Raisa adalah definisi "gadis di dalam botol". Hidupnya hanya seputar dinding rumah, perpustakaan pribadi, dan petuah-petuah manis ibundanya. Dunia luar yang kejam? Raisa tidak kenal. Dunia Dark Romance yang penuh darah dan obsesi? Raisa bahkan tidak bisa mengeja kata "toksik".
Semua berubah saat ia meminjam sebuah novel bersampul hitam pekat milik temannya. Baru membaca bab pertama, Raisa sudah pusing tujuh keliling. Namun, saat ia memejamkan mata untuk tidur, dunianya berputar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
teman baru
Di SMA lama, suasana kelas terasa membosankan dan hampa. Guru di depan kelas sedang sibuk menjelaskan materi pelajaran dengan suara yang monoton, namun pikiran para anggota Geng Demons sama sekali tidak berada di sana.
Ezra, yang biasanya hobi menggoda Anna dengan gombalannya, tampak gelisah dan terus melirik ke arah kursi kosong yang biasanya ditempati oleh gadis itu.
"Ibu guru, interupsi sebentar," potong Ezra sambil mengangkat tangannya. "Anna ke mana ya? Kok sudah berhari-hari nggak masuk? Masa sakitnya lama banget?"
Guru itu menghentikan penjelasannya, lalu menghela napas pendek sambil menyesuaikan letak kacamatanya. "Oh, soal Anna... Ibu lupa memberitahu kalian. Per hari ini, Anna sudah resmi mengundurkan diri dan pindah sekolah."
Seketika, suasana kelas menjadi sangat sunyi. Arland yang tadi sedang asyik mencoret-coret bukunya langsung terhenti, sementara Evan tampak terkejut bukan main.
Namun, reaksi yang paling kentara datang dari Kiel. Mendengar kata "pindah", rahang Kiel seketika mengeras. Tangannya yang berada di bawah meja mengepal begitu kuat hingga buku-bukunya memutih. Ada kilat kemarahan dan ketidaksukaan yang amat besar di matanya.
Kiel merasa tidak terima. Gadis yang selama ini selalu ada di jangkauan matanya, gadis yang baru saja ia selamatkan dari dasar danau, tiba-tiba pergi begitu saja tanpa pamit sedikit pun padanya. Seolah-olah Anna benar-benar ingin memutus semua benang merah yang menghubungkan mereka.
"Pindah ke mana, Bu?" tanya Arland dengan suara serak, mencoba menutupi rasa bersalah yang kembali mencuat.
"Orang tuanya tidak menyebutkan secara spesifik, mereka hanya bilang Anna butuh suasana baru," jawab Guru itu sebelum melanjutkan pelajarannya.
Kiel tidak lagi mendengarkan penjelasan guru. Pikirannya dipenuhi oleh wajah ketakutan Anna saat terakhir kali mereka bertatapan di rumah sakit. Ia merasa ada sesuatu yang hilang, dan ia sama sekali tidak suka dengan perasaan ini.
Di sekolah barunya, Anna berdiri di depan pintu kelas dengan perasaan berdebar namun antusias. Saat wali kelas mempersilakannya masuk, seluruh pasang mata langsung tertuju padanya. Suasana kelas yang tadinya bising mendadak senyap, terpesona oleh aura segar dan menggemaskan yang dibawa Anna.
"Silakan, perkenalkan dirimu," ucap sang guru dengan ramah.
Anna melangkah maju dengan senyum manis yang tulus, sangat berbeda dengan wajah murungnya di sekolah lama. "Halo semuanya, perkenalkan namaku Anna. Aku pindahan dari sekolah lain. Semoga kita bisa berteman baik ya," ucapnya dengan nada yang ceria namun tetap sopan.
Seketika, terdengar suara heboh dari barisan tengah.
"ANNAAA! SINI DUDUK DEKAT KITA!" seru Emma sambil melambai-lambaikan tangannya dengan heboh.
"Iya! Sini, Anna! Ada kursi kosong di depan kita!" timpal Jolina tak kalah semangat sambil menepuk-nepuk meja di dekatnya.
Anna yang melihat wajah-wajah familiar itu merasa sangat lega dan senang. Ternyata, ia benar-benar satu kelas dengan dua siswi yang menolongnya tadi pagi.
"Wah, Anna ternyata sudah punya teman ya? Silakan duduk di sana," ujar guru tersebut sambil tersenyum.
Anna berjalan menuju bangku yang ditunjuk oleh Emma dan Jolina. Sepanjang jalan menuju kursinya, ia mendengar bisik-bisik kagum dari teman-teman barunya.
"Ya ampun, dia mungil banget kayak boneka hidup," bisik salah satu siswi.
