NovelToon NovelToon
The Return Of The Lost Heiress

The Return Of The Lost Heiress

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Keluarga & Kasih Sayang / Drama
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Haena_Llulia

Tujuh belas tahun hidup sederhana, Haena mendadak mendapati dirinya adalah putri kandung yang tertukar dari Keluarga Dirgantara, dinasti konglomerat terkaya. Namun, kepulangannya ke istana megah itu justru disambut dingin oleh sang ibu, Nyonya Rosalind, serta intrik busuk dari Vanya, anak angkat yang takut posisinya tergusur.

Bukannya tumbang oleh intimidasi dunia elite, gadis jenius bermental baja ini justru menarik perhatian Kaelen Arkananta, pewaris tunggal yang terkenal dingin dan tak tersentuh. Bersama Kaelen, Haena tidak hanya menemukan cinta sejati, tetapi juga mulai membongkar konspirasi gelap masa lalu yang sengaja membuangnya saat bayi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Haena_Llulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17 Sandera di Langit Jenewa

Denting alarm peringatan berfrekuensi tinggi tiba-tiba memotong kesunyian kabin mewah jet pribadi Arkananta Group yang sedang membelah awan di ketinggian tiga puluh ribu kaki di atas Laut Jawa. Seluruh layar monitor monitor kendali, yang semula menampilkan peta jalur penerbangan, mendadak berkedip kasar sebelum akhirnya memancarkan binar merah pekat yang dominan. Interupsi digital berskala masif tengah terjadi, meretas gerbang satelit terenkripsi yang biasanya tak tersentuh.

"Tuan Kaelen! Seseorang melakukan bypass paksa pada jalur komunikasi internal kita!" Clarissa berseru panik, jemarinya bergerak secepat kilat di atas papan ketik mekanis untuk menahan laju peretasan.

"Ini bukan serangan siber biasa... mereka menggunakan protokol militer asing tingkat tinggi!"

"Buka salurannya, Clarissa," perintah Haena, suaranya terdengar sangat jernih, dingin, dan beraura tegas tanpa ada riak ketakutan sedikit pun.

Setelan blazer formal desainer berwarna hitam pekat yang dikenakannya tetap rapi, memancarkan aura dominan seorang penguasa baru Dirgantara Corp yang memiliki mental baja tak tergoyahkan. Dari balik kacamata dengan bingkai transparan yang bertumpu di hidung mancungnya, sepasang mata jernih Haena menatap lurus ke arah layar monitor utama. Jari telunjuk tangan kirinya mulai mengetuk pelan tahi lalat kecil di bawah dagunya dengan ritme yang sangat konstan sebuah gestur refleks yang menandakan sirkuit otaknya yang jenius sedang melakukan kalkulasi taktis tingkat tinggi.

Layar raksasa di dinding kabin bergetar sesaat, lalu menampilkan sebuah rekaman video langsung terenkripsi dari Swiss.

Di dalam sebuah ruangan interogasi bawah tanah berdinding baja gelap yang kedap suara, Tuan Bramasta Dirgantara tampak terduduk lemas di atas kursi besi. Wajah berwibawa milik penguasa lama Dirgantara Corp itu kini dipenuhi luka memar kebiruan dan aliran darah segar yang mengering di pelipis kirinya. Kemeja formalnya robek di beberapa bagian, memperlihatkan kondisi fisik yang sangat lemah akibat penyiksaan taktis.

Di balik kamera, sebuah siluet pria jangkung berdiri bersandar pada dinding beton. Wajahnya sengaja disamarkan oleh kegelapan, namun suara bariton dengan aksen asing yang berat terdengar sangat nyaring dan dingin melewati pengeras suara kabin jet.

"Haena Dirgantara... kamu memang sangat jenius. Kamu berhasil menyapu bersih faksi Nyonya Rosalind di ruang sidang Jakarta dan meledakkan drone bunuh diri kami di udara. Tapi, kemenangan domestikmu tidak bisa menyelamatkan nyawa ayah kandungmu dari tangan sindikat utama kami di Jenewa. Aliansi maritimmu dengan Arkananta Group telah mengancam jalur sutra hitam kami di Asia Tenggara. Batalkan merger proyek Smart Port dalam waktu dua puluh empat jam, atau Papa-mu akan dikirimkan kembali kepadamu dalam potongan-potongan kecil."

PIP.

Sambungan video terputus seketika, meninggalkan keheningan yang teramat mencekam di dalam kabin jet pribadi.

Pak Baskara yang berdiri di sudut ruangan langsung memegang tepi meja marmer dengan wajah pucat pasi bagaikan mayat. Tubuh sekretaris senior itu bergetar hebat menahan rasa syok yang luar biasa.

"Tuan Bramasta... bagaimana mungkin sistem keamanan bank privat di Swiss bisa ditembus oleh mereka? Ini... ini adalah bencana internasional!"

Kaelen Arkananta yang berdiri di samping Haena mengepalkan tinjunya dengan sangat keras hingga buku-buku jarinya memutih dan mengeluarkan bunyi gemeletuk yang berbahaya. Sepasang mata elangnya berkilat penuh murka yang luar biasa masif, memancarkan aura seorang predator puncak yang siap mengoyak mangsanya.

