⚠️ PERHATIAN PEMBACA! ⚠️ Ini adalah Part 2 (Season 2) dari novel Petani Sultan: Rahasia Kendi Dimensi. Sangat disarankan untuk membaca Part 1 terlebih dahulu guna memahami alur cerita, intrik karakter, dan sepak terjang sang Petani Sultan!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DipsJr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kamu Hebat Banget!
Melihat Iblis Hitam mengekorinya dengan patuh, Banyu merasa terkejut sekaligus kegirangan. Ia sama sekali tidak menyangka akan menjinakkan kuda seliar dan segagah ini secara tak sengaja. Punya tunggangan sekeren ini benar-benar akan membuat penampilannya makin badass!
Di saat Banyu sedang asyik bersorak dalam hati, Jessica justru sedang tenggelam dalam kepanikan dan teror yang luar biasa. Meskipun gadis bule itu sudah memacu kudanya sekuat tenaga, jarak antara dirinya dan Banyu malah semakin jauh. Namun, dengan sifat keras kepalanya, Jessica terus memacu kudanya menyusuri arah hilangnya Banyu tanpa henti, bahkan tak membiarkan kudanya beristirahat sejenak pun.
Setelah melakukan pengejaran beberapa saat, Jessica berpapasan dengan Lucy yang berjalan kembali sendirian. Awalnya, hati Jessica sempat berbunga-bunga, mengira Banyu sudah puas berpacu dan kembali untuk menjemputnya. Namun, saat matanya menangkap pelana Lucy yang kosong melompong, kepanikan gila seketika menyergapnya.
"Dia jatuh!" Pikiran buruk itu langsung melintas di kepala Jessica, membuat hatinya serasa diremas oleh penderitaan dan penyesalan yang mendalam. Di detik itu juga, Jessica mengutuki dirinya sendiri. Seharusnya ia tidak pernah mengizinkan Banyu menunggang kuda. Kalau saja ia lebih tegas melarangnya, kecelakaan tragis ini pasti tidak akan terjadi.
Saking khawatirnya pada nasib Banyu, Jessica sama sekali tidak memedulikan Lucy yang meringkik manja ke arahnya. Ia justru melecutkan cambuknya kuat-kuat dan kembali memacu tunggangannya secepat kilat ke depan, mati-matian mencari Banyu yang ia yakini sedang terkapar tak berdaya.
Sayangnya, kenyataan kejam kembali menghantam mental Jessica. Meski ia sudah menyisir area itu cukup jauh, tak ada seujung rambut Banyu pun yang terlihat. Pemuda itu seolah menguap begitu saja ditelan bumi! Jessica yang sudah kalut mulai membayangkan skenario-skenario mengerikan. Apakah Banyu yang terluka sudah diselamatkan oleh orang lewat? Atau... jangan-jangan dia dimangsa binatang buas?! Jessica tahu persis bahwa area Pegunungan Stone adalah habitat aktif singa gunung. Bagaimana kalau Banyu yang sedang terluka parah dan tak berdaya berpapasan dengan singa yang kelaparan...?
Membayangkan kemungkinan mengerikan itu, Jessica tak sanggup lagi berpikir. Tubuhnya mendadak lemas, seolah seluruh tenaganya terkuras habis. Ia merosot turun dari pelana, terduduk di atas hamparan rumput, membenamkan wajah di kedua telapak tangannya, dan akhirnya tangis gadis tangguh itu pun pecah.
"Aduh, ini anak gadis siapa kok nangis sendirian di sini? Apa kamu tersesat? Sini, biar Om antar pulang!" Tepat ketika Jessica sedang tenggelam dalam keputusasaan yang pekat, suara tawa usil Banyu mendadak terdengar dari atas.
Gadis Amerika itu tersentak dan buru-buru mendongak. Di balik pandangannya yang kabur oleh air mata, sosok Banyu berdiri di sana dengan senyum cengengesan khasnya, tanpa luka lecet sedikit pun. Pada detik itu, ledakan kebahagiaan yang tak terlukiskan memenuhi dada Jessica. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia melompat berdiri, mengalungkan lengannya ke leher Banyu, dan mendaratkan ciuman yang sangat panas dan beringas ke bibir pria itu.
