Bagaimana jadinya jika Ninja Elit hidup di bawah kekuasaan Singasari.
Hattori, Di eksekusi oleh Klan nya sendiri karena tahu terlalu banyak informasi. Jiwanya terbangun di tubuh Sena, pemuda 15 tahun yang tewas pada detik yang sama dengannya di Lembah Harau, pada masa Ekspedisi Pamalayu di Sumatera.
Awalnya Hattori hanya ingin membalaskan dendam sederhana Sena, membunuh Purwa dan Jeliteng. setelah itu ia ingin hidup damai dan membagun keluarga, tapi takdir malah menyeretnya dalam konflik lebih besar.
Ia jadi buronan Singasari dan juga jadi incaran para gerilyawan Sumatera, Pasukan Harimau yang tengah berjuang mengusir Singasari dari tanah Sumatera.
Hingga sebuah penghianatan memaksanya ke tanah Jawa, di jantung Singasari. Mencabut akar semua masalah...meruntuhkan ke
Singasari.
Ini memang bukan kisah Gajah Mada.
Tapi ini kisah dari mana sang legenda berasal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zamo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lima Lawan Satu
Enam bulan penuh latihan neraka telah mengubah pemuda-pemuda Harau menjadi sosok yang berbeda. Tubuh mereka kini liat, napas mereka teratur, dan tatapan mata mereka tajam.
Namun, di antara mereka, Sena adalah sebuah keajaiban yang meresahkan.
Hattori dalam raga Sena merasa seperti menemukan kepingan teka-teki yang selama ini hilang dari hidupnya sebagai seorang Obake.
'Seandainya Shinobi memiliki Silek ini, kami mungkin tak harus selalu lari dan sembunyi di balik bayangan,' batinnya saat ia melakukan Gejow Randah dengan sempurna. 'Dengan tumpuan serendah ini dan keganasan serangan baliknya, seharusnya Shinobi mampu bertarung secara terhormat melawan Samurai tanpa harus selalu mengandalkan tipu daya.'
Dalam beberapa kali sesi latih tanding, Sena terlalu dominan. Balun yang paling kuat sekalipun, atau Idan yang paling gesit, jatuh berdebam hanya dalam hitungan detik saat berhadapan satu lawan satu dengan Sena. Seolah ia bisa membaca arah serangan sebelum lawan bergerak.
Datuk Tarang menyadari hal ini. Keunggulan Sena bisa menjadi bumerang jika kawan-kawannya kehilangan kepercayaan diri, atau jika Sena menjadi terlalu jumawa.
"Cukup!" teriak Datuk Tarang, menghentikan duel Sena yang baru saja menjatuhkan Danta dengan teknik Guntiang. "Sena, kau terlalu mudah menang. Dan kalian berlima... kalian terlalu mudah menyerah."
Datuk Tarang menunjuk ke arah hutan basah dan tebing-tebing curam yang mengelilingi air terjun Lembah Anai. "Hari ini, aturan berubah. Seluruh Lembah Anai adalah arenanya. Sena, kau adalah mangsanya. Dan kalian berlima... kalian adalah satu kawanan Harimau yang harus menjatuhkannya."
Balun menyeringai, mengusap debu di wajahnya. "Lima lawan satu? Kau akan menyesal, Sena!"
Sena hanya tersenyum tipis, senyum yang jarang terlihat namun mematikan. "Jangan banyak bicara. Buktikan saja apa yang telah kalian pelajari."
Duel aneh itu dimulai dalam sunyi. Sena menghilang ke dalam rimbunnya tanaman pakis dan kabut air terjun dalam sekejap. Insting Shinobi-nya menyatu dengan teknik Langkah Silek yang kini sudah mendarah daging.
Balun memimpin kawan-kawannya dalam formasi jala, mengepung Sena dari segala arah. Mereka tidak lagi bergerak serampangan. Mereka merayap, menggunakan gerakan Mancak untuk saling menutupi titik buta.
