Selama 500 tahun, seorang arwah wanita dikutuk oleh dewa menjadi “Roh Bulan” dan disegel di dalam lukisan kuno di sebuah kuil akibat kesalahan fatal yang dilakukannya di masa lalu. Hidup dalam kesunyian abadi, ia hanya bisa melihat dunia dari balik lukisan tanpa mampu menyentuh siapa pun.
Hingga suatu malam, seorang pria tanpa sengaja membebaskannya dari segel kuno. Semakin lama bersama, arwah wanita itu mulai jatuh cinta padanya. Namun keduanya perlahan menyadari bahwa mereka ternyata telah terikat sejak 500 tahun lalu, dan pria itu mungkin adalah alasan sebenarnya di balik kutukan Roh Bulan yang menghancurkan hidup mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velin Agustiningtias, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 12 Kesempatan Kedua untuk Hidup
Pagi datang bersama langit abu-abu dan udara dingin setelah hujan semalaman. Rumah sakit masih dipenuhi suara langkah kaki perawat dan keluarga pasien yang berlalu lalang dengan wajah lelah.
Di kampus, Juna baru saja selesai mengambil minuman dari mesin otomatis saat mendengar beberapa mahasiswa membicarakan sesuatu dengan panik.
“Katanya Ravin ditabrak lari.”
“Masih koma di ICU…”
Kaleng minuman di tangan Juna hampir jatuh.
“Apa?”
Wajahnya langsung berubah tegang. Juna buru-buru mengambil ponselnya dan menghubungi Dewi. Nada sambung terdengar beberapa kali, namun tidak diangkat.
Juna makin khawatir.
Sementara itu di rumah sakit, Dewi masih duduk menemani ibu Ravin dan Selina yang kelelahan. Matanya sembab, bahkan tubuhnya terasa lemas karna tidak tidur semalaman.
Ibunya Ravin memegang tangan Dewi pelan dengan senyum lemah penuh rasa terima kasih.
“Nak… kamu pulang aja dulu.”
Dewi langsung menggeleng kecil.
“Saya gak apa-apa tante…”
“Kamu dari tadi malam di sini terus.” wanita itu menatap Dewi dengan mata lelah namun hangat. “Terima kasih udah khawatir sama Ravin.”
Kalimat itu justru membuat dada Dewi terasa sesak.
Dia menoleh ke arah ruangan ICU dengan mata yang kembali memerah.
“Aku cuma…” suara Dewi mengecil. “Aku cuma pengen dia bangun…”
Selina kembali menangis pelan mendengar itu.
Akhirnya Dewi berdiri perlahan. Langkahnya terasa berat saat keluar dari rumah sakit. Wajahnya kosong penuh pikiran kacau.
Begitu keluar dari pintu utama, sebuah mobil berhenti di depannya.
Juna turun dengan napas sedikit terburu-buru.
“Dewi!”
Dewi terkejut kecil.
“Kamu…”
Juna langsung mendekat dengan wajah penuh khawatir.
“Aku baru dengar soal Ravin. Gimana keadaannya?”
Pertanyaan itu membuat mata Dewi kembali berkaca-kaca.
“Masih koma…”
Suara Dewi langsung melemah.
Juna terdiam sesaat lalu menatap Dewi yang terlihat benar-benar hancur.
“Ayo… kamu belum makan kan?”
Dewi menggeleng pelan.
Juna membuka pintu mobilnya perlahan.
“Kita sarapan dulu sebentar.”
Di lantai atas rumah sakit, Ravin berdiri diam di dekat jendela sambil melihat semuanya dari jauh.
Dia melihat Dewi masuk ke mobil Juna.
Melihat bagaimana Juna menenangkan Dewi dengan lembut.
Dan untuk pertama kalinya… Ravin merasa dirinya benar-benar kalah.
Tatapannya perlahan jatuh kosong.
“Mungkin…” suaranya lirih. “Memang bukan aku orangnya.”
Arum yang berdiri di belakangnya langsung menatap Ravin.
“Ravin…”
Namun Ravin hanya tersenyum kecil pahit.
“Kalau aku mati… mungkin Dewi bakal lebih bahagia sama Juna.”
Kalimat itu terdengar begitu lemah dan menyerah.
Arum bisa melihat jelas rasa frustasi yang perlahan menghancurkan Ravin dari dalam.
Ravin berjalan lebih dulu meninggalkan lorong ICU dengan langkah pelan dan kosong. Arum segera mengikuti dari belakang.
“Kamu masih punya harapan.”
“Aku gak peduli lagi soal itu.”
Suara Ravin dingin tanpa semangat.
“Aku cuma pengen ibu sama Selina baik-baik aja.”
