Theodore, sang Kakak, memberikan tantangan kepada Celestine untuk mencari calon suamimu sendiri dalam satu bulan, atau dia yang akan memilihkan.
Celestine setuju.
Baginya, pangeran-pangeran di ibu kota terlalu "lembut" karena dia ingin seseorang yang bau mesiu, darah, dan sihir kuat. Dia berangkat sebagai utusan diplomasi ke Kekaisaran Heavenorth, wilayah yang dikenal paling keras.
Demi menemukan pria impian yang memenuhi standar kejam namun ajaib nya, Putri Celestine melakukan perjalanan ke perbatasan Kekaisaran yang paling berbahaya, hanya untuk menemukan bahwa pria yang ia cari adalah seorang monster di medan perang dan penyihir dingin yang menjaga gerbang kematian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karamellatee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#Bab 13 : Pengabdian dan rahasia Valley
Langkah kaki kuda George terhenti tepat di atas bukit terakhir yang membatasi wilayah pegunungan bersalju dengan lembah hijau yang bermandikan cahaya matahari.
Di hadapan mereka, bentangan tembok tinggi berwarna kuning keemasan menjulang kokoh, memantulkan sinar surya dengan begitu menyilaukan hingga Celestine harus memicingkan matanya. Itulah Gerbang Matahari, pintu masuk utama menuju pusat Kerajaan Valley.
"Lihatlah George. Akhirnya kita sampai di rumah," ujar Celestine dengan nada lega yang begitu dalam.
George memacu kudanya mendekat ke sisi kuda Celestine. Ia menatap takjub pada jembatan besar yang melintasi sungai air jernih di bawah mereka. "Aku pernah mendengar cerita tentang kemegahan Valley, tapi melihatnya langsung seperti ini... rasanya sulit dipercayai. Tempat ini terlihat seolah-olah dibangun dari cahaya murni."
"Bukan cahaya, George. Itu emas asli yang disepuh dengan teknik alkimia kuno," jawab Celestine sambil tersenyum bangga. "Di sini, debu pun bisa menjadi perhiasan jika kau tahu cara mengolahnya."
Mereka mulai menuruni bukit menuju gerbang kota. Semakin dekat, aroma di udara mulai berubah. Bukan lagi bau es dan pinus yang tajam, melainkan wangi rempah-rempah mahal, kayu manis, dan uap dari kuali para alkemis yang bekerja di laboratorium pinggir kota.
"Berhenti di sana!" teriak seorang penjaga berpakaian zirah emas mengkilap dari atas tembok. "Tunjukkan identitas kalian atau menyingkir dari jalur dagang!"
Celestine membuka tudung jubahnya, membiarkan rambutnya yang berwarna cerah tertiup angin. Ia mengangkat medali kerajaan yang tergantung di lehernya. "Aku Celestine Jour’ Vallery. Buka gerbangnya sekarang juga!"
Para penjaga di atas tembok terdiam sejenak, lalu terdengar kegaduhan kecil. Pintu gerbang raksasa itu perlahan terbuka dengan suara mesin yang sangat halus, menandakan teknologi mekanis yang sangat maju. Begitu mereka masuk, pemandangan pasar dagang langsung menyambut. Ribuan orang berlalu-lalang, mengenakan kain sutra dengan berbagai warna. Di setiap sudut, para alkemis memamerkan ramuan yang bisa berubah warna di dalam botol kristal.
"Tuan Putri!" teriak salah seorang pedagang kain. "Anda kembali! Kami mengira Anda masih tertahan di utara karena badai abadi!"
"Badainya sudah berakhir, Paman!" balas Celestine sambil melambaikan tangan dengan riang.
George tampak sedikit tidak nyaman di atas pelananya. Banyak mata menatap ke arahnya, terutama pada lengan kristalnya yang kini berkilau perak di bawah terik matahari. "Mereka menatapku seolah aku adalah mahluk asing yang baru turun dari bulan, Celestine."
"Jangan heran, George. Di Valley, hal-hal yang tidak bersinar emas dianggap aneh," canda Celestine. "Tapi lihatlah di sana. Itulah Menara Alkimia Pusat. Sejarah agung kerajaan kami tercatat di dinding-dindingnya."
"Tempat ini benar-benar hidup," gumam George sambil memperhatikan seorang alkemis jalanan yang mengubah potongan besi menjadi patung burung kecil yang bisa terbang sendiri. "Sangat berbeda dengan Heavenorth yang tenang dan sunyi."
