menceritakan tentang perjalanan seorang wanita yang mencari cinta sejatinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Elita Septiyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Buka Puasa Terakhir untuk Bapak
"Apa maksudnya Teh Rita balikin kurma dari kita yang buat bapak?" tanyaku emosi ketika sampai di rumah.
"Mungkin itu bukan yang dari kita. Hanya mirip," jawab Kang Ali berusaha santai.
"Ini dari kita, Kang. Coba kamu lihat. Sama persis." Aku memperlihatkan dua bungkus kurma yang salah satunya sudah terbuka karena aku dan Aira makan tadi. "Dan aku gak lihat ada kurma di kamar Bapak. Bapak juga bilang pengen kurma dari kemarin."
"Ya sudah, gak apa-apa. Jadi bisa buat stok kita."
"Akang gak kesel sama Teh Rita? Kenapa dia gitu banget sama kita?"
"Maklumin saja. Kita tahu banget bagaimana dia itu."
"Sampai kapan harus dimaklumin terus? Dan kita harus ngalah? Kita memang miskin, tapi gak minta makan sama dia. Jadi, kenapa harus takut melawan?"
"Akang gak mau kita ribut. Kasihan bapak …."
Aku terduduk di kursi kayu. "Ya, hanya kita yang selalu merasa kasihan sama bapak. Makanya kita selalu harus ngalah. Tapi, mereka sama sekali gak peduli."
Kang Ali berdiri di belakangku. Tangannya memijit pundakku lembut. "Istigfar saja, ya? Semoga jadi pahala buat kita. Pahala bersabar."
Aku menarik napas dalam-dalam, kemudian beristigfar beberapa kali.
Keesokan harinya, Kang Ali baru saja pulang bekerja. Seperti kemarin-kemarin, lelaki berjambang itu langsung ke lapak untuk membantuku berjualan.
"Hari ini, kita langsung pulang aja. Gak usah nemuin bapak," ucapnya sambil menyimpan tas di bawah meja jualan.
"Lho, kenapa?" tanyaku sambil meliriknya.
"Gak usah aja. A Farid dan Teh Rita juga ada di rumah."
"Akang tahu dari mana?"
"Tahu aja." Dia memalingkan muka.
"Kalau gak ada?"
"Teh Rita pasti pesen sama Tuti atau Ceu Mimi buat nyediain makanan bapak."
"Kemarin aja, mereka ada di rumah tapi tetep gak merhatiin bapak. Udah tahu bapak gak bisa makan pedes, malah disediain makanan pedes semua," ucapku.
Kang Ali tidak menjawab.
"Apa yang Akang dan A Farid omongin kemarin, soal ini? Mereka ngelarang kita ke sana jengukin bapak, kan?"
Kang Ali masih tidak menjawab. Dia berpura-pura sibuk melayani pembeli. Padahal hanya satu orang.
Namun, dengan sikapnya itu, aku menjadi semakin yakin kalau semua yang aku katakan adalah benar.
Sore itu setelah lapak tutup, kami langsung pulang ke rumah.
"Telepon bapak, Kang, vidio call," ucapku setelah kami shalat Maghrib.
"Gak usah. Nanti ketahuan A Farid atau Teh Rita, gak enak."
Aku terdiam, menahan perasaan kesal yang mulai membuat udara terasa panas. Hanya saja, tidak ada yang bisa aku lakukan.
Begitu juga dengan keesokan harinya, Kang Ali masih melarang kami untuk mengunjungi Bapak. Alasannya masih sama seperti kemarin.
"Kok kakak kamu itu aneh, Kang. Ngelarang anak buat jengukin orang tuanya," ucapku kesal.
"Udahlah, InsyaAllah semuanya baik-baik aja."
"Mereka belum pernah ngerasain gimana jadi aku. Yang pengen banget punya bapak. Dari kecil, aku suka iri melihat teman-teman bersama bapaknya. Makanya, waktu udah nikah sama kamu dan punya bapak, aku merasa senang sekali. Aku berjanji akan menjaga beliau dan membahagiakannya."
"Semuanya juga sayang sama bapak. Tapi, caranya aja yang berbeda buat nunjukin perasaan itu."
"Apapun yang kamu katakan buat belain kakak-kakak kamu, aku tetep gak bisa paham. Sebab, yang aku lihat mereka gak peduli sama bapak."
"Kamu jangan ngomong begitu. Lagian, bapaknya juga gak kenapa-napa. Beliau bahagia-bahagia aja."
"Kamu jangan bohong, Kang. Aku tahu, kamu juga melihat kalau bapak sering merenung sendiri. Bahkan, sampai menangis. Kalau bukan karena perlakuan anak-anaknya, karena apa lagi coba?"
"Kamu jangan suudzon juga." Kang Ali berdiri dan menjauhiku.
"Suuzdon gimana?" tanyaku. Namun, tidak ada jawaban karena Kang Ali entah pergi ke mana.
Seperti itulah suamiku. Kalau kakaknya sudah bicara, pasti akan menurutinya meski aku yakin hal tersebut bertentangan dengan hatinya.
**
Dua hari berlalu.
