NovelToon NovelToon
Permainan Panas Dibalik Kasus Gelap

Permainan Panas Dibalik Kasus Gelap

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir / Bad Boy
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Azura Cimory

Demi uang sepuluh milyar, Sean Yuritama rela bekerja sama dengan Christaly Jane untuk menemukan anak dari seorang miliarder yang telah lama menghilang. Jika bukan demi melunasi hutang-hutangnya, detektif swasta berparas tampan itu tidak akan sudi bekerja sama dengan gadis cerewet dengan segudang masalah. Sehingga mereka terlibat perdebatan hampir setiap waktu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azura Cimory, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tuan Muda Alexander

Pukul tujul lebih tiga puluh menit, utusan dari klien Sean datang membawa semua keperluan Sean selama dia berada di Malang. Termasuk uang tambahan, beberapa dokumen berisi informasi yang mungkin berguna untuk membantu penyelidikan dan beberapa lembar foto dari Alex.

“Jadi anak ini yang hilang?” tanya Christaly saat dia ditunjukkan foto Alex.

“Benar, Nona. Itu Tuan Muda Alexander, anak semata wayang dari majikan saya, Tuan Wiyoko,” kata pria berusia kurang lebih tiga puluh dua tahun yang mengenakan kaca mata berbingkai tebal dan cara bicaranya terdengar seperti orang yang terpelajar.

“Oh, ya. Perkenalkan, nama saya Tony. Saya adalah asisten pribadi dari Tuan Wiyoko. Sebelumnya, izinkan saya menyampaikan sedikit pesan dari Tuan Wiyoko terlebih dahulu. Karena ini sangat penting sekali.”

“Silakan,” jawab Sean singkat. Dia duduk melipat kakinya dan menegakkan punggungnya.

Sikap Sean benar-benar lain sama sekali dari yang biasanya. Dia bertindak seolah-olah saat ini sedang mendengarkan kesaksian dari seorang saksi ahli di pengadilan.

“Begini, Pak Detektif. Sebenarnya apa yang diceritakan oleh tuan saya waktu itu masih belum semuanya, bukan keseluruhan cerita yang ada. Hanya sebagian saja,” ujar Tony mulai menjelaskan. “Karena satu alasan khusus yang tidak bisa saya ceritakan, Tuan Wiyoko menyembunyikan cerita ini bahkan dengan pihak kepolisian sekalipun."

“Lanjutkan,” sahut Sean dengan nada perintah yang tegas.

“Satu hari sebelum Tuan Muda Alex menghilang, Tuan Wiyoko mendapat telepon dari orang misterius. Akan tetapi, panggilan telepon itu di privat. Jadi Tuan Wiyoko tidak bisa melacaknya.” Tony kembali melanjutkan sesuai perintah Sean.

“Awalnya, Tuan Wiyoko sama sekali tidak mempunyai pikiran buruk, menganggap kalau telepon itu hanya orang iseng yang kurang kerjaan.”

“Kenapa begitu?” tanya Christaly memotong pembicaraan.

Tony menoleh ke arah Christaly. Dari raut wajahnya tampak jelas jika dia tidak senang dengan Christaly yang memotong penjelasannya.

“Tuan Wiyoko tidak menanggapi serius telepon yang beliau terima dan menganggapnya sebagai orang iseng karena hal itu memang sering terjadi. Ada telepon masuk yang nomornya di privat, tapi, pada saat panggilan di jawab dia tidak mengatakan apa-apa lalu panggilan ditutup begitu saja,” jawab Tony.

“Ada lagi yang ingin Anda tanyakan sebelum saya melanjutkan penjelasan saya, Nona? Karena saya paling tidak suka jika sedang bicara dipotong.”

Christaly merasa seolah wajahnya baru saja ditampar dengan sangat keras oleh pria yang duduk di seberang meja dan menatapnya dengan tatapan tajam.

“Uh, tidak. Sudah cukup,” ujar Christaly yang tidak mau mencari masalah. Sebab, Sean yang duduk di samping Vera melirik ke arahnya dengan ancaman yang tak terucapkan tapi penuh kepastian.

“Baik, akan saya lanjutkan. Setelah kejadian Tuan Wiyoko mendapat panggilan entah dari siapa itu, satu hari kemudian, atau tepatnya siang keesokan harinya, Tuan Muda Alex menghilang begitu saja tanpa jejak,” kata Tony kembali melanjutkan penjelasannya.

“Siang itu juga tidak ada kejadian yang mencurigakan atau kejanggalan. Tuan Muda Alex pulang sekolah dijemput oleh sopir seperti biasa dan dia langsung pulang ke rumah."

