Rhea , agen elit berkode sandya 01 , mati ditikam 13 kali oleh seorang CEO dari perusahaan Long Corp di misi terakhirnya.
Saat membuka mata, dia justru terbangun di tubuh wanita gendut 120 kg bernama Rhea juga. Istri yang dibenci, dibuang ke sebuah gudang oleh Rey Long, dan akan dibunuh malam ini demi wanita simpanannya .
Semua mengira Rhea Long bodoh dan lemah. Mereka salah besar. Karena ' istri gendut ' bisa membunuh dengan pulpen, punya IQ 180, dan baru menyusun rencana untuk meruntuhkan Long Corp dari dalam .
Tapi Rey Long tidak tahu , malam ini dia bukan membunuh Istrinya. Dia justru membangunkan pembunuhnya .
Kira-kira balas dendam apa yang pertama kali dilakukan Sandya 01 pada suami pembunuh yang tidak tahun siapa dia hadapi ?
Yang penasaran dengan ceritanya ikuti dari awal hingga akhir ya Guyss 🙏 😊 🤗 🥰
Happy Reading 📝
.
.
.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kasmawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 03
Api menjilat bangkai mobil jenazah di dasar _Tebing Longji_. Asap hitam membumbung, menutupi cahaya bulan. Bau daging terbakar dan bensin bercampur jadi satu. Dari jauh, terdengar sirine polisi dan ambulans meraung pecah malam, mengoyak sunyinya Sungai Huangpu.
Rhea tergeletak 15 meter dari mobil. Tubuh 120 kg-nya remuk. Darah mengalir dari pelipis, bahu, dan paha, merembes ke tanah kering. Linggis masih digenggamnya, ujungnya berlumur darah dan otak.
Sakit. Perih. Tulang rusuknya serasa ditusuk dari dalam setiap kali bernapas. Tapi Sandya 01 tersenyum. Senyum miring yang sama seperti waktu dia menghancurkan markas kartel di Tijuana 5 tahun lalu.
_Satu... Dua... Tiga..._
Suara langkah kaki berlari mendekat. Sorot senter menyilaukan matanya.
"Hei! Ada korban selamat di sini!" teriak seorang petugas medis, suaranya tercekat.
"Astaga, badannya... apa dia masih hidup? Badannya gosong sebelah!" suara lain terdengar panik.
Rhea memaksa matanya terbuka sedikit. Menatap wajah-wajah asing dengan seragam biru dongker bertuliskan _Shanghai Ruijin Hospital_. Bagus. Sesuai rencana. Dia sengaja lempar tubuhnya ke semak ini, bukan kebakar sama mobil. Biar ditemukan.
"Sa... saya... Rhea... Long..." suaranya serak, nyaris tak terdengar. Bibirnya gemetar. "Suami... saya... Rey... Long..."
Mata petugas medis itu membulat. Dia saling pandang sama rekannya. Istri CEO Long Corp? Korban kecelakaan tunggal?
"CEPAT! BAWA TANDU! KODE MERAH! HUBUNGI KEPOLISIAN SHANGHAI! INI ISTRI TUAN REY LONG!"
_12 JAM KEMUDIAN. ICU SHANGHAI RUIJIN HOSPITAL. LANTAI 19._
Bip... Bip... Bip...
Ruangan serba putih. Bau disinfektan menusuk hidung sampai ke otak. Selang oksigen melingkar di wajah Rhea yang bengkak. Infus menetes di tangan kanannya yang patah dan digips. Monitor jantung di samping ranjang menunjukkan detak yang lemah: 55 bpm.
Di luar pintu kaca, 4 bodyguard Long Corp berjaga. Wajah mereka kaku. Di koridor, wartawan sudah mulai berkumpul. Berita "Istri CEO Long Corp Kecelakaan Tunggal di Tebing Longji" sudah jadi trending #1 Weibo.
Pintu dibuka paksa. BRAK!
