Pada suatu malam di bulan Mei, hidup Andra hancur dalam satu detik, kecelakaan itu tidak merenggut nyawa istrinya.Tapi merenggut sesuatu yang jauh lebih kejam—seluruh ingatan Meisyah tentang dirinya.
Bagi Mei waktu berhenti di tahun 2020.
Sebelum Andra ada sebelum mereka jatuh cinta, sebelum mereka menikah diam-diam di apartemen kecil yang bahkan keluarganya tidak pernah mengakui.
Sekarang, Andra hanyalah pria asing yang mengaku sebagai suaminya.Dan di dunia yang tidak lagi mengingat mereka,ada satu orang yang justru terasa familiar bagi Meisyah—
Fero.
Pria yang dulu dipilih keluarganya, pria yang seharusnya menjadi masa depan Meisyah… sebelum Andra datang dan mengubah segalanya.
Dipaksa hidup bersama orang yang tidak ia kenal, Mei mencoba memahami dirinya sendiri melalui foto, diary, dan seorang pria yang mencintainya dengan kesabaran yang menyakitkan.
Sementara Andra harus menerima satu kenyataan pahit: Cinta yang pernah mereka bangun mungkin tidak akan pernah kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ddie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cerita Cinta
Malam itu Andra tidak bisa tidur bukan karena kopi—ia bahkan tidak minum satu gelas pun setelah pulang dari panti. Bukan pula karena cuaca—hujan sudah reda sejak dua jam yang lalu, meninggalkan langit Jakarta bersih dan dingin.
Tapi karena sesuatu yang jauh lebih sederhana: layar ponselnya menyala, dan di dalamnya ada satu nama yang belum pernah ia kirimi pesan.
Mei.
Ia membuka chat berkali-kali, mengetik, menghapus, mengetik lagi. "Halo, Mei. Sudah sampai rumah?" Terlalu formal. "Hujan sudah reda." Terlalu random. "Terima kasih hari ini." Terlalu... tidak jelas untuk apa.
Andra meletakkan ponsel di dada menatap langit-langit kamarnya yang polos. Di seberang dinding, tetangganya mungkin sudah tidur nyenyak mendengar AC berdengung pelan.
Ponsel bergetar, jantungnya berdegup kencang.
[Mei: Sudah sampai, Mas. Kamu?]
Sederhana. Tiga kata dan satu tanda baca. Tapi Andra tersenyum seperti orang bodoh di kamar gelap.
[Andra: Baru saja mau tidur. Tapi... belum bisa.]
Ia menunggu. Satu menit. Dua menit. Lima menit. Andra mulai menyesal—terlalu jujur, terlalu terbuka, terlalu—
[Mei: Kenapa?]
[Andra: Mikirin sesuatu.]
[Mei: Apa?]
Andra menarik napas. Jari-jarinya melayang di atas keyboard. Ia bisa saja berbohong ada "kerjaan" atau "cicilan" atau hal-hal yang biasa dikhawatirkan orang dewasa. Tapi sesuatu didalam dirinya—mungkin keberanian sisa dari sore tadi, atau kebodohan—membuatnya mengetik:
[Andra: Mikirin... kenapa aku nunggu pesan kamu.]Ia menutupi wajah dengan bantal. Stupid. Stupid. Stupid, lebay.
Ponselnya bergetar lagi.
[Mei: ...]
Titik-titik yang bisa berarti apa saja. Andra membacanya berkali-kali. Apakah Mei tersinggung? Bingung? Sedang mengetik panjang lebar untuk menolak dengan halus?
Tapi kemudian:
[Mei: Mei juga.]
Andra membaca ulang memastikan tidak salah lihat. Aku juga, dua kata yang membuka pintu—tidak lebar, hanya sedikit, cukup untuk menyelinap masuk.
[Andra: Jadi... kita sama-sama begadang?]
[Mei: Kayaknya gitu.]
Andra tersenyum.
Mereka berbincang lewat chat sampai larut apa saja —tentang makanan favorit, Mei suka bakso, Andra suka soto, pilihan lagu yang sama, playlist jazz.
[ Andra : kenapa Mei memilih panti itu? ]
[Mei: "Karena anak-anak tidak peduli siapa kita, Mas. Mereka hanya peduli kita datang, menyapa, menyayangi ]
Andra terdiam, baru pertama kali ia melihat seorang gadis muda seharus nya menikmati hidup tapi lebih suka di kehidupan sosial tanpa benefit.
