Firdha diusir dengan kejam oleh Ibu mertuanya 2 hari setelah dia melahirkan bayinya. Dirasa tidak berguna lagi, Firdha diperlakukan seperti sampah.
Di sisi lain, ada Arman yang pusing mencari Ibu Susu untuk bayinya, tak disangka takdir malah mempertemukannya dengan Firdha.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ita Yulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 : Keras Kepala
"Tuan, akhirnya Anda pulang juga." Bi Mina tersenyum senang menyambut kedatangan tuannya. Namun perasaan itu tak bertahan lama ketika melihat wajah Arman yang menahan amarah. "Tuan, apa terjadi sesuatu?"
Arman tak menjawab, justru malah melangkah cepat dan lebar menuju kamar putrinya. Bi Mina mengekor di belakangnya. Dari jarak sekian meter dari kamar Akira, suara tangisan keras bayi itu mulai terdengar. Entah apa yang terjadi. Ketika Arman memutar gagang pintu dan mendorongnya ke arah dalam, dia sudah mendapati Baby Akira menangis tergeletak di lantai. Wajah bayi itu merah gelap. Kedua lututnya terangkat di atas perut, dan kedua tangannya terkepal kuat. Sementara di atas kasur yang empuk, Firda sedang tertidur dengan lelap, seolah suara tangisan Akira sama sekali tidak mengusiknya. Bi Mina hanya bisa menutup mulut dengan tangan melihat pemandangan itu, sementara Arman langsung bergerak cepat menggendong putrinya dan menciuminya dengan penuh kasih.
...****************...
Akira tertidur dalam gendongan Arman sambil minum ASI menggunakan dot. Rasa kesal dan marah membuat Arman lebih memilih membawa bayinya naik ke kamarnya sendiri ketimbang membiarkan anak itu tidur bersama Firda di lantai bawah sana.
"Ke mana perginya babysitter itu, Bi?" tanya Arman menahan gejolak amarahnya.
"Tadi sore dia pamit pulang, Tuan. Katanya neneknya masuk rumah sakit dan akan dioperasi, jadi dia ijin tidak masuk selama 3 hari ke depan," jawab Bi Mina.
Hening sesaat.
Bi Mina menekuk wajah dalam. "Tuan, saya minta maaf. Semua ini kesalahan saya. Selama Anda pergi, saya sudah lalai mengawasi. Jika sampai terjadi apa-apa, saya juga layak mendapat hukuman."
Arman terdiam sejenak, lalu menghela napas. "Sudah larut, Bi. Kembalilah beristirahat di kamarmu. Akira biar tidur bersamaku malam ini. Oh ya, Bi, tolong siapkan beberapa botol ASI dari kulkas yang sekiranya cukup diminum Akira sampai pagi."
Bi Mina mengangguk mengerti. "Baik, Tuan."
...****************...
Firda terbangun dengan rasa pegal dan lelah yang menyebar di sekujur badannya. Dia membuka mata, menatap sekeliling ruangan yang masih gelap, kecuali cahaya lembut dari lampu malam di sudut kamar. Dia mencoba mengingat apa yang terjadi semalaman, tapi pikirannya masih berkabut.
Ketika dia berusaha bangun, rasa sakit dan tegang menghantam dadanya. "Aduh, sakit," keluhnya memegang dadanya. Dia baru menyadari bahwa sumber ASInya terasa penuh, sedikit nyeri dan hangat. Rasanya seperti akan meledak. Dia menunduk dan mendapati noda basah yang melebar di baju tidurnya. ASI-nya menetes tanpa henti, meninggalkan jejak basah pada bantal bayi dan seprai.
Seketika Firda teringat akan Akira. Seingatnya semalam dia menyusui anak itu dengan posisi mereka berdua sama-sama berbaring di atas kasur, seperti yang dia lakukan akhir-akhir ini semenjak Rahmi tidak membantunya merawat Baby Akira dengan alasan punya penyakit di kepalanya. Tapi ... kemana perginya bayi itu? Seingatnya dia tidak pernah bangun lagi menyusui setelahnya.
Firda mendongak menatap jam dinding. Seketika detak jantungnya bergemuruh. Ternyata sudah pagi. Firda melompat dari atas tempat tidur dengan panik, mencari bayinya di dalam box, di kolong tempat tidur, di dalam kamar mandi, dan di mana-mana di dalam kamar itu, tapi tidak ada. Firda mulai menangis ketakutan. Rasa takut kehilangan kembali menghantui. Siapa yang telah membawa pergi bayinya? Dan apa yang akan dia katakan kepada Arman dan kepada semua orang jika bayi itu menghilang? Mengapa bisa dia yang biasanya mengalami gangguan tidur malah tertidur nyenyak sampai pagi? Mengapa dia tidak becus menjaga anak itu? Firda menyalahkan diri sendiri.
Firda berlari keluar dari kamar, tidak peduli dengan rasa sakit yang seperti ingin meledakkan sumber ASInya. "AKIRA! AKIRA!!! DI MANA KAMU, SAYANG?!!" panggilnya, melihat ke sekeliling, tapi tak ada seorang pun di ruang keluarga. Bahkan para pelayanan yang biasanya berlalu lalang sibuk dengan tugas masing-masing tidak ada satu pun yang menampakkan batang hidungnya. Dia lantas berlari ke teras samping, siapa tahu anak itu dibawa berjemur oleh Bi Mina. Tapi nihil, Firda tak mendapati siapa pun dan apa pun selain hujan yang turun dengan deras pagi ini.