Awalnya Banyu sedikit terkejut dengan serangan agresif Jessica, tapi sebagai pria normal, tentu saja ia dengan cepat merespons dan mengambil alih kendali permainan. Dalam pergulatan bibir dan lidah yang panas itu, napas Jessica menjadi semakin memburu. Tubuhnya perlahan meleleh tak bertenaga di pelukan Banyu. Meski begitu, lengannya tetap mengunci rapat leher pemuda itu, seakan takut jika ia melonggarkan pelukannya sedetik saja, Banyu akan kembali menghilang.
Entah berapa lama mereka berciuman, hingga akhirnya bibir mereka perlahan terlepas demi meraup oksigen. Wajah cantik Jessica sudah semerah kepiting rebus. Dengan mata birunya yang masih berkaca-kaca, ia berbisik dengan nada campur aduk antara manja dan syok, "Kamu dari mana aja sih?! Aku nyaris mati saking paniknya tahu nggak!"
Mendengar kekhawatiran tulus dari gadis itu, hati Banyu ikut terenyuh. Ia mengecup lembut pipi Jessica dan menjawab santai, "Aku cuma jalan-jalan keliling naik kuda sebentar kok, nggak ke mana-mana."
"Ngawur! Lucy aja tadi papasan sama aku, terus kamu naik kuda apa..." Perkataan Jessica terhenti seketika. Sepasang mata biru lautnya membelalak lebar, dipenuhi teror yang mencekam saat menatap sosok Iblis Hitam yang berdiri dengan tenang tak jauh di belakang Banyu.
Tadi, Jessica memang terlalu emosional sampai-sampai ia sama sekali tidak menyadari kehadiran kuda raksasa tersebut. Kini, setelah menyadari bahwa kuda liar paling buas dan melegenda itu hanya berjarak beberapa langkah di belakang Banyu, sisa kalimatnya langsung tertelan kembali ke tenggorokan. Dengan suara yang sangat pelan dan bergetar, ia mencoba memperingatkan Banyu, "B-Banyu... Si Iblis Hitam ada persis di belakangmu... kumohon, jangan menengok ke belakang..."
Melihat tingkah Jessica yang ketakutan bak melihat hantu, Banyu justru tertawa geli. Dengan santai ia menoleh ke belakang, melambaikan tangan pada kuda buas itu, dan berseru, "Sini, Boy!"
Kuda liar yang gagah dan cerdas seperti Iblis Hitam ternyata sangat memahami insting manusia. Seolah mengerti panggilan Banyu, ia melangkah maju perlahan, lalu menyandarkan kepalanya yang besar ke pundak Banyu. Tingkahnya terlihat sangat jinak dan manja, persis seperti anak anjing peliharaan!
Kejadian yang sepenuhnya melanggar hukum alam itu sukses membuat Jessica membatu seperti patung. Butuh waktu cukup lama sebelum otaknya bisa memproses apa yang baru saja dilihatnya. Dengan mulut masih setengah ternganga, ia tergagap, "I-ini... bagaimana ceritanya?!"
"Tadi papasan di tengah jalan, ya udah aku kasih sedikit pelajaran sopan santun," jawab Banyu enteng sambil mengelus-elus surai Iblis Hitam. "Habis itu dia ngikutin aku terus. Diusir juga nggak mau pergi. Ngomong-ngomong... kalau kayak gini, aku nggak ngelanggar undang-undang perlindungan satwa liar, kan?"
"Nggak kok, nggak ngelanggar..." gumam Jessica yang perlahan mulai kembali sadar dari syoknya. Sekali lagi, ia memeluk leher Banyu dan mendaratkan ciuman gemas di pipinya. "Kamu benar-benar luar biasa! Hebat banget!"
Fakta bahwa Banyu mampu menjinakkan Iblis Hitam dalam sekejap mata benar-benar membuat dada Jessica membengkak penuh kebanggaan. Di mata gadis Amerika itu, sosok Banyu semakin mendekati standar pria alfa yang sempurna tanpa cela.
Sayangnya, pujian tulus "Kamu hebat banget!" yang dilontarkan Jessica saat sedang excited itu memiliki makna ganda di telinga pria mesum seperti Banyu. Pemuda itu menatap Jessica dengan senyum penuh arti dan membalas menggoda, "Wah, baru dicium sebentar aja kamu udah tahu 'kehebatanku' di ranjang?"
