NovelToon NovelToon
Cintai Aku Sekali Lagi

Cintai Aku Sekali Lagi

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Cinta Seiring Waktu / Berbaikan
Popularitas:21.8k
Nilai: 5
Nama Author: moon

WARNING! Sebelum mulai membaca, tolong baca tagar dahulu. Karena di sini area bebas JULID, dilarang mengomel hanya karena keinginan Anda tak sejalan dengan pemikiran Author.



Cinta itu menuntun dirinya untuk membuat keputusan paling kejam, memilih satu diantara dua wanita. Di antara tangis dan perih dua wanita yang lain, ia tetap mempertahankan wanita yang ia cinta.


Setelah keinginan diraih, takdir kembali lancang menuliskan jalannya tanpa permisi. Sekali lagi ia kehilangan, tapi kali ini untuk selamanya.


Terombang ambing dalam amarah, serta sempat menjauh dari-Nya. Tapi sepasang tangan kecil tetap meraih dirinya penuh cinta, tulus tanpa berharap imbalan jasa.


Apakah tangan kecil itu mampu menuntun Firza kembali ke jalan-Nya?


Lantas bagaimana dengan dua wanita yang pernah disakiti olehnya?


Mampukah Firza memantapkan hatinya pada cinta yang selama ini terabai oleh keegoisannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#12

#12

“Abang ingin menikah lagi, Er—”

Tes

Air mata bening itu luruh bersama luka menganga lebar di hati Ersha, sekuat tenaga ia mempersiapkan diri, nyatanya tak sanggup juga ia menahan sakit yang ditorehkan oleh ucapan suaminya. 

Ersha mengusap kasar air matanya, ingin rasanya berteriak dan memaki, tapi ia hanya sanggup meremas ujung hijabnya sendiri. “Kenapa, Bang?” tanyanya pada akhirnya, suaranya pun kecil nyaris hilang. 

“Maaf—”

“Tak perlu minta maaf, bila Abang tetap bermuka dua dan memilih jalan yang sudah pasti membuatku dan Abizar merasa sakit!” sela Ersha tegas. 

“Firza menggeleng, aku tak akan meninggalkan kalian,” kata Firza, nada suaranya memohon, seolah putus asa, tapi entah apa yang ia perjuangkan. 

Ersha tersenyum pahit, “Oh, iya? Tapi aku menyaksikannya, Bang.” 

“Kau boleh pegang janjiku, Abang tak akan menceraikanmu, sungguh! Abang bahkan tak memiliki niat berpisah darimu.” 

“Untuk apa? Tanpa perlu Abang berniat, diantara kita sudah jatuh talak satu, Bang.” 

Firza terdiam, bertanya-tanya apa penyebab Ersha berkata demikian. “Apa maksud ucapanmu?!” tanyanya tak suka. 

“Abang lupa? Atau berpura-pura lupa? Sudah berapa lama Abang tak memberiku nafkah batin? Sudah lebih dari tiga bulan, Bang. Apa masih ingin berkata bahwa Abang tak akan meninggalkanku?!” Nada suara Ersha naik satu tingkat, tapi tetap terjaga intonasinya. 

Sesaat wanita itu diam, dan mengatur nafasnya. “Ragamu memang ada di sisiku, tapi jiwamu tak pernah menetap bersamamu. Suka atau tidak, sebenarnya Abang sudah terlalu lama meninggalkanku.” Ersha melepas cincin dari jari manisnya, kemudian meletakkannya di meja begitu saja. 

Firza bergegas berdiri, dan menahan lengan Ersha, “Er, tunggu,” cegahnya, ada berbagai macam pertimbangan pula yang membuat Firza enggan melepas Ersha, salah satunya adalah karena Ersha adalah menantu pilihan Mamak Karmila, dan juga Firza tak ingin Abizar tumbuh tanpa keberadaan orang tua yang lengkap. Tapi— 

“Lepaskan, Bang. Talakmu atas diriku sudah jatuh, maka tak ada alasan bagi Abang untuk menahanku mengajukan gugatan.” 

Genggaman Firza semakin erat, “Kumohon, Er— aku tak mau kehilangan kalian. Tapi— tapi— dia butuh aku—”

“Lalu bagaimana dengan kami?! Apa Abang pikir aku tak butuh Abang? Dan Abi tak butuh ayahnya?!” 

