NovelToon NovelToon
Ku Pilih Takdirku Sendiri

Ku Pilih Takdirku Sendiri

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Penyesalan Suami
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Serena Muna

Mengisahkan Sintia Arunika, wanita yang harus berjuang dalam bahtera rumah tangganya bersama Alfiandi Rian Mahesa. 7 tahun pernikahan mereka seolah tak berarti apa pun karena Sintia tidak kunjung hamil dan puncaknya intervesi keluarga Rian membuat Rian bercerai dari Sintia. Bukan perpisahan yang membuat Sintia sakit, tapi Rian yang rupanya diam-diam menikahi Suci Wahyuni, wanita yang ia kenal baik bahkan dengan Suci rupanya Rian memiliki seorang anak berusia 6 tahun! Sintia memilih pergi dan saat itulah ia bertemu dengan pria bernama Kenzi Hutama yang mengubah hidup Sintia selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tuduhan yang Membuat Murka

Malam semakin larut saat Rian melangkah turun ke lantai bawah dengan kunci mobil di genggamannya. Langkah kakinya yang terburu-buru dicegat oleh Anne yang rupanya masih duduk gelisah di ruang keluarga, ditemani oleh secangkir teh yang sudah dingin.

"Rian! Mau ke mana kamu malam-malam begini?!" seru Anne, bangkit dari duduknya dengan wajah cemas. "Pipi kamu kenapa bisa merah begitu? Siapa yang berani memukul anak Ibu?!"

Rian menghentikan langkahnya sejenak, namun enggan menatap mata ibunya. Rasa malu karena ditampar oleh pengawal seorang pria di depan umum membuat suaranya terdengar ketus dan dingin.

"Bukan apa-apa, Ibu. Ini hanya masalah kecil di jalan tadi," bohong Rian, rahangnya mengetat. "Rian ada urusan bisnis penting yang harus diselesaikan malam ini juga. Ibu tidur saja, tidak usah menunggu Rian."

Tanpa memberikan kesempatan bagi Anne untuk meluncurkan rentetan pertanyaan berikutnya, Rian menyentak pintu depan dan berjalan lebar menuju mobilnya. Beberapa detik kemudian, deru mesin mobilnya membelah kesunyian malam, melaju dengan kecepatan tinggi meninggalkan kawasan perumahan elit itu.

Rian tahu ke mana ia harus pergi. Ia memang tidak tahu di apartemen mana Sintia tinggal sekarang, namun ia tahu satu tempat yang pasti akan dikunjungi Sintia jika wanita itu sedang terdesak: rumah lama peninggalan almarhum ayahnya di pinggiran kota. Tempat yang penuh dengan memori masa lalu yang ia harap bisa ia gunakan sebagai senjata psikologis untuk melunakkan hati mantan istrinya.

Sementara itu, di dalam kamarnya, Suci mendengar suara mobil Rian yang menjauh. Ia melirik jam dinding yang menunjukkan pukul sebelas malam. Seringai kelicikan kembali terukir di wajahnya.

"Pergilah, Rian. Kejarlah mantan istrimu sampai kamu mengemis di kakinya," gumam Suci sinis. Ia bangkit dari duduknya, berjalan menuju lemari pakaian untuk memilih gaun terbaik yang akan ia gunakan besok untuk memulai perburuannya mencari informasi tentang Kenzi Hutama. "Selagi kamu sibuk menyelamatkan sisa-sisa hartamu yang sekarat, aku akan memastikan masa depanku sendiri berada di tempat yang paling aman."

Malam itu, di kediaman Mahesa yang sunyi, dua orang yang diikat oleh pernikahan siri dan dosa masa lalu itu bergerak ke arah yang saling bertolak belakang. Pria yang terbakar oleh cemburu dan panik bergerak menuju masa lalunya, sementara sang wanita ular yang egois bergerak maju membawa rencana busuk demi memburu mangsa baru yang tak tersentuh.

Badai berikutnya telah resmi bergeser arah, siap menghantam siapa saja yang berdiri di tengah pusarannya tanpa menyisakan ampun sedikit pun.