[ Andra : "Mas senang mendengar nya mei, ini yang membuat mas bangga" ]
[Mei: " Mas juga." ]
[ Andra : "Tapi mas baru, kamu sudah bertahun tahun." ]
[Mei: " Baru atau lama tidak menjamin mas, yang penting niat." ]
Sungguh kata kata gadis itu membuat Andra tercenung, ia bersyukur bisa bertemu, berkenalan dengan seseorang berhati mulia.
---
Pagi berikutnya, Andra bangun dengan ponsel masih di tangan. Layar sudah mati, baterai habis, tapi senyumnya masih ada—kaku dan aneh di wajah biasanya datar saat berangkat kerja.
Di kantor, ia tersenyum tanpa alasan. Rekan kerjanya, Rei, menatap seperti melihat hantu.
"Lu kenapa, Dre?"
"Apa?"
"Dari tadi senyum-senyum sendiri. Dapat bonus ?"
Ia menggeleng, tapi senyumnya tidak juga hilang. "Enggak, cuma... semalam chat sama seseorang."
"Seseorang?" Rei mendekat, matanya berbinar. "Mei?"
Andra tidak menjawab. Itu jawaban yang cukup.
---
Dalam Minggu ini Andra pergi ke panti tiga kali lebih sering dari biasanya. Alasannya selalu sama: membantu. Tapi semua orang tahu, termasuk anak-anak yang berteriak "Om Andra datang!" dengan antusiasme berlebihan, bahwa ada figur lain yang ia cari.
Mei sudah di sana setiap kali ia datang. Duduk di bangku yang sama, membantu anak-anak mengerjakan PR, atau sekadar membaca buku di sudut halaman.
Mereka tidak selalu bicara—kadang hanya saling melihat, tersenyum, lalu kembali ke aktivitas masing-masing.
Tapi jarak itu, dinding kaca yang Andra rasakan minggu lalu, kini lebih tipis ketika ia tertawa kecil mendengar lelucon anak-anak, mata saling bertemu—dinding itu lenyap sama sekali.
Dan tepat nya di Jumat sore, Andra menemukan gadis itu duduk sendiri di bangku kayu. Anak-anak sudah masuk untuk makan malam. Langit masih oranye, sama seperti hari mereka bertukar nomor.
"Mas dari tadi?" tanyanya tanpa menoleh seperti sudah tahu siapa yang akan duduk di sampingnya.
"Iya."
Ia menutup bukunya—novel tebal dengan sampul yang sudah usang. "Mas sering ke sini akhir-akhir ini."
"Bukan sering aja, tapi sudah kayak rumah "
"Kenapa?"
Andra terpaku melihat wajah terpotong cahaya senja. Hidung mancung, bibir tipis, rambut diikat asal tapi tetap rapi, sederhana tidak mencolok membuat matanya tidak mampu berpaling. "Karena aku menunggu sesuatu,"
"Apa?"
"Entah, mungkin... momen."
Ia akhirnya menoleh. Mata—cokelat muda, terlalu jujur untuk dunia "Momen apa, Mas?"
Andra menarik napas. Ini bukan seperti malam itu di chat—di sini ada mata yang melihat, ada udara terasa, ada risiko penolakan nyata dan bisa membuat luka.
Tapi ia juga ingat: bagaimana gadis berparas lembut itu berjalan menjauh di tikungan jalan, berdiri di bawah hujan melihatnya.
" Momen..." Andra berhenti jantungnya berdegup di tenggorokan. " Mas senang bisa bertemu dengan mu Mei, kamu mau bercerita dengan mas, dengan topik sederhana yang mungkin tidak cocok untuk hidupmu."
" Mei tidak suka melihat perbedaan." Ia menghela napas panjang. " Mei sama dengan mas. Tapi ...mengapa memanggil diri mas ? Bukan aku lagi ? "
Andra tertawa, gadis ini begitu polos tanpa sadar ia menyebut dirinya ' Mas' " Boleh kan Mei ? karena mas menghormati dirimu."
" Boleh, malah Mei suka, tapi cerita nya belum kelar lho mas."
" Apa tadi ?"
" Ihh.."
