NovelToon NovelToon
TARGET JENDERAL BINTANG TIGA

TARGET JENDERAL BINTANG TIGA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:11k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Ziva, 20 tahun. Cantik, bar-bar, dan cegil tingkat dewa. Baginya penolakan = tantangan.
Targetnya: Gibran Mahendra, Letnan Jenderal bintang tiga, sahabat lama mamanya. Pria dingin, kaku, dan menganggap Ziva cuma bocah berisik.
Dari pura-pura pingsan sampai ngamuk di depan umum, Ziva ngelakuin segala cara buat luluhin tembok es sang Jenderal.
Tapi di balik sikap dingin Gibran, ada rahasia besar dan rintangan yang jauh lebih berat dari beda usia.
Si cegil bisa menang, atau akhirnya menyerah?"Selama janur kuning belum melengkung, Om Jenderal tetap milik Ziva."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

RERUNTUHAN DI BAWAH HUJAN DERAS

Suara bentakan, suara logam senjata yang dikokang, dan deru badai petir di luar menyatu menjadi paduan suara yang memekakkan telinga di dalam kediaman Dharmawangsa. Lantai marmer hitam yang biasanya dingin kini terasa membara oleh ketegangan yang sudah berada di ambang batas ledakan. Di tengah tangga utama, Letnan Jenderal Gibran Mahendra berdiri tegak bagai karang tak tergoyahkan, menjadi dinding pemisah mutlak antara dunia luar dan kamar di lantai dua tempat Ziva terus menjerit memanggil nama Aris.

"Letnan Jenderal Gibran! Anda sudah melakukan perlawanan bersenjata terhadap institusi resmi negara!" suara Ketua Dewan Pengawas Pertahanan menggema tajam, wajahnya memerah karena amarah yang memuncak. "Turun dari tangga itu sekarang juga dan serahkan kunci akses kamar atas, atau kami akan memerintahkan penembakan di tempat atas tuduhan pengkhianatan!"

Ancaman itu bukan sekadar gertakan sambal. Empat personel Polisi Militer di barisan depan mengangkat laras senapan laras panjang mereka, mengarahkannya tepat ke dada Gibran.

Mayor Jenderal Surya yang berdiri di dekat dinding langsung memucat. "Jenderal! Jangan diteruskan!" teriak Surya panik, mencoba mendekati atasan sekaligus sahabatnya itu. "Situasinya sudah di luar kendali! Kalau Anda melawan mereka secara terbuka, karier dan hidup Anda benar-benar akan habis!"

Gibran sama sekali tidak melirik ke arah Surya. Manik mata hitamnya tetap menatap tajam kepada para perwira tinggi di hadapannya dengan seringai dingin yang mengerikan. Sedikit pun tidak ada rasa gentar di wajah sang Jenderal; yang ada justru aura kepemilikan mutlak yang semakin menjadi-jadi seiring suara ketukan pintu Ziva dari lantai atas yang terdengar semakin putus asa.

"Kalian pikir seragam dan senjata itu memberi kalian hak untuk mengambil apa yang sudah menjadi takdir saya?" suara Gibran sangat rendah, berat, namun mencengkeram setiap rongga dada orang yang mendengarnya. "Silakan tembak saya jika kalian punya keberanian. Tapi pastikan peluru itu menembus jantung saya sebelum ada satu orang pun dari kalian yang berani menyentuh wanita di lantai atas!"

Aris Mahendra, yang baru saja dibantu bangun oleh pengawalnya setelah didorong jatuh oleh Gibran, meraung penuh amarah. Pemuda itu nekat menerobos barisan Polisi Militer, melangkah menaiki dua anak tangga pertama sambil menunjuk wajah pamannya sendiri dengan jari yang gemetar hebat.

"Paman sudah gila!" teriak Aris histeris, air matanya bercampur dengan cucuran air hujan yang membasahi pakaiannya. "Paman menghancurkan hidup Ziva hanya karena paman terjebak dalam bayang-bayang masa lalu bibi Anindita! Paman adalah pengecut yang menggunakan kekuasaan militer untuk merampas kebahagiaan orang lain!"

Deg.

Kalimat itu menghantam titik paling gelap dan rapuh di dalam jiwa Gibran. Nama Anindita luka lama yang selama bertahun-tahun ia kubur rapat-rapat di balik dinding kekuasaan dan kedisiplinan militer disebut dengan begitu telak oleh darah dagingnya sendiri di tengah situasi sekritis ini.

Wajah Gibran menggelap sempurna dalam sepersekian detik. Rahangnya mengeras hingga otot-otot di lehernya menegang menahan ledakan emosi yang luar biasa dahsyat.

Sebelum ada yang sempat mengedipkan mata, Gibran melompat turun dari tangga dengan gerakan kilat yang tidak terduga, menerjang ke arah Aris dan mencengkeram kerah kemeja pemuda itu dengan kekuatan luar biasa hingga tubuh Aris terangkat.

"Jenderal! Hentikan!" bentak komandan Polisi Militer sambil mengangkat senjata lebih tinggi.

Suasana langsung berubah menjadi kekacauan total. Para prajurit merangsek maju mengepung kaki tangga, sementara Bramantyo Adriana berteriak histeris memanggil nama putrinya dari lantai bawah saat menyadari situasi telah berubah menjadi baku hantam fisik yang mematikan.

Namun, di tengah kemelut dan todongan senjata yang mengurung Gibran dari berbagai arah, sebuah suara dentuman keras tiba-tiba terdengar dari arah lantai atas.

