Elena, pembunuh bayaran terbaik dari Klan Bayangan, terpaksa menikahi Pangeran Arlon yang dikenal lemah demi sebuah misi rahasia. Rencananya sederhana, yaitu menyamar, selesaikan misi, lalu menghilang.
Namun, semua berubah saat serangan terjadi di malam pertama mereka. Elena tertegun melihat sang Pangeran Tak Berguna justru menghabisi musuh dengan tangan kosong secepat kilat.
Kini, keduanya terjebak dalam sandiwara besar. Di siang hari mereka adalah pasangan yang malang, namun di malam hari, mereka adalah duet maut paling mematikan.
"Kau dikirim untuk menjaga nyawaku, tapi kau justru mencuri hatiku. Jadi, jangan harap bisa pergi setelah ini. Aku akan melakukan apa pun, bahkan membakar istana ini, asal kau tetap menjadi milikku." _Arlon Belmont.
Di dunia di mana cinta lebih berbahaya daripada racun, sang Pangeran Kegelapan tidak akan membiarkan istrinya pergi begitu saja, bahkan jika dia harus membakar seluruh istana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon vier08, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MATA MATA
BHUK
Elena menangkisnya dengan lengan bawah, namun dia sempat terdorong mundur satu langkah, matanya berkilat puas.
"Bagus! Sudah lumayan, tapi keseimbanganmu berantakan," ucap Elena, menatap Arlon.
"Tentu saja berantakan! Kepalaku rasanya berputar tiap kali aku bergerak cepat," keluh Arlon sambil terengah-engah, dengan peluh mulai membasahi kemejanya, membuatnya tampak transparan dan melekat di kulitnya.
Elena mendekat, tapi dia tidak menyerang lagi.
"Itu karena sirkulasi darahmu belum terbiasa dengan lonjakan energi yang aku berikan, kamu harus belajar bernapas dengan benar saat bergerak," ucap Elena berdiri tepat di depan Arlon dan memegang kedua bahu pria itu agar tetap tegak.
Elena meletakkan satu tangannya di dada Arlon, tepat di atas jantungnya yang berdegup kencang, dan tangan lainnya di punggung Arlon.
"Ikuti napas ku, jangan ditahan di dada, buang lewat perut," ucap Elena, memberikan instruksi.
Arlon mencoba mengikuti irama napas Elena, jarak mereka yang sangat dekat membuat Arlon bisa mencium aroma samar keringat dari tubuh Elena, bau yang anehnya justru memberinya tenaga tambahan.
"Setiap kali kamu memukul, bayangkan energinya mengalir keluar dari telapak tanganmu, jangan disimpan di dalam otot, nanti ototmu bisa hancur," ucap Elena memberikan instruksi dengan suara rendah.
Mereka melanjutkan latihan itu selama hampir satu jam di tengah remang lilin, bahkan Arlon berkali-kali jatuh tersungkur karena lemas, namun setiap kali itu juga Elena menariknya bangun tanpa kata-kata manis.
"Sekali lagi," ucap Elena dingin saat Arlon terduduk di lantai dengan napas tersengal.
"El... aku... aku benar-benar tidak kuat lagi," gumam Arlon, rambutnya basah kuyup oleh keringat.
Elena berlutut di depan Arlon, mengambil sapu tangan dan menyeka keringat di wajah Arlon dengan gerakan lembut, sangat berbanding terbalik dengan sifat galaknya tadi.
"Sedikit lagi, Arlon, kalau kamu menyerah sekarang, itu sama saja dengan kamu membiarkan pintu terbuka lebar untuk Arkan dan Selena masuk," ucap Raja Elena, mengusap lengan Arlon.
"Kenapa kamu melakukan semua ini? Kamu bisa saja memberiku energi setiap hari tanpa harus repot-repot melatihku berkelahi," tanya Arlon menatap wajah Elena.
Elena terdiam sejenak, tangannya berhenti di pipi Arlon.
"Karena suatu saat nanti, mungkin ada waktu di mana aku tidak bisa menyentuhmu, di saat itu, kamu harus bisa berdiri dengan kakimu sendiri," jawab Elena, menatap dalam mata Pangeran Arlon.
Arlon menggenggam tangan Elena yang ada di pipinya, mengecup telapak tangan Elena lembut, tapi kali ini dengan tatapan yang sangat serius.
"Aku tidak akan membiarkan waktu itu datang, Elena, tapi baiklah, aku akan berdiri lagi," ucap Arlon, tegas.
Arlon berdiri dengan susah payah, dia mencoba mengalirkan energi dari tangan Elena yang menggenggamnya, mereka berjalan ke bagian belakang paviliun yang tertutup semak belukar tinggi, tempat yang aman dari intaian pengawal.
"Coba pukul pohon itu," perintah Elena sambil melepaskan tangan Arlon.
Elena melingkarkan lengannya di pinggang Arlon dari belakang, menempelkan tubuhnya rapat-rapat pada punggung sang pangeran.
