NovelToon NovelToon
Dingin Yang Tak Tersentuh

Dingin Yang Tak Tersentuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Duda / Diam-Diam Cinta
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: keipouloe

Arsen Laurent Wijaya, dosen killer yang dingin dan tak tersentuh, hidup dalam bayang-bayang pengkhianatan masa lalu. Sejak itu, ia membenci perempuan—bahkan tubuhnya sendiri menolak setiap sentuhan mereka.

Di rumah, ia hanya sosok ayah tanpa kehangatan.

Hingga hadir Alana Kirana Putri.

Mahasiswi ceroboh, ceria, dan penuh kekacauan kecil di hidupnya. Berbeda dari semua perempuan yang pernah Arsen temui, Alana justru tidak membuatnya mual… tidak ditolak oleh tubuhnya.

Sejak saat itu, dunia Arsen yang dingin mulai retak.

Di antara luka lama, perbedaan yang jauh, dan masa lalu yang kembali menghantui—perlahan muncul sesuatu yang tak pernah ia izinkan lagi:

perasaan.

Namun… apakah hati yang sudah membeku bisa benar-benar kembali hidup?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon keipouloe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Luka yang Tak Pernah Sembuh

Langkah kaki Axel terdengar pelan saat menaiki satu per satu anak tangga menuju lantai dua.

Rumah mewah bergaya modern itu terasa begitu sunyi, hanya menyisakan suara ketukan sol sepatunya yang sesekali beradu dengan lantai marmer, mengisi keheningan malam yang mencekam.

Pipi kirinya masih terasa panas dan berdenyut nyeri...

bekas tamparan dari tangan kekar Arsen belum sepenuhnya hilang dari kulit putihnya.

Namun seperti biasa, Axel tidak menangis.

Jangankan meneteskan air mata, meringis pun tidak. Dia sudah terlalu terbiasa memendam dan menahan segala sesuatunya sendirian.

Sesampainya di depan kamar, bocah itu memutar knop pintu perlahan lalu melangkah masuk tanpa berniat menyalakan lampu utama.

Cahaya bulan yang menembus masuk melalui jendela kaca besar sudah lebih dari cukup untuk menerangi sebagian ruang pribadinya.

Kamar itu sangat luas, bahkan terlampau luas untuk dihuni oleh seorang anak laki-laki berusia dua belas tahun.

Di sudut-sudutnya berdiri rak buku besar, meja belajar modern, televisi layar datar, hingga konsol permainan video terbaru yang hampir tidak pernah disentuhnya sejak pertama kali dibeli.

Semua fasilitas mewah yang diimpikan oleh anak-anak seusianya ada di sana, tersedia tanpa kurang suatu apa pun. Kecuali satu hal: kehangatan.

Axel berjalan mendekati tempat tidur berukuran king size miliknya, lalu mendudukkan diri di tepi kasur.

Dia diam.

Tatapan matanya lurus terarah kosong menatap lantai marmer yang dingin. Perlahan, tangannya naik untuk menyentuh pipi kirinya yang masih terasa kaku dan perih.

Namun, ekspresi wajahnya tidak berubah sedikit pun. Tidak ada kilat kemarahan, tidak ada guratan kesedihan, bahkan tidak ada riak kekecewaan di sana.

Benar-benar kosong, seolah tamparan keras yang baru saja diterimanya dari sang ayah hanyalah rutinitas biasa yang menjadi bagian dari hidupnya sehari-hari.

Setelah beberapa menit terjebak dalam keheningan, Axel bergerak membuka laci nakas kecil di samping tempat tidur. Dari dalam sana, jemari kecilnya mengeluarkan sebuah bingkai foto berukuran sedang yang selalu disimpan rapi di tempat tersembunyi.

Foto itu menampilkan sosok seorang wanita cantik yang memiliki sepasang mata teduh dan senyuman yang sangat hangat; Clarissa Evelyn Wijaya, ibunya.

Seketika itu juga, tatapan mata Axel yang semula sedingin es perlahan-lahan melembut. Sangat tipis, bahkan nyaris tidak terlihat jika ada orang lain yang menyaksikannya.

“Aku ketemu orang aneh hari ini, Ma,” suara kecil Axel akhirnya memecah kesunyian di dalam kamar.

