Sinopsis Ringkas
Kayla selalu menjadi wanita sempurna—cantik, pintar, dan selalu juara sejak kecil. Namun setelah menikah muda dengan pria yang dicintainya, Adrian, hidupnya perlahan berubah. Demi menjadi istri yang baik, Kayla mengorbankan impian, penampilan, dan dirinya sendiri.
Sayangnya, semua pengorbanan itu justru membuat Adrian bosan.
Saat Adrian mulai berselingkuh dengan Bianca, Kayla tetap bertahan… sampai akhirnya ia lelah menjadi satu-satunya orang yang memperjuangkan pernikahan mereka.
Setelah dua tahun penuh luka, Kayla memilih bercerai.
Tak ada yang menyangka bahwa setelah pergi dari Adrian, Kayla kembali bersinar. Ia melanjutkan kuliah, meraih karier impian, dan berubah menjadi wanita yang begitu mempesona.
Di saat Adrian mulai menyesal dan mati-matian ingin mendapatkannya kembali, hadir Julian—CEO muda sekaligus kakak senior kampus yang diam-diam telah lama mencintai Kayla.
Namun hati Kayla sudah terlalu hancur untuk percaya pada cinta lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perhatian yang Terlambat
Pagi itu, Kayla terbangun lebih dulu dari suaminya. Matahari baru saja menyelinap masuk lewat celah tirai jendela, menerangi ruangan dengan cahaya lembut keemasan.
Namun berbeda dari pagi-pagi sebelumnya yang terasa dingin dan kosong, pagi ini ada sesuatu yang berbeda. Ada lengan kekar Adrian yang masih melingkar erat di pinggangnya, menarik punggung istrinya menempel rapat ke dada bidangnya.
Kayla sedikit terdiam, menahan napas sejenak.
Sudah sangat lama sekali mereka tidak tidur sedekat ini. Sudah berbulan-bulan rasanya sejak terakhir kali Adrian memeluknya seerat ini saat tidur. Sentuhan yang dulu biasa saja, kini terasa begitu langka dan berharga.
Ia menoleh pelan ke samping. Adrian masih terlelap dalam tidurnya yang dalam. Wajahnya yang biasanya terlihat tegang, lelah, atau dingin saat sadar, kini terlihat jauh lebih tenang, damai, dan polos.
Dan untuk sesaat itu… hati Kayla kembali melemah. Sekali lagi luluh.
Karena betapa pun ia terluka, betapa pun ia kecewa, betapa pun ia lelah menunggu dan disakiti… ia masih mencintai pria ini. Ia masih tidak bisa melepaskan perasaannya.
Dan itulah hal yang paling menyakitkan dari segalanya.
Kayla perlahan dan berusaha hati-hati melepaskan pelukan lengan Adrian di pinggangnya. Ia turun dari tempat tidur tanpa membangunkannya, membiarkan suaminya beristirahat lebih lama sedikit.
Ia masuk ke dapur dan mulai bergerak menyiapkan sarapan. Memotong sayuran, mengocok telur, dan menyeduh kopi.
Namun pagi ini suasana hatinya sedikit berbeda. Bukan bahagia yang meluap-luap. Bukan juga harapan yang tinggi.
Lebih seperti… ia mulai berharap lagi. Mengizinkan dirinya percaya sedikit lagi bahwa mungkin keadaan bisa membaik. Bahwa mungkin Adrian mulai sadar.
Padahal jauh di lubuk hatinya, ia tahu betul dirinya seharusnya tidak terlalu berharap. Karena setiap harapan yang ia bangun, sering kali berakhir dengan kekecewaan yang lebih menyakitkan.
Sekitar tiga puluh menit kemudian, saat Adrian keluar dari kamar mandi dan berjalan menuju ruang tengah, aroma makanan lezat langsung memenuhi rongga hidungnya. Baunya hangat, menggugah selera, dan terasa sangat akrab.
Pria itu berhenti sebentar di dekat meja makan. Di sana sudah tersaji rapi roti panggang garing, telur dadar gulung kesukaannya, dan secangkir kopi hitam yang masih mengepulkan asap tipis.
Dan di sisi meja yang lain, ada Kayla yang sedang sibuk menuangkan jus jeruk ke dalam gelas dengan rambut yang masih sedikit berantakan tergerai.
Pemandangan sederhana itu tiba-tiba terasa sangat indah, sangat domestik, dan sangat berasa rumah. Sesuatu yang sudah lama hilang dari pandangan Adrian.
