Aline terpaksa menyamar sebagai pengasuh polos demi menyelidiki kematian misterius kakaknya di kediaman seorang leader mafia kejam sekaligus CEO, bernama Adrian. Di sana, ia harus mengurus anak kembar Adrian yang sangat genius namun manipulatif. Masalah rumit muncul ketika anak-anak tersebut justru sengaja menjebak Aline dan Adrian agar menikah, sementara Adrian mulai mencurigai identitas asli Aline yang ternyata memegang kunci rahasia masa lalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23: Karpet Merah dan Serigala Berjas Tuksedo
Bab 23: Karpet Merah dan Serigala Berjas Tuksedo
Aline melangkah keluar dari lift privat, berjalan satu langkah di belakang Adrian yang bergerak dengan wibawa mutlak seorang penguasa. Di area transisi menuju aula utama, Kenzo dan Keira yang sudah menunggu bersama Pak Yusuf langsung menegakkan tubuh.
Begitu mata bulat Keira menangkap penampilan baru Aline, bocah perempuan itu langsung memekik tertahan sembari menutup mulut cantiknya. "Wah! Kak Aline cantik sekali! Seperti putri kerajaan dari dongeng Daddy!"
Kenzo tidak bersuara, namun ia menurunkan tabletnya dan memberikan anggukan respek yang teramat tipis. Rencana sabotase gaun mereka tidak hanya sukses, tapi juga berhasil memaksa Daddy mereka mengeluarkan selera terbaiknya untuk mendandani sang pengasuh.
Aline buru-buru menundukkan kepala, membetulkan letak kacamata bingkai emas barunya yang membuat wajahnya terlihat manis namun tetap menyimpan kesan "polos dan canggung" khas gadis desa. "Nona Muda jangan meledek saya toh... Saya malah merasa aneh sekali pakai baju sehalus ini."
"Tetap di dekat anak-anak," potong Adrian dingin, melirik Aline sekilas sebelum memimpin mereka melangkah memasuki aula utama Grand Gala.
Begitu pintu ganda berlapis emas itu terbuka, kemegahan perjamuan langsung menyambut mereka. Ratusan tamu dari kalangan konglomerat, pejabat tinggi, hingga sosialita papan atas berbalik menatap kedatangan keluarga Dirgantara. Namun, yang memicu kasak-kusuk dan bisik-bisik tertahan di antara kerumunan bukanlah tuksedo gagah Adrian atau ketampanan si kembar, melainkan sosok wanita misterius bergaun sutra hitam yang berjalan di samping anak-anak sang mafia.
"Siapa wanita itu? Apakah dia kekasih baru Adrian Dirgantara?"
"Kudengar dia hanya pengasuh anak-anaknya, tapi lihat gaunnya... itu koleksi eksklusif butik lantai atas!"
Aline mengabaikan semua bisikan itu. Di balik lensa kacamatanya, matanya bergerak secara mikro, memindai seluruh penjuru ruangan. Ia menghitung ada dua puluh empat penjaga internal hotel, dua belas pengawal pribadi Adrian yang disebar Rendra, dan... beberapa pria dengan gestur tubuh kaku di dekat area pelayan yang mencurigakan.
Adrian membawa mereka menuju meja VIP di barisan depan. Namun, belum sempat Adrian menarik kursi untuk Keira, sesosok pria paruh baya bertubuh tegap dengan setelan jas abu-abu gelap melangkah mendekat. Rambutnya yang sedikit beruban disisir rapi ke belakang, dan sepasang matanya yang sipit memancarkan kelicikan yang teramat pekat. Di pergelangan tangan kirinya yang sengaja dipamerkan saat memegang gelas sampanye, terdapat tato kepala serigala hitam yang samar.
Abraham Valerius. Pemimpin tertinggi klan mafia Valerius sekaligus musuh bebuyutan Adrian di dunia bawah.
"Ah, Adrian. Suatu kehormatan bisa melihatmu membawa seluruh keluargamu ke acara ini," suara Abraham terdengar berat dan ramah, namun sarat akan nada sinis yang tajam. Mata sipitnya beralih dari Adrian, melewati si kembar, dan akhirnya terkunci rapat pada Aline.
Aline merasakan atmosfer di sekitarnya mendadak drop beberapa derajat. Ia langsung menurunkan pandangannya, meremas apron imajinernya di atas gaun sutra, dan sedikit bersembunyi di balik punggung besar Adrian—menampilkan gestur pelayan yang ketakutan setengah mati menghadapi tatapan orang asing.
Adrian melangkah satu tapak ke depan, dengan sengaja memotong jalur pandang Abraham terhadap Aline. Aura membunuh yang dingin langsung menguar dari tubuh tegap sang CEO. "Kau tidak ada di daftar undangan meja VIP-ku, Abraham. Enyah sebelum aku menyuruh Rendra menyeretmu keluar."
Abraham terkekeh rendah, sebuah tawa yang terdengar seperti desisan ular. Ia tidak mundur, melainkan sedikit mencondongkan tubuhnya ke samping untuk menatap Aline kembali.
"Jangan terlalu tegang, Adrian. Aku hanya penasaran dengan pengasuh barumu ini," ucap Abraham licik. Matanya meneliti struktur tulang wajah Aline dengan intensitas yang mengerikan, seolah sedang menelanjangi penyamaran gadis itu dengan ingatannya sendiri.
Abraham tersenyum penuh arti, lalu berbisik dengan nada yang sanggup membuat darah Aline berdesir dingin:
"Pengasuh barumu... memiliki struktur wajah dan tatapan mata yang sangat familier, Adrian. Karisma yang tersembunyi di balik kacamata itu... mengingatkanku pada seseorang yang sudah kita kubur bertahun-tahun lalu. Apakah kita pernah bertemu sebelumnya di masa lalu, Nona?"