NovelToon NovelToon
Mencintai Badai

Mencintai Badai

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Crazy Rich/Konglomerat / Balas Dendam
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: Anissah

Menyandang status janda di usia muda, bukan hanya sekali, tapi tiga kali. Membuatku membangun benteng pertahanan yang angker.

Bagiku, laki-laki hanyalah makhluk lemah yang datang untuk memanfaatkan atau meninggalkanku. Keangkuhan itu menjadi perisai utamaku.

Sampai hari itu, ketika ego tinggiku berhadapan dengan mas Barraq, seorang pemuda keturunan berada yang dengan berani mengutarakan ketulusannya padaku.

Dengan lidahku yang tajam, kulontarkan kalimat-kalimat penuh racun yang meremukkan harga dirinya. Aku menghakiminya seolah dia tidak punya hak untuk mencintai wanita berpengalaman sepertiku.

Dadaku sesak oleh rasa bersalah yang teramat sangat. Di tangan pemuda yang dulu kuanggap remeh inilah, titik balik hidupku terpampang nyata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anissah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Eps 12. Bercengkrama di gazebo

Aku mengenalinya, itu suaminya ibu Nala.

“Aku ada kerjaan sama Dea, Yah,” elak mas Barraq dengan asap rokok tembakaunya.

Ia tidak suka dengan rokok elektrik masa kini.

Aku masih kaku di dekat motornya, meski ia sudah berjalan ke arah gazebo yang ada di halaman rumah ini. Aku menyadari jika suaminya ibu Nala itu tengah memperhatikanku dari jauh.

“Di teras aja, Nak,” pintanya lembut.

Apa aku tidak salah dengar, selembut itu suaminya ibu Nala ini berbicara pada mas Barraq? Mana ia dipanggil ‘nak’ lagi.

“Nggak mau ah, nanti Ayah ganggu,” sahut mas Barraq dengan nada manja.

Aku tidak menyangka dengan dirinya

“Ya udah berarti Ayah yang ke situ,” balas suaminya ibu Nala dengan memakai sandalnya.

“Duduk di situ, Dea,” pinta suaminya ibu Nala yang belum aku ketahui namanya.

“Kakek, aku tak berani antar sendiri,” rengek gadis kecil tadi yang keluar lagi dari dalam rumah.

“Kakek tunggu di pagar ya?” Suaminya ibu Nala mengusap-usap kepala anak kecil itu.

Sedangkan aku melangkah ragu ke gazebo yang memiliki lampu yang cukup terang. Jika diperhatikan lebih seksama, gazebo ini memiliki lampu taman dan lampu variasi, hanya saja tidak dinyalakan.

“Kek orang pacaran aja, Mas. Aku jangan dibawa ke rumah harusnya, malu loh,” akuku jujur.

Rumah sebesar ini berapa kepala ya di dalamnya?

“Mas mana berani pacaran pake seterang ini lampunya,” timpalnya dengan terkekeh geli. “Kan kita mau makan sate di sini,” lanjutnya kemudian.

Benar, ia membeli sate tadi. Entah jenis sate apa, tapi aku kurang suka bumbu kacang.

“Udah sana masuk, main sama nenek,” ucap suaminya ibu Nala, diikuti gerakan lari anak kecil tersebut.

“Kau kalau mau balik besok tak apa, Dea. Laporannya malam ini aja diselesaikan,” ungkap suaminya ibu Nala dengan duduk di dekat anaknya itu, mas Barraq.

Eh, cucunya.

“Maaf, Pak. Saya baru kali ini hadiri rapat tahunan. Laporan seperti apa ya, Pak?” Aku gugup, boro-boro ingin melanjutkan makan jajananku di sini.

“Annual report tuh,” jawab mas Barraq yang tengah asyik dengan satenya.

Ia makan sate tanpa lauk.

