Menemukan batu bintang, tersambar petir lalu koma tiga hari. Setelah bangun semua berubah, rumah jerami reot perlahan menjadi mewah dan nyaman. Bubur sayuran liar hilang dari meja makan, berganti dengan nasi dan gandum wangi.
Setiap hari akan ada ikan, daging, telur, yang kesemuanya cuma dapat mereka makan setahun sekali.
Bagaimana bisa perubahan itu terjadi pada keluarga miskin tanpa bakat dan kemampuan..?
Apa sebenarnya yang dialami gadis itu saat koma tiga hari..?
Batu bintang, benda apa dan darimana asalnya itu...?
Ikuti perjalanannya dan dapatkan jawabannya di Bai Anshu Story.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Delia Ata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35
Satu minggu telah berlalu. Untuk ketiga kalinya, Bai Anshu melakukan pengiriman sabun kepada Serikat Dagang Dao.
Hubungannya dengan Murong Cangfeng, Yan dan Liu Hongli, telah berkembang menjadi lebih akrab, tak lagi kaku dan canggung.
Terlebih setelah Bai Anshu, sepakat menyewa toko milik Marquis Lin.
Panggilan diantara mereka pun telah berubah, tak seformal saat pertama kali pertemuan.
Seperti sekarang, Bai Anshu dan Murong Canfeng sedang berbincang didalam room VVIP lantai tiga menara Houlei.
Mereka baru menyelesaikan transaksi, lalu membuat janji untuk makan bersama sekalian membahas bisnis baru.
"Jadi kau ingin membeli desa perkebunan..?" tanya terkesiap Murong Canfeng.
Bai Anshu mengangguk "bahan utama sabun khusus untuk bayi dan balita menggunakan Sanqi, jadi aku berencana menanamnya sendiri karena jauh lebih praktis."
Ide pembelian desa pertanian sudah Bai Anshu dibicarakan bersama keluarga, usai menghitung sisa tabungan yang telah mencapai lebih dari dua puluh ribu tael.
"Ada tiga desa perkebunan yang ingin dijual." ucap Murong Canfeng.
Bai Anshu berbinar antusias.
"Dibagian wilayah gunung utara, lima puluh hektare lahan subur. Dihuni tiga puluh kepala keluarga yang kesemuanya budak lengkap dengan akta jual diri. Harganya tiga ribu lima ratus tael." jelas Murong Canfeng.
Bai Anshu menelan sekali teguk ludah pahit yang menyumpat kerongkongannya.
Lumayan mahal juga ternyata kampung pertanian itu.
"Dikawasan distrik selatan kota, ada seratus hektar lahan bagus, dihuni lima puluh kepala keluarga, harga lima ribu tael."
"Lokasi terakhir digunung Anlong, dua ratus hektare lahan subur. Ada tujuh puluh kepala keluarga, harganya lima belas ribu tael."
Bai Anshu meringis, pilihan ketiga terlalu mahal dan jarak tempuhnya teramat jauh.
"Siapa pemilik dari semua desa perkebunan itu..?" kepo Bai Anshu.
"Keluargaku." jawab Canfeng "ketiganya baru direklamasi setahun lalu, dan kesemuanya sudah selesai masa panen. Jika ingin membelinya, sekarang adalah waktu yang tepat."
Gunung utara letaknya ada dibelakang desa Huanshan. Cukup dekat, cuma butuh tiga jam jika menaiki kereta.
Luasnya lumayan besar, yang terpenting kontur tanahnya subur.
"Aku pilih yang lima puluh hektare." balas Anshu.
Murong Canfeng mengangguk "kapan kau mau melihatnya..?"
"Lusa..!"
"Baik, aku akan mengantarmu."
Makanan datang, menyela obrolan muda-mudi itu.
Perencanaan produksi sabun khusus bayi dan balita hingga usia lima tahun, tentu nantinya banyak membutuhkan bahan baku utama yaitu Sanqi.
Mengandalkan hutan jelas tidak bisa, sebab tanaman yang masih memiliki hubungan kerabat dengan ginseng itu tergolong langka.
Jadi untuk memenuhi kesediaan pasokan bahan secara berkala, Bai Anshu memutuskan untuk membudidayakannya sendiri.
Selain menghemat biaya produksi, untuk mencegah terjadinya kelangkaan bahan nantinya.
"Kakak Feng, apa kau tahu dimana bisa mendapatkan bibit Sanqi..?" tanya Anshu setelah menelan daging angsa panggang.
"Serikat Dagang Dao bisa menyediakannya, kau mau memesan sekalian..?"
Netra lentik Bai Anshu dinaungi binar senyuman "iya, dua ratus kati..!"
Murong Canfeng menoleh kemeja disudut ruangan, dimana Yan dan Meng-Meng berada.
Yan yang memahami, mengangguk patuh. Mencatat semua dalam pikirannya, sebelum nanti mengeksekusi.
"Ah, iya, apa Serikat Dagang Dao juga bisa mencarikan aku benih buah anggur..?" seru Bai Anshu.
