Pada ulang tahun pernikahannya yang pertama, Hazel Frost menemukan suaminya, Mason Roux mencium wanita lain dengan kedua matanya. Dan yang lebih menghancurkan lagi, bahwa wanita itu adalah adik tiri suaminya, Jennifer.
Pernikahan yang seharusnya menjadi kebahagiaan pun perlahan berubah menjadi rahasia yang menyakitkan. Meski tahu hatinya tidak pernah benar-benar dimiliki, Hazel tetap bertahan. Ia mencoba membuat Mason melihatnya sebagai seorang istri, bukan sekadar wanita yang terpaksa harus dinikahi.
Namun semakin lama, Hazel mulai menyadari satu hal, bahwa tidak semua cinta bisa diperjuangkan sendirian. Lalu ketika ia akhirnya memilih berhenti dan pergi, Mason justru mulai menyadari perasaannya yang sebenarnya.
Tapi apakah semuanya sudah terlambat? Apakah Hazel masih bersedia kembali pada pria yang pernah menghancurkan hatinya? Atau justru Mason Roux yang akan menyesal seumur hidup karena kehilangan satu-satunya wanita yang benar-benar mencintainya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yellow Sunshine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 22
Sore itu rumah terasa jauh lebih hidup dibanding biasanya. Dari dapur utama terdengar suara panci dan peralatan masak yang sesekali beradu, bercampur dengan tawa kecil Sarah yang sesekali memenuhi ruangan. Aku berdiri di depan meja dapur sambil memotong beberapa bahan makanan, sementara Sarah sibuk mengaduk saus pasta di atas kompor dengan ekspresi serius yang justru terlihat lucu.
“Jangan terlalu banyak garam,” katanya tiba-tiba tanpa menoleh. “Mason tidak suka rasa yang terlalu kuat.”
Aku langsung mengangguk kecil. “Baik.”
Entah kenapa, aku menikmati suasana seperti ini. Sangat sederhana, tapi hangat. Rasanya seperti berada di dalam keluarga sungguhan. Meskipun jauh di dalam hatiku masih ada kegelisahan kecil tentang malam nanti, aku tetap mencoba menikmati setiap momen bersama Sarah.
“Dulu Mason sangat suka pasta carbonara,” lanjut Sarah sambil tersenyum kecil. “Bahkan sampai marah kalau kokinya membuat saus yang terlalu creamy.”
Aku tertawa pelan membayangkannya. “Mason pernah marah soal makanan?”
“Oh, tentu saja.” Sarah terkekeh kecil. “Kau pikir dia lahir langsung sedingin sekarang?”
Aku kembali tersenyum tipis sambil menundukkan kepala. Sulit membayangkan Mason kecil bersikap manja atau cerewet seperti anak-anak lain. Pria itu sekarang terlalu tenang, terlalu terkontrol, seolah tidak pernah benar-benar membiarkan emosinya keluar.
“Kalian pernah tinggal di Italia?” tanyaku saat melihat Sarah mulai menata lasagna ke loyang.
Sarah mengangguk pelan. “Florence. Rowan mendapat proyek besar di sana waktu Mason masih kecil.”
“Florence…” gumamku pelan.
“Tempat yang indah,” lanjut Sarah dengan tatapan sedikit menerawang. “Kami tinggal di sana hampir lima tahun. Mason tumbuh besar di sana. Mungkin itu sebabnya dia sangat menyukai makanan Italia.”
Aku mendengarkan dengan penuh perhatian. Rasanya menyenangkan bisa mengetahui sedikit demi sedikit tentang kehidupan Mason sebelum aku mengenalnya. Tentang masa kecilnya. Tentang hal-hal yang ia sukai. Tentang bagian hidupnya yang selama ini terasa begitu jauh dariku.
“Jennifer juga tinggal bersama kalian waktu itu?” tanyaku hati-hati.
Sarah mengangguk lagi. “Ya. Mereka sangat dekat sejak kecil.”
Aku diam sesaat. Kalimat itu seharusnya terdengar biasa saja, dan memang begitu. Namun entah kenapa, setiap kali mendengar nama Jennifer disebut bersama Mason, ada sesuatu yang terasa mengganjal di dalam dadaku.
Aku buru-buru mengabaikan perasaan itu.