"Pukul," bisik Elena tepat di telinganya.
Arlon mengayunkan tinjunya ke batang pohon oak yang besar.
BHUKKKKK
KRAKKKK
Batang pohon itu hancur berantakan, Arlon terengah-engah, bukan karena lemas, tapi karena adrenalin yang memuncak, dia berbalik dalam dekapan Elena, membuat posisi mereka kini berhadapan sangat dekat.
"Ini... ini terlalu kuat," gumam Arlon, suaranya berat dan serak.
"Semakin luas kulit kita bersentuhan, naga di dalam darahku semakin sulit dikendalikan. Aku merasa ingin menghancurkan segalanya," ucap Arlon, tangannya yang bertenaga kini mencengkeram bahu Elena.
Elena menatap mata Arlon yang berkilat haus darah, dia tidak takut, justru dia merasa tertantang, dan sedikit familiar, seperti pernah melihat sebelum nya, tatapan mata seperti itu.
Tapi dimana? Pikir Elena, menggeleng kan kepala nya, untuk mengusir pikiran nya.
"Kalau begitu, kamu harus belajar mengendalikannya, jangan biarkan kekuatan ini menguasai mu, Arlon, kamu yang harus menguasainya," ucap Elena, tegas.
Arlon menunduk, wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari Elena.
"Bantu aku, Elena, jangan biarkan aku menjadi monster yang kehilangan akal," bisik Arlon, pelan.
Elena perlahan mengangkat tangannya, mengusap rahang tegas Arlon dengan lembut.
"Selama aku di sini, kamu tidak akan tersesat. Tapi ingat, latihan ini rahasia kita berdua, di depan publik, kamu tetaplah pangeran sampah yang tidak berguna," ucap Elena, penuh penekanan.
Arlon terkekeh, kepalanya bersandar di dahi Elena, menikmati detak jantung mereka yang saling berpacu.
"Aku tahu, tapi di sini, di paviliun ini, aku adalah naga yang sedang mengasah taringnya," ucap Arlon, pelan.
Sementara mereka berlatih di kegelapan, di atas pohon yang tak jauh dari sana, sepasang mata mengamati dengan tajam.
Seorang mata-mata Ratu Selena, seorang pembunuh bayaran tingkat tinggi, tertegun melihat kekuatan Arlon.
Pria itu segera beranjak pergi, melompat dari dahan ke dahan menuju istana utama.
"Aku harus melaporkan ini pada Yang Mulia Ratu," bisiknya dalam hati.
Namun, mata-mata itu tidak menyadari bahwa di belakangnya, sesosok pria berjubah hitam sedang mengikuti dengan belati yang sudah terhunus.
"Maaf, tapi rahasia ini tidak boleh sampai ke telinga Ratu malam ini," ucap pria berjubah itu dingin.
Jlep
Satu nyawa hilang di kegelapan malam, menjaga rahasia besar yang sedang dibangun di Paviliun Bintang.
Sementara Elena dan Arlon, mereka sudah kembali masuk ke paviliun mereka.
"Kenapa rasanya kamu sangat akrab, padahal kita baru bertemu?" tanya Arlon, menatap dalam mata Elena.
Deg
Jantung Elena tiba-tiba berdegup kencang, jujur dia juga merasakan hal yang sama, dia merasa sangat dekat dengan Arlon, padahal benar apa yang Arlon katakan, mereka baru bertemu beberapa hari ini.
"Sudahlah, mungkin itu hanya perasaan mu saja, cepat tidur, besok kalau ada waktu kita bakal belanja... tapi tanpa uang," ucap Elena sambil berjalan menuju sudut ruangan untuk tidur,
"Belanja tanpa uang? Kamu mau kita merampok toko di ibu kota?" tanya Arlon sambil menaikkan sebelah alisnya.
Elena yang sedang merapikan tempat tidur sederhananya di sudut ruangan menoleh sekilas.
"Merampok itu terlalu berisiko dan tidak elegan, Pangeran Arlon Belmont, tapi kita akan mengambil apa yang seharusnya milik alam," jawab Elena, tanpa melihat ke Arlon.
"Maksudmu?" tanya Arlon mengerutkan kening.
"Tadi aku sempat mendengar bisik-bisik para pelayan di pesta teh, mereka bilang Ratu Selena sudah memesan Bunga Kristal dari pedagang luar kerajaan dengan harga ribuan koin emas untuk persembahannya nanti," jawab Elena sambil menyandarkan tubuhnya ke dinding kayu.
"Lalu?"
"Di dalam Hutan Terlarang, ada sesuatu yang jauh lebih berharga dari sekadar bunga kristal buatan manusia, di sana ada Anggrek Api, Bunga itu hanya tumbuh di tempat yang memiliki energi bumi paling kuat, jika kita bisa membawanya ke hadapan Raja, bunga itu akan menyala dengan sendirinya saat terkena energi naga milikmu," jelas Elena, matanya berkilat penuh rencana.