“Dia— sakit, Er, dia hanya menginginkan status pernikahan sebelum maut datang menjemput.” 

“Kalau aku di posisi dia, sekarat menunggu ajal, apa Abang juga rela menduakan wanita itu demi aku? Hah?! Jawab, Bang! Jawab!” pekik Ersha yang akhirnya membuat Abizar terbangun dan menangis di kamarnya. 

Diamnya Firza, lagi-lagi memperjelas kenyataan pahit tersebut. 

“Tidak bisa, kan? Abang tak bisa meninggalkannya, bukan? Karena itulah, Abang lebih memilih mengorbankan perasaanku ketimbang menodai permintaan terakhirnya,” sambung Ersha dengan nada suara lirih, percuma saja berteriak dan meluapkan amarah, toh tidak akan merubah apapun. 

Ersha menghempaskan tangan Firza dengan kasar, kemudian pergi ke kamar Abizar mengunci dirinya di dalamnya, termasuk pintu penghubung di kamar tersebut. 

Sepenggal perih terasa menyayat dinding hati Firza, kala melihat Ersha yang meninggalkannya dengan kesedihan yang amat nyata. Namun, ia abaikan, sebab yakin bahwa bersama Resha akan bisa melalui segalanya, harapan, dan impian yang dulu pernah mereka cita-citakan berdua. Termasuk mengobati segala pedih dan luka. 

Pikirannya kembali menerawang pada peristiwa semalam, ketika ia mendatangi Resha atas permintaan Tuan Guang Yu, ayah Resha. 

Flashback 

Tuan Guang Yu dan Nyonya Yu, sedang duduk berdua di depan intensive care unit (ICU). Wajah mereka tak bisa dibilang baik-baik saja, cemas, pucat, dan takut. 

Belum pernah Firza melihat Tuan Yu yang biasanya tegas dan teramat sangat arogan, duduk diam seperti putus asa dengan jalan hidupnya. 

“Selamat malam, Om, Tante.” Firza langsung menyapa mereka. 

Dua orang itu mendongak bahagia karena Firza bersedia memenuhi permintaan mereka untuk datang menemui Resha, karena Resha terlihat seperti mayat hidup setelah ditemukan dalam keadaan pingsan di sebuah restoran. 

Setelah memeriksa CCTV di resto tersebut, barulah diketahui bahwa Resha datang untuk menemui Firza. 

Tuan Guang Yu pun berdiri, menggenggam tangan Firza dengan sangat putus asa. “Terima kasih, karena sudah mau datang menemui anak kami.”

“Bagaimana keadaan Resha, Om?” 

“Tadi, dia sempat kritis selama beberapa jam, tapi dia kembali sadar. Tapi setelah sadar, dia— dia— justru tak mau menerima pengobatan apa-apa, padahal sisa-sisa sel kankernya tinggal sedikit lagi.” 

Nyonya Yu tak tinggal diam, ia ikut mengatupkan kedua telapak tangannya di depan dada. “Tolong, Firza, hanya kamu yang bisa membujuknya, kamu tahu, kan, seperti apa Resha bila sudah memiliki keinginan? Sulit untuk ditaklukkan.” 

Firza melongok ke dalam ruangan, tempat Resha berbaring dengan tatapan mata yang kosong. Di sekitarnya terdapat banyak selang, mesin monitor, dan jarum yang menancap langsung ke dalam kulitnya. 

Wajah yang dulu segar, dan ceria, kini tirus, seperti kehilangan semangat untuk hidup. Padahal ia sudah berjuang selama bertahun-tahun untuk melawan kanker yang menggerogoti tubuhnya. 

Tak tahu lagi bagaimana menjelaskan keadaan dirinya saat ini, bertahun-tahun mengira rasa di hatinya telah mati, tapi ternyata masih mengakar begitu kuat hingga Firza bertekad akan melakukan apa saja asalkan Resha bisa selamat. 

Sebelum menjawab, Firza menarik dan menghembuskan nafasnya, ia tahu ini akan jadi perjuangan berat, tapi bila berhasil, ia bisa menyelamatkan nyawa seseorang, sekaligus memberikan harapan pada kedua orang tua Resha. “Aku akan coba, Om, Tante. Tapi jangan berharap lebih.” 