"Kau akan terbiasa. Di sini, perdagangan adalah napas kami. Emas adalah darah kami," kata Celestine.
Saat mereka melewati alun-alun kota yang beralaskan ubin marmer, rombongan ksatria istana berkuda putih datang menghampiri mereka. Di depan rombongan itu, seorang pria muda dengan jubah biru tua dan mahkota perak kecil tampak memacu kudanya lebih cepat.
"Celestine!" teriak pria itu.
"Kak Theodore!" Celestine segera melompat dari kudanya bahkan sebelum kuda itu berhenti sempurna. Ia berlari dan langsung memeluk kakaknya.
Theodore turun dari kuda dan membalas pelukan adiknya dengan erat. "Kau membuatku hampir gila dengan kekhawatiran, Celestine. Surat-surat terakhir dari La’ Mortine sangat mengkhawatirkan. Mereka bilang kau menghilang di tengah badai."
"Aku tidak menghilang, Kak. Aku sedang menyelamatkan dunia bersama seseorang," sahut Celestine sambil melepaskan pelukannya dan menunjuk ke arah George yang masih diam di atas kuda.
Theodore melepaskan pandangannya dari Celestine dan menatap George dengan tajam. Ia berjalan mendekat, mengamati zirah George yang rusak dan lengan kristalnya yang aneh. "Jadi, ini ksatria dari utara yang disebut-sebut itu? George Augustine?"
George turun dari kuda dan memberikan hormat ksatria yang sangat formal. "Saya George Augustine, Yang Mulia. Suatu kehormatan bisa menginjakkan kaki di tanah emas Valley."
Theodore terdiam cukup lama, suasana mendadak menjadi tegang. Namun, tiba-tiba Theodore tersenyum dan menepuk bahu George dengan ramah.
"Jangan terlalu kaku di sini, George. Di Valley, kami lebih menghargai orang yang bisa bertahan hidup daripada orang yang hanya tahu cara memberi hormat. Celestine bilang kau melindunginya, dan untuk itu, kau adalah tamu agungku."
"Terima kasih, Yang Mulia," sahut George, tampak sedikit lega.
"Ayo, kita masuk ke dalam istana," ajak Theodore. "Aku sudah menyiapkan perjamuan terbaik. Para alkemisku juga ingin sekali melihat lengan kristalmu itu. Mereka belum pernah melihat struktur mana yang begitu stabil dalam bentuk es permanen."
"Apakah mereka akan membedahku, Kak?" tanya George dengan nada datar yang membuat Celestine tertawa.
"Tentu saja tidak. Mereka hanya akan menatapmu selama beberapa jam sambil mencatat sesuatu," balas Theodore sambil terkekeh. "Tapi sebelumnya, Celestine, ceritakan padaku semuanya. Bagaimana bisa kau membawa pulang seorang pria es ke kerajaan matahari ini?"
"Ini cerita yang sangat panjang, Kak. Melibatkan naga tulang, meteor hitam, dan sedikit urusan hati," kata Celestine sambil mengedipkan mata ke arah George.
Mereka berjalan menyusuri jalan utama istana yang dilapisi emas murni. Di kanan kiri, rakyat Valley bersorak menyambut kepulangan sang putri. George melihat bagaimana matahari terbenam di Valley memberikan warna yang begitu indah pada menara-menara emas istana. Ia menyadari bahwa ia telah meninggalkan kegelapan utara menuju fajar yang abadi.
"George, lihat ke atas sana," bisik Celestine saat mereka sampai di tangga istana. "Itu adalah lambang persahabatan baru kita."
Di atas gerbang istana, terdapat sebuah bendera baru yang dikibarkan. Gambar matahari emas bersatu dengan kristal es biru.
"Kau yang merencanakannya?" tanya George.
"Aku mengirim pesan melalui merpati alkimia saat kita di perbatasan," jawab Celestine. "Aku ingin dunia tahu bahwa mulai hari ini, tidak ada lagi sekat antara matahari dan es."
Theodore menoleh ke arah mereka berdua. "Cukup dengan percakapan rahasia kalian. Perutku sudah lapar, dan aku yakin George butuh minuman dingin yang tidak membeku di tangannya."
"Tentu, Yang Mulia. Itu terdengar seperti ide yang sangat bagus," jawab George.
