NovelToon NovelToon
Mon Mari Est Un Mafia (Suamiku Seorang Mafia)

Mon Mari Est Un Mafia (Suamiku Seorang Mafia)

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mafia / Harem
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ry_chan04

Alya adalah definisi dari "Cantik tapi Kelakuan Minus". Gadis asal Jakarta yang sedang mencoba peruntungan beasiswa di Paris ini memiliki bakat luar biasa dalam mencari masalah. Suatu sore, karena lapar yang amat sangat dan penglihatan yang kabur akibat lapar, Alya salah memasuki sebuah gedung tua yang ia pikir adalah restoran "All You Can Eat". Ternyata, itu adalah lokasi eksekusi musuh oleh The Four Kings of Paris—si kembar empat pewaris takhta mafia terkutuk: Lucien (Si Dingin yang Otoriter), Marc (Si Jenius yang Licik), Julien (Si Sniper yang Pendiam), dan Etienne (Si Bungsu yang Psikopat tapi Manis).
​Alih-alih gemetar ketakutan, Alya malah protes karena "menu steak" di sana terlalu banyak darahnya (padahal itu darah beneran). Terpikat oleh keberanian yang mendekati kegilaan dan wajah cantiknya, sang pemimpin, Lucien, memutuskan bahwa Alya adalah "tumbal" yang tepat untuk mematahkan kutukan keluarga mereka yang harus menikah dengan wanita dari Timur.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

RAHASIA KELUARGA YANG TERKUBUR DALAM

Keheningan malam di pedesaan Provence perlahan berganti dengan kabut pagi yang tebal. Sisa-sisa kehangatan sup daging semur semalam masih membekas di ruko batu tua itu, namun atmosfer domestik yang santai mendadak bergeser menjadi berat ketika Marc menemukan sebuah anomali mekanis. Di sudut ruang bawah tanah, tepat di balik tumpukan tong kayu ek kuno penyimpan anggur yang sudah berdebu, sistem pemindai thermal portabel milik Marc menangkap adanya ruang hampa sekunder yang terisolasi dari cetak biru arsitektur luar bangunan.

​Bukan faksi Marseille atau klan Valois yang meninggalkan jejak ini, melainkan pendahulu mereka sendiri—generasi pertama klan De Calvi yang membangun mas batu ini sebagai benteng perlindungan terakhir belasan tahun silam.

​"Ada distorsi struktural setebal empat puluh sentimeter di balik dinding semen ini," ujar Marc, jemarinya bergerak taktis di atas layar tablet militer tanpa suara. Kacamata minusnya memantulkan grafik struktur beton berlapis baja. "Enkripsi mekanis murni. Tanpa aliran listrik, tanpa jaringan siber. Ini adalah brankas analog yang sengaja dikubur sangat dalam agar tidak bisa dilacak oleh teknologi modern apa pun."

​Lucien berdiri tegak di sampingnya, mengenakan kemeja hitam polos yang melekat ketat pada dada bidangnya. Wajah ketampanannya yang tegas tampak mengeras. "Gunakan metode tekanan hidrolik portabel. Kita harus tahu apa yang disembunyikan oleh mendiang ayah di tempat ini sebelum musuh menemukan celahnya."

​Julien bergerak tanpa suara, membawa alat penekan besi berspesifikasi militer, sementara Etienne berdiri di dekat tangga masuk dengan ekspresi yang tidak biasa. Senyuman kardus menawannya lenyap, digantikan oleh binar mata abu-abu yang redup oleh ingatan masa lalu yang pahit.

​Di sudut ruangan, Alya Putri duduk di atas sebuah kotak kayu tua. Dia tidak lagi mengenakan daster hijau botolnya, melainkan daster batik motif parang warna cokelat tanah yang paling tebal, dipadukan dengan jaket denim longgar milik Lucien yang menenggelamkan tubuh mungilnya. Tangannya memegang sebuah termos kecil berisi teh manis hangat—jimat ketenangan domestiknya di tengah ketegangan klan Eropa.

​KLIK. KRETEK.

​Suara mekanisme roda gigi kuno yang berputar di dalam dinding terdengar berderit parah, melepaskan debu-debu tebal ke udara. Sebuah pintu batu setebal dua telapak tangan perlahan bergeser ke samping, membuka sebuah kompartemen rahasia yang pengap dan gelap.

​Di dalam brankas kuno tersebut, tidak ada batangan emas atau tumpukan uang Euro. Hanya ada sebuah kotak kayu jati tua berukir khas Nusantara—sebuah kontras visual yang sangat ganjil di tengah pondasi batu Prancis Selatan—dan sebuah map dokumen dari kulit berlogo klan De Calvi yang sudah menguning.

​Lucien melangkah maju, mengambil kotak kayu jati tersebut dengan hati-hati. Ketika dia membukanya, sepasang mata abu-abu sang jenderal mafia membelalak tipis. Di dalamnya terdapat sebuah selendang sutra batik tulis motif semen rante yang sangat halus, sepasang cincin perak kuno, dan sebuah buku catatan harian berwujud jurnal militer tua.