Satu alis Murong Canfeng naik tinggi, menatap penuh selidik pada rekan bisnisnya itu.
"Dari mana kau tahu tentang buah anggur..?"
"Dari buku resep makanan." dusta Ansu.
Alis kereng Canfeng merajut kasar.
Buah anggur hanya ada dinegara barat, dan kekaisaran Mingcu. Sementara diHuancu masih sangat langka, cuma keluarga istana serta kalangan bangsawan istimewa yang pernah menikmatinya.
Serikat Dagang Dao sendiri memang memiliki benihnya, namun masih dalam perjalanan.
"Satu bulan aku bisa menyediakannya, apa kau mau menunggu..?"
Bai Anshu mengangguk cepat, wajah cantiknya kian semringah berseri.
"Berapa jenis anggur yang bisa kakak Feng sediakan bibitnya..?"
"Aku tidak tahu nama jenisnya, tapi ada empat warna bibit anggur yang didapat anggota Serikat Dagang Dao. Hijau, merah, hitam dan merah pucat."
Batin Anshu berteriak senang, itu lebih dari cukup untuk memenuhi target bisnis barunya.
"Selain kedua benih itu, bibit apa lagi yang dimiliki Serikat Dagang Dao..?" kepo Bai Anshu.
"Em, jagung, kentang, kedelai hitam dan apel merah."
"Jagung, kentang dan kedelai hitam juga ada..?" tanya terbelalak Anshu.
"Ya..!" kerutan didahi Murong Canfeng kian menumpuk kasar "apa kau tahu tentang mereka dan cara menanamnya..?"
"Kentang sama seperti umbi jalar. Untuk kedelai seperti yang umumnya ada dipasaran sekarang. Kalau Jagung, aku tahu cara membudidayakan serta mengolahnya."
"Sungguh..?" balas Murong Canfeng menyelidik.
Bai Anshu mengangguk yakin.
Semua bibit itu belum ada dinegeri Huancu, tak satu pun buku yang mendeskripsikan cara penanaman, serta manfaat kegunaannya.
Tapi seorang gadis remaja, putri petani yang berasal dari sebuah desa miskin, baru satu bulan memulai bisnis, pergaulan juga terbatas, belum lama bebas berkeliaran setelah keluar dari kandang, bisa mengenal tanaman yang diklaim dapat menjadi pengganti nasi itu. Jelas ini amat mencurigakan.
"Kalau begitu, apa nanti kau bisa mengajari motode penanaman jagung kepada petani keluarga Murong..?"
"Tentu, kapan waktunya siap, kakak Feng bisa mencariku."
"Baik...!"
"Em, kau tidak berminat membeli kereta kuda, atau gerobak keledai..?"
"Rencananya nanti setelah pembangunan rumah selesai."
"Kenapa..?"
Bai Anshu menjabarkan perihal tidak kesediannya kandang, serta siapa yang bakal merawat ternaknya kalau dibeli sekarang.
"Bukankah ada keluarga dari pihak ibumu..?"
Dahi Bai Anshu terlipat dalam, ia tak mengerti apa maksud remaja tampan itu.
"Kau bilang jika keluarga dari pihak ibumu setiap hari datang dengan menyewa gerobak..?"
Bai Anshu mengangguk.
"Bukankah lebih baik kalau kau membeli kereta kuda, dan biarkan keluarga dari pihak ibumu yang memakainya selama pembangunan rumah. Merawat satu kuda tidak sulit, dari pada mereka menyewa gerobak setiap hari."
Bai Anshu tersenyum, otaknya tercerahkan.
Benar juga apa yang dikatakan Murong Canfeng.
"Tapi aku tidak tahu cara memilih kuda yang bagus..?" ucap cemberut Anshu.
"Serahkan saja padaku..!"
"Apa tidak merepotkan kakak Feng..?"
Murong Canfeng menggeleng "itu perkara mudah, besok kereta berikut kudanya sudah ada didepan rumahmu."
"Berapa kira-kira harganya..?"
"Seribu tael untuk kereta kuda seperti milikku."
"Itu terlalu mewah..!"
"Yang terpenting kenyamanan jika melakukan perjalanan jauh. Kalau kereta biasa rodanya terbuat dari kayu, itu sangat tidak enak dinaiki apa lagi."
Bai Anshu menghela nafas patuh "baiklah, terimakasih...!"
Obrolan diakhiri, makan siang selesai. Bai Anshu dan Meng-Meng meninggalkan restoran Houlei guna kembali kedesa.
Malam harinya, Bai Anshu memberitahu perihal pembelian desa pertanian, serta kereta kuda.
Bai Anshu juga meminta kepada sang ayah, agar menambahkan pinjaman uang pada kedua kakek dan ketiga pamannya untuk memperluas ladang sebanyak lima ratus tael.
Bisnis apa yang akhirnya akan Bai Anshu berikan pada keluarga ketiga pamannya juga dijelaskan.
Bai Dashan paham, ia pun setuju dengan gagasan putrinya.
mksh ka udah double up di hari minggu,,🤭🤭moga sehat sllu,💪