Bruk!

Suara hancurnya kayu pintu kamar utama yang didobrak dari dalam mendadak menghentikan seluruh pergerakan di lantai bawah.

Semua pasang mata sontak menoleh ke arah sumber suara di koridor atas. Di sana, berdiri sosok Ziva dengan napas memburu, rambut berantakan, dan air mata yang tumpah membasahi sekujur wajahnya. Gadis itu baru saja menghantamkan tubuhnya sendiri sekuat tenaga ke arah pintu kamar hingga kunci elektroniknya jebol, membebaskan dirinya dari sangkar emas yang selama ini mengurungnya.

"Cukup!" jerit Ziva lantang, suaranya melengking tinggi menembus keheningan ruangan bawah, membuat siapa pun yang mendengarnya merasa nyeri di dada.

Ziva melangkah gontai ke tepi pagar pembatas lantai dua, menatap ke bawah ke arah lautan manusia berseragam militer, ayahnya, Aris, dan terutama sosok Gibran yang berdiri di tengah-tengah kekacauan tersebut dengan cengkeraman tangan yang masih mencengkeram kerah baju Aris.

"Jangan saling bunuh..." isak Ziva tertahan, tubuhnya bergetar hebat hingga ia harus memegang tiang penyangga balkon untuk mempertahankan keseimbangannya. "Aris... Ayah... terima kasih sudah datang. Tapi kumohon, hentikan semua ini."

Gibran perlahan melepaskan cengkeramannya dari kerah Aris. Pria itu mendongak, menatap lurus ke arah Ziva di lantai atas dengan manik mata hitam yang menyimpan badai kepedihan dan posesivitas yang melebur menjadi satu.

Aris terbatuk-batuk, mundur beberapa langkah sambil dipegangi oleh pengawalnya, sementara manik matanya menatap tajam penuh kemenangan semu ke arah sang paman.

Ketua Dewan Pengawas Pertahanan memanfaatkan momen tersebut. Ia memberi isyarat keras kepada komandan Polisi Militer. "Amankan saudari Ziva! Dan tangkap Letnan Jenderal Gibran atas tuduhan insubordinasi berat dan perlawanan bersenjata!"

Dua orang prajurit Polisi Militer langsung bergerak cepat menaiki tangga menuju lantai atas untuk menjemput Ziva.

Melihat para prajurit itu mendekat, Ziva menggelengkan kepala ketakutan, melangkah mundur perlahan. Namun sebelum tangan prajurit itu menyentuh bahunya, suara bentakan berat Gibran menggelegar menghentikan seluruh gerakan di dalam rumah.

"Jangan berani-berani menyentuhnya!" bentak Gibran dengan suara rendah yang menggetarkan dinding rumah. Pria itu tidak lagi memperdulikan todongan senjata di sekelilingnya; ia melangkah cepat menaiki tangga melewati Aris, mendatangi lantai atas dalam beberapa detik, dan langsung berdiri di hadapan Ziva, merengkuh tubuh mungil gadis itu ke dalam dekapan pelindungnya.

Tidak ada lagi perlawanan dari Ziva. Gadis itu membenamkan wajahnya di dada bidang Gibran, menangis sejadi-jadinya di tengah pelukan erat sang Jenderal yang menghalanginya dari dunia luar.

Ketua Dewan Pengawas dan seluruh pasukan mengepung ujung koridor lantai atas. Senjata-senjata diangkat siaga. "Jenderal Gibran, permainan sudah berakhir. Menyerah lah secara damai."

Gibran menoleh perlahan ke belakang, memeluk Ziva erat dengan satu tangan sementara tangan kanannya merogoh saku celana militernya, mengeluarkan lencana komando tertinggi dan melemparnya begitu saja ke lantai marmer di hadapan para perwira tinggi. Lencana itu berdenting nyaring, memantul di atas lantai.

"Saya meletakkan jabatan saya," ucap Gibran dingin, tegas, dan mutlak tanpa keraguan sedikit pun. "Tapi ingat satu hal... saya tidak pernah menyerah pada kalian."

Badai di luar bergemuruh semakin kencang, seakan merestui runtuhnya benteng terakhir kekuasaan sang Jenderal demi satu-satunya hal yang paling ia inginkan di dunia ini.

1
syora
up lg dong thor
syora
ya allah semoga dilancarkan segala urusannya
agar kluarga kecil mereka bhgia
+1
lagi🌚
+1
akhir dari segala baku tembak
syora
semoga samawa till jannah ya gibran ziva
ya allah jd nggaksbr nunggu debay lahir
syora
alhamdulillah apapu awal hubungan klian
semoga kluarga kecil klian slalu bhgia,sehat
dan andai cobaan lg smoga klian bisa melaluinya bersama
dan sehat sllu si debay
+1
al kira ada +21
syora
alhamdulillah 🙏
ya allah semoga kedepannya kbhagiaan slalu menyertai. amiin
syora
semoga bisa langgeng
+1
lagi☻️
+1
roar☻️
+1
lagiiii☻️
+1
lagiiiiii🌚
+1
al baca sambil nahan nafas☻️
+1
dia hanya orang gagal yang haus kasih sayang☻️
+1
lagi🌚
+1
lagiiii🦖
+1
menanti +21🌚🌚🌚
+1
deg2an al 🦖
+1
jangan 1 hari 1.. 1 hari 3 mungkin 🌚
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!