Raka Pratama pernah menjadi kebanggaan keluarganya.
Bakat luar biasa. Masa depan cerah. Tunangan idaman.
Sampai sebuah misi menghancurkan meridiannya.
Kultivasinya mandek. Pertunangannya dibatalkan. Keluarganya membuangnya ke gubuk tua di pinggir desa.
Saat semua orang menganggap hidupnya telah berakhir, sebuah warisan kuno terbangun.
Sistem 2Bit.
Sistem murahan yang mengaku dirinya kelas dua.
Tapi bagi yang sudah kehilangan segalanya, kesempatan sekecil apa pun sudah cukup.
Mereka mengira kisah Raka telah berakhir.
Padahal baru dimulai.
━━━━━━━━━━━━━━━
⚔️ ORIGINAL HAMBALANGVERSE ⚔️
Genre:
#Cultivation
#System
#Action
#Fantasy
#Harem
#Revenge
#Survival
#Hambalangverse.
🗓️ Jadwal update:
Sampai Matahari Padam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMBALANGVERSE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Jalan setapak menuju pasar malam seharusnya sunyi. Tapi malam ini, tiga sosok berdiri menghalangi jalan. Bima di tengah. Hendra dan Joko mengapitnya seperti pengawal yang sok garang. Wajah mereka merah padam. Napas mereka tersengal-sengal, bukan karena lelah, tapi karena amarah yang ditahan terlalu lama.
"Raka!" teriak Bima. Suaranya pecah, serak, penuh dendam yang belum tuntas sejak insiden terakhir. "Kau pikir kau bisa kabur setelah menghina kami? Malam ini, kau bayar dengan nyawa!"
Hendra menggeram, mengepalkan tangan hingga buku jarinya memutih. Joko menendang batu kecil di tanah, matanya liar mencari celah untuk menyerang. Mereka tidak membawa senjata tajam. Hanya tangan kosong dan tekad buta untuk membuktikan bahwa Keluarga Bima masih berkuasa.
Raka berhenti. Langkahnya tenang, tapi setiap ototnya tegang. Dia tahu dia tidak bisa menang kalau ketiganya serempak. Tubuhnya masih pegal dari latihan kemarin. Napasnya belum sepenuhnya pulih. Tapi dia tidak mundur. Mundur berarti mengakui kalah. Dan kalah di depan umum sama saja dengan mengundang bencana berikutnya.
"Kalian datang bertiga," ucap Raka datar. Bukan tantangan. Bukan hinaan. Hanya fakta. "Berarti kalian takut."
Bima mendesis. Matanya membelalak. Mulutnya terbuka lebar, siap meneriakan ancaman yang lebih kasar lagi. Kata-kata kotor sudah siap meluncur dari lidahnya. Kebencian buta telah mengambil alih akal sehatnya. Dia tidak peduli siapa pun yang mungkin mendengar. Yang penting Raka hancur malam ini.
Tapi kata-kata itu tidak pernah keluar.
Udara tiba-tiba membeku.
Bukan metafora. Benar-benar beku. Angin malam berhenti berhembus. Suara jangkrik lenyap. Lampu neon di warung terdekat berkedip sekali, lalu padam total. Gelap menyelimuti jalan setapak itu, kecuali cahaya rembulan yang terasa dingin dan asing.
Tekanan spiritual menghantam.
Rasanya seperti langit runtuh menimpa tengkuk. Napas tercekat. Tulang-tulang berderak seolah ditekan beban ribuan ton. Raka jatuh berlutut. Darah mengalir dari hidungnya. Penglihatannya kabur. Di sampingnya, Hendra dan Joko juga ambruk, muntah cairan kuning, tubuh gemetar tak terkendali.
Tapi Bima... Bima paling dekat. Dan dia paling emosional.
Mulutnya masih terbuka. Kata-kata kasar itu akhirnya keluar, tapi bukan sebagai ancaman. Itu adalah jeritan insting defensif yang tidak masuk akal. Otaknya sudah mati sebelum tubuhnya sadar.