Mereka melangkah masuk ke dalam aula istana yang megah, di mana aroma makanan lezat dan musik harpa mulai terdengar.
Setelah melewati gerbang emas yang menjulang, Theodore segera memerintahkan para pelayan istana untuk membawa Celestine dan George ke sayap barat istana. Koridor-koridor di sana terbuat dari marmer putih dengan aksen emas yang memantulkan cahaya senja dari jendela-jendela besar setinggi langit-langit.
"Kalian tidak bisa menghadiri perjamuan dengan pakaian compang-camping seperti itu," kata Theodore sambil tertawa kecil melihat jubah George yang robek. "Pelayan, siapkan pemandian air mawar untuk Tuan Putri, dan bawa Tuan George ke ruang pakaian utama."
Celestine menoleh ke arah George yang tampak bingung. "Nikmati saja, George. Di Valley, mandi adalah sebuah ritual seni. Kita bertemu di aula dalam satu jam?"
"Satu jam? Aku bahkan tidak butuh sepuluh menit untuk berganti zirah," gumam George.
"Di sini kau tidak akan memakai zirah, George," bisik Celestine sebelum menghilang di balik pintu kamarnya.
Satu jam kemudian, pintu besar aula perjamuan terbuka. George keluar dengan perasaan yang sangat tidak nyaman. Ia mengenakan kemeja sutra berwarna putih gading dengan sulaman benang emas di kerahnya, dipadukan dengan jas panjang berwarna biru tua khas bangsawan Valley. Lengan kristalnya yang berwarna putih mutiara menyembul dari balik borgol kemeja, memberikan kontras yang mencolok namun sangat indah.
"Kau terlihat... berbeda," suara Celestine terdengar dari arah belakang.
George berbalik dan sejenak ia lupa cara bernapas. Celestine mengenakan gaun yang seolah ditenun dari sinar matahari. Warnanya kuning keemasan dengan lapisan kain tipis yang berkilau setiap kali ia bergerak. Rambutnya ditata dengan hiasan batu permata kecil yang menyerupai embun pagi.
"Kau juga terlihat sangat berbeda," jawab George pelan. "Aku hampir tidak mengenalimu tanpa debu salju di wajahmu."
Celestine tertawa dan meraih lengan George. "Mari kita hadapi mereka. Pesta dansa ini akan segera dimulai, dan semua orang ingin melihat pahlawan utara yang mencuri hati putri mereka."
Mereka memasuki aula utama yang sudah dipenuhi oleh ratusan tamu undangan. Musik harpa dan seruling alkimia yang bisa menciptakan harmonisasi suara alam mulai menggema di seluruh ruangan. Meja-meja panjang dipenuhi dengan makanan yang tampak terlalu indah untuk dimakan; buah-buahan yang dilapisi madu emas, daging rusa dengan saus rempah rahasia, dan minuman berwarna-warni yang berbuih lembut.
"Selamat datang kembali, Putri Celestine! Dan selamat datang, Tuan George!" Theodore berdiri di atas podium kecil sambil mengangkat gelas kristalnya. "Malam ini, Valley tidak merayakan emas, tapi merayakan keberanian. Silakan nikmati pesta ini!"
Setelah perjamuan makan malam yang meriah, Theodore memberikan isyarat kepada kelompok pemusik. Irama musik berubah menjadi lebih lambat dan elegan. Ini adalah tanda dimulainya pesta dansa.
"George, kau tahu cara berdansa, bukan?" tanya Celestine sambil menarik George ke tengah lantai dansa.
"Ksatria diajarkan cara berdansa secara formal di akademi, tapi itu hanya gerakan kaku untuk acara resmi. Di Valley... gerakannya tampak lebih bebas," jawab George ragu.
"Ikuti saja langkahku. Anggap saja ini seperti bertarung di tengah badai, tapi tanpa pedang," bisik Celestine sambil meletakkan tangan George di pinggangnya.
George meletakkan tangan kristalnya di punggung Celestine. Ia bisa merasakan kehangatan yang memancar dari tubuh sang putri, menetralisir rasa sejuk yang selalu keluar dari kulit kristalnya. Mereka mulai bergerak berputar di tengah aula.
"Lihat mereka," bisik seorang wanita bangsawan di tepi ruangan. "Tangan kristal itu... sangat eksotis. Mereka benar-benar terlihat seperti matahari dan bulan yang bersatu."