Rey Long masuk dengan wajah panik yang... dibuat-buat. Rambutnya acak-acakan, jas Armani-nya kusut. Akting kelas Oscar. Di belakangnya Selina, setia menempel memakai dress Chanel putih yang kekecilan. Air mata buayanya deras banget, maskara luntur sampai ke pipi.
"Rhea! Ya Tuhan, Rhea!" Rey menghambur ke ranjang, menggenggam tangan Rhea yang dingin dan lebam. "Sayang, kamu kuat... kamu harus bertahan... demi aku... demi perusahaan..."
Rhea membuka mata perlahan. Mendelik. Kosong. Seperti orang linglung habis ketabrak truk. Lalu air mata mengalir di pipi tembemnya yang luka.
"Su... suamiku..." suaranya lemah, gemetar, dibuat sengau. "Aku... takut... mati... gelap... panas..."
Selina pura-pura sesenggukan, menempel di lengan Rey. "Kak Rhea, kami khawatir banget. Untung kamu selamat, Kak... Tuhan masih sayang sama Kakak..."
_Sayang? Sayang kepala kamu peang._ Rhea ingin muntah mendengarnya. Tapi dia cuma bisa meremas selimut.
Rey mengelus rambut Rhea yang lengket darah, tapi matanya dingin. Dia menatap Dokter Zhang yang dari tadi diam di pojok. "Bagaimana kondisi istri saya, Sus? Dia bisa bicara lagi kan? Bisa ingat kejadian?"
Dokter Zhang, pria 50 tahunan dengan kacamata tebal, menggeleng pelan. "Tuan Rey, Nyonya Long mengalami gegar otak ringan, patah tulang rusuk 3, paha kiri retak, luka bakar derajat dua di 15% tubuh, dan... trauma psikis berat. Amnesia disosiatif kemungkinan besar terjadi. Tapi keajaiban, dia selamat dari ledakan itu. Tuhan masih melindungi."
_Keajaiban?_ Rhea mendengus dalam hati. _Ini namanya skill, Dok. Skill bertahan hidup dari neraka. Kamu pikir ledakan mobil doang bisa bunuh Sandya 01?_
"Polisi bilang ini kecelakaan tunggal," lanjut Dokter Zhang sambil membaca laporan di tablet. "Dua pengawal Tuan tewas terpanggang. Dari rekaman dashcam yang selamat, rem blong, mobil masuk jurang jam 02:17 dini hari. Tidak ada tanda sabotase."
Rey menunduk, rahangnya mengeras sampai ototnya keliatan. "Dua orang bodoh itu... kenapa bawa Rhea lewat Tebing Longji tengah malam? Padahal SOP-nya buang di Sungai Huangpu."
_Karena kamu yang nyuruh ganti rencana lewat telepon, bajingan. Kamu pikir aku nggak denger pas kamu bisik-bisik di toilet pas nikahan kita dulu?_ Rhea menahan senyum. Dia malah meremas tangan Rey lemah, kuku patahnya sengaja menggores kulit Rey.
"Aku... aku mimpi..." bisik Rhea, matanya nanar ke langit-langit. "Aku mimpi... ada yang... cekik aku... di mobil... terus... bakar... panas... PRANKKK..."
Kalimat terakhir bikin tubuh Rey menegang seperti disetrum 10.000 volt. Selina langsung pucat, pegangannya ke Rey lepas.
"PRANK...?" Rey memaksakan senyum. "Mimpi, Sayang. Cuma mimpi buruk karena trauma. Kamu istirahat ya. Suamimu di sini. Nggak akan ada yang berani nyentuh kamu lagi."
Setelah Rey dan Selina pergi dengan alasan "urus pemakaman pengawal dan klarifikasi ke media", ruangan ICU kembali sepi. Hanya suara bip monitor.
Rhea langsung membuka matanya. Tatapan kosong, linglung, cengengnya hilang. Diganti sorot tajam Sandya 01. Sorot yang bikin jenderal musuh kencing di celana.
Dia melirik CCTV di sudut ruangan. Lampu merahnya _mati_. Dia sudah hack dari 3 jam lalu memakai ponsel perawat yang dia colong pas dipindahin dari UGD ke ICU. Pake teknik _USB Rubber Ducky_ yang dia selipkan di gips tangannya. Polisi Shanghai? Sistem RS? Lewat.
