"Jangan berharap terlalu tinggi, Aruna. Mahasiswi seperti kamu hanya akan menjadi sampah di industri ini."
Kata-kata tajam dari Baskara Dirgantara, dosen jenius yang berhati es, masih terngiang jelas di telinga Aruna. Di London, Baskara adalah hakim yang menghancurkan kepercayaan dirinya. Namun, sebuah tragedi besar memaksa Aruna kembali ke tanah air dengan rahasia yang ia simpan rapat-rapat, jantungnya sedang perlahan berhenti berdetak.
4 Tahun Kemudian, Aruna bukan lagi mahasiswi yang bisa diremehkan. Ia adalah pewaris tunggal yang siap mengambil alih kekuasaan. Namun, tepat saat ia mencoba berdiri tegak, sosok Baskara kembali muncul. Bukan lagi sebagai pengajar, melainkan sebagai pria yang mendadak muncul di setiap sudut hidupnya mengawasi setiap geraknya, memonitor setiap helaan napasnya, dan menunjukkan dominasi yang tidak masuk akal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 Sindiran Halus Aruna
Jauh dari hiruk-piruk kota London, di sebuah mansion megah di Jakarta, suasana terasa begitu menyesakkan. Deon Prawijaya duduk di kursi kerjanya yang terbuat dari kayu jati mahal, matanya terpaku pada layar monitor yang menampilkan laporan dari tim intelijen pribadinya. Di sana terlampir foto-foto buram Aruna yang sedang berjalan di trotoar London dengan jaket parka lusuhnya.
Ratna, istrinya, berdiri di sampingnya dengan mata yang sembab. Isak tangisnya tak kunjung reda sejak ia melihat foto putrinya yang tampak jauh lebih kurus dari saat terakhir mereka bertemu.
"Pa, cukup... lihat dia!" tangis Ratna pecah sambil menunjuk foto Aruna yang sedang membawa tas ransel berat. "Dia memakai baju yang bahkan tidak layak dipakai oleh pelayan kita. Rambutnya, penampilannya... mereka pasti menghina anakku di sana! Aku mau jemput dia sekarang, Pa!"
Deon menghela napas panjang, ia memijat pelipisnya yang berdenyut. "Jangan, Ma. Biarkan dia belajar. Papa juga kaget, ternyata dia benar-benar tidak menyentuh sepeser pun uang di kartu kredit itu. Dia mendapatkan beasiswa penuh dengan kemampuannya sendiri. Papa... Papa sangat bangga padanya."
"Bangga?" Ratna meninggikan suaranya, emosinya meluap. "Apa Papa tidak punya hati? Aruna anak tunggal kita! Dia pergi tanpa membawa baju-baju mahalnya. Dia hidup seperti orang kekurangan di negeri orang. Bagaimana kalau dia sakit? Bagaimana kalau orang-orang di universitas ternama itu merendahkannya karena dia terlihat miskin?"
Deon terdiam sebentar, bayangan wajah Aruna yang keras kepala saat terakhir kali mereka berdebat kembali muncul. "Aruna sedang membentuk mentalnya, Ma. Kalau kita jemput sekarang, semua perjuangannya sia-sia. Kita pantau saja dari jauh. Pastikan keamanannya tetap terjaga tanpa dia tahu."
"Tapi itu butuh waktu tiga tahun lagi sampai dia lulus, Pa! Tiga tahun!" seru Ratna putus asa. "Aku tidak sanggup melihatnya menderita selama itu."
Deon bangkit, lalu memeluk istrinya dengan erat. "Dia anak seorang Prawijaya. Darah kita mengalir di tubuhnya. Kalau dia bisa bertahan di sana tanpa nama besar kita, maka saat dia pulang nanti, tidak akan ada satu orang pun di dunia ini yang bisa menjatuhkannya lagi."
Kembali di asrama London, Aruna mengerang pelan saat mencoba bangkit dari tempat tidur. Luka di perutnya terasa sangat kaku pagi ini. Ia perlahan membuka perban yang diberikan Delsa semalam. Luka goresan itu sudah sedikit mengering, namun warnanya masih kemerahan yang pekat.
"Kamu mau kuliah dengan kondisi begitu?" suara Delsa terdengar dari meja belajar. Ia bahkan tidak menoleh, tapi tahu Aruna sedang kesakitan.
"Harus. Hari ini ada kuis mendadak di kelas Pak Baskara," jawab Aruna sambil menahan ringis. Ia memakai kaos putih bersih yang longgar untuk menutupi perban di perutnya, lalu melapisinya dengan jaket hoodie agar tidak ada yang curiga.
Sesampainya di kampus, Aruna berjalan dengan langkah yang sedikit diseret. Setiap langkahnya menarik kulit di sekitar luka, memberikan sensasi perih yang menyengat. Di koridor, ia bertemu dengan Devan dan Theo yang tampak sedang berbincang serius.
"Aruna! Kamu kenapa? Kok jalannya aneh begitu?" Devan langsung menghampiri, matanya penuh selidik.
"Ah, tidak apa-apa. Hanya sedikit pegal karena salah posisi tidur semalam," jawab Aruna berusaha tetap tenang, meski keringat dingin mulai membasahi dahinya.
"Kamu pucat, Aruna. Kalau sakit jangan dipaksakan," tambah Theo khawatir.
Namun, perhatian mereka teralihkan saat Baskara berjalan melewati mereka dengan wajah yang masih terlihat ketus. Ia sempat melirik ke arah Aruna, tepatnya ke arah perut Aruna yang sejak tadi dipegangi oleh gadis itu. Ada kilatan rasa ingin tahu di mata Baskara, namun ia segera membuang muka dengan dengusan sinis.
