Suatu hari sikap Maya mendadak berubah seratus delapan puluh derajat. Dia yang tadinya gadis pendiam dan lemah, kini memiliki tatapan tajam mematikan. Semua itu terjadi setelah pingsan yang dia alami. Semua orang terkejut dengan perubahan Maya. Julukan psiko mulai tersemat pada dirinya.
Abang tirinya yang mesum dan geng yang sering membully Maya di sekolah sekarang hanya bisa tercengang. Jika dahulu Maya hanya pasrah hingga bahkan tak berani menatap, maka kini dia malah berkata, "Aku akan sobek mulutmu jika berani menyentuhku!"
Apa yang terjadi pada Maya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 10 - Kembali Sekolah
Lorong rusun yang sempit itu mendadak terasa sunyi. Maya masih berdiri mematung di depan pintu kamar Bobby sambil menatap Bu Fitri. Sosok Bu Fitri yang sering memuji Maya karena rajin belajar.
“Maya?” panggil Fitri lembut.
Lamunan Maya buyar. Wanita itu tersenyum tipis lalu mengangkat plastik besar yang sedari tadi dibawanya.
“Ibu bawakan sesuatu.”
Maya mengernyit bingung. “Apa?”
Fitri menyerahkan plastik itu perlahan. Saat Maya membukanya, matanya langsung sedikit melebar. Di dalamnya ada buku tulis baru, alat tulis lengkap, beberapa buku pelajaran, bahkan seragam sekolah yang sudah dicuci rapi.
Kemal ikut tersenyum kecil. “Bu Fitri yang pilih sendiri.”
Maya terdiam..Untuk beberapa detik dia bahkan tak tahu harus bereaksi seperti apa.
Fitri menatapnya hangat. “Ibu tahu kamu suka belajar.”
Kalimat itu membuat dada Maya terasa aneh. Karena yang menyukai semua ini bukan dirinya. Tapi Maya asli..Gadis lemah yang hidupnya dipenuhi ketakutan itu ternyata punya mimpi besar.
Fitri kembali bicara, “Makanya Ibu merasa aneh waktu dengar kamu mau berhenti sekolah.”
Maya menunduk melihat buku-buku di tangannya. Ingatan lain kembali muncul. Maya kecil belajar sampai larut malam. Maya diam-diam membaca buku kedokteran bekas milik ayahnya.
Maya tersenyum sendiri saat berhasil mendapat nilai sempurna. Semua perasaan itu menyeruak begitu nyata sampai membuat Priska sedikit sesak.
“Kamu pernah bilang ke Ibu...” lanjut Fitri lirih, “‘Suatu hari saya mau jadi dokter supaya bisa nolong banyak orang.’”
Deg.
Maya memejamkan mata sesaat. Ingatan itu terlalu kuat. Sampai untuk pertama kalinya sejak bereinkarnasi ke tubuh ini, Priska merasa dirinya benar-benar hidup di dalam kehidupan orang lain.
Fitri menatap Maya hati-hati. “Kalau kamu berhenti sekolah sekarang... mimpi itu gimana?”
Bobby yang sejak tadi berdiri di dekat pintu ikut diam. Bahkan dia yang biasanya suka bercanda pun tak menyela.
Kemal lalu angkat bicara, “Saya dan Bu Fitri tadi sudah bertemu keluarga kamu.”
Mata Maya langsung berubah dingin sedikit. “Mereka bohong kan?” tebaknya.
Kemal menghela napas pelan. “Mereka terlihat... mencurigakan.”
Fitri mengangguk setuju. “Tapi satu hal yang pasti.” Wanita itu tersenyum lembut. “Kalau kamu nggak mau pulang ke rumah itu, tidak apa-apa.”
Maya sedikit terkejut. “Kami nggak akan memaksa kamu pulang,” lanjut Kemal. “Asal kamu tetap sekolah.”
Maya menatap mereka bergantian. Ada sesuatu yang hangat memenuhi dadanya. Aneh sekali. Sebagai Priska, dia tumbuh di dunia penuh kekerasan. Dulu hidupnya cuma soal uang, senjata, dan bertahan hidup.
Tak pernah ada guru yang mencarinya saat menghilang. Tak pernah ada orang yang membawakan buku sambil berkata mereka khawatir. Perhatian tulus seperti ini terasa asing. Justru karena asing rasanya sangat menyakitkan.
Maya menggenggam plastik perlengkapan sekolah itu sedikit lebih erat. “Kalian...” suaranya mengecil sedikit. “Kenapa baik banget sama saya?”
Fitri terlihat bingung. “Karena kamu murid kami.”
Jawaban sederhana itu justru membuat mata Maya memanas.
Kemal tersenyum kecil. “Dan karena kami nggak mau anak pintar kayak kamu nyerah begitu aja.”
