NovelToon NovelToon
Obsesi Papa Mertua

Obsesi Papa Mertua

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Dark Romance / Cinta Terlarang
Popularitas:31k
Nilai: 5
Nama Author: MissSHalalalal

Dua minggu pernikahan menjadi neraka bagi Freya Arunika. Ia baru menyadari dirinya hanya dijadikan tumbal saat memergoki perselingkuhan suaminya, Sean Ravindra, dengan Bianca—adik tirinya sendiri. Sejak rahasia itu terbongkar, hidup Freya sepenuhnya terkekang.
Namun, takdir berputar liar ketika Ravael, ayah kandung Sean sekaligus sosok penolong masa lalu Freya, kembali dari luar negeri. Jatuh cinta pada pandangan pertama tanpa tahu identitas Freya, obsesi Ravael justru semakin membara setelah mendapati wanita itu adalah menantunya.
Kini, Freya terjebak di antara dua pria sedarah: suami kejam yang membencinya, dan papa mertua berkuasa yang terobsesi memilikinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

31.

Lampu merah di atas pintu ruang operasi masih menyala terang. Waktu yang tertera di jam dinding koridor rumah sakit terus bergulir, melewati estimasi waktu yang seharusnya. Operasi berjalan jauh lebih lama dari yang dijadwalkan.

​Rafael berdiri dan mondar-mandir di koridor yang sepi. Pria yang biasanya selalu tenang dan terkontrol itu kini tampak gusar. Setelan kemejanya yang bernoda darah masih belum diganti. Ia tahu betul seberapa parah kondisi fisik Freya sebelum tak sadarkan diri tadi.

​"Berengsek kamu, Sean," desis Rafael pelan, mengepalkan tangannya kuat-kuat ke dinding.

​Kemarahannya pada sang putra kembali bergejolak. Sean benar-benar keterlaluan. Memukul seorang wanita yang tak berdaya dengan tongkat logam hingga mematahkan tulang belakangnya adalah tindakan iblis.

​Dua jam berlalu lagi hingga akhirnya lampu di atas pintu padam. Pintu geser terbuka, dan dokter bedah utama melangkah keluar. Masker medisnya diturunkan ke leher, menampilkan wajah yang tampak sangat lesu dan kelelahan.

​Rafael langsung menghampiri dokter itu. "Bagaimana keadaannya?"

​Dokter itu menghela napas panjang sebelum menjawab. "Operasinya berjalan sangat rumit, Tuan Ravindra. Kami harus bekerja ekstra hati-hati untuk menyambung dan menstabilkan pecahan tulang belakangnya agar tidak merusak sumsum tulang belakang."

​"Lalu? Dia selamat?" tanya Rafael, menuntut kepastian.

​"Nyonya Freya berhasil diselamatkan. Masa kritis akibat pendarahan dalam sudah terlewati," jawab dokter itu, membuat sedikit beban di dada Rafael terangkat. Namun, kalimat dokter berikutnya kembali membuat suasana beralih tegang. "Tapi, benturan itu terlalu traumatis bagi tubuhnya."

​"Maksudmu?"

​"Untuk saat ini, kami belum bisa memastikan apakah ada dampak atau kondisi medis lainnya akibat cedera saraf tersebut. Kita baru bisa mengetahuinya setelah Nyonya Freya sadar sepenuhnya nanti. Apakah ada gangguan motorik, mati rasa, atau komplikasi lain, semua tergantung pada bagaimana tubuhnya merespons pascaoperasi," jelas dokter dengan raut wajah prihatin.

​Rafael terdiam, rahangnya mengetat. "Kapan dia akan sadar?"

​"Pengaruh obat bius masih sangat kuat. Malam ini, Nyonya Freya akan segera dipindahkan ke ruang ICU. Kami harus memantau perkembangan tanda-tanda vitalnya secara intensif selama dua puluh empat jam ke depan. Anda bisa menjenguknya setelah dia diposisikan di ruangan," ujar dokter itu berpamitan.

​Tidak lama kemudian, brankar Freya didorong keluar oleh beberapa perawat. Tubuhnya dipenuhi berbagai selang medis dan monitor yang berbunyi teratur. Rafael melangkah di sampingnya, menatap lekat wajah pucat wanita itu yang kini berjuang di antara hidup dan mati di dalam ruang isolasi ICU.

**

Setelah dua hari dalam pantauan ketat di ICU, kondisi vital Freya berangsur stabil hingga akhirnya ia dipindahkan ke ruang VIP. Rafael terus menjaganya di samping ranjang. Pria itu tidak tidur semalaman, penampilannya kusut dengan gurat kecemasan yang nyata di wajah matangnya.

​Hingga saat fajar menyingsing, jemari Freya mulai bergerak. Kelopak matanya bergetar perlahan, mencoba terbuka melawan pengaruh obat bius yang masih tersisa.

​"Freya?" panggil Rafael dengan suara baritonnya yang serak.

