NovelToon NovelToon
Bukan Menantu Pilihan Umi

Bukan Menantu Pilihan Umi

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Perjodohan
Popularitas:455
Nilai: 5
Nama Author: Mrs. Fmz

Apakah selembar kain jilbab cukup untuk menghapus masa lalu yang dianggap cacat?
Bagi Hana, pernikahan adalah gerbang lembaran suci. Namun, kenyataan menamparnya begitu menginjakkan kaki di kediaman suami. Sebagai wanita modern, ia dinilai miskin ilmu agama dan tidak bernasab terhormat. Sang Umi pun menganggapnya sebagai perusak masa depan putra kesayangan.
Kini, Hana harus menghadapi penolakan dingin dan upaya mertua mengembalikan kekasih lama suaminya. Ia hanya ingin bertahan demi membuktikan keikhlasan berbenah diri.
Jika gagal, Hana akan kehilangan pria tercinta sekaligus merelakan kesehatan jiwanya hancur. Di tengah jepitan konflik, sang suami dipaksa memilih antara bakti orang tua atau melindungi belahan jiwanya.
Akankah ketulusan Hana melunakkan kerasnya hati sang Umi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mrs. Fmz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11: Ketika Umi Mulai Menggubah Perbandingan

Ketika Umi mulai menggubah perbandingan mendadak terdengar dentingan sendok perak yang beradu keras dengan piring porselen di meja makan utama. Hana tersentak dari duduknya, menahan napas sewaktu mendapati tatapan mata mertuanya yang menghunus tajam tepat ke arah wajahnya yang kian memucat. Di samping wanita tua itu, seorang gadis berpakaian syari anggun bernama Sarah sedang menunduk takzim sembari mengulas senyum tipis yang sarat akan makna kemenangan. Ruang makan keluarga pengasuh pesantren yang biasanya tenang kini berubah total menjadi panggung penghakiman yang sangat mencekam bagi sang menantu kota.

"Lihatlah bagaimana Sarah memotong sayuran dan menyajikan sup ini dengan penuh kelembutan khas putri seorang kiai," ujar Umi Kalsum memecah kesunyian dengan intonasi suara yang begitu dingin.

Hana meremas pinggiran taplak meja rajut di bawah pangkuannya demi menghalau rasa sesak yang kian menghimpit rongga dada. "Saya sudah berusaha meracik bumbu terbaik sejak sebelum subuh tiba, Umi, sesuai dengan petunjuk yang tertulis di dapur kemarin."

"Masakan bukan cuma soal resep tertulis, Hana, melainkan tentang ketulusan rasa yang lahir dari kebiasaan berkhidmat di lingkungan suci," tukas Umi Kalsum tanpa mempedulikan pembelaan diri menantunya.

Azzam yang duduk tepat di sebelah Hana hanya mampu terdiam membisu seraya menatap nanar ke arah mangkuk sup yang masih mengepulkan uap hangat. Jemari sang ustaz muda tampak bergetar pelan sewaktu memegang sepasang sendok, mencerminkan kebimbangan besar yang berkecamuk di dalam relung sanubarinya. Keberpihakan lelaki itu kembali lumpuh di hadapan ibunya, membiarkan sang istri sah berjuang sendirian melawan arus penghinaan yang kian terang terangan. Sikap pasif sang suami laksana duri tidak kasat mata yang menusuk semakin dalam ke bagian jantung Hana yang paling rapuh.

Sarah berdehem pelan, lalu menggeser mangkuk sambal cobek ke hadapan Azzam dengan gerakan tangan yang sangat gemulai. "Silakan dicicipi sambal bajak ini, Ustaz Azzam, saya membuatnya khusus menggunakan resep rahasia dari umi saya di pesantren seberang."

"Terima kasih, Sarah, aromanya memang sangat menggugah selera bagi siapa saja yang menghirupnya," jawab Azzam dengan nada suara yang terlampau kaku karena merasa canggung.

"Seorang lelaki yang berjuang mengurus ribuan santri membutuhkan pendamping yang paham betul struktur tradisi pesantren, bukan wanita yang sibuk memikirkan tren kosmetik kota," sindir Umi Kalsum kembali melayangkan pukulan kata kata yang telak.