"Sindikat utama Selat... mereka bukan sekadar mafia logistik regional. Mereka adalah bagian dari kartel hitam internasional yang bergerak di bidang pendanaan spionase industri!"

Kaelen langsung berbalik menatap Gavin yang berdiri siaga dengan gawai taktis di tangannya.

"Gavin! Hubungi jaringan intelijen militer Arkananta di Eropa sekarang juga! Berikan mereka koordinat satelit dari IP address pengirim video tadi! Aku ingin tim serbu kita di Zurich bergerak ke Jenewa dalam waktu tiga puluh menit!"

"Siap, Tuan Kaelen!" jawab Gavin dengan nada patuh yang teramat dalam, langsung melangkah menuju kokpit untuk melakukan panggilan terenkripsi khusus.

Sementara itu, di sebuah sudut kota Jakarta yang jauh dari kemewahan, berita tentang penculikan Tuan Bramasta belum terendus oleh media domestik. Namun, di dalam sel tahanan darurat sementara, Nyonya Rosalind yang masih terikat borgol besi tampak tertawa melengking tinggi menembus jeruji beton yang pengap.

Vanya yang duduk bersimpuh di sudut sel dengan jaket denim longgarnya yang kusam hanya bisa menatap ibunya dengan pandangan ngeri.

"Ibu... kenapa Ibu tertawa? Kita sudah dijatuhi hukuman penahanan! Kita akan membusuk di penjara!"

"Kamu bodoh, Vanya! Kamu tidak tahu apa-apa tentang jaringan suamiku yang sesungguhnya!" pekik Nyonya Rosalind dengan mata melotot penuh kegilaan distorsi kebencian.

"Tuan Bramasta mengira dia bisa menceraikanku dan menyerahkan seluruh aset Dirgantara Corp kepada jalang kecil berkacamata itu dengan mudah? Dia lupa bahwa dana operasional faksi rahasia kami terikat langsung dengan sindikat utama di Jenewa! Saat ini... Haena pasti sedang menangis merangkak memohon ampun agar ayahnya tidak dimutilasi di Swiss! Hahaha! Rasakan itu, Haena!"

Kembali ke atas langit Laut Jawa, Haena tetap duduk dengan posisi tegak yang sangat anggun di kursi kulitnya, memancarkan ketenangan ekstrem yang luar biasa memukau. Kemeja sutra putih murninya yang membungkus siluet tubuhnya dengan sangat anggun tidak memperlihatkan tanda-tanda kecemasan sedikit pun. Mental bajanya menolak untuk tunduk pada ancaman emosional yang sengaja dirancang untuk mengguncang fokus bisnisnya.

"Clarissa, jangan lakukan pelacakan fisik konvensional pada koordinat video tersebut," perintah Haena, suaranya terdengar sangat jernih dan sarat akan otoritas mutlak.

Clarissa menghentikan jemarinya sesaat, menatap Haena dengan ekspresi bingung.

"Tapi Nona Haena, jika kita tidak melacak lokasi ruang interogasi itu sekarang, keselamatan Tuan Bramasta akan berada dalam bahaya kritis seiring berjalannya waktu hitungan mundur dua puluh empat jam!"

Haena membetulkan letak kacamata transparannya dengan gerakan yang sangat elegan sebelum menjelaskan hasil komputasi taktis di dalam otaknya.

"Sindikat asing yang mampu meretas jaringan jet pribadi Arkananta tidak akan sebodoh itu meninggalkan jejak lokasi asli mereka pada metadata video. Video yang baru saja kita lihat adalah umpan distorsi spasial. Jika tim serbu Kaelen bergerak ke Jenewa berdasarkan koordinat palsu itu, mereka justru akan masuk ke dalam perangkap penyergapan massal."

Kaelen menyipitkan matanya yang tajam, melangkah lebih dekat ke arah kursi Haena hingga jarak di antara kedua titan muda itu kian mengikis. Aroma maskulin yang khas dari tubuh Kaelen memberikan kontras yang kuat di tengah ketegangan kabin.

"Jadi, kamu melihat sesuatu yang tersembunyi di dalam rekaman video penyiksaan ayahmu tadi, Haena?"

"Benar," balas Haena, seulas senyuman sinis yang teramat menawan namun mematikan terukir di bibir cantiknya.

"Clarissa, lakukan pembesaran gambar (zoom-in) pada pantulan dinding baja di belakang kursi Papa pada detik ke-empat belas. Naikkan kontras pencahayaannya hingga mencapai delapan puluh persen."

Clarissa segera mengeksekusi perintah tersebut. Layar monitor besar menampilkan potongan gambar dinding baja yang diperbesar secara digital. Di permukaan baja yang sedikit berkarat itu, tampak sebuah bayangan logo kecil berwujud jangkar janggal dengan nomor registrasi maritim internasional yang samar IMO 91483.

"Itu bukan ruang bawah tanah sebuah bangunan di kota Jenewa," ucap Haena, matanya berkilat penuh kecerdasan mutlak dari balik lensa kacamatanya.