Mereka masuk ke dalam lift rumah sakit. Suasana di dalam lift sunyi, hanya suara mesin lift yang bergerak perlahan.
Arum diam memperhatikan Ravin yang terus menatap lantai dengan mata kosong.
Pintu lift akhirnya terbuka.
Namun…
Ravin langsung membeku.
“Itu… apa?”
Di depan mereka bukan lobi rumah sakit.
Melainkan sebuah tempat asing yang sangat besar dan sunyi.
Langit hitam tanpa ujung membentang luas di atas mereka. Kabut putih bergerak pelan di antara pilar-pilar raksasa berwarna emas gelap. Di kejauhan terlihat gerbang besar menjulang tinggi dengan simbol bulan dan rantai kuno yang bercahaya samar.
Udara di tempat itu terasa berat sampai Ravin sulit bernapas.
Jantungnya langsung berdegup keras penuh ketakutan.
“A-Arum…”
Suaranya bergetar kecil.
“Aku gak suka tempat ini…”
Arum menatap gerbang itu serius.
“Inilah jalannya.”
Ravin perlahan mundur satu langkah.
“Jalan apa…?” Arum menoleh padanya.
“Kalau kamu ingin kembali hidup… kita harus masuk ke sana.” Mata Ravin langsung melebar.
“Enggak.”
Dia langsung menggeleng cepat.
“Enggak, aku mau balik.”
Ravin menekan tombol lift berkali-kali dengan panik.
Namun pintu lift sudah menghilang.
Yang tersisa hanya lorong kabut panjang menuju gerbang dewa itu.
Tubuh Ravin mulai gemetar.
“Apa-apaan ini…”
Untuk pertama kalinya sejak menjadi roh, Ravin benar-benar merasa takut.
Tempat itu terasa bukan untuk manusia.
Arum melangkah mendekatinya pelan.
“Kalau kita mundur sekarang… tubuhmu gak akan bertahan lama.”
Ravin menatap Arum dengan napas tidak teratur.
“Aku cuma manusia biasa…”
Suara Ravin melemah.
“Aku gak seharusnya ada di tempat kayak gini…”
Arum terdiam sesaat lalu menggenggam pelan tangan Ravin.
Sentuhan dingin itu membuat Ravin sedikit tersentak.
“Kamu gak sendiri.”
Ravin menatap tangan mereka dengan gugup.
Di depan mereka, gerbang raksasa itu perlahan terbuka sambil mengeluarkan suara berat yang menggema ke seluruh tempat.
Kabut mulai bergerak semakin cepat.
Dan tanpa pilihan lain…
Ravin terpaksa melangkah mengikuti Arum menuju dunia para dewa dengan rasa takut yang terus menghantui dadanya.
Kabut putih memenuhi aula raksasa itu. Langkah Ravin terasa begitu berat saat mengikuti Arum melewati pilar-pilar emas kuno yang menjulang tinggi seperti tidak memiliki ujung. Suasana di tempat itu begitu sunyi, namun justru membuat jantungnya semakin berdebar ketakutan.
Di ujung aula, sosok dewa duduk di singgasana besar yang diselimuti cahaya bulan pucat. Wajahnya tidak terlihat jelas karna tertutup bayangan terang yang menyilaukan mata.
Ravin langsung menunduk begitu dalam sampai tangannya gemetar di lantai.
Dia bahkan tidak berani melihat sekeliling.
Tidak berani bicara.
Aura tempat itu terasa seperti bisa menghancurkan dirinya kapan saja.
Sementara Arum tetap berlutut di samping Ravin dengan wajah serius.
Suara berat dan tenang akhirnya menggema memenuhi aula.
“Untuk apa kau datang menemuiku lagi, Arum.”
Tubuh Ravin langsung menegang mendengar suara itu. Dadanya sesak tanpa alasan.
Arum menunduk hormat.
“Aku datang untuk menyelesaikan misiku.”
Beberapa detik hening berlalu sebelum sosok dewa itu mengangguk pelan.
“Kau telah berhasil membebaskan diri dari lukisan itu.”
Ravin diam menunduk sambil mencoba menahan gemetar di tubuhnya.
Namun suara dewa itu kembali terdengar.
“Namun manusia di sampingmu… telah melakukan kesalahan besar.”
Napas Ravin langsung tercekat.
“Kau membebaskan roh terkutuk dari segelnya.”
Ravin menunduk semakin dalam dengan wajah pucat.
“Maaf…”
Suara Ravin kecil dan gemetar.
“Aku tidak tahu…”
Arum langsung mengangkat wajahnya cepat.
“Itu salahku!”