Bobby langsung nyeletuk, “Iya, kalau dia putus sekolah nanti kerjaannya nyopet terus.”
Semua langsung menoleh ke arah Bobby.
“Eh! Enak aja! Kan lu gurunya!” sungut Maya.
Bobby refleks menutup mulut. “Eh, keceplosan lagi.”
Fitri membelalak.
Kemal memijat pelipis. “Saya anggap saya nggak dengar.”
Maya langsung menunjuk Bobby kesal. “Lihat kan? Makanya saya nggak boleh lama-lama tinggal sama dia. Otaknya kriminal.”
“LAH?!” Bobby tak terima. “Yang ngajak nyopet siapa?!”
“Kamu yang semangat!”
“KARENA GUE MISKIN!”
Suasana haru yang tadi memenuhi lorong rusun langsung hancur total. Fitri sampai tertawa kecil sambil menggeleng kepala. Bahkan Kemal ikut terkekeh.
Maya memandangi mereka beberapa detik. Lalu tanpa sadar dia ikut tersenyum. Senyum tulus..Sudah lama sekali dia tidak merasakan suasana seperti ini. Akhirnya Maya menghela napas pelan.
“Oke,” katanya.
Fitri langsung menatap penuh harap. “Oke?”
Maya mengangguk kecil. “Saya bakal sekolah lagi.”
Wajah Fitri langsung berbinar. “Serius?!”
Kemal juga terlihat lega. “Syukurlah.”
Maya mengangkat bahu santai untuk menyembunyikan rasa canggungnya. “Tapi jangan berharap saya jadi anak manis.”
Bobby langsung tertawa. “Mustahil. Nih manusia bangun tidur aja mukanya kayak mau bunuh orang.”
“Diam lu!”
Fitri tersenyum hangat. “Yang penting kamu datang dulu besok.”
Kemal ikut mengangguk. “Kami tunggu.”
Maya menatap buku-buku di tangannya sekali lagi. Mungkin ini memang yang diinginkan Maya asli. Priska merasa dia harus mewujudkannya.
***
Keesokan paginya. Rusun Melati sudah ribut sejak matahari baru naik. Suara ibu-ibu, pedagang sayur, dan anak-anak bercampur jadi satu.
Di dalam kamar sempit Bobby, suasana juga tak kalah kacau.
“WOY CEPETAN!” teriak Bobby dari luar kamar mandi. “Motor gue bisa mogok kalau dipanasin kelamaan!”
“Beres dikit napa sih?!” balas Maya dari dalam.
Hari ini Maya benar-benar kembali sekolah. Dia memakai seragam putih abu-abu milik Maya asli yang tadi malam dicuci Fitri. Rambutnya tergerai rapi.
Saat keluar kamar mandi, Bobby langsung melongo.
“Buset...”
Maya mengernyit. “Apaan?”
“Lu beneran kayak anak sekolah sekarang.”
Maya memutar mata malas. “Emang gue anak sekolah.”
“Masih aneh aja lihat lu nggak bawa pisau.”
Maya menyambar tasnya lalu melempar Bobby pakai handuk kecil. “BACOT!”
Beberapa menit kemudian mereka turun ke parkiran rusun.
Motor butut milik Bobby sudah menunggu dengan kondisi mengenaskan. Spion sebelah hilang. Joknya sobek. Bahkan saat dinyalakan suaranya terdengar seperti kaleng diseret.
BRENGGG!
Maya langsung menatap motor itu jijik. “Ini motor apa penderitaan?”
“Jangan hina kendaraan keluarga gue.”
“Ini layak masuk museum.”
Bobby manyun. “Naik nggak?”
Maya menghela napas pasrah lalu naik ke belakang.
Motor itu langsung oleng sedikit.
“E-EEH!” pekik Maya refleks.
“Tenang!” jawab Bobby. “Remnya masih berfungsi kok.”
“MASIH?!”
Mereka akhirnya melaju keluar rusun sambil terus berdebat sepanjang jalan. Walau mulutnya mengeluh, diam-diam Bobby merasa senang.
Maya sendiri duduk diam di belakang motor sambil memandangi jalanan kota. Angin pagi menerpa wajahnya pelan.
Sekolah, kata itu dulu tak pernah penting bagi Priska. Tapi sekarang berbeda. Karena di dalam tubuh ini masih ada mimpi seorang gadis bernama Maya yang belum selesai.
Atw ramuan bwt orang lain?
Mau nunggu diperkosa sama Jomie lagikah baru bertindak Priska?
Atw nunggu dibully rame² baru dibales Priska?
Enak banget tuh yang nge bully & merkosa dikasih waktu pengampunan terus sama Priska
🤨
Karena gak disinggung sama sekali keamanan sekolah baik penjaga sekolah, CCTV atw harus divideokan oleh orang lain baru viral semua kelakuan minus anggota sekolah disitu? 🤔