"Selepas makan siang dan beristirahat sekitar satu jam, sekitar pukul dua siang Tuan Muda Alex kembali di antar sopirnya menuju tempat les piano. Dan, pada saat les piano itulah, Tuan Muda Alex pamit ke toilet untuk buang air kecil."

"Setelah itu dia menghilang bagai di telan bumi. Bahkan, satpam yang berjaga di depan gedung berani bersumpah jika dia sama sekali tidak melihat Tuan Muda Alex keluar dari dalam gedung."

"Peryataan satpam itu dibenarkan dengan adanya bukti CCTV yang tidak merekam adanya Alex yang keluar dari gedung tempat les piano tersebut.”

“Ini kasus yang kompleks sekali,” kata Sean. “Selain kasus ini sudah berjalan lebih dari dua bulan, kasus ini juga sangat minim petunjuk."

Sean kembali melanjutkan, "Saya sudah mengumpulkan informasi dari berbagai sumber yang bisa saya peroleh. Baik dari media masa atau pun yang lainnya untuk bahan penyelidikan saya.

"Dari semua informasi yang saya peroleh, terus terang, saya masih belum mendapatkan petunjuk apa pun. Dan, di atas segalanya, yang membuat saya semakin bingung lagi adalah kenapa Tuan Wiyoko bersikeras menyuruh saya pergi ke Malang, melakukan penyelidikan di sana. Sementara Alex sendiri hilang di Jakarta.”

Tony berdehem untuk membersihkan tenggorokannya dia ingin menyela Sean. Setelah Sean menyadari isyaratnya, dia pun langsung angkat bicara.

“Pak Detektif, saya tahu pasti Anda sangat tidak habis pikir dan merasa bingung bukan karena  Tuan Wiyoko menyuruh Anda mencari Tuan Muda Alex. Tentu saja bukan tanpa alasan, Pak Detektif.”

“Ya, saya tahu itu. Tapi yang menjadi masalah adalah Tuan Wiyoko tidak menjelaskan lebih lanjut lagi,” kata Sean yang sengaja menyela untuk memberikan dorongan lebih lanjut agar Tony lebih banyak lagi bicara.

“Akan saya jelaskan alasannya, Pak Detektif. Tuan Wiyoko menyuruh Anda mencari keberadaan Tuan Muda Alex di Malang karena detektif  polisi yang sebelumnya diminta Tuan Wiyoko mendapatkan sedikit petunjuk."

"Sewaktu Detektif Aldo pergi ke sebuah klub malam yang berada di dekat pelabuhan Tanjung Priok, yang sering dijadikan tempat berkumpulnya para penjahat amatir, dia mendengar soal adanya sebuah organisasi perdagangan manusia internasional yang spesialis menculik anak dari orang kaya."

"Penculik ini tidak minta uang tebusan atau apa pun. Karena memang yang mereka incar adalah anak-anak orang kaya yang memiliki paras rupawan, yang kemudian anak-anak ini akan dijual di pasar internasional sebagai anak adopsi.”

“Dan pusat organisasi itu berada di Malang?” potong Sean lagi.

“Tepat sekali, Pak Detektif. Pusat organisasi itu konon berada di Malang. Di desa Kaliasri, sebuah desa yang cukup terpencil. Tapi, konon anak-anak yang diculik itu tidak berada di sana. Melaikan berada di sebuah panti asuhan yang tidak jauh dari kawasan Bromo."

"Panti asuhan itu adalah milik dari organisasi itu sendiri, di mana di sana ada banyak sekali penjaga yang menjaga kawasan panti asuhan tersebut dengan sangat ketat.” Tony menarik napas dalam-dalam.

Lalu Tony menyodorkan sebuah kotak yang dibungkus kain beludru berwarna hitam. “Silakan, Pak Detektif. Ini adalah senjata api milik Tuan Wiyoko. Anda diminta Tuan Wiyoko membawa senjata apinya untuk berjaga-jaga dari kemungkinan yang paling buruk. Selain itu, ada juga pisau lipat dan beberapa selongsong peluru.”

Sean mengambil kotak senjata api berjenis Revolver itu sambil berkata, “Saya harap saya tidak akan menggunakannya. Karena saya benci sekali dengan yang namanya perkelahian.”

Tony menganggukkan kepala sekilas. “Tuan Wiyoko juga berharap demikian, Pak Detektif. Akan tetapi, sangat kecil sekali kemungkinannya untuk Anda tidak terlibat baku hantam bahkan baku tembak. Karena itu, Tuan Wiyoko mepercayakan senjata apinya untuk Anda bawa. Karena Tuan Wiyoko tidak menerima adanya kegagalan. Saya yakin Anda pasti mengerti apa maksud saya.”

Sean tersenyum kecut. “Saya mengerti dengan sangat baik sekali. Gagal berarti mati, bukan?”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!