Zayyan Mahendra membawa Lolly ke Swiss untuk merayakan kelulusannya sekaligus melamar wanita itu. Namun di saat Zayyan berharap cinta mereka berakhir bahagia, Lolly justru memilih pria lain.
Dengan hati hancur, Zayyan memutuskan pulang ke Indonesia. Tak disangka, di bandara ia bertemu kembali dengan teman lamanya dan membuat keputusan gila. Dia menikah Alin, teman lamanya itu.
Pernikahan tanpa cinta itu awalnya hanya pelarian. Tapi siapa sangka, takdir justru mempertemukan mereka pada cinta yang sebenarnya. Namun, keberadaan Lolly selalu mengganggu rumah tangganya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10
Tin
Tin
Tin
Suara klakson mobil terdengar nyaring dari depan rumah sederhana itu, memecah suasana pagi yang masih terasa tenang. Beberapa burung yang bertengger di pagar bahkan ikut beterbangan karena terkejut.
Di dalam rumah, Alin yang masih sibuk memakai sepatu langsung panik. "Aduh, pasti Zayyan!" serunya kalang kabut.
Gadis itu buru-buru mengambil tas selempangnya yang hampir terjatuh dari sofa. Rambutnya bahkan belum benar-benar rapi. Ia hanya sempat mengikatnya asal menggunakan claw clip sambil berjalan cepat menuju pintu.
Tin!
Tin!
"Iya Zay, sebentar!" teriak Alin dari dalam rumah.
Dengan tergesa-gesa ia berlari keluar, nyaris tersandung karpet di dekat pintu. Neneknya yang sedang menyiram tanaman sampai menggeleng geli melihat tingkah cucunya.
"Pelan-pelan! Nanti jatuh!" tegur sang nenek.
Namun Alin terlalu panik untuk mendengar.
Begitu pintu terbuka, hawa pagi langsung menyambut wajahnya. Sebuah mobil hitam mengilap terparkir tepat di depan pagar rumah. Zayyan terlihat duduk santai di kursi kemudi dengan satu tangan bertumpu di jendela mobil yang terbuka.
Pria itu mengenakan kemeja hitam dengan lengan tergulung hingga siku. Penampilannya sederhana, tetapi tetap saja terlalu mencolok untuk ukuran lingkungan rumah Alin.
Beberapa tetangga bahkan sudah mulai melirik dari kejauhan.
Dan itu sukses membuat Alin makin gugup.
"Nggak usah pakai klakson segala," omelnya begitu mendekat ke mobil sambil mengatur napas.
Zayyan menaikkan sebelah alisnya. "Kalau nggak diklakson, kamu bakal keluar jam berapa?"
Alin langsung mendelik. "Aku cuma telat lima menit."
"Empat belas menit."
"Itu dibulatkan."
Zayyan terkekeh pelan melihat wajah kesal Alin yang masih sedikit berantakan karena terburu-buru.
"Ayo masuk."
Alin membuka pintu mobil lalu duduk di kursi penumpang dengan napas masih memburu. Aroma parfum khas Zayyan langsung menyeruak lembut memenuhi indra penciumannya.
Entah kenapa aroma itu mulai terasa familiar akhir-akhir ini.
"Kamu habis lari maraton?" tanya Zayyan sambil meliriknya sekilas.
"Bukan salahku. Aku panik karena kamu"
"Padahal aku tidak ngapa-ngapain"
Alin terdiam sesaat sebelum menjawab pelan, "suara klakson mu buat aku panik"
Zayyan hanya terkekeh, tidak lagi menimpali ucapan Alin. Dia fokus mengemudikan mobilnya sambil menatap lurus ke depan.
"Kita mau kemana?" tanya Alin memberanikan diri.
"Kamu maunya kemana?" bukannya menjawab Zayyan malah memberikan pertanyaan balik.
"Aku tidak tahu" jawab Alin, dia memang bingung tidak tahu harus kemana.
Zayyan hanya mengangguk, seperti biasa perempuan kalau di tanya malah akan membuatnya bingung.
Mobil hitam itu melaju perlahan meninggalkan gang kecil tempat rumah Alin berada. Ban mobil membelah jalanan pagi yang masih belum terlalu ramai. Sinar matahari yang hangat menembus kaca depan, menciptakan pantulan lembut di dashboard mobil.
Di dalam mobil suasananya justru terasa canggung. Alin duduk sambil memangku tasnya erat-erat. Sesekali ia melirik ke arah luar jendela, lalu kembali melirik Zayyan diam-diam. Pria itu terlihat santai menyetir dengan satu tangan, sementara tangan satunya lagi bertumpu di dekat persneling.
Entah kenapa, setiap berada di dekat Zayyan, Alin jadi gampang gugup sendiri. Padahal pria itu tidak melakukan apa-apa. Justru sikap santainya itu yang kadang membuat Alin salah tingkah.
"Kenapa diam" ucap Zayyan memecah keheningan.
Alin langsung salah tingkah. "Hah? Enggak kok."
"Kamu kalau bohong gampang ketahuan."
Alin mendelik kecil. "Sok tahu."
Zayyan terkekeh pelan. Suara tawanya terdengar rendah dan hangat, membuat suasana yang tadinya canggung sedikit mencair.