"Bagaimana perasaanmu, George? Apakah ini lebih buruk daripada menghadapi naga tulang?" tanya Celestine sambil tersenyum menggoda.
"Jauh lebih buruk," bisik George jujur. "Semua orang menatap kita, dan lantai ini terlalu licin untuk sepatu dansa ini. Aku lebih suka berdiri di atas sungai es."
"Kau melakukannya dengan sangat baik," puji Celestine. "Dan lihatlah, Kak Theodore tampak sangat puas melihatmu tidak menginjak gaunku."
Theodore yang berdiri di dekat air mancur anggur memang sedang tersenyum lebar. Ia melihat bagaimana adiknya tampak begitu bahagia, sesuatu yang jarang ia lihat sejak Celestine dikirim ke utara.
"Celestine," panggil George pelan di tengah putaran dansa mereka.
"Ya?"
"Setelah pesta ini berakhir, apa yang akan kita lakukan? Rakyatmu mencintaimu, dan kau berada di puncak kejayaanmu sekarang."
Celestine menatap mata George dengan sangat dalam. "Aku akan tetap pada rencanaku. Aku ingin kau tinggal di sini. Kita akan membangun kembali hubungan antara kerajaan kita melalui diplomasi dan perdagangan. Dan kau... kau akan menjadi jenderal pertama yang memiliki darah es di tanah emas ini."
George terdiam sejenak, lalu ia mengeratkan pegangannya pada pinggang Celestine. "Jika itu maumu, maka aku tidak punya alasan untuk pergi. Aku akan menjadi perisaimu, entah itu di salju atau di bawah terik matahari Valley."
Musik mencapai puncaknya, dan semua pasangan dansa membungkuk hormat satu sama lain. Cahaya lilin-lilin alkimia di atas langit-langit aula perlahan meredup, digantikan oleh kembang api sihir yang meledak di langit malam Valley, membentuk pola matahari dan kristal yang saling bertautan.
"Selamat datang di rumah yang sebenarnya, George," bisik Celestine saat mereka berjalan menuju balkon untuk melihat kembang api.
George menatap langit yang terang benderang itu, lalu ia menatap tangannya yang kini menggenggam tangan Celestine.
Lampu gantung kristal yang menggantung di langit-langit aula utama bergoyang pelan, menyebarkan butiran cahaya yang memantul pada pilar-pilar emas. Musik beralih menjadi melodi yang lebih intens, sebuah komposisi klasik Valley yang dikenal sebagai *Tarian Alkemis*, di mana tempo musik akan semakin cepat seiring dengan detak jantung para penarinya.
George menarik napas dalam, mencoba menenangkan gemuruh di dadanya yang terasa jauh lebih hebat daripada saat ia mendaki Puncak Kesunyian.
"Kau melamun, George," bisik Celestine, matanya berkilat jahil saat ia berputar masuk kembali ke dalam pelukan George.
"Aku hanya sedang berpikir bagaimana bisa ruangan ini terasa begitu panas padahal di luar sana angin malam bertiup cukup kencang," sahut George. Ia memindahkan tangan kristalnya ke bahu Celestine, memastikan gerakannya tetap seirama dengan langkah kaki sang putri yang lincah.
"Itu bukan panas udara, Tuan Muda. Itu adalah energi dari ratusan alkemis yang sedang bersemangat melihat mahluk ajaib dari utara sepertimu," goda Celestine.
"Lihat pria tua di dekat meja minuman itu? Dia adalah Master Alkemis Agung. Dia sudah tiga kali mencoba mendekat hanya untuk melihat apakah lenganmu benar-benar bisa memantulkan cahaya matahari."
George melirik sekilas ke arah pria tua yang dimaksud. "Jika dia mencoba mengambil sampel kristalku dengan botol ramuannya, aku tidak menjamin pedangku tetap di sarungnya, Celestine."
Celestine tertawa renyah, sebuah suara yang membuat beberapa bangsawan di sekitar mereka menoleh dengan iri. "Tenanglah. Di Valley, kami memperlakukan tamu dengan sangat baik, meski terkadang rasa penasaran kami agak sedikit berlebihan."
Tiba-tiba, Theodore melangkah ke tengah lantai dansa, memberi isyarat agar musik berhenti sejenak. Ruangan menjadi sunyi, hanya menyisakan suara denting gelas perak.
