NovelToon NovelToon
BUKAN CINTA SESAAT

BUKAN CINTA SESAAT

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta setelah menikah / Konflik etika / Romansa
Popularitas:336
Nilai: 5
Nama Author: Anyue

Butuh waktu mengenal dan butuh perjuangan untuk mempertahankan sebuah perasaan . Jika sudah ada kesepakatan maka ikatan akan membuat sebuah hubungan menjadi sakral .

"Cintaku bukan cinta sesaat dan bukan sekedar kata kiasan ," bisik hati yang memendam perasaan .

Apakah cinta itu akan berlanjut atau hanya sementara waktu ?

ikuti kisahnya hanya di sini

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anyue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 10. BCS

Malam itu pukul tujuh tiga puluh menit Albi dan keluarganya berkunjung ke rumah Fabio untuk melamar Prasasti.

Dua keluarga berkumpul di ruang tamu. Prasasti melihat keluarga calon suami merasa tidak asing. Ia mencoba mengingat tapi tidak juga menemukan siapa mereka. Hanya sekelebat seperti bayangan lewat.

Di tempat duduk Albi menatap Prasasti dengan sorot tajam. Perasaan yang dulu pernah menyelinap sekarang rasa itu seakan hilang begitu saja.

Albi seperti tidak mengenal Prasasti begitu juga dengan Prasasti enggan menatap Albi. Ia sangat membenci pria dingin dan sombong.

"Selamat malam, Pak Fabio. Maaf jika kedatangan kami tanpa pemberitahuan lebih dahulu dan terkesan mendadak. Perkenalkan nama saya Abdi Prasetya dan ini Istri saya Khasanah, yang lain nanti perkenalan sendiri," ucap Abdi dengan nada bercanda.

Semua yang mendengar tertawa, suasana terasa lebih santai mendengar suara Abdi. Beda saat masuk terasa dingin seperti akan menghadapi hakim.

”Terimakasih kenan hadir di rumah kami, maaf kami hanya tinggal berdua saja karena istri saya sudah meninggal dunia," sahut Fabio.

Suasana menjadi haru mendengar Fabio menceritakan tentang istrinya. Semua mengucapkan doa untuk almarhumah istri Fabio.

”Maksud kedatangan kami adalah melamar putri Bapak untuk putra kami yaitu Abdi Reksa Prasetya," ucap Abdi sambil menatap Prasasti yang terlihat cantik dan elegan.

Prasasti mendengar nama lengkap Abdi merasa mengenali nama itu, jantungnya tiba-tiba merasa berdegup sangat cepat.

Antara percaya dan tidak ia melihat wajah Abdi lekat, mencari sesuatu disana. Nama itu sama persis dengan nama Albi yang dulu ia kenal.

Abdi merasa tidak asing melihat Prasasti, ia menyenggol istrinya. Khasanah mendekatkan wajahnya disamping Abdi.

"Ada apa?" tanya Khasanah ingin tahu.

"Aku seperti pernah melihat gadis itu entah lupa dimana," jawab Abdi.

Khasanah menatap Prasasti lekat sepersekian detik baru menyadari, kalau mereka berdua mengenal Prasasti.

"Iya, Pa. Tapi Mama tidak tahu namanya," sahut Khasanah.

”Apa kamu mau menerima lamaran dari keluarga Pak Abdi?" tanya Fabio kepada anaknya.

Prasasti merasa ada beban ditubuhnya sangat berat, matanya menahan air mata sedangkan dadanya terasa sesak. Ia merasa ragu dan bingung, apakah harus menerima atau menolak.

”Aku.. Terima lamarannya,” jawabnya dengan suara bergetar. Prasasti langsung diam karena gugup tangannya terasa dingin.

Semua orang mengucap syukur mendengar jawaban Prasasti. Albi rasanya ingin pergi dari sana, ia merasa panas tapi tangannya dingin.

Bagi Albi ini adalah awal dari kehacuran masa depannya seperti menghadapi ujian. Beda dengan Prasasti, yang menganggap pernikahannya hanyalah alasan untuk memenuhi keinginan papanya.

Apakah mereka berdua akan menerima satu sama lainnya atau mereka akan menyadari kalau pernikahan mereka adalah awal dari sebuah hubungan

"Baiklah selanjutnya untuk acara pernikahan bagaimana kalau dilaksanakan dua minggu lagi," Abdi mengemukakan pendapat.

Fabio menimbang perkataan Abdi, sambil berpikir kemudian berkata."Saya setuju pendapat, Pak Abdi,"

"Bagaimana dengan yang lain?" tanya Abdi melihat orang-orang.

"Setuju ," sahut Alba diikuti suara semuanya bersamaan.

"Jadi sepakat hari pernikahan dilaksanakan dua minggu lagi," kata Abdi.

Selesai acara lamaran keluarga Abdi berpamitan pulang. Selama perjalanan Albi merasa ada hal yang membuatnya berpikir.

