Gladys Chandra Wiguna atau biasa dipanggil Gadis adalah mahasiswi berbakat dari fakultas bergengsi Kota A. Wajah cantik dan sosok mungilnya menyembunyikan jiwa pemberani yang kuat.
Malam itu, saat ia pulang dari cafe, seorang pria memaksanya masuk mobil. Di dalamnya menanti Langit Mahesa seorang bisnis man yang memiliki perusahaan raksasa di kota A. Pria yang sudah memiliki istri, Bella Safira. Akankah Gadis kembali ke kehidupannya yang tenang? Ataukah cinta tak terduga tumbuh di antara mereka, menggoyahkan semua yang ada?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ceriwis07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Paket Asing
Pagi itu, suasana di lantai tertinggi gedung perkantoran terasa hening dan penuh tekanan. Di dalam ruangan presdir yang luas dan mewah, Langit sedang duduk termenung di balik meja kerjanya yang besar. Pikirannya masih terus dipenuhi bayangan Gadis dan cara untuk menemukannya secepat mungkin.
Tiba-tiba...
Tok.. Tok.. Tok..
Suara ketukan pintu yang pelan namun pasti memecah keheningan.
"Permisi, Tuan..." suara seorang office boy terdengar ragu dari balik pintu. "Ada paket kiriman untuk Anda."
Kening Langit langsung berkerut dalam. Ia tidak ingat pernah memesan atau menunggu kiriman apa pun pagi ini. Tapi dengan sikap tenang khasnya, ia tetap mengizinkan pria itu masuk.
"Masuk."
Office boy itu berjalan mendekat dan menyerahkan sebuah amplop coklat berukuran besar namun tipis. Tidak ada perangko atau stempel pengirim yang jelas, hanya tertulis nama dan alamat kantornya saja.
"Oke, terima kasih," ucap Langit singkat, lalu mengambil benda itu di atas mejanya.
Sebelum menyentuh isi amplop itu, naluri seorang pemimpin membuatnya waspada. Ia segera mengangkat telepon kantor dan menekan nomor internal.
"Charlie, ke ruangan saya sekarang. Cepat," perintahnya singkat dan tegas.
Tidak butuh waktu lama, pintu ruangan kembali terbuka. Charlie masuk dengan langkah cepat, wajahnya tampak bertanya-tanya melihat ekspresi bosnya yang berubah serius.
"Ada apa, Bos? Ada masalah?" tanya Charlie sambil mendekat ke meja.
Langit menunjuk amplop coklat yang tergeletak diam di sana.
"Apa ini dari anak buahmu? Ada yang melapor soal ini?" tanya Langit menyelidik.
Charlie mengamati amplop itu dari dekat, memutarnya sedikit untuk melihat pengirimnya, lalu ia menggelengkan kepalanya kuat-kuat.
"Bukan Tuan, seratus persen bukan dari orang-orang kita," jawab Charlie meyakinkan. "Kalau itu dari anak buah saya, mereka pasti akan memberitahu dulu atau mengirim pesan sebelum mengantar sesuatu. Ini... ini asing."
Jantung Langit berdegup kencang. Rasa penasaran bercampur curiga mulai memenuhi dadanya. Dengan tangan yang sedikit gemetar namun tetap terkontrol, ia menyobek sisi amplop itu dan membukanya perlahan.
Isinya berupa tumpukan lembaran foto cetak.
Saat foto-foto itu terhambur di atas meja, mata Langit dan Charlie sama-sama membelalak, tercengang tak percaya.
Namun, yang lebih mengejutkan bukan hanya gambarnya, melainkan tulisan tangan yang tertera rapi di bagian belakang setiap foto itu. Kalimat yang singkat namun menghantam "Dialah pelakunya, dalang dari kecelakaan Gadis."
Langit dan Charlie menatap foto itu dengan mata terbelalak. Mereka sangat mengenali wajah wanita tersebut. Tidak mungkin mereka salah ingat. Itu adalah wajah yang selama ini mereka anggap tidak berbahaya, atau setidaknya tidak pernah mereka duga akan berani melakukan hal sejauh ini.
Bella Safira Wijaya istrinya.
Keheningan yang mencekam menyelimuti ruangan, membawa pikiran mereka kembali ke kejadian beberapa waktu lalu, saat kabar kematian itu pertama kali datang...
Sebelumnya...
Suasana di ruang presdir saat itu terasa begitu dingin dan sunyi, seolah waktu berhenti berputar. Langit duduk di kursinya dengan tatapan kosong, raga yang ada di sana tapi jiwanya seakan telah pergi bersama kabar buruk yang ia terima. Hatinya hancur lebur, tak tersisa.
Namun tiba-tiba...
"Bos!" teriak Charlie memecah keheningan.
"Ada kabar! Salah satu bodyguard kita menghubungi!"
Mendengar kalimat itu, mata Langit yang tadinya kosong dan mati seketika terbelalak lebar. Cahaya kehidupan kembali menyala di bola matanya.
Dengan tangan yang masih gemetar, ia segera menyambar ponsel yang diserahkan oleh Charlie. Jantungnya berdegup kencang bukan main, campuran antara harapan dan ketakutan.
"Katakan!" bentak Langit tak sabar.
"Tuan! Kami selamat! Kami semua selamat!" terdengar suara bersemangat dari seberang sana.
Namun kalimat selanjutnya membuat Langit sedikit mengernyitkan dahi.
"Tapi... kami hanya berdua, nyonya dengan Devan. Dan kami terpaksa harus memisahkan diri untuk memancing musuh agar tidak mencari ke arah mereka," jelas Bodyguard itu cepat.