"Itu adalah interior lambung kapal tangker minyak tua milik perusahaan cangkang Tuan Agharna yang terdaftar di pelabuhan transit maritim Selat Ombai, namun saat ini sedang berlabuh secara ilegal di perairan internasional dekat pelabuhan Kupang untuk memantau pergerakan kita secara langsung."

Pak Baskara terbelalak, memegang dadanya sendiri karena tidak menyangka akurasi analisis hukum dan forensik nona mudanya bisa menembus manipulasi tingkat tinggi berskala internasional tersebut.

"Jadi... Tuan Bramasta sebenarnya tidak pernah dibawa ke Swiss?! Beliau diculik saat transit dan saat ini berada di wilayah perairan yang sama dengan tujuan penerbangan kita?!"

"Tepat," sahut Haena tegas, berdiri dari kursinya dengan punggung yang sangat tegap.

"Sindikat utama sengaja menggunakan latar belakang suara dan aksen asing Jenewa untuk memaksa kita membelah kekuatan tim taktis Arkananta ke Eropa, sementara mereka bisa dengan bebas menghancurkan sisa logistik kita saat kita lengah."

Kaelen Arkananta terkekeh rendah, sebuah tawa karismatik yang memancarkan kepuasan dan rasa kagum yang tak terbatas terhadap gadis berkacamata di hadapannya. Dia maju satu langkah, menatap lekat-lekat ke dalam mata jernih Haena dengan tatapan yang penuh komitmen aliansi yang kian kental.

"Bermain taktik penyesatan ruang di hadapan seorang monster intelektual seperti Haena Dirgantara adalah kesalahan terbesar yang pernah mereka lakukan di dunia bisnis ini."

Kaelen segera menatap Gavin yang baru saja kembali dari ruang kokpit.

"Gavin! Batalkan perintah ke Zurich! Alihkan seluruh koordinat tempur tim taktis bayangan satu dan dua menuju titik koordinat kapal tangker IMO 91483 di perairan luar! Siapkan persenjataan berat dan sistem pengunci frekuensi navigasi udara!"

"Siap, Tuan Kaelen!" jawab Gavin dengan penuh semangat, auranya kian membara menghadapi pertempuran nyata yang sesungguhnya.

Haena berjalan mendekati jendela jet pribadi, menatap hamparan langit biru dan lautan luas di bawah sana yang sebentar lagi akan menjadi saksi bisu runtuhnya sisa-sisa kekuatan gelap masa lalu. Jari telunjuknya mengetuk tahi lalat di bawah dagunya untuk terakhir kali seiring dengan selesainya penyusunan panggung eksekusi massal yang baru di dalam otaknya. Fajar baru imperium Dirgantara Corp dan aliansi taktis Arkananta Group tidak akan pernah bisa dihentikan oleh siapa pun, dan bagi mereka yang berani menyentuh keluarganya... lautan timur akan menjadi kuburan massal yang paling sunyi.

(Cliffhang)

"Tepat saat jet pribadi bersiap melakukan manuver pendaratan darurat di bandara di bawah pengawalan ketat tim taktis, Clarissa mendadak mendeteksi bahwa sistem autopilot jet mereka tiba-tiba mengalami enkripsi sekunder dari luar. Sebuah pesan teks baru muncul di layar utama kokpit, kali ini dikirimkan langsung oleh nomor rahasia milik Ibu Aminah dari Jakarta yang telah disadap oleh pihak ketiga: "Haena... jika roda pesawatmu menyentuh landasan pacu Kupang dalam waktu sepuluh menit ini, sistem sensor berat bandara akan memicu ledakan bom paku magnetik yang telah kami tanam di bawah aspal jalur pendaratan."

1
Osie
rosalind mak kandung harga bukan yaa?? kok malah jd musuh anak sendiri
Haena_Llulia: kamu tau kan maknya gimana😔
total 1 replies
Osie
ini hana apa udah gak sekolah ya..kok mainnya diperusahaan terus
Haena_Llulia: iya, kayaknya gitu deh. ini jg pasti krn masalah yg muncul
total 1 replies
Osie
eh nyonya rosalind ente emak kandung haena kan??? kok kayak mak tiri ya yg takut kehilangan harta warisan
Haena_Llulia: iya aku juga jadi ngedek dehhh sama dia😡
total 1 replies
Osie
mampir akuh nya..msh nyimak dan moga MC nya sosok tangguh. benar benar tangguh n smart
Haena_Llulia: Terimakasih banyak, aminnnn🙏🤗
total 1 replies
Alia Chans
"Menulis cerita ini membutuhkan waktu berjam-jam, tetapi satu like mungkin mampu menghapus lelah itu dalam sekejap. Semangat thor nulisnya😍
Haena_Llulia: Terimakasih banyak bebkuhhhh😳🙏❤
total 1 replies
Alia Chans
mampir thor✍️👈
Haena_Llulia: Terimakasih banyak🙏
total 1 replies
Siru06
mampir thor👍
Haena_Llulia: Terimakasih banyak🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!