​Mendengar suara berat itu, tubuh Freya mendadak menegang hebat. Matanya terbuka lebar, dipenuhi kilat kepanikan yang luar biasa. Ia tidak melihat sekelilingnya, jiwanya masih terjebak di malam penyiksaan itu.

​"Jangan... jangan pukul lagi... sakit, Sean... ampun..." ratap Freya spontan, suaranya parau dan terputus-putus. Air matanya langsung luruh membasahi bantal. "Aku mohon... jangan siksa aku..."

​Rafael tersentak melihat reaksi itu. Ia segera memajukan tubuhnya, mencoba meraih tangan Freya. "Freya, ini aku. Tenanglah, kau aman di sini. Tidak ada yang akan menyakitimu lagi."

​Namun, begitu kesadaran Freya pulih sepenuhnya dan mengenali wajah di hadapannya adalah Rafael, ketakutannya justru berlipat ganda. Kenangan pahit saat kesuciannya direnggut paksa oleh sang ayah mertua berputar bersamaan dengan bayangan Sean yang memukulinya dengan tongkat logam.

​"Pergi! Jangan dekat-dekat!" teriak Freya histeris. Dengan sisa tenaga yang ada, ia mendorong dada Rafael menjauh. "Jangan sentuh aku! Aku mohon... jangan nodai aku lagi! Pergi!"

​"Freya, dengarkan aku dulu—"

​"Tolong! Siapa saja, tolong aku!" jerit Freya histeris, menutup kedua telinganya dengan tubuh yang gemetar hebat. Luka di punggungnya berdenyut nyeri akibat pergerakan mendadak itu, namun ia tidak peduli. Baginya, Rafael adalah monster yang sama mengerikannya dengan Sean. "Iblis... kalian semua iblis! Tolong!"

​Melihat kondisi Freya yang semakin tidak terkendali dan membahayakan jahitan operasinya, Rafael terpaksa mundur. "Bi Sofi, panggil dokter sekarang!" perintahnya ketat pada pelayan yang berjaga di luar.

​Dokter dan dua perawat bergegas masuk ke ruang VIP. Mereka langsung memegangi pundak Freya yang terus meronta.

​"Nyonya Freya, tenanglah. Anda aman di rumah sakit. Tarik napas dalam-dalam," ucap dokter mencoba menenangkan, sementara perawat menyuntikkan obat penenang dosis ringan ke jalur infusnya.

​Rafael hanya bisa berdiri diam di dekat pintu, mengepalkan tangan melihat wanita yang dicintainya menangis ketakutan hanya karena melihat kehadirannya.

​"Tuan Ravindra, Nyonya Freya mengalami trauma psikologis yang sangat berat," ujar dokter setelah Freya mulai agak tenang, meski napasnya masih memburu. "Pemicu dari masa lalunya membuat kondisi mentalnya tidak stabil saat ini. Sebaiknya Anda memberikan dia ruang terlebih dahulu."

​Freya terbaring lemah, tatapan matanya kosong menatap langit-langit kamar. Perlahan, efek obat penenang membuatnya sedikit rileks. Namun, saat ia mencoba menggeser posisinya untuk mencari kenyamanan, dahi Freya mengernyit bingung.

​Ia mencoba menggerakkan ujung jemari kakinya. Tidak ada respons. Ia mencoba menekuk lututnya. Nihil. Bagian bawah tubuhnya terasa asing, seolah-olah kaki itu bukan miliknya lagi.

​"Dokter..." panggil Freya, suaranya bergetar pelan, memecah keheningan ruangan.

​Dokter melangkah mendekat ke sisi ranjang. "Ya, Nyonya Freya? Ada yang terasa sakit?"

​Freya menatap dokter dengan mata yang kembali berkaca-kaca oleh rasa takut yang baru. "Kaki saya... kenapa saya tidak bisa merasakan kaki saya? Dokter, apa yang terjadi pada kaki saya?!"

Dokter terdiam sejenak, bertukar tatap dengan perawat di sampingnya sebelum menghela napas berat. Ia mengambil sebuah instrumen medis kecil, lalu menyentuh dan sedikit menusuk telapak kaki Freya bergantian.

"Nyonya Freya, apa Anda merasakan sesuatu?" tanya dokter dengan nada lembut namun serius.

Freya menatap tajam ke arah kakinya, air matanya mulai menggenang kembali. "Tidak... tidak ada, Dokter. Saya tidak merasakan apa-apa. Kenapa kaki saya tidak mau bergerak?!" Suaranya meninggi, dipenuhi kepanikan yang amat sangat. "Dokter, jawab aku!"

Rafael melangkah maju satu kali, wajahnya menegang menunggu penjelasan medis yang paling ia takuti.

"Nyonya Freya, tenanglah terlebih dahulu," ujar dokter, mencoba memegang pundak Freya yang mulai gemetar. "Seperti yang saya jelaskan pada Tuan Ravindra pascaoperasi, hantaman benda tumpul pada punggung Anda telah mematahkan struktur tulang belakang dan menyebabkan trauma parah pada jaringan saraf di sekitarnya."

"Lalu apa hubungannya dengan kakiku?!" jerit Freya histeris. "Kenapa kakiku lumpuh?!"