Tentu saja, tidak ada jawaban yang menyahut dari lembaran kertas foto itu.

Namun, Axel tetap melanjutkan kalimatnya, seolah sang ibu memang sedang mendengarkannya.

“Ada kakak penjual ayam geprek.”

Bocah itu menunduk dalam, memori jangka pendeknya otomatis memutar kembali sosok gadis cerewet yang terus saja mengajaknya bicara sejak sore tadi di dalam gang sempit.

Padahal, Axel sudah berkali-kali menunjukkan gestur kaku dan isyarat bahwa dirinya sama sekali tidak ingin diganggu atau diajak mengobrol.

Namun, gadis bernama Alana itu seakan tidak peduli. Dia tetap saja berbicara, tetap tersenyum lebar, tetap bertanya banyak hal, dan tetap mengomel kecil.

Dan anehnya… semua kebisingan yang dibuat oleh gadis itu sama sekali tidak membuat Axel merasa kesal.

“Aneh banget,” Axel mengerutkan dahinya pelan. Biasanya, dia paling tidak suka berbicara dengan orang asing. Dia benci berinteraksi, benci keramaian, dan paling tidak suka didekati oleh siapa pun.

Tapi gadis penjual ayam geprek itu berbeda. Perempuan itu terlalu ramai, terlalu cerewet, dan... terlalu hidup. Sosoknya berbanding terbalik dengan dunia sunyi dan kaku yang selama ini Axel kenal di dalam rumah ini.

Perlahan, Axel kembali menyimpan foto ibunya ke dalam laci nakas lalu merebahkan tubuhnya di atas kasur tanpa sempat mengganti pakaian seragamnya.

Dia berbaring telentang, menatap langit-langit kamar yang tinggi dengan pandangan menerawang. Namun, pikirannya justru melayang jauh, terseret mundur ke masa lalu. Ke masa ketika rumah megah ini belum sesunyi dan sedingin sekarang.

Lima tahun yang lalu, saat Axel masih berusia tujuh tahun dan adiknya, Elio, baru menginjak usia satu tahun.

Saat itu, rumah mereka jauh lebih hangat dan bernyawa. Arsen memang tetaplah seorang pria yang sibuk, berwatak keras, dan berkarakter dingin sejak dulu.

Namun setidaknya, pada masa itu ada seseorang yang mampu meredam kekakuan tersebut dan menyeimbangkan segalanya dengan sempurna: Clarissa.

Ibunya selalu menjadi pusat dunia bagi Axel kecil. Wanita itu yang setiap pagi akan membangunkan bangun tidur dengan suara lembut, menyiapkan sarapan hangat, membantu mengerjakan tugas sekolah, membacakan dongeng sebelum tidur, hingga memeluknya erat-erat saat Axel sedang ketakutan.

Sampai pada suatu hari, seluruh kebahagiaan itu berubah dalam sekejap mata.

Hari itu, Axel pulang dari sekolah lebih cepat karena guru kelasnya mendadak jatuh sakit.

Dia masih mengingat kejadian hari itu dengan sangat jelas, terlampau jelas hingga sulit untuk dihapus dari ingatannya. Saat pertama kali melangkahkan kaki memasuki rumah, atmosfer di sekitarnya terasa sangat berbeda. Terlalu sunyi dan terasa aneh. Axel kecil berjalan menyusuri koridor rumah untuk mencari ibunya, hingga langkah kaki kecilnya terhenti tepat di depan ruang tamu.

Di sana, ibunya sedang berdiri berdampingan dengan seorang pria asing yang belum pernah Axel lihat sebelumnya.

Mereka tampak tertawa bersama, berbincang dengan nada yang sangat akrab, dan puncaknya... mereka saling berpelukan.

Axel kecil yang saat itu belum mengerti apa-apa hanya bisa mematung. Dia tidak paham arti dari kedekatan itu, namun intuisi anaknya mengatakan bahwa ada sesuatu yang salah sedang terjadi.

Sampai pada malam harinya, Arsen pulang ke rumah jauh lebih cepat dari jadwal biasanya. Dan untuk pertama kalinya dalam hidup, Axel menyaksikan sang ayah kehilangan kendali sepenuhnya. Suara pertengkaran hebat terdengar menggema keras dari dalam ruang kerja. Bunyi pecahan kaca yang hancur berantakan, bentakan-bentakan penuh amarah, dan isak tangis yang tertahan saling bersahutan. Dan malam itu juga, fondasi rumah tangga mereka resmi runtuh.