Aku sedang bersiap-siap pergi ke lapak yang berjarak sekitar 1 kilometer. Tiba-tiba, ponselku berdering dan ternyata itu telepon dari Kang Ali.
"Akang sedang di rumah sakit. Gak bisa bantuin kamu di lapak. Kamu hati-hati, ya, sama Aira. Langsung pulang aja ke rumah kalau udah tutup," ucapnya setelah mengucapkan salam.
"Siapa yang sakit? Kamu? Sakit apa?" tanyaku panik.
"Bapak. Tadi, si Tuti telepon ngasih tahu kalau bapak pingsan. Terus, akang langsung izin dari pabrik dan bawa beliau ke rumah sakit."
"Ya Allah … apa kata aku juga, Kang. Bapak itu gak ada yang merhatiin. Jangan-jangan gak sahur tapi maksain puasa. Atau, tekanan darahnya naik lagi, kan? Bapak pasti banyak pikiran. Kasihan sekali …," ocehku sambil menahan tangis.
"Bapak gak apa-apa. Sekarang udah sadar, kok. Kamu gak usah khawatir."
"Habis Magrib aku ke sana."
"Gak usah."
"Pokoknya, habis Magrib aku ke sana," jawabku kemudian langsung menutup sambungan teleponnya.
Dengan perasaan tidak menentu, aku menjaga lapak. Sampai-sampai beberapa kali ditegur pembeli karena aku tidak fokus.
Setelah lapak tutup, aku langsung berangkat ke rumah sakit. Sedangkan Aira aku titipkan kepada tetangga.
Di sana sudah ada A Farid dan istrinya.
Melihat kedatanganku, Teh Rita langsung memalingkan muka.
"Bagaimana kondisi Bapak?" tanyaku kepada Kang Ali. Aku tidak berniat menyapa yang lain.
"Sudah baik," jawabnya.
"Ini pasti karena makanannya gak teratur dan banyak pikiran. Makanya bapak jadi sakit," ucapku kesal.
"Maksudnya apa?" Teh Rita menatapku.
"Bapak itu kesepian, jadinya stres. Terus, makannya juga gak diperhatikan. Makanya kaya gini. Kami yang mau dan senang menemani bapak, malah dilarang-larang," jawabku ketus.
"Kamu tahu apa? Jangan sok, ya!" Teh Rita memelototiku.
"Aku tahu banyak. Jadi, gak sok," jawabku lagi sambil memalingkan muka.
"Kamu itu gak tahu apa-apa. Jadi, jangan terlalu banyak bicara. Lebih baik diam saja," geram Teh Rita.
"Gak tahu apa-apa? Aku tahu semuanya …."
"Nay, sudah. Ini rumah sakit. Malu sama orang." Kang Ali menarik lenganku agak menjauh.
Sekilas, kulihat Teh Rita yang mencibir. Sedangkan A Farid, dari tadi hanya terdiam tanpa ekspresi.
"Kamu jangan kaya gitu. Jangan ladeni Teh Rita …," bisik Kang Ali.
"Aku udah gak tahan lagi, Kang. Apalagi, kamu juga gak bisa berbuat apa-apa. Jadi, biar aku yang maju."
"Pokoknya jangan, kasihan bapak kalau sampai tahu anak menantunya pada ribut."
"Selalu itu yang akang jadiin alasan. Padahal, lebih kasihan lagi lihat bapak kaya gini."
"Tapi, bapaknya juga yang mau. Jadi, mulai sekarang udah aja. Kita jangan ikut campur lagi."
"Apa? Jangan ikut campur? Kenapa? Kita juga sama anak mantu Bapak. Terus, kenapa jangan ikut campur? Apa Akang takut karena mereka orang kaya?" Aku menatap Kang Ali tajam.
"Kamu kenapa selalu menyangkut-pautkannya dengan kaya atau miskin?"
"Karena biasanya seperti itu. Si miskin harus terima meski harga dirinya diinjak-injak oleh si kaya."
"Bukan itu alasannya. Benar kata Teh Rita. Kamu itu gak tahu apa-apa."
"Terus, apa yang tidak aku ketahui?" Kutatap Kang Ali lebih tajam.
Dia memalingkan wajahnya, seolah ingin menyembunyikan sesuatu lebih dalam dariku.
"Apa yang tidak aku ketahui tentang bapak?" tanyaku lagi.
"Ini rumah sakit, Nay. Jangan bikin keributan," ucap Kang Ali kemudian berlalu.
Aku terdiam beberapa saat sambil berusaha mengatur napas yang terdorong emosi. Kemudian, aku berjalan menuju ruangan Bapak.
Aku menghentikan langkah di depan pintu. Lalu, melirik seseorang yang tengah duduk di bangku tunggu dengan posisi menghadap arah lain. A Farid sedang menelepon seseorang.
"Kamu sudah sampai? Ya udah, istirahat aja dulu," ucap A Farid. "Gak usah ke sini. Lagian, dia gak apa-apa, kok. Aa sama Teh Rita juga udah mau pulang."
Dia? ‘Dia gak apa-apa.’ Di sini yang sedang sakit adalah Bapak. Lalu, kenapa A Farid menyebutnya dia?