Saking kayanya, keluarga Suhartanto merasa jenuh dengan kehidupan mereka yang bergelimpangan harta. Akhirnya mereka memutuskan untuk pindah ke desa, mencari suasana baru tanpa fasilitas mewah apa pun.
Akankah mereka mampu bertahan hidup di desa yang semuanya serba terbatas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon poppy susan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 10 PGS
Ariel keluar dari kelas berniat akan makan, tapi dia melihat Sherina yang sedang asyik bercanda dengan anak-anak. Salah satu anak berlarian dan Ariel langsung menghentikan anak tersebut. "Mia, jajanan kamu banyak banget? memang Mama kamu ngasih uang jajan berapa?" tanya Ariel.
"Semua jajanan itu gratis Pak, Bu Sherina yang sudah memborongnya," sahut Mia.
"Apa!"
Mia pun dengan cepat pergi dan kembali bermain dengan teman-temannya. "Dia hobi sekali memborong makanan, sok kaya sekali. Wanita boros seperti itu tidak pantas dijadikan seorang istri, pasti dia akan menghabiskan uang suaminya dalam sekejap," batin Ariel.
Ariel pun segera masuk ke ruangan guru dan mulai menyantap makanannya. Nining terlihat senyum-senyum sembari curi-curi perhatian kepada Ariel. Semua guru muda di sekolah itu memang mengidolakan Ariel, meskipun mereka tahu Ariel galak dan sombong tapi mereka tetap menyukai Ariel.
"Pak Ariel kalau lagi makan terlihat tampan sekali," batin Nining dengan senyumannya.
Tidak lama kemudian, Sherina masuk dengan membawa beberapa jajanan dari pedagang. "Ning, mau nih?" tawar Sherina.
"Banyak banget jajanannya," seru Nining.
"Iya, aku ingin nyoba jajanan anak-anak," sahut Sherina.
Sherina mencoba satu persatu jajanan itu dan dia tampak bahagia. "Ih, enak banget terbuat dari apa sih ini?" tanya Sherina.
"Dari terigu biasa."
"Tapi enak loh, lumayan dengan harga yang sangat murah. Di sini harga dua ribu masih berlaku kalau di kota sudah gak ada harga segitu," seru Sherina dengan mulut penuh makanan.
"Kamu yang memborong jajanan buat anak-anak?" celetuk Ariel.
"Iya," sahut Sherina.
"Kenapa kamu lakukan itu? jangan biasakan melakukan hal yang nantinya akan membuat anak-anak jadi berharap barang gratisan!" dingin Ariel.
Sherina menghentikan makannya lalu menatap Ariel dengan tatapan kesal. "Maksud kamu apa? aku hanya berniat baik mentraktir anak-anak terus apa yang salah?" kesal Sherina.
"Jangan lakukan lagi, nanti akan menjadi kebiasaan," sentak Ariel.
Sherina mengepalkan tangannya, dia sungguh sangat emosi dengan ucapan Ariel. Ariel bangkit dari duduknya. "Lebih baik kamu simpan uang kamu yang tidak seberapa itu, jangan sok-sok'an mau traktir anak-anak. Mau mengambil hati anak-anak dengan memberi mereka jajanan gratis tapi kamu sendiri sedang susah dalam keuangan," ledek Ariel dengan sinisnya.
"Apa? susah dalam keuangan?" seru Sherina emosi.
"Kalau keluarga kamu tidak susah dalam keuangan, Papa dan adik kamu tidak mungkin bekerja di perkebunan milik Papa aku. Lebih baik uang kamu simpan dan tabung, untuk jaga-jaga jika kalian membutuhkannya jangan dihambur-hamburkan kaya gitu. Apa jangan-jangan kamu ingin mendapat pujian gitu dari orang-orang dan ingin disebut sebagai orang yang baik dan dermawan," sinis Ariel.
Mata Sherina sudah mulai berkaca-kaca. "Mulut kamu sungguh keterlaluan Pak Ariel yang terhormat. Asal kamu tahu, mau aku hambur-hamburkan uang sekali pun aku tidak merugikan kamu kan? kenapa kamu yang sewot saat aku berbuat baik? Apa karena kamu takut kalah saing sama aku?" seru Sherina dengan senyuman meledek.
"Kalah saing sama kamu? jangan mimpi, kamu itu jauh dibawah aku. Jangan salah paham, kamu menghambur-hamburkan uang itu urusan kamu tapi jangan sampai Papa kamu datang ke rumah aku dan minta kasbon kepada Papa aku," seru Ariel dengan sombongnya.
