Ardian dan kebahagiaan nya.
Kembali berkumpul dengan putrinya serta menikah dengan wanita yang merubah dirinya menjadi pria dengan pribadi yang baik, membuatnya sangat bahagia walaupun cerita masalalu yang sedikit demi sedikit terbuka.
Jidan dan kisah cintanya.
Tidak sama seperti tuannya yang memilih berlabuh ke hati lain dan berdamai dengan masalalu nya. Jidan malah terjebak dengan perasaan nya yang belum benar-benar mencintai wanita lain. Seakan takdir berputar-putar ditempat nya, membuat Jidan selalu terjebak dengan perasaan sendiri, walaupun ada hati lain yang menariknya untuk beralih.
Bagaimana kisah selanjutnya? Simak yuk, biar nggak penasaran bagaimana kisah mereka selanjutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ulfa Zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
“Istri anda hanya kelelahan dan ada sesuatu yang membuat syok hingga akhir nya jatuh pingsan. Tapi semua nya baik-baik saja," jelas bidan itu setelah memeriksa kondisi Nalda."Untuk lebih lanjut, anda bisa memeriksanya ke dokter kandungan Tuan. Dari hasil pemeriksaan saya menemukan kalau istri anda sedang mengandung. Tapi lebih lanjut anda bisa memeriksa nya Obgyn."
"Benarkah Bu bidan? Alhamdulillah," Ucap Ardian penuh syukur saat mendengar penjelasan dokter, kalau istri nya diprediksi sedang mengandung."Terima kasih Bu bidan."
"Sama-sama tuan. Permisi."
"Bagaimana kondisi istrimu, apakah dia baik-baik saja ardian?"
"Ya istriku baik-baik saja. Hanya saja aku harus membawa nya ke dokter kandungan untuk memastikan, karena kata bidan kalau istriku seperti nya sedang mengandung." Jelas Ardian dengan wajah yang berseri-seri terlihat bahagia di sana.
"Alhamdulillah, selamat untukmu Ardian."
"Terima kasih, zar," jawab ardian meraih tangan fazar yang terulur memberikan nya selamat."Istriku dan Harum pasti senang dengan kabar ini."
"Tentu dia akan senang bagaimanapun anggota baru akan lahir di keluarga kalian. Temanilah istrimu, aku akan menemani Harum di luar."
"Aku titip putri ku, tolong jangan beritahu dia mengenai kabar bahagia ini. Nanti biar aku dan istriku yang memberitahukan nya."
"Tenang saja aku tidak akan memberitahukan nya." Jawab fazar."Aku akan pergi mencari makan malam. aku akan mengajak harum keluar, siapa tau dia mau beli sesuatu untuk menghibur diri nya."
"Ah, aku rasa idemu bagus. Maaf sudah merepotkanmu."
"Kamu bicara apa sih, kayak siapa saja." jawab Fazar terkeke sambil menepuk bahu Ardian dengan pelan.
Ardian hanya tertawa mendengar perkataan Fazar.'Sekarang kita teman, harum adalah anakku tapi kau juga ayah angkat nya."
"Terdengar sangat aneh Ardian." Kedua nya tertawa bersamaan mendengar tanggapan Fazar barusan.
Fazar bersama Harum pergi ke keluar. Lebih tempat nya keliling desa mengingat desa itu masih sangat kental dengan pedesaan nya yang sepi.
"Eliana.... Elinaa." Bisik Nalda dalam tidurnya. Ardian melihat itu bergegas mendekati sang istri. Dia bisa melihat Nalda yang perlahan-lahan sadar dari pingsan nya.
"Sayang, kamu sudah bangun?" Tanya nya lembut mengusap kepala istri nya dan mencium tangan itu dengan lembut."Kamu mau minum sayang?" Nalda mengangguk mengiyakan. Dia masih merasa pusing pada kepalanya, itulah kenapa dia tidak bisa berbicara banyak.
Ardian melangkah keluar. Dia mengambil botol minum lalu membantu istrinya untuk duduk."Minumlah."
"Terimakasih Hubby."
"Sama-sama sayang."
"Hubby, dimana Harum?" Tanya nya dengan suara lirih.