"Jangan manja. Masuk ke kelas sekarang," ucap Baskara dingin saat melewati mereka.
Aruna menggigit bibir bawahnya. Ia menatap punggung Baskara yang menjauh dengan rasa benci yang semakin memuncak. Ia tidak tahu bahwa pria yang baru saja menyenggolnya hingga berdarah itu adalah anak dari sahabat ayahnya sendiri. Dan ia juga tidak tahu, bahwa ayahnya sedang mengawasinya dari balik layar, membiarkannya ditempa oleh rasa sakit demi sebuah kemandirian yang mahal harganya.
"Tunggu saja, Pak Baskara," batin Aruna sambil melangkah masuk ke kelas dengan tangan yang masih menekan luka di perutnya. "Tiga tahun lagi mungkin terasa lama, tapi saya akan memastikan Bapak menyesal karena pernah mengenal nama Aruna Prawijaya."
Suasana kelas siang itu terasa lebih rileks. Baskara duduk di kursinya, fokus memeriksa tumpukan tugas di atas meja dengan kacamata bertengger di hidung mancungnya. Meski wajahnya tetap dingin, ia membiarkan para mahasiswa berdiskusi dalam kelompok kecil.
Di barisan depan, Aruna duduk melingkar bersama Devan dan Theo. Mereka bertiga sudah menyelesaikan bagian tugas mereka dan kini malah asyik mengobrol pelan.
"Ngomong-ngomong, Aruna," Devan memulai sambil memutar pulpen di jarinya. "Kamu benar-benar berasal dari pelosok desa? Maksudku, logatmu tidak terdengar seperti orang desa, malah lebih seperti orang yang sekolah di internasional."
Aruna tersenyum santai, meski jantungnya sedikit berdegup. Kebohongan ini sudah ia susun rapi. "Mungkin karena aku banyak menonton film Barat untuk belajar bahasa Inggris sebelum ke sini. Ayahku memang petani, tapi dia ingin aku punya wawasan luas."
Theo mengangguk-angguk percaya. "Luar biasa. Kami berdua saja yang dari keluarga berada di Jakarta butuh waktu lama untuk adaptasi di London. Kamu hebat, Aruna."
"Kami sudah bersahabat dari SMA," tambah Devan sambil menepuk bahu Theo. "Cita-cita kami sama, ingin jadi pengacara top di firma hukum internasional. Kalau kamu? Setelah lulus nanti, apa kamu masih teguh dengan jawaban pas hari pertama masuk?"
Baskara yang tampaknya sibuk dengan berkas di tangannya, sebenarnya memasang telinga. Pulpen peraknya berhenti bergerak saat ia menunggu jawaban dari gadis yang selalu membuatnya kesal itu.
Aruna mengangguk tanpa ragu, matanya berbinar. "Tetap sama. Aku mau pulang ke desa. Aku mau jadi pembela para petani yang tidak punya suara saat tanah mereka dirampas. Aku ingin hukum jadi alat untuk melindungi, bukan cuma untuk dijualbelikan."
Cih.
Sebuah decihan pelan keluar dari bibir Baskara. Ia tidak habis pikir, di tengah kemegahan London, gadis ini masih memelihara impian yang menurutnya sangat naif dan tidak menghasilkan uang. Namun, Devan dan Theo justru menatap Aruna dengan kagum.
"Wah, idealis sekali. Benar-benar tipe Aruna," puji Theo.
Obrolan pun berlanjut ke arah yang lebih santai. Devan mulai menunjukkan sisi usilnya. "Eh, bicara soal masa depan, tipe suami idamanmu seperti apa sih, Aruna? Penasaran saja, cowok mana yang bisa meluluhkan hati gadis sekeras kepala kamu."
Aruna tertawa kecil, pipinya sedikit merona. Ia berpikir sejenak. "Emm... mungkin seorang dokter."
"Dokter?" Devan dan Theo berseru kompak.
"Kenapa dokter?" tanya Theo bingung.
Aruna menjelaskan dengan nada bercanda namun ada sedikit nada serius di dalamnya. "Karena dokter itu biasanya tenang, penuh perhatian, dan yang paling penting... mereka tahu cara mengobati luka, bukan malah menambah luka."
Tanpa sadar, tangan Aruna menyentuh perutnya yang masih diperban di balik jaketnya. Kalimat itu seperti sindiran halus yang hanya ia yang tahu arahnya kemana.
Baskara yang mendengarnya merasa telinganya panas. Ia merasa tersindir, meski ia tahu Aruna tidak mungkin tahu kalau dia sedang mendengarkan.
"Yah..." Devan memasang wajah kecewa yang dibuat-buat. "Berarti tipenya bukan seperti aku yang berisik atau Theo yang kutu buku ini dong? Pupus sudah harapan kami, haha!"
Tawa mereka pecah di barisan depan. Aruna ikut tertawa lepas, sebuah pemandangan yang jarang terlihat. Di balik mejanya, Baskara mencengkeram pulpennya kuat-kuat. Ia merasa terganggu dengan tawa itu, terutama karena Aruna terlihat sangat bahagia saat membicarakan pria lain yang bukan dari dunianya saat ini.
"Diam! Ini kelas hukum, bukan tempat perjodohan!" bentak Baskara tiba-tiba, membuat tawa mereka terhenti seketika.
Aruna langsung menunduk kembali ke bukunya, sementara Devan dan Theo berdehem canggung. Baskara kembali menatap berkasnya dengan napas yang sedikit memburu, merasa kesal pada dirinya sendiri karena kenapa dia harus merasa terganggu dengan obrolan mahasiswanya.