"Hadirin sekalian," suara Theodore bergema penuh wibawa. "Malam ini kita tidak hanya merayakan kembalinya adikku tercinta. Kita juga merayakan berakhirnya musim dingin abadi di perbatasan utara. George Augustine bukan hanya seorang tamu; dia adalah jembatan yang membawa fajar ke tempat yang paling gelap. Sebagai tanda persaudaraan, aku ingin memberikan sesuatu."
Seorang pelayan maju membawa sebuah kotak beludru merah. Di dalamnya terdapat sebuah pin dada berbentuk matahari yang terbuat dari emas murni, namun di tengahnya tertanam sebuah batu safir es yang sangat langka.
"George, ini adalah Orde Matahari Biru. Hanya diberikan kepada mereka yang memiliki hati sehangat matahari namun kekuatan seteguh es," kata Theodore sambil menyematkan pin itu di kerah baju George.
"Terima kasih, Yang Mulia. Saya tidak tahu apakah saya pantas mendapatkannya," jawab George sambil membungkuk hormat.
"Kau lebih dari pantas," bisik Theodore sebelum berbalik kembali ke kursinya.
Musik kembali mengalun, kali ini lebih lembut dan romantis. George kembali menatap Celestine. "Kakakmu benar-benar tahu cara membuat seseorang merasa berhutang budi, ya?"
"Itulah keahlian Theodore. Dia tidak menggunakan pedang, dia menggunakan kehormatan dan emas," kata Celestine. "Tapi sekarang, lupakan tentang Theodore. Musik ini adalah lagu favoritku. *Nyanyian Mawar di Bawah Bulan*. Maukah kau berdansa denganku sekali lagi, kali ini tanpa rasa takut akan dihakimi oleh para bangsawan itu?"
George tersenyum miring, sebuah ekspresi yang kini terlihat sangat alami di wajahnya. Ia membungkuk rendah, mengulurkan tangan kristalnya yang berkilau. "Dengan senang hati, Tuan Putri."
Mereka berdansa dengan lebih santai sekarang. George mulai menikmati bagaimana kain sutra bajunya bergesekan dengan gaun emas Celestine. Ia merasa beban sebagai ksatria buronan yang selalu waspada perlahan meluruh, digantikan oleh identitas baru yang masih asing namun terasa benar.
"Setelah ini," bisik George di telinga Celestine saat mereka berputar pelan. "Apakah aku benar-benar harus tinggal di paviliun mawar itu?"
"Tentu saja. Aku sudah menyuruh pelayan untuk menaruh es di setiap sudut ruangan agar kau tidak merasa 'kepanasan' seperti tadi," jawab Celestine dengan senyum manis.
"Dan kau? Di mana kau akan berada?" tanya George.
Celestine menatap mata George dengan sangat lekat. "Aku akan berada di balkon, melihat ke arah utara dan bersyukur bahwa aku tidak harus kembali ke sana sendirian. Aku akan berada di perpustakaan, membantumu mempelajari sejarah kerajaan kami. Dan aku akan berada di sini, di sampingmu, selama kau mengizinkanku."
George mengeratkan pegangannya pada tangan Celestine. "Aku tidak akan mengizinkanmu berada di tempat lain, Celestine."
Pesta dansa itu berlanjut hingga larut malam. Di luar istana, rakyat Valley masih berpesta, menyalakan lentera-lentera terbang yang menghiasi langit malam dengan ribuan titik cahaya. Di dalam aula, sang putri dari lembah emas dan ksatria dari puncak es terus berdansa, seolah-olah waktu telah berhenti hanya untuk mereka berdua.
Sejarah Valley memang penuh dengan emas dan alkimia, namun mulai malam ini, legenda yang paling sering diceritakan di pasar-pasar dagang adalah tentang bagaimana es murni dari utara berhasil menemukan kehangatannya di tengah taman mawar yang paling indah di selatan.
"George," panggil Celestine saat tarian terakhir selesai.
"Ya?"
"Aku senang kau ada disini bersamaku."
George menatap pin matahari biru di dadanya, lalu menatap Celestine. "Begitupun dengan adanya dirimu, Celestine."
Mereka berjalan keluar dari lantai dansa menuju balkon istana, meninggalkan keramaian pesta untuk menikmati keheningan malam Valley yang bertabur bintang. Di kejauhan, pegunungan utara tampak tenang, tidak lagi mengancam, melainkan seperti teman lama yang mengucapkan selamat tinggal.