Sherina kali ini sangat emosi, dia menghampiri Ariel dan berdiri tepat di hadapan Ariel. Tatapan Sherina sangat tajam, baru kali ini Sherina membenci orang sangat dalam. Sherina menunjuk-nunjuk dada Ariel dengan jari telunjuknya.
"Tenang saja, keluargaku bukan keluarga pengemis. Meskipun kami keluarga sederhana, bisa aku pastikan jika keluarga aku tidak akan pernah kasbon kepada Papamu yang katanya super kaya itu," seru Sherina.
"Baik, aku bakalan pastikan omongan kamu," sahut Ariel.
Untuk sesaat keduanya saling tatap satu sama lain, hingga akhirnya Ariel pun memilih untuk keluar dari ruangan guru. Nining menghampiri Sherina dan mengusap pundak Sherina menenangkan. Sedangkan Sherina terlihat masih emosi bahkan napasnya pun ngos-ngosan saking emosinya.
"Sabar ya, Sher," ucap Nining memberi semangat.
"Tuh orang songong banget sih, sok kaya banget," geram Sherina.
"Sudah, lebih baik sekarang kamu duduk dan makan kembali," ajak Nining sembari menarik tangan Sherina.
"Astaghfirullah, kenapa orang itu begitu sangat menyebalkan. Wajah boleh saja tampan, tapi mulut dan ucapannya nyelekit banget melebihi ibu-ibu komplek yang suka julid," geram Sherina.
"Makanya di sini gak ada yang berani negur dia, karena ucapan dia pedes banget," bisik Nining.
"Tapi Bu, walaupun begitu kita tetap mengidolakan beliau," celetuk Bu Rina.
"Idih amit-amit Bu, lebih baik idola sama yang lain saja orang kaya gitu gak pantes diidolakan," kesal Sherina.
Berbeda tempat, Tama memanggil Yosep untuk datang ke ruangan kerjanya. "Ada apa Juragan memanggil saya?" tanya Yosep.
"Yosep, mulai besok kamu buat Tri dan anaknya sibuk banget. Saya ingin mendekati Jeng Wita supaya saya bisa leluasa untuk mendekatinya," seru Juragan Tama.
Yosep kaget, dia bingung harus bagaimana tapi jika dia tidak menurut, dia takut dipecat karena mata pencaharian dia hanya bekerja dengan Tama. "Baik, Juragan," sahut Yosep.
Tama tersenyum bahagia, dia memang sudah gila bahkan semenjak pertemuan dia dengan Wita tadi, dia selalu terbayang-bayang wajah Wita. "Aku harus mendapatkan Jeng Wita, bagaimana pun caranya. Jika nanti saya sudah mendapatkan Wita, saya akan menceraikan Ningsih karena dia sudah tidak menarik lagi," batin Juragan Tama dengan senyumannya.
***
Malam pun tiba....
Kali ini Sherina memesan makanan lewat gofood, dia rindu sekali makan makanan mewah makanya dia memesan seafood dan berbagai makanan siap saji. "Sayang, kok kamu pesan makanan sih? memangnya kalian tidak mau ya, makan masakan Mommy?" seru Mommy Wita dengan wajah cemberutnya.
"Eh, bukan begitu Mommy ku sayang. Sherina hanya rindu saja dengan seafood," sahut Sherina gelagapan.
"Padahal kalau kamu mau seafood, tinggal bilang saja nanti Mommy masakan," seru Mommy Wita.
Ketiganya langsung tersedak, Wita segera memberikan minum untuk suami dan anak-anaknya. "Kalian itu kenapa sih, tersedak kok barengan gitu?" seru Mommy Wita.
"Ah, tidak apa-apa, lebih baik Mommy makan deh jangan bahas yang lain-lain dulu," bujuk Daddy Tri.
Akhirnya mereka pun menyantap makanan itu dengan lahapnya. Setelah selesai makan, semuanya memutuskan untuk mencari angin duduk di teras rumah. Keluarga yang biasa hidup mewah itu, sekarang harus hidup susah di kampung.
"Baru beberapa hari tinggal di kampung, kulit Mommy sudah kusam kaya gini, Mommy mau luluran dulu ah," seru Mommy Wita sembari masuk ke dalam rumah.
Sherina, Syarif, dan Tri sama-sama menghela napas berat. Entah apa yang sedang dipikirkan ketiganya.
kalian harus perlihatkan siapa kalian biar tama dan yg lainnya kicep, kesel sumpah