" Oh ya..Mas suka lihat kamu di sini bersama anak anak. Seandainya kamu pergi tidak lagi di panti —Mas pasti akan kehilangan."
Gadis berwajah lembut itu tidak bereaksi apapun, tersenyum, mengernyit, bahkan tidak bergerak.
Hening
"Maaf, Mei, lupakan saja."
"Mas tahu gak kenapa Mei kasih nomor? "
Ia menggeleng pelan.
"Karena malam itu, sebelum Mas minta, Mei juga sudah mau kasih."Ia menatap jemarinya, memutar cincin perak tipis di jari manis— tidak pernah Andra perhatikan sebelumnya. "Mei cuma... menunggu."
Andra membeku. Dunia sekitarnya—panti, anak-anak, langit senja—seperti menjauh, meninggalkan mereka berdua di bangku kayu usang."Jadi...?" tanyanya parau.
Ia tersenyum sedikit malu, dan lega.
"Mei juga senang, melihat Mas membantu, bermain bersama anak anak, dengan kapten."
" Maksudnya ?"
"Mei tidak tahu niat awal mas kemari, tapi setelah sekian waktu, Mei merasa mas orang baik membantu tanpa pamrih."
" Kamu memuji berlebihan, Mei."
" Gak ..tapi bisa jadi karena Mei ? " Ia tertawa lepas
Muka Andra bersemu merah seperti tomat panggang
---
Angin sore lewat membawa bau hujan yang akan datang. Di kejauhan, seorang ibu panti memanggil nama mereka berdua —tapi tidak ada yang bergerak, belum."
"Mei," Andra berbisik, nama itu terasa baru di bibirnya meski sudah sering dipikirkan.
"Ya?"
"Apa kita... sedang menuju ke sesuatu?"
Ia tidak menjawab langsung berdiri, merapikan roknya, wajahnya berkaca-kaca." Mei tidak tahu, Mas," katanya jujur. "Mei punya... hal yang rumit di rumah, di masa lalu yang tak mungkin untuk di ceritakan."
Andra mengangguk. Ia ingat wanita paruh baya dengan tas branded. Ia ingat "orang rumah." bagaimana Mei menutup pintu sebelum terbuka. "Tidak apa-apa, Mei, Mas tidak buru-buru."
"Mas baik terlalu baik mungkin."
"Bukan baik, Mei, cuma... mas mau nunggu."
Mereka berdiri berhadapan beberapa langkah, tapi terasa seperti jurang yang bisa meluas atau menyempit, tergantung siapa yang berani melangkah lebih dulu.
Dan gadis itu melangkah satu langkah, cukup untuk membuat jarak di antara mereka setengah meter, mencium wangi parfum—vanila dan sesuatu yang lebih hangat, kayu bakar di musim hujan.
"Mas," bisiknya, suaranya hampir tidak terdengar. "Mei tidak bisa berjanji apa-apa, tapi..." Ia berhenti menarik napas. "Mei mau coba kalau Mas mau juga."
Andra tidak memikirkan jawabannya hanya mengangguk—keras, yakin, seperti orang yang menemukan air di padang tandus.
"Mau," katanya. "Mas mau."
Hujan mulai turun lagi. Rintik pertama jatuh di bahu mereka tanpa izin
"Mas tidak bawa payung."
"Enggak."
"Terus gimana?"
"Kita basah bareng. Atau lari ke warung kopi di pojok. Mas traktir."
Gadis itu tersenyum seperti melihat sesuatu yang tidak pernah ia duga ia temukan di panti asuhan berdebu ini, sederhana tapi nyata. "Oke, Tapi Mei yang traktir balik minggu depan."
"Gak usah."
"Mei janji."
Mereka berlari kecil di bawah hujan, bahu hampir bersentuhan tapi tidak benar-benar. Tawa gadis itu terdengar di antara gemuruh langit, dan Andra—untuk pertama kali dalam hidupnya punya warna.
Di pojokan kopi yang remang-remang, dua cangkir hangat di depan mereka, ini bukan cinta hanya langkah kecil—menuju sesuatu yang mungkin saja, bisa menjadi cinta.
Tapi untuk sekarang, cukup.
Cukup untuk Mei yang duduk di seberang meja, rambut basah menempel di pipi, mata terlihat tenang.
Cukup untuk Andra akhirnya tidak merasa sendirian di kota besar ini.