Dua orang itu mengangguk dengan segera, seolah ini adalah kesempatan yang langka. 

Firza melangkah setelah memakai pakaian khusus untuk masuk ke dalam ruangan, tangannya menarik kenop pintu perlahan-lahan kemudian masuk ke dalam ruangan. Aroma obat tercium semakin jelas, dan udara terasa dingin tapi dengan suhu yang dikontrol dengan baik. 

Beberapa saat ia berdiri mematung, menatap ke arah Resha yang masih diam dengan tatapan mata yang kosong. Beberapa saat berlalu, hingga Resha menyadari ada seseorang yang berdiri menatapnya. Senyumnya merekah meski sedikit dipaksakan. 

“Firza—” katanya dengan suara lirih seperti bisikan. 

Tangan Firza masih tersembunyi di belakang tubuhnya. “Hmm, aku datang.” 

“Aku tahu, aku tahu kamu pasti datang. Karena aku masih melihat tatapan cinta melalui sorot matamu.” 

“Kamu jahat, Sha, sangat jahat. Teganya mempermainkan perasaanku seperti ini.” Firza mulai terisak. “Andai sejak dulu kamu memberitahuku, tentu kita tak akan begini.” 

“Aku tak minta jadi yang utama, sungguh! Cukup ada di sisimu saja, itu sudah luar biasa.” 

Resha memang tak meminta menjadi yang utama, tapi Firza tak bisa serta merta menerima Resha begitu saja untuk berdiri di sisinya. Ada batasan agama yang melarangnya, dan Firza tak mau melanggar itu semua. 

Maka keputusan berat itu terpaksa ia ambil demi bisa melangkah lebih jauh, tanpa perasaan was-was. 

Flashback End. 

•••

Di sebuah apartemen. Miranda sedang tenggelam dalam tumpukan berkas kasus yang sedang ia pelajari. 

Notifikasi ponsel membuatnya berpaling sejenak. 

📥 Mir, keputusan sudah final. Kami akan berpisah.

1
Patrick Khan
semoga niat jahat resa keduluan end tamat modar😂😂😂ahh jahatnya q😂🔪
Inarrr Ulfah
jagn mati dulu ya sa,,pengen liat aja kamu kejang2 liat er dapt yg lebih dari si Firza,dan semoga Firza gila talak...
Anonim
balikan????? gak seru ah
Hasanah Purwokerto
Aku ketularan bang Ahtar,,senyum senyum sendiri...😄😄😄😄😄
Hasanah Purwokerto
Tuh bang Ahtar...ada jalan buat pe de ka te,,,manfaatkan...🤣🤣🤣🤣🤣
Hasanah Purwokerto
/Joyful//Joyful//Joyful//Joyful//Joyful//Joyful/
Hasanah Purwokerto
Cieeeee..yg lagi modus...😄😄😄😄
Hasanah Purwokerto
Busuk hati bgt si Resha
Hasanah Purwokerto
Ersha bukan kamu ya,,yg hobinya merusak rumah tangga orang,,kamu tuh yg sukanya sm suami orang...😡👊👊👊
Hasanah Purwokerto
Maaf cuma dimulut saja
Hasanah Purwokerto
Ga akan bahagia kalian..
Hasanah Purwokerto
Setan berwujud manusia itu Er..
Hasanah Purwokerto
Cih....sundel bolong....pake pura pura
Hasanah Purwokerto
Maafmu ga ada guna Fir..
Hasanah Purwokerto
Biarin Firza sendirian..ga usah diajak ngobrol..
Hasanah Purwokerto
Preeeetttt laaaahhhj
Hasanah Purwokerto
Ersha ga melarang,,tp kamu yakin,,? Resha akan membiarkanmu pergi menemui Abizar..?
Hasanah Purwokerto
Tetap semamgat ya Rs...masa depanmu msh panjang,,semoga lebih cerah dr sblmnya...
Hasanah Purwokerto
Smg Ersha berjodoh dg Atar..
toh sama" single
Hasanah Purwokerto
Resha culas,,bermuka dua...😡
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!