Perhatian Kian Sakala selalu tercuri pada teman perempuan SMAnya, Wanda Safia yang selalu diperlakukan seperti babu oleh Aditama Hasta.
Wajah lelah dan tertekannya selalu mengusik hati manusiawinya Kian. Tapi sepertinya pertolongannya terhadalp Wanda malah selalu berbuah pahit untuk temannya itu
Semoga suka, ya♡♡♡
Spin off Pesona Cassanova. Tapi bisa dibaca terpisah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahma AR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Debat keluarga
"Kenapa hobi banget adu fisik, sih, sayang?" Emily yang baru pulang sore harinya langsung menyidang putra kembarnya. Dewa suaminya juga ada di sampingnya.
"Aku ngga tahan, mam, melihat perempuan diperlakukan dengan kasar." Kian mengeluarkan pendapatnya, membela diri.
Kening Emily berkerut.
"Perempuan?" tanyanya ngga paham.
Dewa menatap Kian lebih serius.
"Iya, mam." Kian menyahut tenang
"Teman di sekolah, mam." Azka menambahkan.
"Maksudnya putranya Panji Hasta memperlakukan perempuan dengan kasar?" Dewa ikut menginterogasi.
Kian mengangguk.
"Keluarga Wanda bekerja di rumah Aditama. Neneknya art sudah sejak lama. Mendiang mamanya pernah jadi asisten papanya. Jadi dia menganggap Wanda asistennya juga," ungkap Kian mejelaskan kronologi awal mula bisa terjadi perkelahian ini.
"Ooh... Jadi Wanda itu perempuan yang diperlakukan kasar?" Emily menatap Kian penuh makna.
"Ya, dikata-in babu, disuruh suruh. Sampai didorong. Aku kasian, mam." Kian dengan luwes mengeluarkan unek uneknya.
Emily bertatapan dengan Dewa. Baru kali ini kedua putranya membahas perempuan di luar Keyra, Dira dan Vira atau kerabat mereka yang lain. Terutama Kian.
"Jadi kalian bela-in sampai akhirnya berkelahi rame rame?" Dewa mengangguk anggukkan kepalanya, mulau mengerti akar masalah kali ini. Karena Ezra tidak menjelaskan dengan detil waktu ditanya. Hanya mengatakan tentang hukuman mereka dan soal ganti rugi saja.
"Dia yang mulai duluan. Kita hanya melayani aja," sahut Kian anteng. Cengirannya terlihat jelas.
Emily tersenyum, begitu juga Dewa.
"Jadi mau sampai kapan begini terus? Berkelahi karena perempuan. Yang terlibat banyak orang lagi." Emily melepaskan nafas panjang. Kalo begini, sampai kelulusan di tiga tahun ke depan, putranya dan putra putra kerabatnya akan selalu bermasalah.
"Kalo berantem fisik di sekolah cukup sampai hari ini, mam. Soalnya guru BP yang baru ngasih hukuman berat banget," lapor Kian dengan wajah berubah be-te.
Alis Emily berkerut.
"Masih Bu Elia, kan?" Seingatnya Bu Elia baru dua minggu yang lalu bekerja di sekolah putra kembarnya. Mereka sudah pernah bertemu.
Sudah diganti orang lain?
"Masih, mam. Kan, hitungannya belum lama." Azka yang menyahut
"Kata Ezra kalian harus membersihkan kamar mandi selama satu minggu, bergantian dengan putranya Panji Hasta. Begitu?" Dewa tersenyum sedikit lebar
Kian menghembuskan nafas panjang.
"Kalo kami berkelahi lagi, hukumannya diperpanjang satu bulan."
Emily dan Dewa serentak tergelak
"Ya, udah, jangan kelahi lagi," nasehat Emily sambil mengacak gemas rambut Kian.
"Susah, mam. Aditama itu kompor yang gampang meledak," omel Kian.
Emily menghembuskan nafas pelan. Masalah putranya seperti biasa, pasti akan berlanjut.
"Azka. Kamu dengan yang lainnya ngga masalah ikut dihukum?" tanya Dewa mengalihkan pembicaraan.
"Mau gimana lagi, dad. Aditama itu suka keroyokan."
"Kalo gitu ngga ada solusinya," tukas Dewa sambil menatap Azka dan Kian bergantian.
"Kalian bakal ngegantiin tugas pembantu sekolah membersihkan kamar mandi selama tiga tahun," sambungnya kemudian tertawa lagi. Meledek kekesalan yang ada di wajah putra kembarnya.
Azka dan Kian menatap horor pada daddynya.
"Laen kali, sayang, pikir dulu sebelum menyesal nantinya," nasehat Emily lagi.
Kian dan Azka sama sama menghembuskan nafas kesal.
"Dad, bisakah kita saja yang membayar uang sekolah Wanda?" usul Kian setelah keheningan sempat tercipta.
Tawa Emily dan Dewa sudah mereda.
"Biar Aditama ngga kasar kasar lagi sama Wanda?" Emily yang menyahut.
Kian mengangguk.
"Biar kita juga ngga bersihin kamar mandi lagi, mam," tambah Azka.