Entah kenapa dada Adrian terasa hangat sesaat. Ada rasa nyaman yang aneh menjalar di dada.
“Kamu masak banyak banget pagi-pagi begini,” ucapnya sambil duduk di kursi makan, menatap hidangan di depannya.
Kayla tersenyum kecil, senyum yang tipis namun tulus. “Lagi pengen aja masak yang agak lengkap. Biar kamu kenyang ke kantor.”
Adrian mengangguk pelan. Ia mulai menyantap makanannya.
Dan untuk pertama kalinya setelah berminggu-minggu lamanya… mereka benar-benar sarapan bersama dalam suasana yang tidak terlalu dingin, tidak penuh ketegangan, dan tidak penuh kebisuan yang menyakitkan.
Meskipun tetap ada jarak kecil yang belum hilang sepenuhnya di antara mereka, setidaknya pagi itu terasa sedikit lebih baik.
“Kamu hari ini sibuk banget nggak?” tanya Kayla hati-hati di sela-sela makan. Matanya menatap piringnya, takut-takut menunggu jawaban.
“Lumayan. Ada beberapa jadwal rapat sama klien sih,” jawab Adrian jujur.
“Oh… begitu.” Kayla menunduk sedikit, cahayanya sedikit meredup.
“Kenapa? Ada apa?”
“Nggak ada apa-apa kok. Cuma nanya aja.”
Adrian memperhatikan wajah istrinya beberapa detik. Melihat ekspresi kecil yang berubah itu, lalu berkata pelan, “Tapi nanti malam aku coba pulang cepat ya. Kalau nggak ada hal mendadak, aku usahain sebelum jam delapan.”
Dan sekali lagi… harapan kecil itu muncul kembali di hati Kayla. Mengembang perlahan.
“Serius? Nggak bohong kan?” matanya sedikit berbinar saat menatap suaminya.
“Hm. Serius.”
Kayla langsung tersenyum lebar, senyum kecil yang sederhana namun terlihat begitu bahagia dan lega.
Pemandangan itu membuat Adrian terdiam sesaat. Dan anehnya… senyum itu kembali membuatnya merasa bersalah lagi.
Karena akhir-akhir ini ia sadar satu hal besar: hal sekecil apa pun yang ia lakukan, sekadar janji pulang cepat saja, sudah cukup membuat Kayla sebahagia itu. Padahal dulu, hal-hal seperti itu selalu ia berikan setiap hari tanpa perlu diminta, tanpa perlu ditunggu, dan tanpa perlu dijanjikan.
Dulu kebahagiaan Kayla adalah hal yang biasa. Sekarang kebahagiaannya terasa begitu sulit didapatkan.
Di kantor siang harinya, Adrian mencoba sekuat tenaga untuk fokus pada pekerjaannya. Ia membaca berkas, menelepon rekan, dan membalas pesan. Namun pikirannya terus berulang kembali pada momen pagi tadi. Pada wajah Kayla yang terlihat sedikit lebih hidup, lebih cerah, dan lebih muda.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama menutup mata dan hatinya… ia mulai benar-benar memperhatikan sesuatu yang sudah ada di depan matanya selama ini:
Bahwa Kayla sebenarnya masih cantik. Sangat cantik bahkan.
Hanya saja… selama ini ia terlalu sibuk melihat kekurangan-kekurangan kecil, terlalu sibuk membandingkan, dan terlalu sibuk dengan dunianya sendiri, sampai lupa menghargai wanita yang selalu ada untuknya dalam keadaan apa pun.
“Adrian!”
Suara ceria dan tegas memecah lamunannya. Bianca berdiri di depan mejanya dengan berkas di tangan.
“Hm? Iya?”
“Kamu dari tadi senyum-senyum sendiri melamun. Ada apa sih?”
Adrian langsung mengernyitkan dahi dan mengembalikan wajah seriusnya. “Apaan sih. Nggak ada apa-apa.”
Bianca tertawa kecil lalu duduk di pinggiran meja kerja Adrian, tidak peduli tata krama.
“Aku hafal banget muka kamu. Hari ini mood kamu bagus banget. Beda sama kemarin-kemarin yang kalau ngomong aja ketus banget.”
“Kamu ngaco aja.”
“Tapi beda lho. Cerita deh,” goda Bianca sambil menyipitkan mata, “Balik mesra sama istri di rumah ya?”
Pertanyaan itu membuat Adrian diam sepersekian detik. Hanya sedetik. Namun jeda itu cukup untuk membuat Bianca sadar sepenuhnya.
