Orang tua Yang rela melakukan apapun untuk mengungkap semua misteri Kematian tragis sang putri yang pernah mereka abaikan selama ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Virgo kelabu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 22
Nismara menghitung waktu kepergian Miranti. Lalu 5 menit tepat setelah Miranti meninggalkannya, dia bergerak pergi dari klinik. Sebuah taksi online menjemputnya. Nismara terus waspada. Netra nya nyalang melihat sekitaran mobil. Dia takut diikuti oleh Miranti.
Taksi online yang membawa Nismara berhenti di sebuah gang setelah melaju 15 menit. Nismara membayar tunai dan segera turun. Memasuki gang sempit yang diapit oleh dua rumah dengan tembok tinggi, lebarnya hanya seluasan satu motor saja.
Di ujung Gang yang buntu ini, ada satu rumah dengan halaman lumayan luas. Nismara membuka pagar dan masuk, tetapi tidak menuju ke rumah induk, melainkan pergi ke arah sampingnya. Sebuah rumah petak yang menempel pada rumah induk. Nismara membuka kunci dengan santai, masuk dan menguncinya kembali.
Baru dua hari yang lalu Nismara menempati rumah kecil ini. Dia mendapatkannya melalui media sosial berwarna biru atas nama Rizal, anak sulung pemilik rumah. Harga sewanya termasuk mahal jika dibandingkan dengan pos sejenis, namun Nismara tertarik karena Rizal menjamin tidak ada jam malam, jadi Nismara bebas keluar masuk kapanpun.
"Yang penting tidak berisik ya, Kak Sofi, karena Ibu saya sakit-sakitan. ibu berdiam diri sepanjang hari di rumah." kata Rizal ditelepon saat itu. "Selain Ibu di rumah ada Saya dan adik saya, Zidan, tapi dia juga sering ada di warung bantu-bantu saya sepulang sekolah."
Ketika Nismara akhirnya mendatangi Rizal untuk melihat tempat yang dia tawarkan, Nismara langsung tertarik. Rumahnya asri dan bersih. Lagi pula tidak ada penyewa lain sehingga Nismara tidak perlu berbasa-basi untuk berhubungan dengan orang lain.
"Makasih, Kak Sofi, semoga betah." ucap Rizal berbinar saat menerima uang tunai dari Nismara. "Untuk lebih amannya, kalau ada yang tanya bilang aja Kakak keponakan dari ibu."
Nismara langsung mengiyakan.
Nismara bergegas mandi. Pagi tadi sebelum Dia memutuskan untuk mengerjai Miranti, Nismara sudah pergi ke bank swasta terkenal membuka rekening atas nama Sofia Elena, yang akan dia gunakan untuk mendukung penyamarannya. Benjamin memang tidak kaleng-kaleng, pergaulannya yang luas ikut memuluskan rencana besar yang sudah Nismara buat.
Dia sudah tidak sabar untuk mendaftarkan diri di Mahkota Gym. Berbeda dengan pusat kebugaran pada umumnya, mahkota Gym ini buka jam setengah tiga sore. Agak membingungkan juga bahwa dengan waktu dan anggota yang terbatas, tempat kebugaran itu terlihat lumayan mewah dengan penjagaan sekelas hotel bintang tiga.
Nismara sedang berganti pakaian ketika mendengar suara pintu diketuk. Nismara harus menghentikan semua gerakan yang dia lakukan untuk menajamkan pendengarannya. Memastikan bahwa pintu yang diketuk adalah memang pintu rumah yang dia sewa, bukan pintu rumah induk.
Tok Tok Tok
Seperti nya memang pintu rumahnya yang diketuk. Nismara bergerak ke depan dan melihat ada bayangan dari sela-sela bawah pintu.
"Siapa ya?" Nismara membatin. Tidak ada orang lain yang tahu keberadaannya di sini selain Rizal dan Zidan.
Tok tok tok.
Pintu diketuk lagi. Suara nya semakin keras dari yang sebelumnya. Sejujurnya Nismara malas untuk membuka, tapi dia ingat pesan Rizal. Jadi Nismara takut jika ketukan itu akan semakin keras dan mengganggu Bu Maryam. Nismara pun bergerak, menggeser anak kunci ke kiri, dengan pelan daun pintu itu dibuka.
Seorang laki-laki dengan badan kekar berdiri di depan Nismara.
"Eh, Siapa kamu?" laki-laki itu mundur selangkah ketika Nismara muncul dari balik pintu.
