NovelToon NovelToon
Sekretaris Kesayangan Bos

Sekretaris Kesayangan Bos

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Perjodohan / CEO
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Vedyta Hyuk

Jalur mature book, yang masih piyik jangan masuk 📌🙏🏻

Kenzo yang di khianati kekasih di masa lalu membuat dia tak mau dekat dengan wanita manapun. mantan kekasihnya adalah ibu tirinya saat ini.
Bagi Kenzo cinta adalah omong kosong, cinta cuma bisa di buktikan di atas ranjang, setelah itu tak ada ikatan apapun.

Kenzo Eko Armanta saat ini adalah sosok dingin, arogan, cuek, semaunya dan kejam.
Tiba-tiba saat seorang gadis bernama Vinda yang menjadi sekretaris baru masuk ke lingkungan hidupnya, gadis itu bisa memporak-porandakan kebekuan Hati Kenzo, saat itu lah dia baru sadar jika cinta itu masih ada.
Kenzo bisa kembali bersikap manusiawi dan mempercayai cinta lagi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vedyta Hyuk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

19. Karena aku mencintaimu Vinda

'Tenang saja, aku urus sampai tuntas. Percayalah," jawab Adrian mencoba menenangkan.

"Di mana mereka? Masih di sel tahanan?"

"Masih diperiksa di ruang interogasi."

"Bawa aku menemui mereka sekarang."

"Tapi bang Ken…"

"Tenang, aku takkan main tangan lagi. Cukup antarkan aku ke sana." Adrian terpaksa mengangguk dan mengantar Kenzo beserta pengacaranya ke ruang pemeriksaan.

Begitu masuk, Kenzo melihat kedua pria itu duduk di hadapan petugas, wajah lebam dan penuh bekas luka akibat pukulan kerasnya semalam.

"Pak Kapolsek, ini Pak Kenzo dan pengacaranya sudah datang," lapor petugas.

Melihat tatapan tajam Kenzo, mereka langsung menunduk gemetar. "Kalian sadar tak salah apa yang sudah kalian perbuat?" Tanya Kenzo dingin.

Mereka buru‑buru mengangguk. "Bersyukurlah semalam polisi cepat datang, kalau tidak kalian pasti sudah ku hukum mati di tempat."

Tubuh mereka makin gemetar hebat.

"Kalau yang hampir kalian perkosa semalam bukan Vinda, mungkin aku takkan peduli. Tapi karena dia kekasih ku…" Kapolsek Indra dan Adrian saling pandang, merasakan ketegangan yang makin pekat.

"Aku ingin memotong lidahmu yang berani menjilat leher wanitaku, membakar mulutmu supaya selamanya tak ada jejak tubuh Vinda di bibir kotormu!" ancam Kenzo berbahaya.

"Bang sabar, ini di kantor polisi" Adrian menelan ludah, wajahnya pucat. Ia segera menahan bahu Kenzo.

"Jangan, tolong pak huhu…"

Plak!

Salah satu tersangka terjatuh dari kursi, bibirnya kembali berdarah.

"Dan kamu?!" Teriak Kenzo menatap yang satu lagi. Pria itu langsung jatuh berlutut di lantai, memohon‑mohon ampun.

"Tuan… kami kapok, kami janji takkan berbuat macam‑macam lagi! Ampuni kami!"

"Berani tanganmu menyentuh tubuh Vinda‑ku?! Brengsek!" Kenzo menendang keras pria yang masih memegangi bibirnya, lalu gerutunya dalam hati.

'Sialan… aku saja belum pernah menyentuhnya sedikit pun'

Kenzo menarik kerah baju tersangka sampai pria itu tercekik dan kesulitan bernapas.

"Lepaskan dia bang! Nanti kamu bisa membunuhnya!" Mohon Adrian panik.

"Pak Kenzo biar kami yang menjatuhkan hukuman! Tolong jangan bertindak sendiri!" Larang AKBP Syarif ikut menahan.

"Diam kalian! Kalau dua tikus ini masih bebas berkeliaran di jalan, aku sendiri yang akan menghukum mereka mati! Kau dengar Minho?!" Bentak Kenzo lepas kendali.

"Baik, kami janji akan bereskan kasus ini tuntas! Tolong lepaskan dia sekarang!"

Begitu dilepas, pria itu jatuh terguling, terengah‑engah seperti nyawa dikembalikan. "Pak pengacara, tolong kabari aku terus perkembangan kasusnya."

"Baik, pak Kenzo anda tenang saja, semuanya akan saya selesaikan sampai tuntas."

"Dan ingat, kalau dua cecunguk itu berani muncul lagi di hadapanku, mereka takkan selamat!" Ancam Kenzo terakhir kali.

Tanpa mau berlama‑lama lagi, dia berbalik pergi meninggalkan ruangan itu setelah rasa marahnya sedikit terlampiaskan.

****

Rumah sakit internasional hospital

Setelah pulang dari kantor kepolisian, Kenzo langsung mengantar gadis itu ke rumah sakit internasional hospital. Dia mendaftarkan nama Vinda di bagian pendaftaran dan harus mengantri cukup lama. Kenzo meminta Vinda duduk tenang saja di ruang tunggu.

"Pasien nona Vinda..." Vinda yang sempat melamun tersentak saat Kenzo tiba‑tiba menarik lengannya.

"Mereka sudah memanggil kita Vin, ayo masuk."

"Astaga... iya pak...."

"Luka di bibir dan wajah ini akan sembuh sekitar tiga sampai empat hari. Selama itu usahakan jangan kena air dulu, ya. Oleskan obat tiga kali sehari dengan kapas beralkohol atau kain yang dibasahi air hangat," Ujar dokter wanita cantik itu setelah merawat luka‑luka Vinda, lalu menuliskan resep.