Ravin langsung menoleh terkejut.
Arum menatap dewa itu tanpa ragu.
“Dia tidak tahu apa pun tentang kutukan itu. Aku yang menyeretnya masuk.”
Namun suara dewa itu tetap dingin dan berat.
“Kesalahan tetaplah kesalahan.”
Udara di aula langsung terasa makin menekan.
“Dan manusia itu telah menerima akibatnya.”
Ravin mengepalkan tangannya pelan.
Tubuhnya masih gemetar ketakutan.
Arum perlahan menarik napas sebelum akhirnya berbicara dengan suara yang jauh lebih serius.
“Kalau begitu… aku yang akan menebus semuanya.”
Ravin langsung menoleh.
“Apa?”
Arum menunduk dalam.
“Aku akan kembali menjadi roh bulan.”
Mata Ravin langsung membesar.
“Arum, jangan—”
Namun Arum tetap melanjutkan.
“Asalkan Ravin bisa hidup kembali.”
Suasana aula tiba-tiba menjadi sunyi.
Ravin menatap Arum dengan wajah tidak percaya.
Wanita yang selama ini terus mengganggunya…
Wanita yang membuat hidupnya hancur…
Sekarang malah rela mengorbankan dirinya sendiri untuk ravin
Suara dewa itu kembali terdengar perlahan.
“Arum.”
Tubuh Arum menegang.
“Ada satu cara untuk membuktikan bahwa dirimu tidak bersalah atas dosa masa lalu.”
Mata Arum perlahan membesar.
“Jika kau berhasil menemukan kebenaran itu… maka hukumanmu akan dipertimbangkan kembali.”
Ravin ikut terdiam mendengar itu.
Untuk pertama kalinya ada harapan kecil muncul di tempat menyeramkan itu.
Arum langsung menunduk penuh rasa syukur.
“Terima kasih…”
Suara dewa itu kembali bergema.
“Berapa lama waktu yang kau butuhkan?”
Arum berpikir cepat lalu menjawab mantap.
“200 hari.”
BUMMM—
Seluruh aula langsung bergetar hebat.
Pilar-pilar raksasa berguncang sampai Ravin hampir jatuh ketakutan.
“TERLALU LAMA.”
Suara dewa itu menggema sangat keras hingga membuat Ravin menutup telinganya panik.
“A-ampun…” Arum langsung panik.
“150 hari!”
Suasana masih terasa menekan.
“100 hari.”
Jawaban dewa itu langsung mutlak dan dingin.
Tidak bisa ditawar lagi.
Arum langsung mengeluh kecil dengan wajah kesal.
“Harusnya tadi aku bilang 130…”
Ravin menatap Arum tidak percaya di tengah rasa takutnya.
“Kamu malah nawar kayak beli sayur…”
Belum sempat Arum membalas, tiba-tiba cahaya besar muncul di bawah tubuh mereka.
Tubuh Ravin langsung terasa ringan.
“Apa lagi sekarang?!”
Arum ikut membelalakkan mata.
“Tunggu—”
BRRRAKKK—
Tubuh mereka tiba-tiba melayang jatuh sangat cepat menembus cahaya putih.
Ravin berteriak panik.
“AARRGGHHH!!”
Dan beberapa detik kemudian—
BUGHHH!
Mereka terhempas keras ke tanah rumput.
Ravin mengaduh kesakitan sambil memejamkan mata.
Namun saat membuka matanya…
Dia langsung membeku.
Arum jatuh tepat di atas tubuhnya.
Wajah mereka sangat dekat.
Rambut panjang Arum berantakan jatuh di dada Ravin sementara tangan mereka saling bertumpu tanpa sengaja.
Mata Ravin langsung melebar panik.
“A-Arum?!”
Arum juga terkejut.
Mereka saling diam beberapa detik penuh kecanggungan.
Sampai Ravin buru-buru duduk menjauh dengan wajah merah dan gugup.
“apaan ini...Turun dulu!”
Arum ikut bangun sambil memegang kepalanya.
“Aku juga gak sengaja…”
Ravin masih syok sambil melihat sekeliling.
Dan saat itulah mereka sadar…
Tempat itu benar-benar berbeda.
Taman luas dengan pohon sakura tua berdiri di sekitar mereka. Bangunan kayu kuno dan lentera batu memenuhi area taman dengan suasana kerajaan zaman dahulu.
Orang-orang berpakaian tradisional berjalan di kejauhan sambil membawa payung dan kain sutra.
Ravin menatap semuanya dengan mulut sedikit terbuka.
“...kita dimana?”
Arum perlahan berdiri sambil menatap langit.
Wajahnya berubah serius.
“500 tahun lalu.”