NovelToon NovelToon
Hamil Anak Para Ceo Kaya

Hamil Anak Para Ceo Kaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Balas Dendam / CEO
Popularitas:6.9k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

Warning ***+

~~~

Mayang Puspita Sari, seorang lulusan SMP dari kampung, pindah ke ibu kota dengan tujuan menyelamatkan adiknya yang sakit keras dan menopang ekonomi keluarga. Setelah berjuang mencari pekerjaan di kota yang keras, ia akhirnya mendapatkan kesempatan sebagai ibu pengganti - pekerjaan yang memberinya hidup berkecukupan dan biaya pengobatan yang cukup untuk adiknya.

Seiring waktu, Mayang malah merasa senang dengan pekerjaannya karena semua keinginannya tercapai dan bayarannya sangat besar, meskipun ia tidak menyadari bahwa pilihan ini akan membawa konsekuensi emosional dan moral yang tidak terduga nanti.


~~

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 3

***

  Dua bulan telah berlalu sejak malam pertama yang penuh kepedihan di Sudirman. Pagi ini, udara di dalam penthouse terasa berbeda. Mayang berdiri di dalam kamar mandi luas yang dindingnya dilapisi marmer Italia, menatap benda kecil di tangannya dengan jantung yang berdegup kencang. Dua garis merah. Jelas dan tegas.

  Tangannya gemetar, bukan karena takut, melainkan karena sebuah euforia yang aneh. Ia segera keluar dan mendapati Aris sedang duduk di meja makan, menyesap kopi hitamnya sambil menatap tablet berisi grafik saham.

  "Tuan..." suara Mayang tercekat.

  Aris mendongak, matanya yang tajam langsung menangkap getaran di tubuh Mayang. Ia meletakkan tabletnya. "Ada apa?"

  Mayang meletakkan alat tes kehamilan itu di atas meja marmer. Aris terdiam sejenak. Ia mengambil benda itu, memperhatikannya dengan saksama, lalu sebuah senyum tipis—senyum pertama yang terasa benar-benar tulus—muncul di wajahnya yang kaku.

  "Kau berhasil, Mayang," gumam Aris. Ia berdiri, menghampiri Mayang, dan untuk pertama kalinya, ia memeluk gadis itu tanpa ada unsur paksaan seksual. "Kau benar-benar berhasil."

  Mayang membalas pelukan itu, menyandarkan kepalanya di dada bidang Aris yang beraroma kayu cendana. "Saya senang, Tuan. Akhirnya janji saya terpenuhi."

  "Bukan hanya terpenuhi," bisik Aris di telinganya. "Mulai detik ini, hidupmu akan jauh lebih mewah dari dua bulan terakhir. Kau sedang membawa pewaris tunggal kerajaan Raditya."

  Berita kehamilan itu mengubah segalanya. Aris menjadi sosok yang sangat protektif, nyaris posesif terhadap setiap gerak-gerik Mayang.

  "Bibi Sumi!" panggil Aris dengan nada memerintah.

  "Iya, Tuan?"

  "Mulai hari ini, buang semua makanan yang mengandung pengawet. Aku ingin Mayang makan sayuran organik yang dikirim langsung dari perkebunan setiap pagi. Dan pastikan dia tidak menaiki tangga. Gunakan lift internal saja," perintah Aris tanpa bantah.

  Mayang hanya bisa terpaku melihat bagaimana Aris mengatur hidupnya sedemikian rupa. "Tuan, saya tidak selemah itu. Saya biasa memikul kayu bakar di kampung."

  Aris berbalik, menangkup wajah Mayang dengan kedua tangannya. "Itu dulu, Mayang. Sekarang, kau adalah wadah paling berharga di dunia ini. Jangan pernah bandingkan dirimu dengan gadis kampung lagi. Kau adalah milikku, dan apa yang ada di perutmu adalah masa depanku."

  Mayang tersenyum malu-malu. Sentuhan Aris yang dulu terasa menyakitkan, kini mulai terasa seperti candu. Ia mulai menikmati bagaimana pria perkasa ini berlutut di depannya hanya untuk mengelus perutnya yang masih rata.

  Bulan-bulan awal kehamilan dilalui Mayang dengan fasilitas yang tak terbayangkan. Aris memberikannya sebuah kartu kredit tanpa limit. Mayang mulai menghabiskan waktu sorenya dengan berbelanja online—tas-tas kulit buaya, sepatu berlapis kristal, hingga perhiasan yang harganya bisa membeli seluruh desa kelahirannya.

  Suatu sore, saat Mayang sedang duduk di balkon menatap senja Jakarta sambil menikmati jus delima segar, Bibi Sumi datang membawakan tumpukan kotak belanjaan.