****

Malam kian larut, menyisakan hawa dingin yang menusuk kalbu di sebuah kawasan pinggiran kota yang sepi. Rumah tua peninggalan almarhum ayah Sintia berdiri kokoh di balik rimbunnya pohon kamboja. Rumah bergaya kolonial sederhana itu tampak sunyi, hanya diterangi seberkas lampu teras berwarna kuning temaram. Di dalam rumah inilah, Sintia Arunika mencoba mencari sisa-sisa kedamaian yang telah direnggut darinya.

Namun, kedamaian itu pecah berkeping-keping saat suara deru mesin mobil Rian berhenti mendadak di depan pagar kayu.

Sintia yang sedang mengemas beberapa buku tua di ruang tamu tersentak. Belum sempat ia melangkah menuju pintu, daun pintu depan sudah didorong kasar dari luar. Alfandi Rian Mahesa berdiri di ambang pintu, napasnya memburu, wajahnya yang kusut masai dipenuhi guratan keputusasaan yang teramat dalam.

"Sintia!" Rian melangkah lebar, langsung mencengkeram kedua lengan Sintia dengan cengkeraman yang kuat dan gemetar.

"Lepas, Rian! Apa-apaan kamu ini?! Masuk ke rumah orang tanpa izin!" bentak Sintia, matanya berkilat penuh amarah seketika. Ia berusaha menyentak tangannya, namun Rian justru semakin mempererat cengkeramannya.

"Sin, aku mohon... dengarkan aku dulu," suara Rian mendadak melunak, parau, dan dipenuhi getaran kepanikan. Pria angkuh itu kini menatap Sintia dengan mata yang berkaca-kaca. Ego maskulinnya runtuh seketika di hadapan ancaman kemiskinan. "Batalkan gugatan rekonvensi itu, Sin. Aku mohon... Jangan ambil rumah dan perusahaan itu. Kalau kamu menyita semuanya, aku tidak punya apa-apa lagi. Aku akan bangkrut, Sintia! Bagaimana dengan nasib ibuku? Bagaimana dengan kelangsungan usahaku yang kubangun tujuh tahun ini?"

Sintia menatap mantan suaminya dengan pandangan dingin tanpa riak belas kasihan. Hatinya sudah menjelma menjadi batu karang yang tak mempan oleh air mata palsu pria di hadapannya.

Sintia menatap mantan suaminya dengan pandangan dingin tanpa riak belas kasihan. Hatinya sudah menjelma menjadi batu karang yang tak mempan oleh air mata palsu pria di hadapannya.

"Usahamu?" Sintia tertawa hambar, sebuah tawa yang sarat akan kepedihan sekaligus penghinaan. "Usaha yang dibangun dari uang asuransi kematian ayahku? Rumah yang dibeli dari tabunganku sebelum kita menikah? Kamu memohon padaku setelah kamu membuangku seperti sampah demi sahabatku sendiri? Di mana otakmu, Rian?!"

"Sintia, aku khilaf! Tapi tolong jangan ambil semuanya! Kamu tidak boleh sekejam ini padaku!" jerit Rian, mengguncang bahu Sintia.

Sintia menyentak tubuhnya dengan sekuat tenaga hingga cengkeraman Rian terlepas. Ia mundur dua langkah, menatap Rian dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan rasa jijik yang teramat sangat. "Aku tidak peduli kamu mau gembel atau mati kelaparan di jalanan, Rian. Aku hanya mengambil apa yang menjadi hakku. Pengadilan yang akan mengeksekusimu."

****

Mendengar penolakan dingin dari Sintia, kepanikan di dalam diri Rian seketika bermutasi menjadi kemurkaan yang liar. Ditambah lagi, bayangan Kenzi Hutama yang merangkul pinggang Sintia tadi pagi kembali membakar otaknya hingga hangus. Wajah Rian memerah padam, urat-urat di pelipisnya menegang jahanam.