“Kalau begitu,” kataku sambil tersenyum kecil, “malam ini aku harus berhasil membuat makan malam yang enak.”
Sarah tertawa pelan. “Kau sudah melakukannya dengan baik, Hazel.”
Beberapa jam berlalu tanpa terasa. Meja makan akhirnya dipenuhi berbagai hidangan hangat dengan aroma yang menggoda. Para pelayan membantu menata semuanya dengan rapi, sementara aku diam-diam mundur dari ruang makan untuk kembali ke kamar.
Aku mandi cukup lama sore itu. Air hangat yang jatuh di kulitku sedikit membantu menenangkan pikiranku yang terus kacau sejak Sarah memutuskan menginap. Setelah selesai, aku berdiri cukup lama di depan cermin sambil mengeringkan rambut perlahan.
Malam ini, mungkin aku harus tidur di kamar Mason. Jantungku langsung berdegup tidak karuan hanya karena memikirkan hal itu. Aku memilih pakaian tidur yang sederhana dan tidak terlalu mencolok, lalu mencoba menarik napas panjang berkali-kali. Namun tetap saja, rasa gugup itu tidak hilang.
Saat aku turun kembali ke bawah, Sarah sudah duduk di ruang makan sambil tersenyum puas melihat meja makan yang penuh.
“Cantik sekali,” pujinya begitu melihatku datang.
Aku tersenyum kecil. “Aku hanya berganti pakaian biasa.”
“Dan tetap terlihat cantik.” Sarah mengedipkan mata kecil padaku.
Aku baru saja hendak membalas ketika suara mobil terdengar dari arah depan rumah. Jantungku langsung menegang tanpa alasan yang jelas.
“Mason pulang,” ujar Sarah santai.
Beberapa detik kemudian langkah kaki pria itu terdengar memasuki rumah. Aku spontan berdiri dari kursiku ketika melihat Mason masuk ke ruang utama dengan jas gelap yang masih melekat rapi di tubuhnya.
Tatapannya langsung jatuh pada kami.
“Ibu masih belum tidur rupanya,” katanya sambil berjalan mendekat.
“Aku menunggumu makan malam,” balas Sarah ringan.
Aku melangkah pelan menghampiri Mason sebelum memberanikan diri mengambil tas kerjanya. “Biar aku saja.”
Mason tampak sedikit terdiam beberapa detik, seolah tidak terbiasa diperlakukan seperti itu. Namun ia tetap membiarkanku melepaskan jasnya dengan hati-hati. Tanganku sempat menyentuh bahunya tanpa sengaja, dan itu cukup membuat napasku sedikit kacau.
“Pelayan akan menyimpannya,” kataku pelan sambil menyerahkan tas dan jasnya pada salah satu pelayan.
Mason hanya mengangguk kecil sebelum akhirnya duduk di meja makan bersama kami.
Makan malam berlangsung jauh lebih hangat dibanding yang kubayangkan. Sarah terus berbicara hampir sepanjang waktu, sesekali menggoda Mason, sesekali menceritakan hal-hal kecil tentang masa lalunya. Dan yang paling mengejutkanku, Mason benar-benar mendengarkan.
Ia memang tidak banyak bicara, tapi sesekali menjawab singkat atau mengangguk kecil. Bahkan beberapa kali aku melihat sudut bibirnya sedikit terangkat karena komentar Sarah.
“Makanannya enak,” katanya tiba-tiba setelah mencicipi pasta di depannya.
Aku spontan menegang. Namun sebelum aku sempat mengatakan apa pun, Sarah langsung tersenyum lebar. “Hazel yang membuatnya. Aku hanya membantu sedikit.”
Aku langsung merasa panas di wajah. Tanpa sadar aku melirik Mason yang kini menatapku beberapa detik lebih lama dibanding biasanya.
“Begitu?” katanya pelan.
Aku buru-buru menunduk kecil. “Aku hanya mengikuti resep Sarah.”
“Hm.”
Hanya itu jawabannya. Tapi entah kenapa, dadaku tetap terasa hangat karena ia tidak terlihat terganggu seperti sebelumnya.
Obrolan terus berlanjut sampai akhirnya Sarah meminta izin ke toilet. Begitu Sarah menghilang dari ruang makan, suasana mendadak berubah jauh lebih sunyi. Aku memainkan jemariku sendiri dengan gugup sebelum akhirnya memberanikan diri bicara pelan.