Tangan kirinya yang "lemah" dan "patah" mulai bergerak lincah. Mencabut infus pelan-pelan. Tidak ada darah. Dia sudah menyumbat lukanya memekai _quick clot_ darurat yang dia bikin dari bubuk kopi dan perban di mobil tadi.
_Baru beberapa jam di tubuh gendut ini, tapi sialan... Berat banget. Untung otak Sandya 01 masih setajam pisau._
Pintu dibuka lagi. Seorang suster muda, sekitar umur 23 tahun, masuk membawa nampan obat. Wajahnya terlihat lelah, matanya sembab.
"Nyonya Long, waktunya minum obat anti-nyeri dan..."
Kalimatnya terputus. Nampan di tangannya hampir jatuh. Karena "pasien koma trauma berat" di depannya sekarang duduk tegak di ranjang. Selang oksigen sudah dicopot. Infus dicabut. Gips di tangan kanannya... ternyata cuma manekin. Tangan aslinya bebas, meski memar.
Mata Rhea menatap suster itu. Dingin. Mematikan. Sorot mata yang sama waktu dia menginterogasi pengkhianat di kesatuannya.
"Ssst..." Rhea menempelkan jari telunjuk di bibirnya yang pecah dan berdarah. "Kalau kamu teriak, aku patahin lehermu dalam 3 detik. Carotid artery, C2. Paham?"
Suster itu pucat seperti mayat, mengangguk kaku. Nampan jatuh. PRANG! Obat berhamburan.
"Bagus. Pinter." Rhea menyeringai. Tubuh 120 kg-nya turun dari ranjang dengan gerakan yang... mustahil untuk orang sekarat. Dia sengaja membuat lututnya bunyi KREK biar suster itu semakin takut. "Sekarang, aku mau kamu lakukan sesuatu buat aku, Sayang. Kalau beres, kamu bisa pulang ketemu anakmu yang umur 2 tahun itu. Aku lihat fotonya di lanyard kamu."
Suster itu menangis tanpa suara. "A-apa... Nyonya..."
_1 JAM KEMUDIAN. KANTOR CEO LONG CORP, LANTAI 88._
Rey membanting gelas kristal berisi Macallan 25 tahun. PRANG! Cairan mahal itu membasahi karpet Persia.
"BODOH! BODOH SEMUA!" Dia mencengkeram kerah Asisten Kim sampai asistennya itu tercekik. "Bagaimana bisa dia selamat?! Aku mau dia MATI! GOSONG! JADI ABU! Biar warisannya 100% ke aku!"
"Tuan... Tuan tenang... ini kecelakaan... polisi juga sudah tutup kasus..." Asisten Kim megap-megap. "Media juga bilang Nyonya amnesia..."
"KECELAKAAN KEPALA KAMU!" Rey menampar Asisten Kim sampai jatuh. "Dua pengawalku mati, mobilku hancur, tapi babi gendut itu selamat?! Dia pasti pura-pura! Dia tau aku yang nyuruh! Dia denger waktu aku telepon!"
Selina yang dari tadi diam di sofa, akhirnya buka suara. Tangannya gemetar memegang gelas. "Rey... gimana kalau... gimana kalau dia emang nggak amnesia? Gimana kalau dia inget kita... kita yang..."
"DIAM!" Rey menunjuk Selina. "Kamu jangan bikin aku tambah stres! Urus aja launching produk baru kamu! Biarin aku yang beresin sampah itu!"
HP Rey bergetar di meja. Nomor tak dikenal. +86... Video call.
Rey angkat dengan kasar, napasnya memburu. "HALO?! SIAPA INI?!"
Layar menampilkan ruangan ICU yang tadi. Tapi ranjangnya kosong. Selimut acak-acakan. Di kursi tunggu pasien, Rhea duduk. Tubuh 120 kg-nya dibalut selimut pasien biru. Wajahnya babak belur, mata kiri bengkak, bibir pecah. Tapi... dia tersenyum.