Pria itu maju selangkah, menunjuk wajah Sintia dengan jari yang bergetar karena amarah dan cemburu yang membabi buta.

"Oh... aku tahu sekarang! Jadi ini alasanmu bersikap begitu angkuh?!" tuding Rian, suaranya menggelegar memenuhi ruang tamu yang sepi, memecah keheningan malam. "Kamu berselingkuh dengan Kenzi Hutama, kan?! Selama ini kamu sudah tidur dengan pria kaya itu di belakangku!"

Sintia membelalakkan matanya, napasnya tercekat mendengar tuduhan yang begitu kotor.

"Jangan berlagak suci, Sintia!" bentak Rian lagi, tawanya terdengar gila dan sinis. "Kamu hanya berakting menjadi korban yang terzalimi, bukan?! Kamu sengaja berpura-pura terkejut saat tahu aku dan Suci berhubungan, padahal kamu sendiri sudah merencanakan ini semua bersama selingkuhan kayamu itu! Kamu sengaja menjebakku agar bisa menguras hartaku dan kawin lari dengan pria oriental itu! Kita impas, Sintia! Kamu berkhianat, aku juga berkhianat! Jadi jangan sok menjadi malaikat di depanku!"

PLAK!

Suara tamparan yang teramat keras dan bertenaga memotong kalimat jahanam Rian.

Tangan kanan Sintia mendarat telak di pipi kanan Rian, membuat kepala pria itu terenggut ke samping. Tamparan itu begitu dahsyat, menyalurkan seluruh rasa sakit hati, kehancuran harga diri, dan murka yang selama tujuh tahun ini terpendam di dalam dada Sintia.

Dada Sintia naik turun dengan hebat. Jantungnya bertalu bagai genderang perang. Air mata kemarahan menggenang di pelupuk matanya, namun ia menolak untuk membiarkannya jatuh. Ia menatap Rian dengan tatapan yang begitu tajam, sedemikian tajamnya hingga sanggup menguliti sisa-sisa keberanian mantan suaminya.

"Manusia berhati iblis..." bisik Sintia, suaranya bergetar hebat oleh rasa tidak percaya yang mendalam. "Tujuh tahun aku mengabdi padamu... menyerahkan seluruh hidupku, uangku, masa mudaku untuk pria menjijikkan seperti kamu. Dan sekarang, demi menyelamatkan hartamu yang busuk itu, kamu tega menuduhku melacurkan diri?!"

1
Arieee
bagus,, 👍👍👍👍👍👍👍👍
Serena Muna: terima kasih kak
total 1 replies
Ma Em
Si Suci sdh gila otaknya konslet mau berbuat apa saja demi menyingkirkan Sintia agar Suci bisa bersama Kenzi , semoga Sintia selamat dan minuman yg sdh ada racun nya tersenggol atau gimana asal tdk diminum oleh Sintia .
Anonim
BUNUH ANAK HARAM ITU SINTIA.. KELAK DIA YANG AKAN MEMBALAS KAN DENDAM PADAMU
Ma Em
Semoga tdk berhasil Suci jebak Kenzi cepatlah orang datang keruangan Kenzi untuk menolong Kenzi dari jerat licik si Suci , lalu Suci jebloskan saja ke penjara .
Ma Em
Kesombongan Rian dan gundiknya runtuh setelah pengacara Sintia membacakan tuntutan dari Sintia , makanya kalau Rian kalau usaha modal dari itu jgn merasa berkuasa diambil sama yg punya Rian bisa bangkrut baru Rumah an baru sadar dan menyesal .
Ma Em
Semangat Sintia rebut kembali harta dan uang yg sdh dipakai membangun rumah dan uang untuk membantu Rian kuras habis jgn sampai tersisa buat Rian dan Suci juga Bu Ane jadi gembel .
Ma Em
Seru Thor , ditunggu balas dendam untuk Rian, Suci juga Bu Ane dari Sintia buat mereka menangis darah Sintia , buat Rian hdp nya jadi gembel agar Sintia puas melihat Rian dan Suci hdp nya menderita .
Serena Muna: makasih kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!