NovelToon NovelToon
"The Chaebol'S Display Wife"

"The Chaebol'S Display Wife"

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cintapertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: nia nuraeni

​Cerita ini berpusat pada seorang wanita yang terjebak dalam pernikahan kontrak atau "pernikahan pajangan" dengan pewaris takhta perusahaan besar (Chaebol). Peran utamanya adalah menjadi pendamping sempurna di acara publik, namun di balik layar, hubungan mereka mungkin dingin atau penuh benci.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nia nuraeni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34: Di Balik Pintu Kamar

​Suasana Mansion Jacob malam itu terasa lebih dingin dari biasanya. Begitu langkah kaki Vanya dan Devan melewati ambang pintu utama, suara melengking Ibu Olivia langsung menyambut, memecah kesunyian ruang tengah yang megah namun hampa.

​"Vanya! Ibu mau bicara!" seru Olivia sambil berdiri dari sofa mahalnya.

​Vanya tidak menoleh. Langkah kakinya terus menapak tangga satu per satu dengan punggung yang kaku. Hatinya masih terlalu perih untuk menghadapi drama baru di rumah ini.

​"Vanya! Kamu tuli?!" teriak Olivia lagi, suaranya naik satu okta. "Vanya, berhenti!"

​Vanya menghentikan langkahnya di anak tangga ke-sepuluh. Ia baru saja hendak memutar tubuhnya untuk menjawab, namun sebuah bayangan besar tiba-tiba menghalangi pandangannya. Devan melangkah maju, berdiri tegak di depan Vanya, menatap ibunya dengan tatapan yang belum pernah Olivia lihat sebelumnya.

​"Jangan ganggu istriku!" teriak Devan tegas.

​Olivia tertegun. Ia terpaku melihat anak laki-laki yang biasanya selalu manja dan menurut padanya kini berani membentak demi membela menantu yang ia benci. Tanpa menunggu balasan ibunya, Devan merangkul bahu Vanya dengan protektif, membimbingnya naik menuju kamar mereka.

​"Dasar anak sama menantu sama saja! Gak tahu diuntung kalian!" teriak Olivia frustrasi di bawah sana. "Aku benar-benar muak dengan mereka!"

​Karlo, yang baru keluar dari ruang kerja dan melihat situasi memanas, segera menghampiri ibunya. "Sudah Mah, biarkan saja.Ucap Karlo sambil membawa ibunya menjauh, meski matanya menatap punggung Devan dengan sorot penuh selidik.

​Di dalam kamar, kesunyian segera menyelimuti. Vanya berjalan menuju kamar mandi tanpa sepatah kata pun. Devan hanya bisa menatap pintu yang tertutup itu dengan perasaan campur aduk. Ia tahu, apa yang terjadi di rumah Benjamin tadi telah menghancurkan harga diri Vanya sebagai seorang anak.

​Setelah membersihkan diri, Vanya keluar dengan piyama satinnya, duduk terdiam di sisi ranjang sambil mengeringkan rambut. Matanya kosong. Sementara itu, Devan terlihat sibuk memindahkan bantal dan selimutnya menuju sofa di pojok kamar.

​"Kamu mau meninggalkan aku lagi?" tanya Vanya tiba-tiba. Suaranya serak, hampir menyerupai bisikan.

​Devan menghentikan gerakannya. "Bukan... aku cuma nggak mau mengganggumu. Aku tidur di kamar sebelah saja kalau kamu butuh ruang."

​Vanya tersenyum tipis, senyuman yang penuh dengan kepahitan. "Kamu memang nggak pernah berubah, Devan. Selalu meninggalkanku."

​Kata-kata itu menghujam jantung Devan. Tanpa banyak bicara, Vanya naik ke atas kasur, menarik selimut, dan tidur membelakangi sisi kosong di sampingnya. Melihat itu, Devan segera melempar kembali bantalnya ke atas kasur.

​"Baiklah, rupanya istriku ingin aku temani," ucap Devan. Ia meloncat ke kasur, berbaring tepat di belakang Vanya.

​Tangannya bergerak ragu, lalu perlahan melingkar di pinggang Vanya, memeluknya dari belakang.

​PLAK!

​Vanya memukul tangan Devan dengan pelan. "Tidur dengan tenang, Devan. Jangan macam-macam."

​"Baiklah, baiklah," sahut Devan, namun ia tetap tidak melepaskan pelukannya sepenuhnya. Ia hanya memberikan sedikit ruang agar Vanya bisa bernapas.