Jessica bukanlah gadis pemalu dan pendiam seperti Laras. Bukannya tersipu malu, ia malah membalas godaan itu dengan kedipan nakal. "Yah, dari preview-nya sih lumayan menjanjikan. Tapi soal seberapa 'hebat' aslinya... itu masih butuh observasi lebih lanjut!"
"Kalau begitu, gimana kalau sesi observasinya kita mulai malam ini juga?" tawar Banyu sambil menyeringai. "Aku udah nggak sabar nih pengen pamer!"
"Kita lihat saja seberapa bagus performamu nanti!" Jessica mengedipkan sebelah matanya dengan gaya yang luar biasa seksi dan provokatif. Ia lalu melompat naik ke punggung kudanya dan memacu kudanya kembali menuju peternakan.
Siluet tubuh melengkung Jessica yang menggoda dari belakang sukses membuat Banyu kegerahan. Ia segera melompat ke punggung Iblis Hitam dan memacu tunggangan barunya itu untuk mengejar sang pujaan hati. Keduanya berpacu berdampingan di bawah langit biru yang cerah, sementara bayangan mereka di padang rumput menyatu menjadi satu.
Menjelang sore hari, rombongan koboi yang bertugas mengusir kuda liar akhirnya kembali. Meski terlihat kelelahan, raut wajah mereka memancarkan kelegaan dan kepuasan. Operasi hari ini berjalan sangat sukses. Hampir seluruh kawanan kuda liar berhasil digiring keluar dari perbatasan peternakan. Memang, hanya si Iblis Hitam yang berhasil kabur meloloskan diri. Namun hasil ini sudah sangat sesuai dengan ekspektasi mereka. Jika kuda raksasa nan beringas itu bisa ditaklukkan dengan mudah, tentu saja ia tidak akan dijuluki sebagai 'Iblis'.
Damon melompat turun dari kudanya dan berseru lantang kepada para pekerjanya, "Kerja bagus semuanya, kita sudahi operasi hari ini! Besok kita lanjutkan pencarian! Kita harus menemukan si Iblis Hitam itu dan menendangnya keluar dari peternakan ini!"
Belum sempat gema suara Damon menghilang, salah satu pekerjanya mendadak memekik histeris sambil menunjuk dengan jari gemetar, "I-Itu... Iblis Hitam!!"
Seluruh mata serentak menoleh ke arah yang ditunjuk pekerja itu. Dan benar saja! Kuda jantan raksasa yang menjadi buronan utama mereka sedang berdiri dengan santai di area tanah lapang depan istal kuda! Para koboi itu seketika menahan napas. Dengan waspada, mereka mulai menyebar, membentuk formasi kepungan perlahan-lahan untuk menjerat sumber masalah ini dan menyeretnya keluar.
Iblis Hitam jelas menyadari pergerakan para koboi yang mencoba mengepungnya. Namun, bukannya meronta atau mengamuk, kuda itu hanya mendengus kasar dengan tatapan meremehkan, lalu kembali menundukkan kepalanya untuk mengunyah pakan kedelai di palungan. Ia benar-benar menganggap puluhan pria di sekitarnya itu seperti debu yang tak penting.
Mark berada di garis paling depan barisan. Jantungnya berdebar kencang, dan telapak tangannya basah oleh keringat dingin saat menggenggam tali laso. Tinggal beberapa langkah lagi. Asalkan ia bisa maju sedikit lagi, Mark yakin ia bisa melemparkan lasonya tepat ke leher si Iblis Hitam, menaklukkannya, dan menyeretnya keluar. Dengan begitu, Damon dan anak buahnya bisa kembali bekerja memasang pagar besok pagi.
Namun, di detik-detik yang sangat mendebarkan bagaikan adegan film thriller itu, pintu kandang tiba-tiba terbuka. Banyu melangkah keluar dengan santai menenteng sekop pakan. Ia menuangkan tambahan kedelai ke dalam palungan, lalu menepuk-nepuk kepala raksasa si Iblis Hitam dengan sangat bersahabat layaknya hewan peliharaan jinak. Baru setelah itu, ia menoleh ke arah puluhan koboi yang sedang melongo dengan pose melempar laso, lalu menyapa dengan senyum lebar,
"Sore, Semuanya! Ngomong-ngomong, gimana pendapat kalian soal tunggangan baruku ini? Keren, kan?"