Srett!
Sebuah bayangan melintas di atas kepala Monti. Sebelum ia sempat berteriak, Sena sudah mendarat di belakangnya, melakukan Gayuik, kuncian ringan di leher yang membuat Monti jatuh terduduk. Namun, Sena tidak menetap di sana.
Saat Idan mencoba menyapu kakinya dengan Sipak, Sena melakukan Loncek, lompatan sambil memutar tubuhnya di udara, mendarat di jembatan batang pohon tumbang yang licin.
"Dia di atas!" teriak Jagu.
Pertempuran pecah di lereng tebing. Balun dan Danta merangsek maju secara bersamaan.
Sena mengerahkan seluruh jurus Silek Harimau yang telah dipelajarinya. Ia menggunakan Sipiak, cakar yang penuh tenaga untuk menangkis serangan Danta, lalu di saat yang sama, kakinya melakukan Sipak Kura untuk menahan terjangan Balun.
Sena merasakan sensasi luar biasa. Koordinasi tubuhnya mencapai puncaknya. Di Iga, ia mungkin akan menggunakan bom asap atau melarikan diri jika dikepung lima orang.
Namun, di sini, dengan Gejow Randah yang kokoh, ia mampu berdiri di tengah kepungan, memutar poros tubuhnya, dan membalas setiap serangan dari sudut yang sangat rendah. Sudut serangan yang tak pernah dibayangkan oleh para Samurai.
Pertarungan itu berlangsung hampir setengah jam. Lembah Anai menjadi saksi bagaimana lima harimau muda mencoba menjinakkan satu bayangan yang sangat berpengalaman.
Keringat bercampur dengan uap air terjun, napas mereka memburu, namun semangat di mata mereka tidak padam.
Dari kejauhan, Datuk Tarang dan Mak Rangkayo memperhatikan dengan bangga.
"Sena bukan hanya melatih dirinya sendiri Mak," bisik Datuk Tarang. "Dia sedang memaksa kawan-kawannya untuk melampaui batas mereka. Dia adalah pusat badai ini."
Mak Rangkayo tersenyum tipis. "Dia bukan lagi mangsa, Tarang. Dia sedang mengajari kawannya bagaimana cara memburu seorang ahli."
Sena mendarat di tengah aliran sungai setinggi mata kaki, dikepung oleh lima sahabatnya yang kelelahan namun puas. Ia menyadari satu hal: raga ini bukan lagi milik Sena yang ringkih, dan jiwanya bukan lagi milik Hattori yang selalu melarikan diri.
Mereka kini adalah satu. Siampa Lembah Harau. Ini bukan lagi celotehan Sena untuk membakar semangat rekannya, tapi Siapa Lembah Harau yang sesungguhnya.
Bibir Sena tersungging lebar, ia sangat bangga pada kawan-kawannya, para pemuda yang awalnya hanya bermodal semangat dan nekat untuk menyelamatkan seorang putri, kini benar-benar menjelma menjadi unit tempur terlatih.
Sena kini benar-benar telah dipojokkan oleh Balun, Jagu, Danta, Idan, dan Monti yang menutup seluruh celah pelarian.
Kaki Sena menjejak kuat di aliran sungai yang bening setinggi mata kaki. Cipratan air pecah di bawah kakinya yang kokoh. Ia mencabut Kerambit kayu yang terselip di pinggangnya, memutarnya sambil melakukan Gejow Randah.
Kelima kawan itu juga melakukan hal yang sama, mata mereka berbinar ‘Akhirnya kami bisa menyusulmu..Sena’ batin mereka bangga.
Latihan keras Datuk Tarang akhirnya membuahkan hasil yang nyata dan kini mereka bisa merasakannya.
Sena memicingkan mata. Saat kelimanya hendak menerjang maju, ia lebih merendahkan tubuhnya hingga dadanya menyentuh aliran air sungai,
“GRRRR…” Geramnya.