Wanita misterius itu muncul dari kegelapan. Tanpa suara. Tanpa bayangan. Hanya sepasang mata yang bersinar redup di bawah cahaya rembulan. Tatapannya terkunci pada sabuk Raka. Pada simbol △404 yang bergetar liar, seolah merespons kehadirannya.
Dia tidak melihat Bima. Tidak melihat Hendra atau Joko. Baginya, mereka hanyalah semut yang kebetulan berada di jalur ekstraksi energi. Tangannya terulur perlahan menuju sabuk Raka. Jari-jarinya ramping, pucat, bergerak dengan presisi yang menakutkan.
Raka ingin melawan. Ingin berteriak. Tapi tubuhnya lumpuh total. Tekanan spiritual itu bukan serangan. Itu adalah kehadiran. Kehadiran sesuatu yang levelnya terlalu jauh untuk dipahami oleh manusia desa.
Lalu, Bima berbicara lagi.
Kali ini, kata-katanya lebih kasar. Lebih jijik. Lebih... bodoh. Otaknya yang sudah hancur oleh tekanan spiritual memaksanya mengeluarkan racun verbal terakhir. Seolah-olah menghina makhluk di depannya akan menyelamatkan nyawanya.
Itu fatal.
Wanita misterius tidak bereaksi marah. Tidak tersenyum sinis. Hanya... menekan. Sedikit. Hampir tak terlihat. Tapi efeknya langsung terasa.
Mata Bima terbelalak. Putih matanya muncul semua. Tubuhnya kejang singkat. Lalu... gelap. Jatuh telentang. Cairan hangat merembes dari selangkangannya. Ngompol. Bukan tanda dramatis. Tanda hilangnya kontrol total. Koma.
Wanita misterius kembali fokus pada Raka. Tangannya hampir menyentuh sabuknya. Artefak △404 bergetar makin kencang, seolah menyambut tuannya.
Tapi sebelum jari itu menyentuh kain lusuh, sebuah tangan lain muncul dari kegelapan. Cepat. Tenang. Familiar.
Guru Raka.
Tidak ada dialog. Tidak ada salam. Tidak ada reunion emosional. Hanya benturan tenaga spiritual yang sunyi. Wanita misterius mundur selangkah. Matanya menyipit. Menilai. Lalu, tanpa kata, dia berbalik. Menyatu dengan kegelapan. Hilang.
Guru Raka tidak mengejarnya. Dia hanya menatap Raka yang masih berlutut, darah mengering di wajah, napas tersengal-sengal. Tatapannya dingin. Kosong. Seperti melihat murid yang gagal ujian dasar.
"Guru tidak bisa melatihmu lagi," ucapnya. Suaranya rendah. Datar. Final. "Ada urusan."
Lalu dia pergi. Begitu saja. Meninggalkan Raka sendirian di jalan setapak yang gelap. Dengan tubuh hancur. Dengan artefak yang masih bergetar di sabuk. Dengan pesan yang lebih menyakitkan daripada pukulan fisik apa pun.
Tekanan spiritual hilang seketika.
Angin kembali berhembus. Lampu neon berkedip hidup. Suara jangkrik terdengar lagi. Tapi keheningan di jalan setapak itu lebih berat dari tekanan tadi.
Hendra dan Joko bangun lebih dulu. Tubuh mereka gemetar. Muntahan masih menempel di baju. Tapi mata mereka... mata mereka melihat Bima yang terbaring koma, ngompol, napas dangkal. Panik. Lalu... mata mereka beralih ke Raka.
Raka yang masih hidup. Raka yang tidak koma. Raka yang bertanggung jawab.
Insting survival mengambil alih. Mereka tidak berpikir logis. Mereka hanya butuh kambing hitam. Dan Raka adalah satu-satunya pilihan yang masuk akal bagi otak mereka yang sedang panik.
"Pak Bima... Pak Bima kenapa?!" teriak Hendra, suaranya sengaja dibuat tinggi agar terdengar warga sekitar. "Raka! Raka pakai ilmu hitam! Dia yang bikin Pak Bima begini!"
Joko langsung mengangguk, air mata palsu mengalir deras. "Kami cuma mau mencegahnya! Tapi dia... dia jahat! Dia pembunuh!"
