NovelToon NovelToon
NEVER TRULY GONE

NEVER TRULY GONE

Status: sedang berlangsung
Genre:BXB / Mengubah Takdir
Popularitas:133
Nilai: 5
Nama Author: Selene Mora

Bagaimana jika cinta terbesar adalah cinta yang diam-diam merantai, mengikat hati tanpa suara, dan terus hidup meski tanpa harapan?

​Brant dan Luca hanya tahu satu hal: cinta itu masih ada dan mungkin akan tetap ada selamanya. Mereka hanya pasrah, tidak lagi bertarung untuk bersama.


!!!⚠️!!!

#BL

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Selene Mora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

22

Hari Minggu di kediaman keluarga kecil Luca selalu jauh dari kata tenang. Pagi ini, dapur sudah seperti medan perang.

​" Luca! Itu gula, bukan micin! Mata lu ditaruh di mana, sih?" sembur Lea, jutek seperti biasa. Remaja perempuan itu bersedekap, menatap jengah kakak laki-lakinya yang sedang memegang rimpang dengan wajah cengengesan.

​"Ya elah, lea, mirip ini bentuknya. Jangan galak-galak, ntar cepat tua," rengek Luca manja sambil menjulurkan lidah.

​Namun kekacauan belum selesai. Detik berikutnya, Cesss! Bunyi minyak panas meletup dahsyat beradu dengan air. Luca baru saja melempar potongan ayam yang masih membeku keras langsung ke dalam wajan. Minyak panas pun memercik ke segala arah.

​"Aaaaa! Tolong, melandat! Mamah, ayamnya menyerang!" jerit Luca heboh, langsung tiarap di balik punggung kurus adiknya.

​Lea mendengus super jengkel, mematikan kompor dengan cekatan. "Gila ya, punya Kakak badannya doang gede, tapi kelakuan minus. Pikiran lu ketinggalan di apartemen Kak Brant?!"

​Mama Lana yang sedang memotong sayur hanya geleng-geleng kepala. Beliau sudah kenyang dan tidak kaget lagi melihat kelakuan sepasang buah hatinya yang selalu bertolak belakang itu.

​Setelah drama dapur mereda, ketiganya akhirnya duduk tenang di meja makan. Di sela suapan, ibu Lana berdeham, menatap kedua anaknya dengan senyum cerah.

​"Oh ya, Mama punya kabar gembira. Butik kita terpilih untuk kolaborasi eksklusif dengan majalah fashion anak muda ternama bulan ini. Koleksi pakaian pria dan wanita kita bakal jadi headline utama," ujar ibu Lana bangga.

​"Wah, serius, Mah?! Keren banget!" seru Luca, matanya berbinar instan. Lea pun ikut tersenyum lebar, ikut bangga atas pencapaian sang ibu. "Tapi... itu artinya Mama bakal sibuk banget, dong?" lanjut Luca, mendadak cemas. "Mama kan baru sembuh, jangan sampai kecapekan lagi."

​ibu Lana menggenggam tangan Luca lembut, menyalurkan ketenangan. "Mama sudah sehat, Sayang. Jangan khawatir. Tapi, selama proyek besar ini berjalan, Mama akan sering keluar kota untuk urusan photoshoot dan produksi."

​Beliau menatap Luca dan Lea bergantian. "Mama minta kalian berdua lebih mandiri di rumah, ya? Jangan berantem terus. Luca, jaga adikmu. Lea, tolong awasi Kakakmu yang ceroboh ini agar rumah kita gak kebakaran."

​"Siap, ma!" sahut Lea cepat, melirik Luca penuh kemenangan. Sementara Luca hanya bisa mengerucutkan bibirnya pasrah, tahu bahwa takhta kekuasaan di rumah selama Mama pergi akan jatuh ke tangan adik juteknya.

Suasana di dalam ruang itu tampak tenang saat Dosen meminta para mahasiswa mencatat poin-poin penting dari layar proyektor. Luca yang meraba tempat tempat pensilnya panik karna sadar pulpennya ketinggalan di rumah.

Setelah berbisik minta izin keluar sebentar pada dosen, Luca langsung keluar ruangan. Dia berjalan sendirian menuju tempat fotokopi untuk membeli pulpen dan stabilo. Langkah santainya mendadak terhenti ketika sebuah lengkingan suara yang sangat ia kenal memecah koridor.

​"lihat siapa ini! The lonely, broken angel! Kasihan banget, jalannya sendirian kayak orang hilang!" teriak Vania sengaja memancing perhatian.

​Luca menarik napas sabar. Ia memilih mengabaikan gadis itu dan lanjut berjalan. Namun, kalimat Vania berikutnya sukses membuat darah Luca berdesir hebat.