"Harum bersama Fazar pergi mencari makan malam. Mungkin malam ini kita akan menginap disini karena hari sudah sore." Jawab Ardian."Kamu membutuhkan sesuatu."
"Aku mau melihat kalung dan juga foto itu Hubby, bisa tolong ambilkan?" Minta Nalda.
"Untuk apa sayang."
"Aku hanya ingin memastikan sesuatu. Apakah dugaan ku benar atau tidak." Jawab Nalda dengan wajah yang terlihat sangat serius.
"Memastikan? Memastikan apa sayang?" tanya Ardian penasaran.
"Hubby akan tau nanti." jawab Nalda.
Ardian yang penasaran hanya menuruti perkataan istri nya, walaupun sejak tadi hati nya terus bertanya-tanya. Ardian mengambil kotak itu dan mengeluarkan kalung putih dengan lotion love di sana.
"Ini sayang. Emang nya ada apa sih dengan kalung ini?"
Nalda tak langsung menjawab melainkan mengambil kalung itu dan memeriksanya. Di sana dia bisa melihat nama yang terukir indah di kalung itu.
Eliana Nelida Alessandro
Nalda seperti tersambar petir saat melihat kalung yang hilang bersama dengan tiada nya sang adik. Tapi hari ini dia melihat kalung itu ada setelah bertahun-tahun tidak melihat nya. Kalung itu dihadiahkan saat adiknya berusia empat tahun setahun sebelum menghilang.
Hiks...hiks....
"Ya Allah sayang! Ada apa denganmu kenapa malah menangis?" tanya Ardian khawatir melihat sang istri yang tiba-tiba saja menangis.
"Hubby.... Hubby...." ucap nya terbata-bata dan tidak bisa berbicara dengan jelas saat dia ingin memberitahukan apa yang dia ingin sampaikan.
"Iya sayang, aku ada disini. Ada apa? Kenapa kamu menangis, hmm?"
"Hubby Mayla itu ternyata Eliana Nelida Alessandro adikku." Jawab nya yang masih terisak.
"Itu tidak mungkin sayang, adikmu telah tiada. Mayla orang yang berbeda," ucap Ardian mencoba untuk menenangkan tapi wanita itu malah semakin menangis'.
"Foto dan kalung itu sebagai bukti nya Hubby kalau mereka orang yang sama," jawab Nalda memperlihatkan nama yang berada di kalung itu ada nama marga keluarganya."Hubby tolong ambilkan dompet ku. Aku ingin memperlihatkan foto adikku yang sama persis seperti foto ini."
Ardian menurut. Pria itu mengambil tas sang istri lalu mengeluarkan dompetnya. Di sana ada sebuah foto dan wajah di sana sama persis seperti di dalam foto tersebut.
"Aku mengatakan yang sebenarnya Hubby mereka sama bukan persis mereka adalah orang yang sama,"
"Ya Allah kejutan apa ini," ucap Ardian tidak kalah terkejutnya."Pantas dulu aku melihat Mayla sangat tidak asing."
"Satu-satunya orang yang tau kebenaran ini hanya Tante Harum dan sekarang dia sudah tiada. Apa yang harus kita lakukan." Lanjut Nalda mengusap wajahnya yang sudah basah dengan air mata.
Ardian meraih tubuh Nalda dalam pelukan nya dia mencoba menenangkan wanita itu, tapi Nalda terlalu sedih' dengan kebenaran ini.
"Sudah sayang. Jangan menangis lagi, kasihan anak kita nanti akan ikut tertekan." ucap Ardian menenangkan. Karena kebenaran ini Ardian sampai melupakan perkataan bidan tadi masalah kehamilan Nalda.
Nalda mengusap matanya yang tadi menangis. Ia melepaskan pelukan sang suami dan menatap pria itu penuh tanda tanya. Tidak mengerti dengan maksud Ardian.
"Anak kita? Apa maksudmu by?" tanya Nalda tidak mengerti. Ardian tersenyum, tangannya terangkat dan mengarah ke perut yang tertutup oleh kain dan mengusapnya dengan lembut.
"Kamu hamil sayang, dan untuk memastikan nya kita harus memeriksanya ke dokter kandungan.”
Bersambung….