"Matanya cantik banget, ya?" sahut yang lain.
Sampai di kursinya, Emma langsung menyambar tangan Anna. "Gila, kita beneran sekelas! Takdir banget nggak sih? Tenang aja, Anna, di sini nggak ada yang bakal berani jahatin kamu selama ada kita!" ucap Emma dengan gaya protektif yang lucu.
Anna hanya tertawa kecil, merasa benar-benar diterima.
Saat bel istirahat berbunyi, Emma dan Jolina langsung melompat dari kursi mereka dan menyergap meja Anna dengan kecepatan kilat.
"Anna! Emergency! Perut gue sudah konser rock, ayok ke kantin!" seru Emma sambil menarik tangan Anna penuh semangat.
"Iya, Na! Lo harus cobain siomay Pak Kumis di sini. Rasanya sampai bikin mau sungkem ke ulekannya, enak banget loh!" timpal Jolina dengan ekspresi kocak yang dibuat-buat.
Anna tertawa kecil melihat tingkah mereka. "Iya, ayok. Aku juga sedikit lapar," jawab Anna dengan nada bicara yang sangat lembut.
Sesampainya di kantin yang luas dan bersih, kekocakan dua sahabat baru itu tidak berhenti. Emma sibuk berdebat dengan tukang jus karena ingin memesan jus alpukat tapi tanpa alpukat, sementara Jolina malah asyik mempraktikkan gaya makan estetik yang berakhir dengan saus sambal di hidungnya.
"Aduh, Jolina... itu hidung kamu mau ikutan makan juga ya?" tanya Anna sambil tertawa lepas, sebuah tawa yang benar-benar tulus dan bebas untuk pertama kalinya sejak ia terbangun di dunia ini.
"Ih, Anna! Jangan diketawain dong, ini namanya artistic eating!" bela Jolina sambil mencoba mengelap hidungnya dengan gaya yang malah makin aneh.
Anna kembali tertawa sampai matanya menyipit. "Kalian lucu sekali, ya. Terima kasih ya sudah mengajakku, aku jadi merasa lebih tenang di sini," ucap Anna lembut sambil tersenyum manis, membuat Emma dan Jolina tertegun sejenak melihat kecantikan Anna saat sedang bahagia.
"Duh, kalau lo senyum gitu terus, bisa-bisa seisi kantin pingsan berjamaah, Na!" goda Emma yang langsung dibalas cubitan kecil di lengan oleh Anna yang tersipu malu.
Di sela-sela suapan siomay, Jolina menopang dagu dan menatap Anna penasaran. "Eh, Anna, gue penasaran deh. Kenapa sih kamu pindah? Padahal sekolah lama kamu itu kan sekolah elit banget, fasilitasnya lebih gila dari sini."
Anna terhenti sejenak. Ia mengetuk-ngetuk dagunya pelan dengan telunjuk, tampak sedang berpikir mencari jawaban yang tepat. "Hmm... dulu aku pernah jahat," ucapnya dengan nada tenang namun jujur.
"Hah?! Enggak percaya!" seru Emma dan Jolina berbarengan. Mereka menatap Anna yang tampak begitu polos dan lembut, tidak percaya kalau gadis ini pernah melakukan hal buruk.
"Serius. Tapi setelah itu aku tobat," lanjut Anna sambil tersenyum kecil. "Hanya saja, lingkungan di sana sudah terlalu toxic buat aku. Jadi, aku rasa pindah adalah jalan terbaik."
Emma langsung merangkul bahu Anna dengan protektif. "Haa... begitu ceritanya. Tenang aja, Na! Di sini nggak ada yang toxic. Kalau ada yang berani macem-macem, bakal berurusan sama kita!"
Anna mengangguk-angguk kecil sambil melanjutkan makannya. "Enak banget!" serunya dengan mata berbinar saat merasakan kelezatan makanan di kantin barunya.
"Eh, Anna!" Jolina tiba-tiba teringat sesuatu. "Gimana kalau nanti kamu ikut kita nonton film di rumahku? Malam ini sekalian nginep aja. Aku sama Emma sudah biasa begitu kalau mau libur, lagian besok kan hari Sabtu."
Anna tertegun. Di kehidupannya yang dulu sebagai Raisa, ia hampir tidak pernah memiliki waktu untuk bermain bersama teman, apalagi sampai menginap karena jadwalnya yang padat atau urusan lainnya.
"Menginap?" tanya Anna memastikan. "Ayok! Aku mau ikut! Tapi aku pulang dulu ya untuk minta izin sama Mama dan Papa."
"Asik! Gitu dong!" Emma menepuk tangannya girang. "Nanti kita jemput atau kamu datang sendiri, kabari aja di grup ya!"