NovelToon NovelToon
VENA - AIR YANG MATI

VENA - AIR YANG MATI

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horor / Fantasi
Popularitas:147
Nilai: 5
Nama Author: Catnonimous

Aris hanyalah seorang petugas instalasi pipa bawah tanah yang dibayar murah untuk melakukan pekerjaan kotor yang dihindari semua orang. Namun, upah rendahnya tidak sebanding dengan apa yang ia temukan.
Seekor tikus yang berubah setelah meminum tetesan air dari pipa.
Tubuhnya mengeras lalu meledak tapi sisa tubuhnya masih bisa bergerak.
Apakah benar hanya tetesan air itu yang membuat tikus itu berubah?
Bagaimana dengan manusia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Catnonimous, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10 : Perdagangan rasa haus

Hari pertama, kedua, hingga ketiga berlalu dengan rutinitas yang padat bagi Aris, Liora, dan kelompoknya. Di dalam lorong bawah tanah yang lembap, mereka terus fokus menjalankan tugas mengecek pondasi beton dan menyingkirkan pipa-pipa tua yang menghalangi jalur utama. Sejauh ini, pengerjaan teknis berjalan lancar tanpa ada hambatan berarti, meskipun suasana di bawah tanah selalu terasa menekan.

...----------------...

Sementara itu, di sebuah pemukiman padat penduduk, dampak krisis air bersih mulai mencapai titik didih. Di depan sebuah swalayan kecil, antrean warga mengular panjang di bawah terik matahari. Namun, raut wajah mereka bukan lagi sekadar lelah, melainkan penuh amarah. Stok air mineral botolan habis dalam hitungan menit setiap kali truk pengirim datang, meninggalkan sisa antrean yang gigit jari tanpa membawa apa pun.

"Sudah tiga toko saya datangi, semuanya kosong!" teriak seorang warga sambil membanting jeriken kosongnya ke aspal.

Di tengah kegaduhan itu, dua orang warga mulai berbisik-bisik, memancing perhatian orang-orang di sekitarnya. "Katanya di bangunan bekas pabrik pinggir kota ada cadangan air bersih. Banyak sekali, tapi saya belum tahu harganya berapa."

Kabar itu menyebar secepat api. Tanpa pikir panjang, rombongan warga yang putus asa itu segera berbondong-bondong menuju lokasi yang dimaksud. Sesampainya di depan bangunan tua yang tertutup rapat, mereka mendapati tiga orang pria yang sudah menunggu di depan pintu masuk.

Salah satu warga yang berada di barisan depan menyipitkan mata, mengenali salah satu dari mereka. "Pak Cahyadi? Itu mantan anggota polisi yang diberhentikan itu, kan?" bisiknya pada yang lain.

Cahyadi berdiri dengan angkuh di tengah. Di sampingnya muncul Pak Dodi, seorang mantan lurah yang dikenal bermasalah, bersama saudaranya, Surya, yang bertindak sebagai bawahan Cahyadi. Melihat massa yang mulai tidak sabar, Dodi dan Surya mengangkat tangan ke udara.

"Tenang semuanya! Harap tenang!" teriak Dodi lantang.

Seorang pria paruh baya memberanikan diri maju menghampiri mereka. "Pak, tolong, saya dengar bapak ada air bersih disini? apa kami bisa dapat sedikit untuk malam ini? Anak istri saya belum mandi dan tidak ada air minum di rumah."

Perdebatan langsung memanas saat Cahyadi melangkah maju dengan wajah kaku. "Tidak ada yang cuma-cuma di sini.

Kami punya, tapi kalian harus membelinya. Harganya lima kali lipat dari harga normal di pasar."

Keluhan masal langsung pecah. "Lima kali lipat? Itu perampokan namanya!" teriak seorang ibu. Beberapa warga mulai memohon-mohon, bahkan ada seorang ibu yang menggendong anaknya yang menangis sesenggukan karena kehausan, meminta sedikit saja air untuk sang anak. Namun, Cahyadi, Dodi, dan Surya sama sekali tidak bergeming.

Beberapa warga yang benar-benar tidak memiliki uang hanya bisa tertunduk lesu dan memilih pergi dengan tangan hampa. Sementara mereka yang masih menyimpan sedikit tabungan terpaksa mengeluarkan uang demi menyambung nyawa malam itu.

Melihat tumpukan uang yang terkumpul, Cahyadi tertawa keras, sebuah tawa yang menghina. "Lihatlah kalian. Pemerintah yang kalian banggakan itu tidak becus mengurus warga. Dan kalian?" Ia menunjuk ke arah warga yang sedang mengangkut galon dengan susah payah. "Kalian memang tidak bisa melakukan apa-apa selain merangkak kepada kami saat krisis seperti ini."

"Kalian ingat waktu saya diberhentikan dari kepolisian? Lurah Dodi, di demo oleh kalian semua untuk mundur? Sekarang kalian kesini memohon setetes air kepada kami, tidak segampang itu..." tukas Cahyadi.