Tamparan kalimat yang meluncur dari bibir sang mertua seketika membuat genangan air mata di pelupuk mata Hana tidak lagi terbendung. Riasan tipis yang melekat pada wajah cantiknya seolah ikut luntur bersama jatuhnya tetesan bening yang membasahi permukaan ubin ruang makan. Pertunjukan perbandingan yang sengaja digelar pagi ini mempertegas posisi Hana yang selalu dianggap cacat dan tidak akan pernah menjadi menantu pilihan. Ia merasa martabatnya sebagai seorang istri sah telah diinjak sampai lumat di hadapan wanita lain yang bahkan belum memiliki hak atas suaminya.

Hana bangkit berdiri perlahan, mengabaikan rasa perih yang menjalar di hatinya demi menyelamatkan sisa harga diri yang masih tersisa. "Umi, saya menghormati seluruh keputusan di rumah ini, namun membandingkan saya di depan tamu rasanya sudah melampaui batas kewajaran."

"Jangan mengajari saya tentang batasan kesopanan di dalam rumah yang saya bangun dengan keringat dan doa fajar ini, Hana," sergah Umi Kalsum seraya menggebrak permukaan meja kayu.

"Sudahlah, Hana, tolong duduk kembali dan jangan memperpanjang kesalahpahaman ini di depan Sarah," lerai Azzam dengan suara rendah yang terdengar seperti sebuah perintah sepihak.

Keputusan sang suami untuk membungkam mulutnya membuat Hana merasa benar benar terisolasi di dalam labirin rumah tangga yang penuh kepalsuan. Pandangan mata Sarah yang penuh kilat kepuasan seakan menjadi saksi betapa lemahnya posisi Hana di mata lelaki yang berjanji akan menjaganya sampai surga. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi, Hana melangkah mundur meninggalkan ruang makan dengan ritme kaki yang berguncang akibat menahan ledakan amarah. Koridor panjang menuju paviliun belakang terasa begitu sunyi, laksana lorong gelap yang siap menelan seluruh harapan bahagia yang pernah ia impikan.

Sesampainya di dalam kamar pengantin yang dingin, Hana langsung mengunci rapat pintu kayu dan melempar tubuhnya ke atas kasur. Ia memeluk bantal erat erat, membiarkan isak tangisnya pecah tanpa perlu takut terdengar oleh para santri yang sedang berlalu lalang di luar dinding. Bayang bayang kesempurnaan masa lalu Azzam bersama Sarah yang selalu diagungkan oleh lingkungan ini kini menjelma menjadi hantu yang terus meneror kewarasan batinnya. Hana menyadari bahwa pernikahan ini bukan lagi sebuah ibadah yang indah, melainkan medan pertempuran mental yang menguras seluruh cadangan kesabaran jiwanya.

Pintu paviliun diketuk beberapa kali dari luar, disusul suara langkah kaki Azzam yang mendekat dengan ritme yang sangat teratur. Hana enggan beranjak dari posisinya, membiarkan keheningan pekat kembali membentang luas di antara sekat pembatas hati mereka berdua yang kian menjauh. Ketika kunci pintu terbuka menggunakan serep, sosok Azzam muncul dengan gurat penyesalan yang tampak jelas menghiasi gurat wajah tampannya. Lelaki itu berjalan mendekati tepi ranjang, mencoba menyentuh pundak sang istri yang masih berguncang hebat akibat sisa tangis yang belum reda.

"Maafkan sikap Umi yang terlalu keras kepadamu pagi ini, Hana, beliau hanya ingin kamu segera mandiri," ucap Azzam lirih mencoba meredam ketegangan.

Hana membalikkan badannya, menatap tajam ke dalam manik mata suaminya yang terlihat penuh dengan keraguan. "Apakah membiarkan wanita lain menggantikan posisiku di meja makan juga bagian dari rencana kemandirian yang kamu maksud, Mas?"

"Sarah hanyalah tamu yang diundang Umi untuk membantu persiapan haul akbar pesantren bulan depan, tidak lebih dari itu," pembelaan diri Azzam terdengar begitu hambar di telinga Hana.