​Alya langsung berdiri, mendekati keempat suaminya yang kini terpaku mengelilingi meja kayu ek di tengah ruangan. "Loh... itu kan batik tulis asli Solo, Bang Lucien? Kok bisa ada di dalam brankas mafia Prancis?"

​Marc membuka map dokumen berkulit kuning di sampingnya, membaca lembar demi lembar berkas intelijen lama dengan kecepatan yang luar biasa. Namun, semakin jauh dia membaca, gerakan bola mata di balik lensa kacamatanya semakin melambat. Detak jantung Marc yang biasanya konstan kini melonjak di layar pantau medis pribadinya.

​"Analisis data historis... ini tidak masuk akal secara kronologis," bisik Marc, suaranya yang biasa dingin kini bergetar halus oleh distorsi emosional yang masif. "Dokumen ini adalah laporan medis dan berkas spionase klan De Calvi dari tahun dua ribu sepuluh. Subjek investigasi: seorang wanita asal Indonesia bernama Kartika Putri."

​Mendengar nama tersebut, rahang tegas Julien mengetat seketika. "Kartika... nama tengah yang sering dibisikkan ayah sebelum dia dieksekusi di Marseille."

​Etienne melangkah mendekat, matanya menatap tajam pada selembar foto tua yang terselip di antara berkas dokumen. Foto itu menampilkan seorang wanita muda berwajah anggun khas Jawa, mengenakan kain batik yang sama dengan yang ada di dalam kotak kayu, berdiri di depan sebuah ruko tua di kawasan barat Jakarta bersama seorang pria Eropa tampan bermata abu-abu—ayah kandung dari para kembar De Calvi.

​"Rahasia ini... dikubur karena alasan keamanan tertinggi," kata Marc, membacakan baris teks yang ditulis tangan oleh ayah mereka menggunakan tinta hitam yang sudah memudar. "Ayah kita tidak pernah mengkhianati klan. Dia datang ke Indonesia belasan tahun lalu bukan untuk memperluas kartel, melainkan untuk menyembunyikan garis keturunan kedua klan De Calvi dari perburuan faksi Valois yang radikal."

​Alya menutup mulutnya dengan kedua tangan, matanya yang hitam membelalak haru saat membaca baris demi baris silsilah keluarga yang tertera di sana. "Tunggu... Kartika Putri itu adalah tantenya ayah saya... yang berarti... kalian..."

​"Kita tidak memiliki hubungan darah langsung, Alya," potong Marc cepat, menaikkan kacamatanya untuk memberikan kejelasan matematis agar istrinya tidak panik. "Kartika Putri adalah istri sah kedua dari ayah kami di bawah hukum adat setempat, namun mereka tidak sempat memiliki keturunan karena faksi Valois bergerak terlalu cepat menghancurkan jaringan mereka di Asia Tenggara. Dokumen ini membuktikan bahwa ruko Palmerah yang kita tinggali sekarang... sebenarnya adalah aset tanah yang sengaja dibeli oleh ayah kami sebagai tempat perlindungan terakhir ( sanctuary ) yang legal bagi siapa pun yang membawa nama De Calvi."

​Lucien terduduk di kursi kayu, menumpukan kedua tangannya di atas meja. Beban psikologis belasan tahun yang mengira bahwa ayah mereka adalah seorang diktator mafia kejam yang egois, mendadak runtuh digantikan oleh kenyataan bahwa sang ayah telah merencanakan segalanya demi melindungi masa depan anak-anak kembarnya—bahkan sampai ke tanah Jawa.

​"Selama ini, kita mengira cadar mafia ini adalah kutukan yang sengaja diwariskan untuk mengikat kita dalam pertumpahan darah," ucap Lucien, suaranya berat dan sangat rendah, menggema penuh refleksi diri yang kelam di ruang bawah tanah. "Namun ternyata, ayah mengubur rahasia ini di Provence agar kita memiliki alasan untuk pergi menjauh dari Eropa. Dia membiarkan dirinya dianggap gagal di Marseille agar faksi Valois tidak pernah mengarahkan pandangan mereka ke Jakarta."

​Suasana di ruang bawah tanah itu mendadak menjadi sangat sunyi dan emosional. Trauma masa kecil para kembar yang selalu merasa sebagai monster tanpa masa depan kini dihadapkan pada bukti otentik bahwa mereka selalu dicintai oleh seorang ayah yang berjuang di balik layar kegelapan.

​Julien mengepalkan tangan kanannya di atas meja, bekas-bekas luka sajam di lengannya menegang. Aura predatornya yang biasa mematikan kini meredup, menyisakan kekosongan jiwa seorang prajurit yang kehilangan arah komando masa lalunya.

​Alya melangkah mendekat ke sisi Lucien, lalu berpindah memeluk bahu kokoh Julien dari belakang. Dia menuangkan teh manis hangat dari termosnya ke dalam cangkir keramik tua di atas meja, menyodorkannya ke tengah-tengah keempat kembar De Calvi.