Dodi dan Surya hanya menyeringai puas, seolah akan menikmati keuntungan besar yang mereka raup dari penderitaan orang lain di tengah kota yang perlahan mulai mati karena dahaga.

...----------------...

Memasuki hari keempat, pekerjaan di lorong bawah tanah mulai terasa lebih berat. Aris, Liora, dan kelompoknya sudah masuk lebih dalam ke area yang belum pernah dipetakan sebelumnya. Saat sedang membongkar beberapa pipa tua yang menghalangi jalur beton, Aris menyadari sesuatu yang janggal. Di antara jalinan pipa yang sudah berkarat, terdapat satu pipa baja berukuran sedang yang terlihat lebih bersih, seolah baru dipasang.

Liora, lihat ini," bisik Aris sambil mengarahkan senternya ke sambungan pipa tersebut. "cek pipa ini, ada di denah tidak?"

Liora mendekat dan memeriksa sambungan itu dengan saksama sambil membuka denah yang dia pegang. "pipa ini tidak ada di denah," Liora membuka tas dan mengambil secarik kertas sambil melihat denah kota yang ia miliki sebelumnya.

"kalau dari denah saya, pipa ini arahnya menuju kawasan bekas industri di utara. Tidak ada fasilitas publik di sana selain bangunan-bangunan tua yang sudah dikosongkan."

Aris mencoba mengetuk pipa tersebut. Bunyinya padat, menandakan ada aliran air yang sedang lewat dengan tekanan tinggi. Mereka berenam terdiam sejenak, namun Aris memberi kode agar rekan lainnya tetap bekerja agar tidak memancing kecurigaan petugas yang sesekali memantau lewat radio.

...----------------...

Sementara itu, di bangunan bekas pabrik, Cahyadi, Dodi, dan Surya sedang sibuk melayani warga yang semakin beringas. Air yang mereka jual terlihat bening dan segar di dalam galon, namun ada rahasia di balik kejernihan itu. Di bagian belakang gudang yang tertutup terpal, terdapat mesin penyulingan raksasa yang dirakit secara kasar.

Meski airnya terlihat bersih, proses penyaringannya dilakukan dengan terburu-buru. Beberapa saringan karbon yang mereka gunakan sudah jenuh dan berlumut.

Di dekat toren penampungan utama, Surya sempat melihat beberapa lalat dan kecoa yang mati tersangkut di bibir tangki. Tubuh serangga itu tidak membusuk, melainkan mengeras dan meninggalkan kerak keabu-abuan—persis seperti fenomena yang ditakuti Aris.

Menjelang sore, suasana di depan gudang Cahyadi pecah menjadi konflik terbuka. Stok galon yang dipajang di depan mulai menipis, memicu kepanikan di antara warga yang masih mengantre.

Cahyadi yang melihat itu hanya mendengus. "Biarkan saja. Yang penting airnya bening. Orang-orang ini sedang sekarat, mereka tidak akan peduli soal hal kecil selama tenggorokan mereka basah."

"Saya punya uang! Saya bayar sepuluh kali lipat, berikan air itu sekarang!" teriak seorang pria kaya yang mencoba memotong antrean.

Warga lain yang sudah menunggu berjam-jam tidak terima. "Hei, jangan mentang-mentang punya uang! Antre di belakang!"

Dorong-dorongan pun tidak terelakkan. Cahyadi justru tertawa licik melihat kekacauan itu dari atas balkon bangunan.

Ia sengaja menginstruksikan Surya untuk memperlambat pengeluaran barang. Semakin ricuh warga, semakin tinggi harga yang bisa ia patok untuk beberapa galon terakhir.

"Ayo, siapa yang berani bayar paling tinggi, dia yang bawa pulang air malam ini!" seru Cahyadi dengan suara picik yang menggema. Ibu-ibu menangis, pria-pria saling dorong bahkan saling pukul, sementara uang terus mengalir masuk ke kantong mereka.

......................

Kembali ke bawah tanah, matahari sudah mulai tenggelam di luar sana. Jam tugas kelompok Aris hampir berakhir. Namun, rasa penasaran Aris sudah mencapai puncaknya. Ia menoleh ke arah Liora dan memberikan isyarat rahasia.

"Kalian duluan saja keluar, lapor ke petugas kalau pengecekan sektor ini selesai," ucap Aris kepada Jaka, Agus, Ridwan, dan Maman. "Aku dan Liora mau memastikan baut di sambungan ujung tadi benar-benar kencang supaya tidak ada kendala besok pagi."

Empat rekannya yang sudah kelelahan hanya mengangguk dan mulai memanjat keluar. Begitu suasana sepi, Aris dan Liora kembali ke pipa misterius tadi.

"Kita ikuti pipa ini, Liora. Aku harus tahu siapa yang menyedot air ini," bisik Aris.

Dengan hanya bermodalkan senter dan radio yang mereka matikan agar tidak terlacak, Aris dan Liora mulai menelusuri lorong sempit yang sejajar dengan arah pipa misterius itu, merangkak masuk lebih jauh ke dalam kegelapan yang belum terjamah.

...****************...

1
Anak_misterius😑
bagus novel nya👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!