Seraphina Halstrom pernah percaya bahwa keluarga adalah segalanya, hingga di detik terakhir hidupnya ia menyadari bahwa suami dan kedua anaknya sendiri telah merencanakan kematiannya demi harta. Namun takdir memberinya kesempatan kedua. Kembali ke masa lalu sebelum semuanya terjadi, Seraphina tidak lagi menjadi ibu yang lembut dan mudah dimanfaatkan.
Dengan ingatan akan pengkhianatan yang sama, ia mulai menyusun langkah demi langkah untuk membalas mereka. Kali ini, ia tidak akan dikhianati, ia akan menghancurkan mereka terlebih dahulu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13
Malam itu, setelah semua rencana tersusun rapi di dalam pikirannya, Seraphina tidak langsung merasa lega. Ada bagian kecil yang masih menggantung, sesuatu yang tidak bisa ia abaikan begitu saja meski logikanya sudah memberi jawaban. Ia berdiri di depan jendela kamarnya, menatap ke luar tanpa benar-benar melihat apa pun, sementara cahaya lampu taman memantul samar di kaca dan membentuk bayangan lembut di wajahnya.
Ia sudah memahami banyak hal, lebih dari cukup untuk mengambil langkah tanpa ragu. Namun di balik semua itu, ada satu dorongan yang belum benar-benar ia lepaskan, dorongan yang tidak berkaitan dengan strategi atau perhitungan. Itu datang dari tempat yang lebih dalam, tempat yang dulu ia jaga dengan sepenuh hati.
Ingatan tentang suara Lysandra siang itu kembali muncul, diikuti oleh nada Kael yang dingin saat membicarakan sesuatu yang seharusnya tidak pernah mereka sentuh. Semua itu begitu jelas, tidak menyisakan ruang untuk disangkal, namun tetap saja ada celah kecil yang membuatnya ingin memastikan. Bukan karena ia meragukan apa yang ia lihat, melainkan karena ia pernah memberikan segalanya pada mereka.
Seraphina menutup matanya sejenak, menarik napas panjang lalu mengembuskannya perlahan. Ia tidak mengubah rencana yang sudah ia susun, tidak juga mengendurkan kewaspadaan yang sudah ia bangun. Namun ia memutuskan untuk melihat sedikit lebih jauh, cukup untuk memastikan bahwa tidak ada lagi sesuatu yang tertinggal.
“Sekali saja,” gumamnya pelan.
Keputusan itu sederhana, namun cukup untuk mengubah arah hari berikutnya. Ia tidak berniat membuka semua kartu, tidak juga ingin menguji dengan cara yang mencolok. Ia hanya ingin melihat bagaimana mereka merespons ketika ia mendekat dengan cara yang berbeda.
Pagi datang dengan ritme yang sama seperti hari-hari sebelumnya, dan Seraphina menjalani semuanya tanpa perubahan yang terlihat. Ia duduk di ruang keluarga dengan tenang, membiarkan suasana berjalan seperti biasa, hingga akhirnya ia menemukan Lysandra di sana. Gadis itu duduk santai, ponsel di tangannya, sesekali tersenyum sendiri sebelum kembali mengetik dengan cepat.
Ekspresi itu ringan, terlalu ringan untuk seseorang yang menyimpan sesuatu di baliknya. Seraphina berdiri di ambang pintu beberapa detik, memperhatikan tanpa suara, lalu melangkah masuk dengan tenang.
“Lysandra,” panggilnya lembut.
Lysandra menoleh dengan cepat, sedikit terkejut sebelum senyum itu kembali muncul di wajahnya. Ia tampak santai, seolah tidak ada yang perlu disembunyikan, dan itu justru membuat Seraphina semakin berhati-hati.
“Ibu.”
Seraphina duduk di sampingnya, menjaga jarak yang cukup dekat untuk menciptakan suasana yang lebih personal. Ia tidak langsung masuk ke inti pembicaraan, memberi waktu sejenak agar suasana terasa alami.
“Aku ingin bicara sebentar,” katanya pelan.
Nada suaranya tidak menekan, tetapi cukup berbeda untuk menarik perhatian. Lysandra sedikit mengernyit, lalu meletakkan ponselnya di samping, meski tangannya masih berada di dekat benda itu.
“Ada apa?”
Seraphina menatapnya beberapa detik, memperhatikan setiap detail kecil di wajah itu. Ia mencoba membaca apakah ada sesuatu yang akan muncul tanpa perlu dipancing lebih jauh.
“Aku hanya ingin tahu bagaimana perasaanmu akhir-akhir ini,” ucapnya akhirnya.
Pertanyaan itu sederhana, namun maknanya tidak ringan. Lysandra terlihat berhenti sejenak, matanya bergerak cepat seolah sedang menyusun jawaban yang tepat.
“Aku baik-baik saja,” jawabnya sambil tersenyum kecil. “Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.”
Jawaban itu terdengar mulus, terlalu mulus untuk sesuatu yang jujur. Seraphina tidak langsung merespons, membiarkan keheningan sejenak mengisi ruang di antara mereka.
Ia memberi kesempatan, namun tidak ada yang datang.
“Kalau ada sesuatu yang ingin kamu bicarakan, kamu bisa bilang padaku,” lanjutnya dengan nada yang tetap tenang. “Aku ingin lebih memahami kamu.”
Kalimat itu keluar tanpa tekanan, tetapi cukup jelas untuk membuka ruang. Lysandra menatapnya sebentar, lalu ekspresinya berubah dengan cepat.
“Kalau begitu…” katanya sambil sedikit condong ke depan.
Seraphina tidak bergerak, hanya menunggu.