​"Abang-abang sekalian... liat Alya deh," ucap Alya lembut, suaranya mengalir bagai air jernih yang menyejukkan hati. "Masa lalu emang udah terkubur dalam banget di bawah batu-batu Prancis ini, dan ayah kalian udah tenang di sana. Tapi rahasia ini keluar sekarang bukan buat bikin kalian sedih atau ngerasa bersalah. Ini adalah bukti kalau takdir itu nggak pernah salah alamat."

​Alya mengambil selendang batik tulis motif semen rante dari dalam kotak jati, lalu melingkarkannya secara estetik di antara pundak Lucien dan Julien, menyatukan kedua kakak-beradik itu dalam satu ikatan kain tradisional Indonesia yang kokoh.

​"Filosofi motif semen rante ini artinya ikatan batin yang nggak bakal bisa putus sama badai apa pun," lanjut Alya dengan mata yang berkaca-kaca haru namun penuh ketegasan seorang permaisuri domestik. "Ayah kalian pengen kalian lepas dari cadar mafia Eropa yang dingin ini. Ruko Palmerah itu bukan cuma kebetulan kita ketemu, tapi itu adalah rumah yang udah disiapin dari dulu buat jadi tempat kalian pensiun jadi monster, tempat kalian bisa jadi manusia biasa yang dicintai apa adanya."

​Etienne perlahan berlutut di samping kursi Alya, menyandarkan wajah tampannya di pangkuan istrinya yang dilapisi daster cokelat tanah tersebut. Air mata bening tunggal kembali lolos dari sudut mata abu-abunya, menghapus seluruh sisa-sisa akting kepura-puraan yang selama ini dia bangun di panggung sandiwara dunia bawah tanah.

​"Alya manisku... terima kasih karena selalu menjadi cahaya yang paling terang saat kami tersesat di dalam kegelapan sejarah keluarga kami sendiri," rintih Etienne pelan, suaranya bergetar hebat penuh kerentanan emosional yang sangat murni.

​Marc meletakkan tabletnya, ikut berlutut di sisi lain, menggenggam tangan mungil Alya dengan jemarinya yang panjang. "Analisis psikologis internal: kehadiranmu di ruko Palmerah dan di rumah kebun ini adalah satu-satunya variabel yang berhasil mengubah probabilitas kehancuran klan De Calvi menjadi sebuah fungsi kebahagiaan mutlak yang stabil. Kami tidak lagi membutuhkan takhta di Eropa jika takhta sejati kami adalah berada di sampingmu."

​Lucien mendongak, menatap ketiga adiknya dan istrinya yang luar biasa. Sang jenderal mafia itu akhirnya berdiri, menarik tubuh mungil Alya ke dalam dekapan pelukannya yang paling erat dan posesif, diikuti oleh Julien yang ikut merapat dari belakang, mengunci mereka semua dalam sebuah lingkaran pelukan keluarga yang sangat kokoh di bawah langit Provence.

​"Rahasia telah terbuka, dan perang masa lalu kita telah selesai di tempat ini," bisik Lucien dengan suara baritonnya yang penuh getaran otoritas yang kini melunak oleh cinta yang agung. "Mulai hari ini, klan De Calvi tidak akan lagi bergerak di balik cadar mafia yang dingin. Kita akan pulang ke Palmerah, menjaga ruko itu sebagai rumah sejati kita, dan membesarkan masa depan kita di bawah kehangatan cinta lokal yang kau berikan, Alya."

​Dan siang itu, di dalam ruang bawah tanah rumah kebun Provence yang tua, rahasia keluarga yang telah terkubur belasan tahun lamanya akhirnya bertransformasi menjadi sebuah warisan kedamaian yang suci. Tanpa ada lagi dendam atau ketakutan akan pengkhianatan masa lalu, kelima anggota keluarga tersebut bersiap melangkah keluar dari kegelapan Eropa, membawa kotak kayu jati penuh cinta itu kembali ke tempat di mana semuanya dimulai—sebuah ruko sederhana di sudut kota Jakarta yang akan selalu menjadi saksi bisu kemenangan mutlak daster Palmerah atas seluruh kekejaman dunia bawah tanah global.

1
Lilis Khotimah
sangat memabukkan untuk di baca dan bikin candu 😍😍😍😍😍😍😍
Lilis Khotimah
jangan pake kata gaul. terkesan aneh. pake bahasa biasa aja
Lilis Khotimah
auThor tolong bahasanya biasa aja gk usah d campur aku jd geli bacanya. kerasa aneh
lontong sayur
bastet 😭
Aiyliqa Ciie ImuEyt
👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
Aiyliqa Ciie ImuEyt
🤣🤣🤣🤣ngakak parah...
falea sezi
lnjut🤣
falea sezi
🤣🤣 poliandri gpp lahh cogan semua yee kan
Dania
semangat tor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!