"Ini resepnya. Antibiotiknya harus dihabiskan sampai tuntas, Nyonya Vinda"

"Baik Dokter, terima kasih, saya akan ingat pesannya."

"Suami Anda sangat perhatian, sampai ikut masuk ke ruang periksa begini," Canda dokter sambil terkekeh.

Keduanya langsung jadi tersipu dan saling pandang.

"Dokter, sebenarnya kami—"

"Terima kasih banyak, Dokter. Kami langsung ke apotek untuk menebus obat," Potong Kenzo cepat, membuat Vinda bingung.

"Baiklah. Jaga Nyonya baik‑baik, jangan sampai terjatuh lagi ya, pak."

"Baik, terima kasih Dokter." Mereka berdua berdiri. Seolah memang pasangan suami‑istri, Kenzo langsung menggandeng tangan Vinda saat berjalan keluar ruangan.

"Nanti aku antar pulang. Istirahatlah dulu sampai lukanya sembuh," kata Kenzo sambil menyetir, sesekali melirik wajah gadis itu.

"Kenapa, ada yang salah?"

"Kalau pulang sekarang dengan bibir berdarah dan wajah bengkak begini, Ayahku pasti akan bertanya banyak hal." Kenzo mengangguk, baru sadar orang tua Vinda sama sekali belum tahu kejadian mengerikan semalam.

"Benar juga. Kalau begitu kita mau ke mana?"

"Antarkan saja ke daerah Bekasi. Saya akan menginap di rumah teman sampai luka dan bengkaknya hilang."

"Nanti kalau Ayahmu mencari kamu bagaimana?"

"Tadi sudah saya telepon bilang akan menginap di rumah Shela. dia teman dekat ku, Ayah tak curiga apa‑apa kok."

"Baiklah, terserah kamu saja. Tunjukkan arahnya ya." Vinda meremas tangan gugup. Cepat atau lambat dia harus bicara soal itu.

"Soal surat pengunduran diri yang saya berikan kemarin..."

"Aku tak menganggapnya serius. Sudah aku robek dan kubuang surat itu ke tempat sampah," Sahut Kenzo santai sambil terkekeh.

"Pak, maafkan saya, tapi saya tetap ingin berhenti bekerja di Tous Les Jours."

 

Ciiiitttt!

"Astaga!" Kenzo menginjak rem mendadak sampai mobil berhenti. Vinda refleks berteriak dan memejamkan mata karena kaget, untung jalanan saat itu sepi, kalau tidak pasti kendaraan di belakangnya sudah menabrak.

"Kamu bercanda kan?" Wajah Kenzo berubah kaget, rahangnya mengeras. Dia menatap tajam menunggu jawaban.

"Maafkan saya, tapi mungkin ini jalan terbaik. Saya akan cari pekerjaan di tempat lain saja."

"Apa kamu masih marah soal kejadian kemarin?" Vinda menggeleng tegas, menggigit bibir gelisah. Bukan soal itu, alasan utamanya dia takut tak lagi bisa mengendalikan perasaannya sendiri, dan makin sakit hati kalau suatu hari nanti melihat Kenzo berciuman dengan wanita lain lagi, tepat di depan matanya.

Sakit hati? Vinda sadar perasaan itu makin tumbuh sejak kemarin. Ia tak bisa lagi menyangkal hatinya mulai jatuh pada Kenzo.

"Bukan karena itu. Hanya saja saya merasa tak cocok lagi bekerja di sana."

"Kalau kamu nggak betah di meja kerjamu, kamu bisa pindah ke bagian mana saja yang kamu mau. Kalau tak mau satu ruangan denganku, tak masalah, aku akan pindahkan mejamu ke ruangannya Henry....."

Wajah Vinda memerah karena wajah Kenzo kini sangat dekat, sorot matanya terlihat memelas.

"Tolong jangan pergi, Vinda. Aku mohon!"

Sedekat ini dia bisa melihat ada bekas luka kering di sudut bibir Kenzo.

"Bibir pak Kenzo terluka?" Kenzo menyentuhnya sekilas lalu tersenyum tenang.

"Tak apa. Mungkin bekas adu jotos sama penjahat itu semalam."

"Maafkan saya... kalau bukan karena saya, pak bos takkan terluka begini." Kenzo tertawa pelan lalu mengusap lembut rambut Vinda, mendekatkan bibirnya tepat di telinga gadis itu.

"Karena hutangmu padaku makin banyak, aku memerintahkan kamu tetap bekerja di sana sampai semuanya lunas. Bagaimana? Setuju?"

"Hutang sewa kontrakan dan hutang budi saya semalam, ya?"

"Betul. Dan ada satu hal lagi..." Mata Vinda berkedip bingung, tapi pandangannya seakan terpaku pada wajah tampan itu.

"Karena aku menyukaimu, Vinda." Bisik Kenzo lembut.

1
Ananda Boy
next ka🤭
Ananda Boy
benci aku sama mantan nya Kenzo
Ananda Boy
vjnda km beruntung
Ananda Boy
next ka😍😍
Ananda Boy
wahh makin seru 😍
Ananda Boy
huhhh😭😭
Ananda Boy
lucu 🤣🤣
Ananda Boy
sabar pak Ken 🤣
Ananda Boy
beneran bikin ngakak, Vina itu lucu banget 😄🤣
Ananda Boy
🤣🤣🤣🤣🤣
Ananda Boy
lucu banget buku ini Kenzo yang nakal dan Vina yang lugu
Ananda Boy
maaf kak, aku bengek 🤣🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!