“Mason…”
Ia mengangkat wajahnya, lalu menatapku.
“Apa yang harus kita lakukan malam ini?” tanyaku.
Ekspresinya tetap tenang. “Tentang apa?”
“Kalau Sarah mengetahui semuanya…”
Aku tidak perlu menjelaskan lebih jauh. Mason pasti mengerti maksudku. Tentang kamar terpisah. Tentang pernikahan kami yang jauh dari kata normal. Dan dengan santainya, pria itu menjawab, “Malam ini kau tidur di kamarku.”
Aku hampir tersedak napasku sendiri.
“Apa?”
“Mau bagaimana lagi?” balasnya tenang sambil meminum airnya. “Aku tidak ingin Sarah curiga.”
Jantungku langsung berdetak semakin cepat. Tidur di kamar Mason, di ranjang yang sama. Meski aku tahu itu hanya demi Sarah, tetap saja pikiranku langsung dipenuhi bayangan-bayangan canggung yang membuat wajahku memanas sendiri. Sementara Mason terlihat sama sekali tidak terganggu.
Setelah makan malam selesai dan Sarah akhirnya masuk ke kamar tamu di lantai satu, aku berdiri cukup lama di depan pintu kamar Mason sebelum akhirnya masuk perlahan.
Ruangan itu masih sama seperti terakhir kali kulihat. Rapi, tenang, dan dipenuhi aroma khas Mason yang samar tertinggal di udara. Aku duduk pelan di tepi ranjang besar itu sambil mencoba menenangkan diriku sendiri.
Tidak lama kemudian suara pintu kamar mandi terbuka. Aku spontan mengangkat wajah—dan langsung membeku. Mason keluar hanya dengan handuk yang melingkar rendah di pinggangnya. Rambut hitamnya masih basah, dengan tetesan air yang turun perlahan melewati leher hingga dada bidangnya.
Aku langsung menahan napas. Untuk pertama kalinya aku melihat tubuhnya sejelas ini. Bahunya lebar, lengan kekarnya terlihat tegas, dan garis otot perutnya tampak begitu jelas di bawah cahaya lampu kamar. Bahkan terlalu jelas.
Pipiku langsung terasa panas. Aku buru-buru memalingkan wajah ketika menyadari diriku menatap terlalu lama.
Mason berdehem pelan. Dan itu justru membuatku semakin malu.
“Maaf,” gumamku refleks. Entah kenapa aku yang malah meminta maaf.
Mason tidak mengatakan apa-apa lagi. Ia hanya berjalan santai menuju lemari lalu mengambil pakaian tidurnya. Gerakannya tenang dan biasa saja, seolah situasi ini sama sekali tidak mempengaruhinya. Sementara aku merasa jantungku hampir meledak sendiri.
Beberapa menit kemudian ia akhirnya berbaring di sisi lain ranjang, menjaga jarak yang cukup jauh di antara kami. Lampu utama kamar dimatikan, menyisakan cahaya redup dari lampu tidur di samping ranjang.
“Malam ini kita hanya tidur,” katanya tiba-tiba tanpa menoleh padaku. “Tidak akan terjadi apa pun.”
Aku menggigit bibir kecil. “Aku tahu.”
“Aku hanya tidak ingin kau salah paham.”
Kalimat itu menusuk lebih dari yang seharusnya. Karena aku langsung sadar bahwa semua ini memang hanya dilakukan demi Sarah, demi menjaga agar ibunya tidak curiga. Bukan karena Mason menginginkan kedekatan ini denganku.
Beberapa detik kemudian Mason memiringkan tubuhnya membelakangiku. “Tidurlah,” katanya pelan.
Aku menatap langit-langit kamar cukup lama setelah itu. Jantungku masih berdetak terlalu cepat hanya karena keberadaan Mason di sebelahku. Bahkan aku bisa mendengar samar suara napasnya dalam keheningan kamar. Rasanya aneh, canggung, dan sedikit menyakitkan.
Namun di saat yang bersamaan, aku tetap merasa senang. Karena malam ini, untuk pertama kalinya sejak kami menikah, aku tidur di samping pria yang kucintai.