“wow,” kata wanita itu sambil tertawa kecil yang terdengar kaku. “ beneran balik mesra?”
“Udah sana kerjain tugas kamu. Jangan ngurusin urusan orang,” usir Adrian pura-pura sibuk.
Namun Bianca masih tersenyum tipis. Senyum yang tidak sampai ke mata.
Dan untuk pertama kalinya hari itu… wanita itu merasa sedikit terganggu, sedikit tidak nyaman, dan sedikit iri.
Karena selama ini, Bianca merasa Adrian selalu terlihat semakin menjauh dari rumahnya, semakin menjauh dari istrinya, dan semakin dekat dengannya. Tapi sekarang… pria itu mulai memikirkan istrinya lagi. Mulai teringat kembali pada wanita itu.
Dan itu bukan hal yang Bianca sukai.
Sore harinya, sesudah makan siang, Kayla pergi ke pasar swalayan dekat apartemen untuk membeli bahan makanan.
Sudah lama sekali ia tidak merasa ingin berbelanja dan memasak dengan semangat seperti ini. Keranjang belanjanya mulai terisi banyak. Mungkin karena Adrian bilang akan pulang cepat. Mungkin karena pelukan hangat semalam yang masih terasa di kulitnya. Atau mungkin… karena hatinya memang terlalu mudah luluh pada perhatian kecil sekecil apa pun dari pria itu.
Saat sedang sibuk memilih dan membandingkan sayuran segar, ponsel di tasnya tiba-tiba berbunyi nyaring.
Nama Julian tertera jelas di layar.
Kayla sedikit terkejut, tangannya sempat berhenti bergerak. Beberapa detik ia ragu, namun akhirnya ia mengangkat panggilan itu.
“Halo? Selamat sore, Julian.”
“Kayla. Halo. Maaf ya ganggu waktu kamu,” suara Julian terdengar tenang, lembut, dan sopan seperti biasa.
“Nggak kok. Aku lagi belanja aja. Ada apa ya?”
“Aku cuma mau kasih tahu dan ngundang… minggu depan kampus kita ngadain reuni kecil khusus alumni lomba debat tahun-tahun kita dulu. Katanya bakal banyak yang datang, termasuk pembina dan juri-jurinya dulu.”
Kayla langsung terdiam sesaat. Kenangan lama kembali berputar cepat di kepalanya.
“Reuni? Wah… udah lama banget ya nggak ketemu teman-teman dulu…”
“Iya. Makanya aku pikir, siapa tahu kamu mungkin mau datang. Keingat kan kamu juara andalan kita dulu,” ucap Julian santai.
Entah kenapa… kalimat sederhana itu terasa begitu hangat dan berarti.
Karena sudah lama sekali tidak ada yang benar-benar mengajaknya kembali ke dunia yang dulu ia cintai. Dunia di mana ia bukan sekadar istri seseorang, tapi di mana ia adalah dirinya sendiri yang berharga.
“Aku pikirin dulu ya? Aku kabarin lagi nanti,” jawab Kayla lembut.
“Ok. Santai aja.”
Julian sempat diam beberapa detik di seberang sana, sebelum akhirnya berkata pelan dan rendah, “Dan Kayla… aku senang banget lho bisa lihat kamu lagi kemarin. Jaga kesehatan ya.”
Jantung Kayla berdetak kecil. Bukan karena tergoda atau terima rayuan. Tapi karena nada suara itu terdengar begitu tulus, begitu jujur, dan begitu peduli. Sesuatu yang jarang sekali ia dengar belakangan ini.
Setelah telepon ditutup, Kayla masih berdiri diam cukup lama di antara rak-rak sayuran itu. Menatap ponselnya, lalu menatap sekeliling.
Dan tanpa sadar, di tengah keramaian orang yang lewat… ia tersenyum kecil untuk pertama kalinya setelah sekian lama. Senyum yang bukan karena Adrian, tapi karena dirinya sendiri.
harus nya lebih banyak lagi tadi di balikin kata-kata soal kedekatan antara laki dan perempuan kepada si Adrian yg kemarin dia lebih parah deketnya sama si ulet Bianca itu 😡😡👍
dan saat hal tsb di lakukan oleh pasangan nya, dia gak terima..dan merasa sakit!!
tapi sebenarnya jauhh sebelumnya, dia sendiri melakukan hal tsb jauhhh lebih menyakitkan 😡😡