"Oke. Nanti daddy bicarakan sama papanya Aditama," janjinya ngga yakin perseteruan anak anak mereka akan berakhir. Wanda hanya satu saja dari sekian keributan yang mereka lakukan.
Wajah putra kembarnya tampak berbinar.
"Thank's, dad." Kian benar benar lega mendengarnya.
Sikap putranya membuat Dewa curiga.
"Kian, kamu suka dengan Wanda?" todong Dewa membuat Kian agak berubah ekspresinya.
Emily sekarang fokus menatap Kian, menunggu jawabannya.
Kian menggelengkan kepalanya lebih dulu sebelum menjawab pertanyaan daddynya.
"Aku kasian aja melihatnya, dad." Saat mengatakan penyangkalannya, hati Kian merasa ngga nyaman.
Dia juga bingung kenapa merasa begini. Beberapa kali menolong Wanda karena Kian merasa cewe itu wajib dia tolong. Apalagi Wanda terlihat p@srah saja menerima perlakuan yang ngga seharusnya dia dapatkan.
Emily dan Dewa menganggukkan kepala mereka. Tidak i bertanya lagi yang bisa menyudutkan Kian.
"Oke, besok daddy akan janjian ketemu Papanya Aditama. Tapi kalo mereka menolak, daddy ngga bisa maksa. Itu privasi mereka."
"Oke, dad." Kian tau keberhasilannya mungkin nol koma nol nol nol persen. Tapi setidaknya dia sudah mengusahakan yang terbaik buat Wanda.
Anehnya dia merasa perutnya mendadak mulas tapi bukan seringai sakit yang ada di wajahnya, melainkan sekelumit senyum.
*
*
*
"Pa, Bu Elia bisa dipecat?" tanya Aditama yang menyusul papanya ke ruang kerjanya.
Langkah Panji Hasta terhenti. Tubuhnya berbalik menatap putranya yang hanya berjarak dua meter saja darinya.
"Kenapa harus dipecat?"
Aditama menghembuskan nafas kesal.
"Dia berani sekali menjemur kami dan menyuruh membersihkan kamar mandi selama satu minggu," omel Aditama mengeluarkan unek uneknya.
"Kenapa kalian hobi banget bertengkar? Setau papa, ini pertengkaran yang sudah kesekian kalinya." Panji Hasta berkata setelah duduk di sofanya. Tubuh lelahnya menyandar.
Selain di sekolah, anaknya juga pernah berantem di luar sana. Tiap ketemu kalo lagi nongkrong, buntutnya berkelahi. Untung saja para orang tua bisa menganankan situasi hingga tidak ada aparat yang terlibat.
"Kian yang mulai, pa," sergah Aditama ngga mau disalahkan. Dia duduk di sofa yang berada di depan papanya.
"Kali ini masalahnya apa? Sampai dapat hukuman begitu?"
"Dia mengganggu Wanda."
Alis Panji berkerut. Rasanya aneh mendengar kata kata putranya. Dia cukup mengenal orang tua Kian, juga kerabatnya.
"Pokoknya dia mengganggu Wanda. Aku ngga suka."
Panji menghela nafas berat.
"Jadi pertengkaran kali ini karena Wanda?"
Aditama menganggukkan kepalanya.
"Oh ya, papa bisa pecat Bu Elia?"
Panji Hasta menggeleng.
"Kenapa?"
"Bu Elia anak bu kepala sekolah yang juga pemilik.yayasan Dharnawangsa."
Aditama terhenyak. Di luar dugaannya. Pantasan guru BP itu berani sekali menghukum mereka.
"Kalo begitu aku mau pindah sekolah."
Panji Hasta tertawa pelan.
'Pindah karena takut dengan Kian?" pancingnya.
Aditama mendengus jengkel. Panji tertawa melihat anaknya yang memang memiliki sumbu pendek. Gampang meledak.
"Aku ngga takut sama dia, pa. Aku ngga mau terus terusan bersihin kamar mandi."
Papanya masih tertawa.
"Ya, sudah. Jangan cari masalah lagi dengan Kian atau siapa pun. Kamu harus serius sekolah. Siapa lagi nanti yang akan ngurusin bisnis papa kalo bukan kamu."
Aditama terdiam.
"Latihan sabar. Nanti kalo kamu sudah gantiin papa, akan sulit dapat klien kalo kamu gampang naik darah."
"Aku masih SMA, Pa. Masih jauh," ngeles Aditama.
"Karena masih jauh makanya dimulai dari sekarang. Kian juga bakal gantiin papanya. Masa kalian masih mau gontok gontokan juga nantinya?"
Rahang Aditama mengeras. Bukan solusi yang dia dapatkan dari papanya.
"Selain Kian, kamu juga pernah berantem dengan Alen, Denish, Gio. Mereka semua itu bakal jadi bos, sama kayak kamu. Kamu akan butuh mereka untuk berbisnis."
"Aku ngga perlu berbisnis dengan mereka. Aku sudah punya Mahesa dan teman teman pendukungku yang lain," sanggah Aditama keras kepala.
Panji Hasta mengangguk anggukkan kepalanya.
"Dunia itu berputar, Tama. Mungkin nanti kamu akan butuh mereka."
"Nggak akan pernah, pa."