Kelopak mata Axel perlahan terpejam rapat saat kilas balik itu berputar di kepalanya. Kenangan pahit tersebut masih terasa sangat nyata dan mengiris hati, meskipun waktu sudah bergulir bertahun-tahun lamanya.

Clarissa memang tidak meninggal dunia. Wanita itu masih hidup di suatu tempat, entah di mana dan bersama siapa sekarang.

Namun sejak malam pertengkaran hebat itu, ibunya tidak pernah lagi menginjakkan kaki ke rumah ini. Tidak pernah menelepon, tidak pernah datang berkunjung, bahkan tidak pernah sekalipun mencoba mencari keberadaan anak-anaknya. Seolah-olah Axel dan Elio tidak pernah ada di dalam lembaran hidupnya.

Awalnya, Axel kecil selalu menangis setiap malam di balik selimutnya. Dia terus menunggu ibunya pulang dan berharap ada seseorang yang mau menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.

Namun lama-kelamaan, air matanya mengering. Dia berhenti menangis, berhenti berharap, dan perlahan rasa itu bermutasi menjadi kebencian yang mendalam.

Axel membenci ibunya yang pergi, membenci ayahnya yang terlalu keras, membenci rumah besar yang sepi ini, dan yang paling parah, dia membenci dirinya sendiri. Karena jauh di dalam lubuk hatinya, Axel selalu merasa bahwa dirinya tidak cukup berharga untuk membuat sang ibu bertahan di sisinya.

...----------------...

Sementara itu, di lantai bawah.

Arsen masih duduk sendirian di ruang keluarga yang remang-remang. Layar tablet di tangannya sudah lama mati dan menggelap, namun pria itu belum menggeser tubuhnya sedikit pun dari sofa utama.

Rumah kembali dilingkupi kesunyian yang mencekam, persis seperti atmosfer yang dia rasakan selama beberapa tahun terakhir. Pandangan matanya tertuju lurus pada gelas kopi yang sudah mendingin di atas meja kaca, namun fokus pikirannya berada jauh di tempat lain.

Plak.

Suara tamparan keras yang dia layangkan ke pipi anak sulungnya tadi kembali terngiang-ngiang dengan jelas di telinganya. Rahang Arsen mengeras, tangannya mengepal erat di atas lutut hingga urat-uratnya menonjol samar.

Sial.

Dia kehilangan kendali lagi malam ini. Dan kehilangan kendali atas emosi adalah hal yang paling dibenci oleh seorang Arsen Laurent Wijaya.

Ucapan Gavin beberapa bulan lalu mendadak terlintas kembali di kepalanya. Kalimat yang saat pertama kali didengarnya langsung membuat Arsen ingin melempar sahabatnya itu keluar jendela karena kesal.

"Lo keras sama semua orang, Sen. Tapi yang paling parah... lo terlalu keras sama diri lo sendiri."

Saat itu Arsen menganggap ucapan Gavin hanyalah omong kosong belaka. Namun malam ini, entah kenapa untaian kalimat itu kembali muncul dan menghantuinya.

Pria itu mengusap wajahnya dengan kasar, mengembuskan napas yang terasa berat.

Lelah.

Dia benar-benar merasa lelah secara batin.

Selama bertahun-tahun, Arsen mencoba mati-matian untuk berperan ganda; menjadi seorang ayah yang tegas sekaligus menggantikan posisi ibu bagi kedua anaknya.

Namun, semakin keras dia berusaha mendidik dan membentuk karakter mereka, justru semakin jauh Axel menarik diri dan menjauh darinya. Setiap percakapan yang mereka lakukan selalu berakhir dengan pertengkaran, setiap perhatian yang dia berikan selalu disalahartikan sebagai tekanan, dan setiap niat baik yang diutarakannya selalu berubah menjadi kesalahan di mata anaknya.

Arsen menghela napas panjang, memejamkan matanya rapat-rapat. Untuk pertama kalinya di malam yang dingin itu, sang dosen killer sekaligus seorang CEO sukses itu merasa kalah total.

Bukan kalah dalam negosiasi bisnis atau perdebatan akademik, melainkan kalah sebagai seorang ayah.