Wajah Langit yang tadinya pucat kini perlahan kembali berwarna. Napasnya terasa lega luar biasa.
"Syukurlah... Syukurlah!" gumamnya pelan. "Kirimkan lokasi kalian, dan tunggu di jemput,"
Namun, begitu sambungan telepon diputus, tanda tanya besar kembali menghantui pikiran Langit. Ia menatap Charlie tajam.
"Charlie, laporan terakhir dari tim di lapangan mengatakan jika keempatnya tewas terbakar hangus di dalam mobil, bukan? Mereka bahkan memastikan kalau itu adalah keempat orang yang sama tiga laki-laki dan satu wanita," ucap Langit dengan nada penuh kebingungan. "Lalu... kenapa para bodyguard ini bisa menghubungimu? Bagaimana mungkin mereka selamat jika mobilnya sudah hancur lebur dan dikonfirmasi tidak ada korban yang selamat?"
Charlie yang berdiri di hadapannya pun menggaruk kepalanya yang tidak gatal, wajahnya sama bingungnya. Ia juga tidak mengerti logika di balik kejadian ini. Laporan dari tim forensik dan tim di lapangan tadi sangat meyakinkan bahwa tidak ada yang bisa selamat dari ledakan dahsyat itu. Tapi fakta di depan mata berkata lain. Ada sesuatu yang sangat salah, dan sepertinya musuh telah membuat skenario yang sangat rapi untuk menipu mereka semua.
Ditempat lain
Di sebuah tempat yang tersembunyi dan jauh dari keramaian, suasana terasa hening namun penuh dengan strategi.
"Apakah mereka selamat?" tanya wanita yang dipanggil Anin itu dengan nada tenang namun penuh wibawa.
"Ya Nyonya, semuanya selamat. Tapi karena situasi genting, mereka terpaksa harus berpencar dan berpisah untuk sementara waktu," lapor anak buahnya dengan jelas.
Wajah Anin tampak lega mendengarnya.
"Bagus..." gumamnya pelan. Lalu ia menatap anak buahnya dengan tatapan tajam dan tegas. "Hadang semua musuh yang ada. Jangan biarkan mereka menemukan jejak sedikitpun. Pastikan mereka aman... terutama pastikan keselamatan ....Gladis."
Anak buah itu mengangguk mantap, paham betul arti perintah itu. Ia segera menekan tombol pada earpiece yang terpasang di telinganya, menyampaikan instruksi detail kepada rekan-rekannya yang berada di lapangan.
Sesaat kemudian, Anin kembali bertanya,
"Apa kamu sudah menyiapkan semuanya sesuai rencana?"
"Sudah Nyonya, seratus persen siap," jawab pria itu yakin. "Kami sudah siapkan empat jenazah: tiga laki-laki dan satu wanita. Postur tubuh serta ciri-cirinya sudah kami sesuaikan agar hampir sama persis dengan orang-orang di dalam mobil."
"Oke," sahut Anin singkat. "Masukkan keempat jenazah itu ke dalam mobil sekarang juga, sebelum mobil itu kita bakar dan ledakkan. Pastikan tidak ada yang menyadari perbedaannya."
Ini adalah strategi jenius Anin. Ia sengaja meminta anak buahnya mencari jenazah orang-orang tak bertuan, yang tidak memiliki sanak keluarga atau siapa pun yang akan mencarinya. Semua itu dilakukan hanya untuk mengecoh musuh, membuat mereka berpikir bahwa Gadis dan pengawalnya sudah mati terbakar, sehingga rasa waspada mereka akan hilang dan Gadis bisa hidup tenang dalam persembunyian.
Kilas Balik...
Beberapa waktu sebelum kejadian itu,
"Nyonya, ada laporan. Ada dua orang yang datang ke kos-kosan lama tempat Nona Gladys dulu tinggal," suara laporan masuk ke telinga Anin.
"Siapa mereka?" tanya Anin cepat, jantungnya berdegup kencang menunggu jawaban.
Segera setelah itu, sebuah foto terkirim di layar ponselnya. Saat melihat isi foto itu, mata Anin terbelalak, namun seketika itu juga senyum lebar terukir di wajahnya. Rasa haru dan syukur membanjiri hatinya.
"Syukurlah... Tuhan benar-benar mendengar doaku," batinnya bersorak.
Ia melihat jelas sosok Langit dan Gadis di sana. Ia tahu, anak gadisnya itu kini berada di tangan yang tepat, di lindungi oleh orang yang sangat mencintainya.
"Biarkan saja mereka," ucap Anin lembut. "Kalian awasi dari jauh. Pastikan tidak ada satu pun pihak lain yang berani mengganggu atau membahayakan mereka."
Namun ketenangan itu tak berlangsung lama.
"Nyonya, ada masalah. Kami melihat ada satu mobil asing yang sedari tadi membuntuti mobil mereka dari belakang," lapor anak buah lagi.
Wajah Anin langsung berubah serius. Tatapannya menjadi dingin.
"Berpencar. Ikuti mobil asing itu, lacak kemana mereka pergi dan apa tujuan mereka. Lapor padaku segera jika ada gerakan selanjutnya!" perintah Anin tegas.
Di dalam hati, Anin menangis bahagia. Ia sudah tahu di mana keberadaan buah hatinya, bayi yang pernah ia lahirkan ke dunia ini namun sayangnya tidak pernah bisa ia besarkan dan peluk dengan tangannya sendiri.
Semua ini... semua penderitaan dan perpisahan ini terjadi, murni karena ulah ayahnya Wiguna yang tamak dan jahat di masa lalu. Dan hari ini, Anin bersumpah akan melindungi anaknya dengan segala cara, bahkan jika harus berkorban nyawa sekalipun.