Mereka gendong Bima. Berat. Lembek. Bau urin menyengat. Tapi mereka tidak peduli. Yang penting mereka selamat. Yang penting Keluarga Bima percaya mereka. Dan cara tercepat membuat Keluarga Bima percaya adalah menuduh Raka sekeras-kerasnya.
Raka tidak bisa membela diri. Tubuhnya terlalu hancur. Napasnya terlalu pendek. Dia hanya bisa menonton mereka lari membawa Bima, meninggalkan jejak kotoran dan kebohongan di tanah.
Perjalanan pulang ke gubuk terasa seperti berjalan di atas kaca. Setiap langkah menyiksa. Tulang rusuknya terasa retak. Paru-parunya terbakar. Penglihatannya bergelombang. Tapi dia harus sampai. Harus. Karena jika dia pingsan di jalan, massa Keluarga Bima akan menyeret mayatnya ke alun-alun desa untuk dihakimi.
Saat dia mencapai pintu gubuk, kakinya lemas. Dia ambruk. Tangan kanannya mencengkeram kusen pintu. Kukunya mengelupas kulit kayu. Darah menetes.
Laras membuka pintu. Tidak terkejut. Tidak panik. Matanya menyapu tubuh Raka dalam hitungan detik. Menghitung luka. Mengevaluasi kondisi. Lalu dia membantunya masuk. Mendudukkannya di lantai. Memberinya segelas air. Tangannya stabil. Tidak gemetar.
"Kau terlihat seperti baru saja digiling mesin pemotong daging," ucapnya. Suaranya datar. Tapi ada nada sarkasme tipis di sana. Nada yang hanya dimengerti oleh mereka berdua. "Apa yang terjadi?"
Raka mencoba bicara. Tapi hanya darah yang keluar. Dia menggeleng lemah. Menunjuk ke arah jalan. Ke arah pasar. Ke arah kehancuran yang baru saja terjadi.
Laras memahami. Dia tidak mendesak. Tidak meminta penjelasan panjang lebar. Cukup tahu bahwa Raka selamat. Dan itu sudah cukup buatnya tenang. Untuk sekarang.
Tapi ketenangan itu tidak bertahan lama.
Belum sempat Raka minum air, suara langkah kaki berat terdengar di luar. Banyak. Berdesakan. Marah. Massa Keluarga Bima sudah sampai. Mereka tidak mengetuk. Mereka menendang pintu. Berteriak. Menuduh. Meminta Raka keluar untuk diinterogasi. Untuk disidang. Untuk dihukum.
Padahal dia sedang sekarat.
Laras berdiri. Berjalan ke pintu. Membukanya sedikit. Hanya cukup untuk menunjukkan wajahnya. Ekspresinya dingin. Tajam. Mengancam.
"Dia sedang sekarat," ucapnya. Suaranya tidak tinggi. Tapi tegas. Seperti palu hakim. "Beri dia waktu."
"Tidak!" teriak seorang wanita tua dari kerumunan. Suaranya serak, penuh air mata dan kebencian. "Dia pembunuh! Biar dia mati di sini! Kami tidak peduli!"
Laras tidak menjawab. Dia hanya menutup pintu. Menguncinya. Lalu kembali ke sisi Raka. Duduk di sampingnya. Menjaga. Menunggu.
Di dalam gubuk yang gelap, Raka terbaring. Tubuh hancur. Pikiran kacau. Di luar, suara massa makin keras. Laras menjaga pintu. Sistem di kepalanya berbunyi pelan, nyaris tak terdengar:
[!] Status Host: Kritis.
[!] Ancaman Sosial: Maksimum.
[!] Mentor: Offline Permanen.
[!] Artefak △404: Stabil. Tidak Bereaksi.
Artefak itu tidak membantu. Tidak memberi kekuatan. Tidak memberi petunjuk. Raka benar-benar sendirian.
Dan untuk pertama kalinya sejak mendapat Sistem 2bit, dia merasa bahwa sistem itu... tidak cukup.
Bersambung.