“Aku sebenarnya ingin minta sesuatu.”
Perubahan arah itu begitu cepat, namun tidak mengejutkan. Seraphina sudah melihat pola ini sebelumnya, hanya saja kali ini ia tidak lagi mengabaikannya.
“Aku ingin pindah ke apartemen sendiri,” lanjut Lysandra dengan nada penuh semangat. “Aku ingin lebih bebas, dan aku rasa itu akan lebih baik.”
Tidak ada pembahasan tentang perasaan, tidak ada keterbukaan yang ia harapkan. Yang ada hanya permintaan yang disampaikan dengan percaya diri, seolah percakapan itu memang diarahkan ke sana sejak awal.
Seraphina menatapnya dalam diam, memahami dengan jelas apa yang sedang terjadi. Ia tidak merasa marah, tidak juga terkejut, hanya ada kesadaran yang semakin kuat.
“Baiklah,” ucapnya pelan. “Kita bisa membicarakannya nanti.”
Lysandra langsung tersenyum lebar, tampak puas dengan jawaban itu. Ia meraih kembali ponselnya tanpa ragu, seolah percakapan tadi sudah selesai dan tidak perlu diperpanjang.
Seraphina duduk beberapa detik lebih lama, membiarkan senyum di wajahnya tetap ada sebelum akhirnya memudar perlahan. Ia berdiri tanpa suara, lalu meninggalkan ruangan dengan langkah yang tetap tenang.
Sore hari membawa suasana yang lebih sepi, dan Seraphina memanfaatkannya untuk mendekati Kael. Ia tidak masuk ke dalam ruangan begitu saja, hanya berdiri di depan pintu yang sedikit terbuka, memastikan keberadaannya sebelum mengetuk.
“Masuk,” ucap Kael tanpa menoleh.
Seraphina masuk dengan langkah pelan, menutup pintu di belakangnya. Kael duduk di depan laptop, fokusnya tidak sepenuhnya teralihkan meski ia sudah menyadari kehadiran ibunya.
“Aku tidak mengganggu?” tanya Seraphina.
“Tidak,” jawab Kael singkat.
Seraphina mendekat, lalu duduk di kursi di depannya. Ia tidak langsung berbicara, memberi jeda agar percakapan tidak terasa dipaksakan.
“Aku ingin bicara sebentar,” katanya akhirnya.
Kael menutup laptopnya, gerakannya tenang namun matanya menunjukkan sedikit kewaspadaan. Ia tidak menolak, tetapi juga tidak terlihat tertarik.
“Aku ingin tahu bagaimana keadaanmu,” ucap Seraphina. “Apakah ada sesuatu yang kamu butuhkan.”
Kael menatapnya beberapa detik, tanpa emosi yang jelas. Jawaban yang datang kemudian tidak mengejutkan.
“Aku tidak butuh apa-apa.”
Nada suaranya datar, tidak kasar namun juga tidak membuka ruang. Seraphina tidak berhenti di sana, mencoba pendekatan lain dengan tetap menjaga ketenangan.
“Kalau kamu punya rencana ke depan, kamu bisa bicara padaku,” katanya. “Aku bisa membantu.”
Kael memiringkan kepalanya sedikit, seolah mempertimbangkan sesuatu.
“Bantuan seperti apa?”
Pertanyaan itu terdengar sederhana, namun arah percakapan sudah mulai terlihat. Seraphina menjawab tanpa ragu.
“Apa pun yang kamu perlukan.”
Kael terdiam sejenak, lalu berbicara dengan nada yang tetap stabil.
“Kalau begitu, aku hanya butuh akses yang lebih fleksibel ke dana investasi.”
Permintaan itu langsung, tanpa usaha untuk menyembunyikan tujuan. Tidak ada kehangatan, tidak ada niat untuk membangun percakapan lebih jauh.
Seraphina menatapnya dengan tenang, memahami sepenuhnya posisi yang ia hadapi. Ia tidak menunjukkan reaksi apa pun, hanya mengangguk pelan.
“Kita bisa lihat nanti.”
Kael mengangguk singkat, dan percakapan itu berakhir tanpa tambahan apa pun. Tidak ada usaha untuk memperpanjang, tidak ada keinginan untuk mendekat.
Seraphina berdiri, menatapnya sejenak sebelum berbalik menuju pintu. Ia tidak membawa apa pun dari ruangan itu selain kepastian yang semakin kuat.
Malam kembali datang, dan kamar itu menjadi satu-satunya tempat di mana ia tidak perlu berpura-pura. Seraphina berdiri di tengah ruangan, tidak langsung bergerak, membiarkan pikirannya mengulang semua yang terjadi sepanjang hari.
Percakapan dengan Lysandra, cara arah pembicaraan berubah tanpa ragu. Percakapan dengan Kael, nada dingin yang tetap konsisten tanpa celah.
Semua itu menyatu menjadi satu kesimpulan yang tidak lagi bisa dihindari.
Ia menutup matanya, bukan untuk menghindari, tetapi untuk menerima. Tidak ada air mata yang jatuh, tidak ada emosi yang meledak, hanya keheningan yang terasa lebih berat dari sebelumnya.
Harapan kecil yang sempat ia pertahankan perlahan mulai retak. Bukan karena satu kejadian, melainkan karena rangkaian bukti yang tidak bisa disangkal.
Seraphina membuka matanya kembali, tatapannya lebih tenang dari sebelumnya. Tidak ada lagi keraguan, tidak ada lagi keinginan untuk mencari pembenaran.
“Mungkin…” bisiknya pelan.
Suaranya hampir tidak terdengar, namun cukup jelas di dalam keheningan kamar.
“Aku memang terlalu berharap.”