“Itu sih tugas aku, Yah. Paling nanti Dea cuma hadir sama bantu aku presentasi aja,” lanjutnya dengan menggeser satenya ke dekat kakeknya itu.

Aku tahu suaminya ibu Nala ini kakeknya mas Barraq. Tapi tetep mas Barraq memanggilnya ‘ayah’.

“Tak juga, Ayah mau Dea kasih perkembangan coffee shop yang dia pegang itu. Kau memang owner-nya, kalau secara keseluruhan. Tapi Dea bisa disebut owner untuk area Pulau Jawa, dia ketuanya di sana. Kan gitu bahasa yang gampang dimengertinya,” jelas suaminya ibu Nala dengan mengambil satu t***k sate.

“Ohh, iya-iya.” Aku mulai sedikit paham.

Maaf ya, karena memang pendidikanku tidak setara untuk posisi ini. Karena memang beruntung saja.

“Sudah ada kok, Pak. Sudah Saya siapkan,” sahutku kemudian.

“Yang sampai detik sebelum kau ke sini aja, soalnya kata Barraq kemarin kau ada jalin kerja sama,” ujarnya dengan melihat ke arahku.

Mereka santai sekali, aku yang canggung dan kaku menghadapinya. Berulang kali mengatur napasku pun, aku tak bisa biasa saja berhadapan dengan orang-orang hebat itu.

Namun, aku malah gagal fokus melihat lengan kiri kakeknya mas Barraq ini. Ya Tuhan, benarkah yang aku lihat itu? Ada tato di sana, dari lengan bawah sampai ke lehernya.

Saat menjemputku di bandara beliau memakai jaket, jadi hanya terlihat sedikit di bagian leher saja. Tapi kali ini aku melihat dengan jelas dan dari dekat, bahwa tato itu ada dari lengan kirinya. Entah di bagian mana lagi tato itu berada.

Sudah bisa dipastikan, bahwa memang dari atasnya sudah ada titisan bajingannya.

“Kau tengok apa?” tanyanya yang membuatku terhenyak kaget.

Logat sini memang suka mengagetkan ya? Kan aku jadi malu ditertawakan mas Barraq.

“Awas, Yah. Dia otak m***m, gampang basah dia,” celetuk mas Barraq yang membuatnya dipelototi oleh kakeknya itu.

Itu lawakan yang lumrah di pergaulan kami, tapi kan tidak di depan orang tua juga. Mana beliau orang penting lagi.

Aduh…

“Nggak, Pak. Bercanda aja memang mulutnya itu,” elakku cepat.

Suaminya ibu Nala melirik ke arah cucunya dengan senyum miring. “Kesukaan kita itu,” bisiknya yang mampu kudengar.

Lihatnya, kakek dan cucu itu malah tertawa lepas di depanku.

“Panggil ‘ayah’ aja, De. Canggung sekali ‘pak’, kek di depan karyawan lain aja,” ujar mas Barraq dengan menyodorkan sate ke arahku.

Untuk mencairkan suasana, aku mengambil satu t***k saja. Lebih baik, aku menggunakan bahasa yang lebih rileks saja di sini. Agar aku tidak merasa tidak nyaman seperti ini. Aku mencoba membuatku nyaman dan bisa berbaur di sini.

“Siang tadi aku ketemu tiga orang yang mukanya mirip banget sama Ayah,” ungkapku dengan menaruh t***k sate di tumpukan yang sama.

“Ohh, Ayah kembar lima,” aku ayah dengan menyebut dirinya juga ‘ayah’. “Berarti sama satu lagi belum ketemu ya?” lanjutnya dengan menggeser beberapa air mineral kemasan gelas yang memang sudah ada di gazebo ini.

“Kembar lima tatoan semua?” tanyaku menyesal. Kenapa menyesal? Karena aku sudah kelewatan menurutku.

Namun, mereka malah cekikikan berdua.

“Tak, keluarga kecil Ayah aja. Ada tiga generasi bertato,” ujarnya geli.