"Namun caramu menatapnya dan membiarkan Umi menghinaku membuktikan bahwa ada ruang di hatimu yang belum sepenuhnya mati untuknya," cecar Hana dengan suara bergetar menahan kepedihan yang teramat mendalam.

Azzam menghela napas panjang, lalu memalingkan wajahnya ke arah jendela luar kamar yang menampilkan aktivitas para santri putri di halaman. Ketidakmampuan sang suami untuk menegaskan batasan posisi istri sah membuat Hana semakin yakin bahwa dirinya berada di tempat yang salah. Setiap sudut ruangan ini seolah terus mendikte perilaku lahiriahnya sembari merampas kebebasan batin yang ia miliki sebelum menjadi menantu pesantren. Di bawah kepungan aturan suci yang dimanipulasi ego manusia, Hana merasa raganya kian kurus dan layu karena terus didera siksaan emosional.

Matahari kini telah bergeser tepat di atas kepala, menandai waktu istirahat siang bagi seluruh pengurus dan santri di kompleks tersebut. Hana memilih keluar dari kamar untuk mencari udara segar di sekitar area kolam belakang paviliun demi menjernihkan pikiran yang kusut. Namun ketenangan yang ia cari kembali buyar saat melihat Umi Kalsum dan Sarah sedang duduk santai di gazebo dekat pohon mangga. Mereka berdua tampak asyik berbincang sembari membuka sebuah buku catatan kuno yang dilapisi kain beludru berwarna hijau tua.

Umi Kalsum yang menyadari kehadiran Hana langsung meninggikan volume suaranya agar terdengar jelas oleh menantunya yang sedang berdiri terpaku. "Kitab catatan hafalan ini dulu diisi penuh oleh Sarah dengan nilai yang sangat sempurna sejak ia masih usia belia."

"Itu semua berkat bimbingan dan doa restu yang tiada henti dari Umi selama saya menuntut ilmu di sini," sahut Sarah dengan nada yang sengaja dibuat semanis mungkin.

"Sifat santun dan pemahaman agama yang matang seperti inilah yang seharusnya menjadi cerminan utama dari seorang pendamping ustaz terpandang," sindir Umi Kalsum tanpa ragu kembali menggoreskan luka baru pada perasaan Hana.

Hana memilih untuk tidak mempedulikan rentetan kalimat provokatif tersebut dan memutar balik langkah kakinya menuju arah perpustakaan pesantren. Ia tidak ingin lagi terjebak dalam permainan kata kata yang sengaja dirancang untuk meruntuhkan benteng pertahanan mentalnya yang kian rapuh. Wanita kota itu bersumpah di dalam hati akan mencari cara untuk membuktikan bahwa dirinya bukan wanita lemah yang bisa terus ditindas. Dengan sisa kekuatan yang ada, Hana memantapkan pandangan mata ke depan, bersiap menembus pekatnya kabut misteri yang menyelimuti masa lalu suaminya.

Langkah kakinya membawa Hana masuk ke dalam ruang penyimpanan kitab kuno yang terletak di sudut paling belakang kompleks perpustakaan. Suasana di dalam ruangan itu begitu lembab dan sunyi, hanya ada kepulan debu tipis yang beterbangan di antara barisan rak kayu besar. Hana mulai memeriksa satu per satu laci meja kerja milik Azzam yang jarang terkunci sewaktu siang hari tiba. Jemarinya mendadak berhenti bergerak saat menyentuh sebuah kotak kayu kecil yang tersembunyi di balik tumpukan kertas segel lama.

Ketika kotak itu berhasil dibuka, jantung Hana seolah berhenti berdetak mendapati selembar foto lama yang menampakkan kedekatan Azzam bersama seorang wanita. Wajah wanita di dalam foto itu begitu familier di ingatannya, sosok yang selalu diagungkan oleh sang mertua di setiap kesempatan makan bersama. Kenyataan pahit yang terpampang nyata di depan mata membuat seluruh persendian tubuh Hana mendadak lemas laksana kehilangan tulang penyangga. Air mata kembali menetes membasahi lembaran kertas kuno di dalam kotak, mengonfirmasi sebuah kebenaran kelam yang selama ini coba disembunyikan rapat rapat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!