​"Setampan apa pun diri lu, Ca, lu gak akan pernah bisa ngalahin wanita cantik dan seksi di luar sana. Brant itu terlalu berharga buat habisin waktu sama cowok yang cuma modal tampang doang!" Urat dendam akibat penolakan Brant tempo hari rupanya masih menyala di dada Vania.

​Luca berbalik, melangkah mendekat dengan wajah datar yang sedingin es. "Oh, berarti lu gak cantik dan gak seksi, ya? Sampai-sampai Kak Brant gak lirik lu sama sekali. Kasihan."

​Wajah Vania merah padam. Merasa terhina, mulutnya kian berani. "Lu pikir apa yang lu kasih ke Brant udah cukup?" tanyanya merendahkan, menatap Luca dari atas ke bawah. "Di luar sana, Brant bakal dapat jauh lebih banyak dari semua yang dia inginkan. Kalian sesama laki-laki, pasti tahu apa maksud gue."

​Wajah Luca mengeras menahan amarah yang meletup di dadanya. "Iya, gue laki-laki. Tapi gue gak pernah serendah lu, yang memaksa untuk memberikan diri secara cuma-cuma."

​ Vania yang kalap melayangkan tangannya ke udara. Namun, gerakan Luca jauh lebih cepat. Ia mencengkeram pergelangan tangan Vania lalu mendorongnya menjauh. Tenaga maskulin Luca sukses membuat Vania terjerembap jatuh terduduk di lantai koridor.

​"Kamu..." Bibir Luca bergetar hebat karena amarah yang memuncak. "Apa yang membuatmu begitu membenciku, hah?! Brant sudah menolakmu, dan kau masih ingin cari masalah denganku?!" bentak Luca, tak lagi menggunakan embel-embel 'Kak' pada nama kekasihnya.

​Beberapa mahasiswa yang berlalu-lalang mulai berkumpul menonton. Bukannya membela, mereka justru menatap Vania dengan pandangan jidat mengkerut karena mendengar sendiri betapa berengseknya mulut gadis itu sejak tadi.

​"Luca!"

​Vin tiba-tiba muncul, langsung menarik tangan Luca dan menjauh. Dia menyusul sahabatnya itu karna sudah setengah jam tak kembali ke ruangan. Setelah beberapa langkah menjauh, Vin berbalik, menatap Vania dengan pandangan menusuk. "Ini yang terakhir. Jangan buat diri lu lebih memalukan dari ini."

​Vin menarik Luca pergi, meninggalkan Vania yang masih terduduk, kini menangis malu. Saat gadis itu mendongak berharap ada yang menolong, para mahasiswa di koridor justru bubar dan membuang muka bergiliran.

​Begitu kembali ke ruang kelas, Luca hanya tertunduk diam hingga jam dosen berakhir. Melihat sang sahabat masih terpaku, Vin berpindah ke bangku kosong di sampingnya lalu mengusap punggung Luca pelan. "Hey, Ca. Udah, gak usah dipikirin."

​Pertahanan Luca runtuh. Matanya memanas dan air matanya langsung luruh seketika. Rose dan Elena yang baru menyadari hal itu segera mendekat dengan panik.

​"Ada apa ini? Kok Luca nangis?" tanya Rose bingung, menatap Vin.

​"Si Vania cari gara-gara lagi tadi," jawab Vin pendek.

​"Hah?! Belum kapok juga itu lampir?!" sahut Rose emosi.

​Elena yang memang memiliki dendam pribadi karena dulu akun sosial medianya pernah diserang oleh Vania dan gengnya, langsung berdiri dengan mata menyala. Ia hendak melangkah keluar kelas dengan cepat, namun Vin memberi kode mata pada Rose.

​"Hey, tunggu! Mau ke mana lu, El?" Rose buru-buru mengejar dan menahan lengan Elena.

​"Mau nyari bibir busuk si Vania itu! Kurang ajar banget!" geram Elena, napasnya memburu sebelum akhirnya ditarik Rose untuk duduk kembali.

​"Udah, tenang. Gue pastikan ini yang terakhir kalinya Luca—atau kita semua—berurusan sama Vania," ucap Vin dengan nada suara yang begitu tegas dan dingin.

​Rose dan Elena seketika terdiam dan patuh. Jika Vin yang merupakan seorang laki-laki sudah mengeluarkan mode tegasnya seperti itu, mereka justru merasa ngeri sendiri dibanting jika nekat membantah.

​Luca mengusap air matanya, bersyukur memiliki sahabat yang selalu memasang badan untuknya. Namun, jauh di lubuk hatinya, tangisan Luca bukan karena ulah kasar Vania, melainkan karena kalimat gadis itu telanjur menancap di kepalanya seperti sebuah peringatan nyata tentang masa depan hubungannya dengan Brant.

