Aku yang akan membiayai mereka, jadi akulah yang memegang kendalinya."
"Kau ingin menguasai militer?!" Han Mian tersentak mundur. "Itu pemberontakan mutlak!"
"Pilihannya ada di tangan kalian," Qixuan mengangkat bahu acuh tak acuh. "Beri aku segelnya, dan pasukan kalian selamat. Jangan beri aku segelnya, dan besok pagi Suku Barbar Badai akan mulai memenggal kepala rakyat kekaisaran. Aku masih bisa melarikan diri ke benua lain dengan kekayaanku, tapi kalian? Kalian akan mati bersama dinasti ini."
Kaisar Wudi menutup matanya rapat-rapat. Harga dirinya hancur berkeping-keping. Tuan muda yang selama ini membuang uang di rumah bordil, ternyata diam-diam membeli leher kekaisaran.
Setelah sepuluh tarikan napas panjang yang terasa seperti setahun, Kaisar membuka matanya. Keputusasaan terpancar jelas.
"Kasim Wei... bawa kotak giok itu," bisik Kaisar lirih.
Kasim Wei dengan gemetar mengambil sebuah kotak giok dari balik meja rahasia. Di dalamnya terdapat Segel Harimau hitam, lambang kekuasaan tertinggi Pasukan Naga Hitam.
Qixuan mengambil segel itu tanpa sedikit pun rasa hormat, melemparnya ke atas dan ke bawah seperti mainan anak-anak.
"Terima kasih atas kerja samanya, Yang Mulia," ucap Qixuan sambil tersenyum lebar. Ia menoleh ke arah kakeknya yang masih pura-pura sakit parah. "Kakek, kau dengar itu? Kau sekarang seorang Raja Pelindung. Tidak buruk, kan?"
Qixuan berbalik, jubah putihnya berkibar elegan. "Mo Chen, bawa kakek pulang. Kita harus segera mengirim surat pada para pengantar barang di utara."
Saat Qixuan melangkah keluar dari pintu Istana Naga Langit, badai salju di luar terasa jauh lebih jinak dibandingkan badai yang baru saja ia ciptakan di dalam ruang singgasana.
Ia telah mendapatkan kembali pasukan leluhurnya, menguasai ekonomi nasional, dan mempermalukan kaisar di hadapan menterinya sendiri. Tuan Muda Pemboros tidak hanya sekadar boros; ia telah membeli sebuah kekaisaran dengan koin yang dibasahi keputusasaan mereka sendiri.
Ini adalah kelahiran sang Naga Bayangan, dan dunia fana belum siap menghadapi murkanya.