Beberapa detik kemudian mobil berhenti di lampu merah. Zayyan melirik Alin yang masih duduk rapi sambil memeluk tasnya.
"Kamu tegang banget. Takut aku menculikmu?"
"Aku biasa aja."
"Biasa aja sampai tasnya di peluk terus, kek takut di copet"
Alin refleks menurunkan tasnya lalu berdeham kecil menahan malu. Zayyan lagi-lagi tertawa pelan melihat reaksinya.
"Kenapa sih seneng banget ngeledekin aku?" gerutu Alin.
"Soalnya lucu."
Alin langsung memalingkan wajah ke jendela. Padahal pipinya mulai terasa hangat.
Zayyan melanjutkan perjalanan setelah lampu berubah hijau. Jalanan kota mulai ramai dipenuhi kendaraan dan orang-orang yang sibuk memulai aktivitas pagi mereka.
Sementara itu, Alin masih sibuk mengatur perasaannya sendiri. Jujur saja, ia masih tidak menyangka bisa sedekat ini dengan Zayyan.
Dulu mereka bahkan hampir tidak pernah berbicara selain urusan penting. Tapi berkat dompetnya yang hilang, dia jadi bisa jalan berdua dengan pria itu. Zayyan sering menggodanya. Bahkan memperhatikannya dengan cara-cara kecil yang diam-diam membuat hati Alin tidak tenang.
"Kamu lapar?" tanya Zayyan tiba-tiba.
Alin menoleh cepat. "Sedikit."
"Sedikit itu lapar atau enggak?"
"Lapar."
"Nah gitu jujur."
Alin mendengus pelan.
Tak lama kemudian mobil memasuki area pusat kota. Mata Alin langsung bergerak memperhatikan deretan bangunan dan cafe yang mulai ramai.
"Kita mau sarapan?" tanyanya.
"Mungkin."
"Mungkin gimana?"
"Aku masih milih tempat."
Alin menghela napas pelan. "Kirain dari tadi sudah ada tujuan."
"Ada."
"Apa?"
Zayyan meliriknya sekilas lalu tersenyum tipis.
"Keluar sama kamu."
Deg.
Jantung Alin langsung berdetak aneh. Perempuan itu buru-buru memalingkan wajahnya ke arah jendela lagi, pura-pura fokus melihat jalanan luar.
Sementara Zayyan tampak santai seperti baru mengatakan sesuatu yang biasa saja.
Padahal ucapan itu sukses membuat Alin mati kutu.
Beberapa menit kemudian mobil berhenti di sebuah cafe yang tampak cukup nyaman. Bangunannya didominasi kaca dengan tanaman-tanaman kecil menghiasi bagian depan.
"Ayo turun," ucap Zayyan sambil melepas seatbelt.
Alin ikut membuka sabuk pengamannya lalu turun dari mobil. Begitu berdiri di luar, ia langsung menyadari beberapa orang memperhatikan Zayyan cukup lama. Dan itu membuat Alin heran.
Ia memang tahu Zayyan memiliki wajah yang menarik, tapi reaksi orang-orang kadang terasa berlebihan.
"Banyak yang lihat kamu," bisik Alin pelan saat mereka berjalan masuk.
"Biasa."
"Kamu nyaman diperhatiin begitu?"
"Enggak terlalu peduli."
Alin mengangguk kecil.
Mereka masuk ke dalam cafe dan memilih duduk di dekat jendela. Suasana tempat itu terasa hangat dengan aroma kopi dan roti panggang yang menggoda.
Seorang pelayan datang menghampiri sambil membawa buku menu.
"Mau pesan apa?" tanya Zayyan sambil menyerahkan menu pada Alin.
Alin membuka daftar menu cukup lama. Zayyan memperhatikannya sambil menopang dagu.
"Kamu pilih makanan aja lama banget."
"Takut salah."
"Pesan aja semuanya kalau bingung."
Alin langsung menatapnya tidak percaya. "Emang aku sanggup makan sebanyak itu?"
"Kan ada aku." Ucapan itu lagi-lagi terdengar sederhana. Tapi entah kenapa selalu berhasil membuat Alin salah tingkah.
Akhirnya Alin memesan roti bakar dan coklat hangat, sementara Zayyan memilih kopi dan beberapa makanan ringan lainnya.
Setelah pelayan pergi, suasana kembali hening beberapa saat. Namun kali ini bukan hening yang canggung.
Justru terasa nyaman.
Alin diam-diam memperhatikan Zayyan yang sedang memainkan ponselnya sebentar sebelum akhirnya menyimpannya kembali. "Kamu sebenarnya sibuk nggak sih?" tanya Alin penasaran.
"Kenapa?"
"Tidak apa-apa, nanya aja"
Zayyan tersenyum kecil. "Kamu terganggu?"
Alin buru-buru menggeleng. "Nggak juga."
"Berarti aman."
Alin menggigit bibir bawahnya pelan. Pria di depannya benar-benar sulit ditebak. Kadang dingin, kadang menyebalkan, kadang juga terlalu manis tanpa sadar. Dan itu yang paling berbahaya.
lanjut Thor 💪💪💪
lanjut Thor 🔥🔥🔥