Malamnya sekitar jam 7 WIB, ritual yang paling dinanti Luca tiba. Di dalam kamarnya yang mulai temaram, ia duduk di depan meja belajar, menatap lekat bingkai foto dirinya bersama Brant dengan ponsel yang tertempel erat di telinga.

​"Kak, makan mi apa? Mi goreng atau mi kuah?" tanya Luca.

​Di seberang sana, terdengar suara gemerisik kertas dan ketukan pelan jemari di atas meja. Di London, jam baru menunjukkan pukul 1 siang. Brant sedang di dalam ruang kantor tempatnya bekerja. Di atas mejanya, sudah tersedia satu cup mi instan yang baru saja ia seduh sendiri.

​"Mi kuah, Ca. Mi cup," jelas Brant, disusul suara seruputan kuah yang gurih. "Lu sendiri makan malam apa?"

​"Belum makan. Tadi pas Mama panggil makan, aku lagi mandi," sahut Luca, jemarinya memainkan ujung bingkai foto.

​"Lah, sana makan dulu," tegur Brant, nadanya terdengar tidak suka membiarkan kekasihnya telat makan malam.

​"Entar, aku juga mau buat mi. Supaya makannya sama kayak Kak Brant," ucap Luca manja, senyumnya terbit kecil.

​"Makan nasi lu! Ikut-ikutan makan mi, ntar sakit. Gue udah makan siang tadi, ini cuma camilan karena lagi pengin," omel Brant posesif dari balik meja kerjanya.

​"Iya, nanti makan mi-nya tetap pakai nasi kok," kekeh Luca, menyerah. "Eh Kak, mau cerita. Tadi si Vania cari gara-gara lagi sama aku di kampus. Mulutnya jahat banget."

​Suara pergerakan di seberang telepon mendadak berhenti. "Dia bilang apa memangnya?" tanya Brant, nadanya langsung berubah serius dan dingin.

​"Dia bilang..." Luca menjeda kalimatnya, mendadak ragu. Matanya meredup mengingat kecemasannya siang tadi. "Kak Brant nggak pantas banget buat aku. Kak Brant bisa dapat yang lebih dari aku, terus..."

​"Terus, lu gimana?" potong Brant cepat, tak sabar mendengarkan kelanjutan respons Luca.

​"Ya, aku lawan! Aku balik kata-katain dia, bahkan sempat dorong dia sampai jatuh terduduk."

​"Jangan pakai kekerasan, Ca," potong Brant lagi, terdengar helaan napas berat di seberang telepon.

​"Dia mau nampar aku tadi, Kak!" bela Luca tidak terima.

​Terdengar suara ketukan bolpoin yang pelan di meja Brant. "Bagus," ucap Brant cepat dan mantap, membuat Luca tertegun. "Kalau seperti itu kondisinya, jangan diam aja. Sikat."

​Luca mengembuskan napas lega, senyumnya kembali merekah. "Iya, aku kesal banget tahu. Tapi... benar ya Kakak udah punya teman cewek cantik di sana?" pancing Luca, nada suaranya berayun cemburu.

​Brant mendengus tertawa di seberang sana, sembari bersandar pada kursi kerjanya yang nyaman. Sifat jahilnya mendadak kumat. "Ya... kalau teman yang cantik, ada sih beberapa."

​"Kak Brant!" Pekik Luca tertahan, matanya seketika memanas, hampir menangis karena gemas sekaligus overthinking.

​Tawa Brant pecah, renyah dan hangat mendengarnya. Ia tahu tidak boleh bercanda terlalu lama jika tidak ingin kekasihnya itu menangis sendirian di seberang benua. "Di sini memang banyak yang cantik, Ca. Dan kalau cuma kenal atau jadi teman pun, itu bukan masalah. Gue tahu batasan kok, jadi jangan khawatir, ya?" jelas Brant melembut, menyalurkan keyakinan mutlak.

​Luca menyeka sudut matanya yang sempat basah, hatinya menghangat. "Iya, Kak. Aku percaya kok. Cuma... suka lewat aja di pikiran."

​"Ca," Brant menjeda kalimatnya, nadanya berubah penuh komitmen. "Kita kan udah janji untuk saling percaya. Cukup itu aja yang harus ada di pikiran lu."

​Luca tersenyum bahagia menatap foto mereka, seolah-olah Brant bisa melihat rona merah di pipinya.

​"Ya udah, lu makan sana, udah malam?" Brant melirik jam tangan di pergelangan tangannya, bersiap merapikan sisa cup mi di mejanya. "Gue juga harus lanjut kerja lagi ini, Ca. Ada yang harus cepat gue selesaikan."

​"Yaudah, aku makan dulu. Bye-bye Kak, semangat kerjanya ya," ucap Luca manis, mengakhiri panggilan dua waktu yang berbeda itu dengan hati yang kembali penuh.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!