  "Ibu, ini kiriman dari butik di Paris. Tuan Aris yang memesankannya untuk Ibu," kata Bibi Sumi dengan nada yang kini jauh lebih hormat.

  Mayang membuka salah satu kotak, mengeluarkan gaun sutra hamil yang sangat lembut. "Indah sekali, Bi."

  "Ibu terlihat sangat bahagia," puji Bibi Sumi.

  "Apakah salah, Bi? Jika aku menyukai semua ini?" tanya Mayang retoris. "Dulu, aku harus menghitung setiap keping uang hanya untuk makan sehari-hari. Sekarang... aku bahkan tidak perlu melihat label harga."

  "Hati-hati, Ibu," bisik Bibi Sumi pelan. "Kemewahan bisa menjadi bius. Jangan sampai Ibu lupa bahwa kontrak ini memiliki garis finish."

  Kata-kata Bibi Sumi sempat menusuk hati Mayang, namun segera terhapus ketika Aris datang malam itu dengan sebuah kotak perhiasan baru.

  Malam itu, Aris berbaring di samping Mayang, tangannya tak lepas dari perut Mayang yang mulai menunjukkan sedikit tonjolan.

  "Tuan Aris..." panggil Mayang lembut.

  "Hmm?"

  "Apakah Anda akan tetap memperlakukan saya seperti ini... setelah bayi ini lahir?"

  Aris terdiam. Matanya menatap langit-langit kamar yang dihiasi lampu kristal. "Kontrak kita jelas, Mayang. Kau mendapatkan uang, aku mendapatkan bayi. Tapi... aku akui, kau berbeda dari wanita lain yang pernah kukenal. Kau tidak menuntut cinta, tapi kau memberikan ketaatan yang mutlak."

  Mayang memberanikan diri untuk memeluk lengan Aris. "Saya merasa nyaman seperti ini. Saya merasa... aman di dekat Tuan."

  Aris menoleh, menatap mata Mayang yang kini penuh dengan binar kemapanan. "Kau sudah terlena, Mayang. Kau sudah mencintai sangkar emas ini."

  "Mungkin," jawab Mayang jujur. "Tapi bukankah lebih baik menangis di dalam mobil mewah daripada tertawa di atas becak yang kehujanan? Saya sudah merasakan keduanya, dan saya memilih ini."

  Aris menarik Mayang ke dalam dekapan yang lebih erat. Malam itu, tidak ada rasa sakit. Yang ada hanyalah sentuhan yang menuntut namun penuh dengan proteksi. Mayang memejamkan mata, membiarkan dirinya hanyut dalam belaian Aris. Ia tahu ini salah secara moral, ia tahu ia sedang menjual rahimnya, tapi kenyamanan ini terlalu manis untuk dilepaskan.

  **

  Memasuki bulan kelima, perut Mayang semakin besar. Aris semakin sering menghabiskan waktu di penthouse daripada di kantornya. Ia bahkan memindahkan beberapa rapat penting ke ruang kerja di apartemen tersebut agar tetap bisa mengawasi Mayang.

  Suatu hari, Mayang sedang mencoba gaun baru di depan cermin besar. Ia melihat bayangannya—seorang wanita hamil yang anggun, berhiaskan berlian, dan kulit yang bersih terawat. Ia tak lagi mengenali Mayang sang lulusan SMP dari kampung.

  "Kau sangat cantik," suara Aris mengagetkannya. Pria itu berdiri di ambang pintu, menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan—campuran antara gairah dan kepemilikan.

  "Terima kasih, Tuan," Mayang tersenyum manis, ia mulai belajar bagaimana cara memikat Aris.

  "Bayi kita sedang menendang tadi pagi."

  Aris berjalan mendekat, berlutut di depan Mayang dan menempelkan telinganya ke perut Mayang. "Dia akan menjadi pria yang kuat. Seperti ayahnya."

  "Dan jika dia perempuan?" tanya Mayang iseng.

  "Maka dia akan secantik ibunya, dan aku akan memastikannya menjadi wanita paling berkuasa di kota ini," jawab Aris tegas.

  Mayang merasakan hatinya bergetar. Ucapan Aris seolah memberi harapan bahwa mungkin, hanya mungkin, ada tempat bagi Mayang di masa depan pria itu. Ia mulai membayangkan hidup selamanya di sini, menjadi nyonya di rumah ini, meskipun ia tahu kontrak itu menyatakan sebaliknya.

  Ia telah jatuh terlalu dalam. Bukan hanya pada uang Aris, tapi pada rasa dimiliki oleh pria yang sanggup menggenggam dunia di tangannya. Mayang Puspita Sari telah benar-benar melupakan debu jalanan; kini ia hanya ingin menghirup aroma kemewahan, meskipun ia harus menukar jiwanya untuk itu.

  ****

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!