Beliau masih tertawa saja.

“Ayah, paman Mas, sama Mas.” Mas Barraq menekuk satu persatu jarinya.

“Kalau tiga generasi, berarti aku dihitung cucu ya, Yah?” lanjut mas Barraq yang mendapatan jitakan dari laki-laki yang dipanggilnya ‘ayah’ itu.

“Kirim laporannya ke email Ayah ya, De? Ayah mau cek dulu laporannya, nanti ke sini lagi. Kau jangan dulu balik. Biar kau bisa balik lebih awal, atau nanti kalau tak balik, kau bisa hadiri rapat tanpa presentasi. Biar tak nambah beban di pikiran kau gitu, biar kau tak merasa jadi perempuan paling lelah, paling tersakiti, paling sibuk, paling tidak bisa dimengerti,” tuturnya setengah meledek menurutku, dengan melangkah pergi dengan masih mengunyah sate yang terakhir diambilnya.

“Coba Mas cek dulu. Kirim aja ke email Mas, nanti baru dikirim ke email ayah. Mas udah kirim di email ayah lewat email Mas,” jelasnya dengan berpindah duduk di sebelahku.

Lampu terang pun ia berani mendekatiku. Eh, kan ia juga bilang kalau pacaran tak berani. Kan sekarang memang tidak sedang berpacaran.

Uhmm, wangi ini. Sejak di perjalanan pun, aku menghirup dalam-dalam aroma wewangiannya.

Menenangkan.

Aku merasa terlindungi, merasa aman, merasa ada yang menjaga dan merasa tidak sendirian karena aroma itu. Mungkin, lebih tepatnya karena pemilik wangi itu.

Tiba-tiba, ia menempatkan satu tangannya di punggungku.

1
Rini qi
kayaknya perasaan dea sama deh kek aq, deg-degan & penasaran apa ini yang terjadi selanjutnya
Miss F
kayaknya mau ad sesi tanya jawab ttg kelonan smlm tu de...🤣🤣🤣
Fitri Ristina
rer the best pokoknya...ga pernah bosan dengan cerita keluarga mamah dinda
Batriani
tak sanggup ku berkata kata ingin mencela takut kualat pula aku ... jaga diri aja kau ya de' . dr awal udah kata urus cerai kau..... ya sudah lah ikutin aja kisah kau ama siberraq itu......
Rini qi: jgn anggap remeh dea...
total 1 replies
Christine
hahahaha itu jagung Afika dea....
Christine
astaga....rasanya gmna itu goyang sambil tlpn ora konsen ak mas
Miss F
urs de ceraimu
barrack jgn blg kamu badboy,,kyk mantan pcrnya adiknya canda,,ceria skalane😠😠
Miss F
jgn SMP de kamu cm dicicipi barrack tok tp g dtanggung jwbi...
Batriani
pak suami mana pak suami.... permainan apa ini, geli2 basah.....🤭
Miss F
KLO BNR garis 2 nangis loe de dipojokan🤣🤣🤣
Christine: 🤭🤭🤭🤭👍👍👍
total 3 replies
Christine
aku kok ikut menegang de
Christine
jangan.....ihhh ak mlh berdoa jgn ada yg dtng takut ihh tetiba digrebek ...
Rini qi
🫣
Fitri Ristina
suami mana suami...
Miss F
abis baca sidea koq JD cenat cenut🤣🤣🤣
Christine: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 kesetrum say
total 1 replies
Miss F
de,,kamu dminta baik2 dksh status gakk mau malah milih yg haram😞
Christine
hahahaha serang balik de dibilangin kelamaan klu nungguin dia
Miss F
yg minum mas barrack ehhh authornya yg kena pngaruh alkohol jg JD mabok🤣🤣
Miss F
tak ingat kau de pesan ayah wiya n ayah bara😞
Batriani
wah...😟. jebol pertahanan nya...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!