...----------------...

Di kamar sebelah, anak laki-laki berusia enam tahun bernama Elio Laurent Wijaya yang tak lain adalah anak kedua Arsen baru saja selesai belajar. Anak itu keluar dari kamar sambil memainkan robot kecil kesayangannya.

Bocah berusia emam tahun itu menghentikan langkah kakinya tepat di depan pintu kamar sang kakak saat melihat celah lampu kamar Axel masih menyala redup dari balik pintu.

Dengan langkah yang sengaja diperlambat agar tidak menimbulkan suara, Anak itu mengetuk pintu itu pelan.

Tok. Tok.

“Kak Axel?” panggilnya lirih.

Tidak ada jawaban dari dalam. Elio kemudian memberanikan diri untuk membuka pintu kamar sedikit, lalu mengintip ke dalam ruangan.

Di bawah temaram cahaya, dilihatnya Axel sudah berbaring miring di atas kasur dengan posisi membelakanginya.

Namun, netra jeli Elio langsung menangkap adanya bekas guratan kemerahan yang samar di pipi kiri kakaknya. Wajah bocah enam tahun itu seketika berubah muram dan meredup. Dia tidak bodoh; dia tahu persis apa yang baru saja terjadi di lantai bawah tadi.

Pelan-pelan, Elio melangkah masuk ke dalam kamar tanpa menimbulkan suara. Dia mendekati tempat tidur, meraih ujung selimut tebal yang terlipat, lalu menariknya perlahan untuk menyelimuti tubuh kakaknya yang pura-pura tertidur.

Gerakannya sangat hati-hati dan lembut, seolah takut jika sedikit saja kesalahan akan membangunkan luka tersembunyi Axel.

Setelah selesai, Elio berdiri diam selama beberapa detik di sisi ranjang, menatap punggung tegap namun rapuh milik kakaknya, sebelum akhirnya berbisik dengan suara yang sangat pelan.

“Sabar ya, Kak.”

Suaranya nyaris menyerupai bisikan angin malam, namun gema dari kalimat itu sudah cukup untuk membuat atmosfer di dalam kamar terasa semakin sesak dan menyesakkan dada.

Karena di balik kemegahan rumah mewah yang terlihat sangat sempurna dan berkelas dari luar itu, ternyata setiap penghuninya sama-sama sedang menyimpan luka batin mendalam yang belum pernah sembuh.

Dan tanpa pernah mereka sadari, roda takdir perlahan-lahan mulai bergerak maju.

Dimulai dari kehadiran seorang gadis cerewet penjual ayam geprek bernama Alana Kirana Putri, yang sebentar lagi akan melangkah masuk ke dalam pusaran kehidupan mereka, memecah kesunyian, dan mengubah segalanya secara tak terduga.

1
Lisa
Oke Kak..kami tunggu kelanjutan kisahnya y Kak..semangat & sukses y Kak utk revisi nya 💪🙏
Lisa
Semangat y Alana 💪
rokhatii
ayo mampir guys dijamin suka
Lisa
Arsen² sadarlah..jgn terbawa masa lalu..anak² mu butuh kasih sayang ortunya..
Lisa
Wah makin kacau aj rumah itu..kasian banget Axel..sampe kpn si Arsen itu dpt berubah
rokhatii: doakan semoga segera dapat hidayah🤭🤭
total 1 replies
Lisa
Arsen harus mengubah sikapnya terhadap anak² nya
rokhatii: orang tua seperti itu kebanyakan sulit berubah nggak sih kak??
total 1 replies
aisy
bagus ceritanya
Lisa
Arsen² benar² ayah yg aneh..sekrg baru mencari Axel..
Suryanti Yanti
lanjut toor kenapa kok setenga²tor
rokhatii: maafin othor ya sehari cuma bisa up satu bab...🙏🙏
total 1 replies
Lisa
Kasihan banget Axel..moga neneknya dpt menolongnya..ayah macam apa Arsen itu..
rokhatii: ayah jahat dia,,semoga dapat karmanya nanti🤭🤭
total 1 replies
Suryanti Yanti
lanjut toor
Lisa
Salut banget sama Alana..semangat terus y belajar sambil jualannya..sukses ya 👍🙏
Lisa
Aku mampir Kak
rokhatii: terima kasih kakak😍😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!