"Cedera saraf itu memutus jalur sinyal motorik dari otak ke bagian bawah tubuh Anda," jawab dokter dengan jujur dan penuh empati. "Kondisi ini disebut paraplegia. Untuk saat ini... Anda mengalami kelumpuhan dari pinggang ke bawah."

Bagai dihantam petir di siang bolong, dada Freya terasa sesak luar biasa. Dunia yang baru saja runtuh kini benar-benar hancur berkeping-keping. "Lumpuh? Tidak mungkin... Aku tidak mau lumpuh!"

Freya memukul-mukul pahanya sendiri dengan histeris, namun tangannya sama sekali tidak merasakan sensasi apa pun pada kulit kakinya. "Ayah... hiks... kenapa hidupku jadi seperti ini? Ayah, tolong Freya..." Tangisnya pecah sejadi-jadinya, meratapi nasibnya yang kini menjadi cacat akibat perbuatan keji suaminya sendiri.

Rafael yang melihat penderitaan Freya tidak bisa lagi menahan diri. Ia mendekati ranjang, mengabaikan tatapan benci dari wanita itu. "Dokter, apakah ini permanen? Katakan padaku ada cara untuk menyembuhkannya!" tuntut Rafael, suaranya berat menahan gejolak emosi.

"Kami sudah mengembalikan struktur tulangnya melalui operasi, Tuan Ravindra. Namun untuk pemulihan saraf, kita harus menunggu fase akut ini lewat," jelas dokter. "Setelah kondisinya stabil, Nyonya Freya harus menjalani terapi fisik dan rehabilitasi intensif. Peluang untuk pulih tetap ada, meskipun membutuhkan waktu yang sangat lama dan perjuangan yang berat."

"Aku tidak mau diterapi! Aku tidak mau di sini!" teriak Freya, menatap Rafael dengan kilat permusuhan yang tajam. "Pergi kamu dari sini! Ini semua karena kamu dan anakmu! Kau menghancurkan hidupku, dan anakmu membuatku cacat hari ini! Aku benci kamu, Rafael! Aku benci!"

"Freya, tenanglah. Pikirkan jahitan operasimu," ucap Rafael parau, hatinya berdenyut nyeri mendengar makian itu, namun ia tetap berdiri kokoh di samping ranjang.

"Bagaimana aku bisa tenang?! Aku kehilangan Ayahku, aku kehilangan kehormatanku, dan sekarang aku kehilangan kakiku!" Freya terisak hebat, menyembunyikan wajahnya di balik kedua tangan. "Keluar... kubilang keluar"

Dokter memberikan isyarat mata kepada Rafael agar sebaiknya meninggalkan ruangan demi keselamatan pasien. Rafael mengepalkan tangannya kuat-kuat.

Dengan berat hati, ia membalikkan tubuhnya dan melangkah keluar dari ruang VIP, meninggalkan Freya yang terus menangis histeris di dalam pelukan perawat.

*

*

*

1
Mita Paramita
lanjut Freya 💪💪💪
Reni Anjarwani
makin seru up doubel trs thor😍😍
MissSHalalalal: lanjut besok ya 🙏
total 1 replies
Reni Anjarwani
makin seru up doubel trs thor
Mita Paramita
lanjut Thor bikin Freya naksir berat sama Rafael atau cemburu 🤣🤣🤣
+62
lanjutkan papa.. harus jual mahal donk 🌚
Reni Anjarwani
lanjut thor doubel up trs
Kasmawati Ambosakka
lanjut
MissSHalalalal: update besok ya kak🙏
total 1 replies
Reni Anjarwani
lanjut thor doubel up
MissSHalalalal: update besok ya kak
total 1 replies
Mita Paramita
kumpul keluarga klan Ravindra mungkin mau ngelamar Freya 😍😍😍
MissSHalalalal: maunya gitu sih. tapi Freya mau GK nih
total 1 replies
Mita Paramita
kumpul keluarga klan Ravindra mungkin mau ngelamar Freya 😍
Sh
Met holiday, biar pulang bawa ide segudang, fresh menghadapi dunia persilatan 🤣
MissSHalalalal: yg ada pulang-pulang cape kak. 🤭😄
total 1 replies
Reni Anjarwani
lanjut thor doubel up
+62
plok2 lagi sama papa🥺
Sh
suka tapi tokoh wanita selalu sengsara,kapan bahagia nya
Kamsia
y ktnya bawa appun gak bisa ini ad penjaga bnyak lepas sudah freya di bawa.
+62
ah papa🌚
Reni Anjarwani
lanjut thor makin seru bgt thor
Mita Paramita
Rafael tanggung jawab banget jagain Freya 💪 kasian tuh masa gak dikasih kesempatan kedua🤣🤣🤣
MissSHalalalal: kesempatan dalam kesempitan nih😄
total 1 replies
+62
🌚
Piyah
langsung nikah aja freya
Sh: belum boleh, baru aja diwawancara ga ada hubungan asmara,koq tiba tiba nikah
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!