Malam itu jalan kota terlihat gemerlap, lampu kota tak pernah padam selalu menerangi kegelapan.

"Apa yang kamu pikirkan, Sayang?" tanya Khasanah.

"Tidak ada, Ma," jawab Albi seadanya.

Sampai di rumah Albi langsung masuk ke kamar. Khasanah melihatnya heran. Abdi geleng-geleng kepala sambil merangkul pinggang istrinya berjalan menuju kamar.

"Mas, apakah keputusan kita salah menikahkan Albi?" Khasanah melepaskan pakaiannya menggantinya dengan pakaian tidur.

Abdi melihat tubuh istrinya menelan ludah dengan berat. Ia berjalan mendekati istrinya sambil memeluk dari belakang.

"Kita tidak salah, tapi keadaan yang membuat mereka menikah," jawab Abdi dengan suara parau.

Khasanah mendorong Abdi dengan kuat."Mas bersihkan tubuhmu, sudah malam. Ayo tidur, aku sudah sangat mengantuk,"

Abdi melepaskan pelukannya, berjalan ke kamar mandi. Saat keluar melihat istrinya sudah terlelap akhirnya menyusul berbaring disampingnya sambil memeluk.

______________

Albi sudah siap dengan pakaian kerja, lalu keluar ke ruang makan untuk sarapan bersama keluarganya.

"Pagi, Sayang,” sapa Khasanah sedang menyiapkan minuman untuk Abdi suaminya.

"Pagi juga, Mama, Papa,” jawab Abdi sambil membuat susu lalu meneguknya setengah gelas.

"Jangan terlalu sibuk nanti saat hati pernikahan sakit," pesan Khasanah mamanya.

"Iya, Mamaku Sayang," sahut Abdi lalu mencium mamanya.

"Pagi, semua," seorang perempuan cantik datang dari arah ruang tamu sambil berteriak.

”Sayang, tidak baik berteriak didalam rumah, jaga sikapmu," kata Khasanah kepada Syahira anaknya yang baru saja pulang dari kerja.

Syahira Andriana anak kedua mereka bekerja di perusahan milik Alba. Ia pulang tidak tentu karena perjalanan cukup jauh.

"Maaf," jawabnya sambil duduk bergabung dengan mereka lalu mengambil sayur ke dalam mangkuk.

"Bagaimana kerjaan kamu disana ?" tanya Abdi.

"Alhamdulillah, lancar," jawab Syahira lalu menyuapkan ke dalam mulut.

"Jaga dirimu baik-baik, jangan sampai dijebak sama pria mata keranjang," kata Albi beranjak dari tempat duduk lalu berpamitan kepada kedua orang tuanya.

Albi mencium kening adiknya berjalan keluar rumah. Syahira melihat kakaknya merasa ada sesuatu.

"Kakak kenapa?" tanya Syahira kepada kedua orang tuanya.

"Semalam Kakakmu melamar seorang perempuan," jawab Khasanah.

”Apa... Melamar. Terus nama perempuan itu siapa?" tanya Syahira penasaran.

”Namanya Prasasti," jawab Khasanah sambil membereskan piring kotor membawanya ke wastafel.

"Prasasti... Nama yang bagus," gumam Syahira sambil manggut-manggut.

"Ma, Pa. Aku ke kamar dulu mau istirahat," katanya beranjak meninggalkan ruang makan.

“Sudah bisa diandalkan juga tuh, Syahira," kata Abdi beranjak dari tempat duduk berjalan ke ruang kerja.

Khasanah membereskan meja makan di bantu bibi. Abdi keluar menemui istrinya untuk berpamitan berangkat kerja.

"Aku berangkat dulu, mungkin akan pulang terlambat, soalnya nanti ada meeting di luar kota," kata Abdi mencium bibir istrinya.

"Aaaaaa...," Syahira menjerit karena terkejut melihat adegan ciuman kedua orang tuanya.

Khasanah dan Abdi langsung melepaskan ciuman mereka menoleh Syahira sedang menutup mata.

“Kamu tidak boleh melihat adegan dewasa, kamu belum cukup umur nanti bisa berbahaya," kata Abdi berpamitan lalu melangkah meninggalkan mereka.

“Apakah Papa sama Mama sering melakukan didepan Kakak Albi?" tanya Syahira menyelidik.

"Bukan sering tapi pernah," jawab Khasanah dengan santai.

Syahira merasa aneh mendengar jawaban mamanya. Ia pergi ke dapur melihat isi kulkas, melihat ada buah mangga ia ingin membuat jus.

Selesai membuat Syahira membawa jus ke kamar. Melihat anaknya akan minum di dalam kamar Khasanah menegur.

"Sayang, jangan makan dan minum di dalam kamar, tidak baik," ucap Khasanah.

Syahira berhenti mematung di depan kamarnya.

1
sakura
.....
Anyue: kenapa titik-titik
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!