Firda kembali masuk, samar-samar dia seperti mendengar suara tangis bayi di lantai atas, meski suaranya tidak terlalu jelas. Firda berlari menaiki tangga ingin memastikan, begitu sampai di lantai 2, suara tangisan Akira terdengar lebih jelas. Firda yakin anak itu ada di sini. Firda menatap 2 pintu kamar secara bergantian, dia bingung Akira ada di kamar mana, sebab suara hujan deras yang melanda atap cukup mengganggu membuat pendengarannya tidak begitu jelas.
Firda mengambil tindakan cepat, memutar salah satu gagang pintu kamar, dan yang dia dapati justru ruangan gelap yang sunyi. Jadi dia yakin Akira pasti ada di kamar satunya. Firda kembali berlari menghampiri kamar satu itu, tapi sebelum dia sempat membukanya, Bi Mina sudah lebih dulu muncul dari pintu, dan di waktu bersamaan tangisan Akira terdengar semakin jelas dari dalam sana.
"Bi, siapa yang membawa Akira naik ke sini?" tanya Firda tidak bisa menyembunyikan kepanikannya. Sebenarnya dia ingin sekali menerobos masuk, tapi Bi Mina sudah lebih dulu menutup pintu dengan rapat kemudian menarik Firda menjauh dari sana.
"Jangan panik, Non. Non Akira aman bersama Tuan Arman."
Jantung Firda berdetak cepat mendengar nama pria itu disebut. "Ja-jadi ... Tuan Arman sudah pulang, Bi? Kapan dia pulang?"
"Itu tidak penting untuk kita bahas sekarang, Non. Sebaiknya Non Firda turun dulu, pompa ASInya, lalu buang."
"Loh, kenapa harus dibuang, Bi?" Firda mengerutkan kening heran dan tak mengerti, karena biasanya ASI yang dipompa disimpan dalam kemasan khusus kemudian dimasukkan ke dalam lemari pendingin.
"Tidak usah bertanya kenapa, Non. Lakukan saja seperti yang diperintahkan Tuan Arman," kata Bi Mina, tak ingin lagi Firda membantah.
...****************...
Di dalam kamarnya, Arman kewalahan menenangkan bayinya seorang diri. Putrinya sudah berjam-jam menangis, tidak mau lagi minum susu menggunakan dot, tidak mau tidur, kerjaannya hanya rewel terus.
"Tuan, sepertinya Non Akira mencari non Firda," kata Bi Mina dengan nada lembut. Sejak subuh dia merasa kasihan melihat anak itu menangis sampai pagi.
"Apa tidak sebaiknya kita bawa turun saja, Tuan. Non Firda juga sudah selesai memompa ASInya sejak tadi. Mungkin sudah tidak apa-apa jika dia kembali menyusui Non Akira," saran Bi Mina, mencoba membantu.
"Tidak usah ikut campur, Bi. Akira ini anakku, darah dagingku. Jadi secara emosional dia pasti lebih dekat denganku ketimbang orang lain yang hanya berkontribusi ASI padanya," jawab Arman dengan nada yang sedikit kasar, mencoba menyembunyikan rasa frustrasinya.
Bi Mina tak berani berkomentar apa-apa lagi, menundukkan kepala sebagai tanda hormat dan mematuhi perintah. Dalam hati, dia berpikir bahwa Arman terlalu keras kepala. Sebagai seorang ibu, Bi Mina tahu bahwa ikatan emosional antara bayi dan ibu susu bisa saja sangat kuat, terutama jika ibu susu itu yang telah merawat dan menyusui bayi tersebut siang dan malam.
Arman memang ayah kandung Akira, tapi Firda yang sudah seperti ibu bagi anak itu. Apalagi Arman lama tidak pulang, pasti Akira lebih mengenal Firda daripada ayahnya sendiri, begitu pikir Bi Mina, tapi Arman terlalu keras kepala untuk mengakui itu.
Hingga detik ini wanita paruh baya itu masih penasaran, entah apa yang membuat Arman seperti begitu membenci Firda.
Ponsel Arman berdering di atas nakas. Itu panggilan dari seseorang yang sangat dia tunggu-tunggu. "Bi, tolong gendong Akira sebentar. Aku mau jawab telepon."
Begitu Baby Akira diambil alih oleh Bi Mina, Arman langsung keluar ke balkon kamarnya. "Bagaimana?" ucapnya setelah menempelkan ponsel lipat di telinga.
"Ya, Oke. Kerja bagus," katanya lagi setelah terdiam sebentar menyimak perkataan lawan bicaranya. Setelah sambungan telepon yang hanya berlangsung singkat itu selesai, Arman berniat untuk kembali masuk ke dalam kamarnya. Namun, suara tangis putrinya yang tak lagi terdengar membuat keningnya mengkerut. Apa mungkin Baby Akira lebih tenang digendong Bi Mina ketimbang dirinya? Begitu pikir Arman.
Akan tetapi ketika dia masuk ke dalam kamar, Arman langsung disuguhi pemandangan yang membuat kedua matanya terbuka lebar. Firda sedang berusaha mengeluarkan pabrik ASInya lalu menyodorkan ke mulut Akira yang kini tengah menganga tak sabaran.
Selama beberapa saat Arman berdiri mematung di tempat. Detik-detik terasa memanjang, dan kedua matanya menolak untuk dikedipkan.
tp kan Firda gk tau....jd gk bisa jg melampiaskan amarah ke dia nya dong..