​Keheningan kembali melanda selama beberapa menit, sampai Vanya kembali bersuara. "Devan... tadi kamu dengar semuanya di rumah Papah?"

​"Tentu," jawab Devan yang menatap punggung istrinya itu."

​"Kamu marah?"

​Devan menghela napas panjang. "Buat apa marah? Apa yang dikatakan Papa dan Mamamu itu benar. Aku memang pria yang tidak berguna. Aku menghamburkan uang, aku menyia-nyiakanmu, aku bahkan tidak tahu cara menjalankan perusahaan dengan benar."

​"Maaf, Devan. Harusnya mereka tidak bicara sekasar itu padamu," gumam Vanya.

​"Kamu nggak perlu minta maaf, Vanya. Di sini aku yang salah. Karena itu..." Devan sedikit menggeser tubuhnya agar bisa menatap punggung Vanya lebih dekat. "Karena itu, kamu mau kan kasih aku satu kesempatan lagi untuk memperbaiki semuanya? Aku akan benar-benar memperbaiki perusahaan... dan pernikahan kita. Jadi mohon bersabar sebentar saja."

​Vanya terdiam cukup lama. Pertanyaan yang menghantui pikiran devan akhirnya keluar. "Apa kamu akan ikuti kemauan orang tuamu untuk menceraikanku vanya?"

​vanya terdiam. Ia menahan napas sejenak. "Kita lihat nanti seberapa baik kamu gunakan kesempatan ini," lanjut Vanya sebelum Devan sempat menjawab. "Sekarang tidur dulu. Besok kita ada klien penting.

​Lampu kamar dimatikan. Suasana menjadi sangat hening. Namun, mata Devan tidak bisa terpejam. Ia merasa adrenalinnya masih terpacu.

​"Zzzzzzz..." Devan mencoba berpura-pura tidur, namun gagal.

​"Vanya?" panggilnya pelan. "Vanya? Kamu tidur?" nada lembut

​Tidak ada jawaban.

​"Vanya?" teriak

​"Tidur, Devan," ucap Vanya tegas dari balik selimut.

​Devan justru mendekat, ia mengangkat kepalanya sedikit, menatap wajah Vanya yang terpejam dari arah samping. "Ada apa lagi?" tanya Vanya tanpa membuka mata.

​"Matamu tidur, tapi kamu tahu aku menatapmu," goda Devan.

​Vanya membuka matanya, memberikan lirikan tajam pada devan.

​"Vanya... buat malam ini saja, boleh tidur sambil peluk kamu gak?" tanya Devan dengan nada manja yang kumat.

​"Tidak," ucap Vanya singkat.

​"Pikir dulu, jangan langsung jawab 'tidak' begitu," protes Devan.

​"TETAP TIDAK," tegas Vanya.

​Devan menghela napas frustrasi. "Hah, menyebalkan!"

​Ia meraih guling panjang di antara mereka, memeluknya dengan erat seolah guling itu adalah musuhnya. Devan mulai bicara pada guling itu dengan suara yang sengaja dikeraskan agar Vanya mendengar.

​"Sini guling, biar kupeluk. Nasibku menyedihkan sekali. Meluk kamu sama saja kayak meluk istriku, sama-sama kaku!" gumam Devan seperti orang stres.

​"DEVAN!" teriak Vanya, melempar bantal kecil ke arah wajah suaminya.

​Devan segera memejamkan mata, pura-pura tidur dengan mendengkur halus yang dibuat-buat. Di balik kegelapan kamar, Vanya yang tadinya merasa sangat hancur, tanpa sadar menarik sudut bibirnya. Ia tersenyum kecil. Ternyata, ketantruman Devan malam ini adalah obat terbaik untuk luka yang ditinggalkan orang tuanya.

​Vanya memejamkan mata dengan perasaan yang sedikit lebih ringan, membiarkan suaminya "bertempur" dengan guling sepanjang malam.

1
Dian Fitriana
update
Mudahlia Fitha
kok merinding ya
Mudahlia Fitha
😭😭😭🤧🤧kok sedih papa kyak menyimpan luka
Mudahlia Fitha
jgn mau ...biar aja mereka bangkrut
Mudahlia Fitha
hih kok pngen nonjok keluarga GK tau malu itu
Mudahlia Fitha
mantap saat nya bangkit van .kau bukan sampah ..
Mudahlia Fitha
kya harta namun miskin kebahagiaan buat apa coba
Mudahlia Fitha
kok Mlah AQ yg greget ah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!