"Sa- saya keponakan Bu Maryam." jawab Nismara.
"Keponakan dari mana?" mata laki-laki itu menyipit curiga.
" Om Maryono!" suara Zidan menyelamatkan Nismara . Perempuan itu pun menarik nafas lega.
Sedang kan laki-laki itu membalik badan, menunggu Zidane mendekat, serta membiarkan Zidan mengambil tangannya untuk kemudian mencium punggung tangannya.
"Zidan, dia siapa? Jangan bilang Rizal ngumpetin pacarnya di sini." laki-laki yang dipanggil Zidan dengan sebutan Om itu berkata sambil menunjuk Nismara.
Zidan tertawa kecil. " Itu kak Sofia, yang kos di sini Om. Lumayan untuk tambahan kami, Om."
Nismara tersenyum mendengar kalimat Zidan yang sangat polos.
"Oh." Sahut Maryono. Kemudian laki-laki itu menghadap Nismara lagi. "Terus kenapa ngaku keponakanku?"
"Hah? Gimana, Om?" Nismara bertanya kaget.
"Kamu tadi ngaku keponakan Mbak Maryam, saya adik kandung Mbak Maryam, jadi kamu ngaku-ngaku keponakan aku kan?"
Zidane tertawa, kali ini tertawanya lumayan keras. Lalu dia menatap Nismara. "Pasti karena disuruh Mas Rizal ya, Kak?"
Nismara mengangguk dan tersipu.
Maryono tertawa. "Aku tadi mengetuk pintu ini pun karena aku kira kamu atau masmu yang lagi di sini, Zid. Lampu nya menyala soalnya, biasanya kan gelap."
"Ayo, Om, masuk udah ditunggu ibu!" Zidan mendahului pamannya berjalan menuju rumah utama. Maryono mengikuti, namun laki-laki itu sempat menoleh pada Nismara dan mengerling nakal.
Nismara tidak merespon. Gegas dia masuk kembali ke dalam rumah, merapikan make up lalu mengambil tasnya. Sambil menyusuri Gang, dia memesan taksi online menuju tempat yang dia rencanakan.
Sesampainya di Mahkota Gym, Nismara mendapat perlakuan yang sama dari penjaganya, persis ketika saat dia datang dengan wujud Nismara yang dulu.
"Sorry, di sini khusus pelajar aja. Kalau kamu nggak punya kartu pelajar yang nggak bisa masuk." kata penjaga itu, bahasanya tidak seresmi saat dia berkata pada wujud Nismara yang dulu.
"Ih, kok Om gitu sih. Aku kan sebenarnya masih belajar tapi putus sekolah aja, Om. Males sekolah." Nismara dengan sikap genit mencoba merayu agar diperbolehkan masuk.
Si penjaga nyengir lebar.
"Paling enggak, Om tanya dulu ke dalam." Kata Nismara lagi.
"Dalam mana?" Si penjaga menyeringai tambah lebar, matanya jelas tersedot ke arah d4d4 Nismara. Hari ini Nismara memang sengaja memakai pakaian olahraga yang ketat dan menggoda.
"Maksud nya kebagian pendaftaran, resepsionis atau apalah yang mengizinkan saya nge-gym di sini." Sahut Nismara. Dia sengaja melenggak-lenggokkan badannya.
Entah mengapa si penjaga itu tertawa dengan suara menjijikan, sambil terus menatap Nismara. Dia Baru berhenti menatap Nismara saat melihat ada motor mendekat ke arah mereka.
"Jul! Ada apa?" tanya orang itu.
Nismara menoleh, dia seperti mengenal suara laki-laki bermotor di depannya.
"Halah, kau tahu aja ada barang bagus, tahu-tahu nongol!" penjaga itu berseru, laki-laki sambil nyengir.
"Jangan sembarangan, Sofia ini aku yang bawa." kata si pengendara motor menunjuk Nismara. Dan Nismara membelalak. Dari mana orang ini mengetahui namanya?
"Ngada- Ngada lho!" penjaga itu berseru lagi, sambil menanjak bahu si pengendara.
"Eh, serius. Ayo naik, Sof!" pengendara motor yang menggunakan helm rapat, mengangguk ke arah Sofia.
Nismara terpaku di tempatnya.
"Ayo, malah bengong! Mau mulai nge-gym sekarang atau besok?"
teka teki nya dapat. suka banget.