Senyum yang sama persis seperti pas dia bilang "PRANKKK" di mobil sebelum membunuh anak buahnya.
"Hai, Suamiku," sapa Rhea. Suaranya serak tapi jelas. Jelas banget. Tidak ada kesan trauma. " aku kangen ? Kok nggak jenguk lagi? Apa takut?"
Darah Rey berdesir dingin dari kaki sampai kepala. HP-nya hampir jatuh. "KAMU... BAGAIMANA BISA... KAMU KATANYA KRITIS..."
"Ssst." Rhea menirukan gayanya ke suster tadi, jari telunjuk di depan bibir. "Aku cuma mau bilang makasih ya. Berkat kamu, berkat Selina, berkat 3 tahun siksaan kalian... Rhea Long yang gendut, lemah, cengeng, bego... Sudah mati tadi malam. Kebakar sama mobil. Kasian."
Rey gemetar. Keringat dingin menetes dari pelipisnya. "Kamu... kamu siapa... kamu bukan Rhea..."
Rhea mendekatkan wajah ke kamera. Matanya menyala, bukan karena luka. Tapi karena dendam 3 tahun + 1 nyawa Sandya 01.
"Aku?" Bisiknya, suaranya terdengar seperti dari dasar jurang. "Aku Sandya 01. Codename Valkyrie. Agen yang kamu khianati, kamu selingkuhi, dan kamu bunuh 3 tahun lalu, Sayang. Kamu masih ingat? Kamu menikam aku 13 kali, lalu kamu membuang mayatku di Laut Tiongkok Selatan."
Selina menjerit tertahan di belakang Rey. Asisten Kim langsung lemes.
Rhea mengangkat linggis berlumur darah kering ke depan kamera. Linggis yang sama dari mobil, yang ujungnya masih ada serpihan tulang.
"Dan takdir itu lucu ya. Tuhan kirim aku kembali... ke tubuh istri gendut yang kamu bunuh semalam." Rhea ketawa kecil. Gila. " Tapi sekarang... aku kembali... buat menagih nyawa. Satu per satu."
TUUT... TUUT... TUUT...
Video call mati.
Rey menjatuhkan HP-nya ke lantai. Layar retak. Tangannya gemetar hebat sampai tidak bisa memegang gelas. Untuk pertama kali dalam 35 tahun hidupnya, Rey Long, CEO terkaya di Shanghai, Naga dari Timur... merasa takut. Sangat takut. Bukan takut rugi. Tapi takut mati.
"Kim! KIM!" Teriak Rey. "BLOKIR SEMUA AKSES RS! KIRIM 50 ORANG KE RUIJIN! CARI DIA! TEMBAK DI TEMPAT!"
Di layar CCTV rumah sakit yang diretas Asisten Kim, terlihat ranjang ICU 1907 Rhea kosong. Suster pingsan di lantai dengan busa di mulut. Di dinding putih, tertulis dengan darah—entah darah siapa:
_ROUND 1: RHEA 0 - REY 1_
_ROUND 2: MULAI SEKARANG_
_-S01_
Di koridor luar Shanghai Ruijin Hospital, malam makin pekat. Hujan mulai turun di Shanghai. Dan Sandya 01 sudah hilang dari kamar, meninggalkan 120 kg jejak darah... dan teror.
Perang baru saja dimulai. Dan kali ini, Rhea yang memegang pelatuknya.
---
.
.
.
tggal kehidupan yg bahagia ,,
yg akan mereka jalani ,,
nyonya lee udh berdamai dg kesalahan ny ,,
maaf maaf niih Adrian skraaang cuma ad sandraaa di hati mama mu 🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣 ,, jdi ank tiri sebentar gpp x yaaaa ,, 😁😁😁
ad apa siih km kedap kedip truus ,, 😒😒😒
jgn dulu ad kucing garoong yx ,,
baru menikah looo ini ,,
masa mau perang pake gaun pengantin 🤭🤭🤭🤭😁😁😁😁😁
meski d masa lalu mereka jga udh menikah ,,