Sejak kejadian kebakaran itu, Arga Mahendra jatuh cinta pada gadis yang menyelamatkan hidupnya. Amira, gadis belia yang masih berusia 17 tahun dan masih duduk di bangku kelas XII SMA.
Keduanya kemudian terlibat dalam hubungan terlarang, dimana Amira diam-diam menikahi Amira tanpa sepengetahuan Stella yang tak lain adalah istri sahnya.
Lantas bagaimana kehidupan mereka ? Siapakah yang akan Arga pertahankan dalam hidupnya ? Amira atau Stella ? Disaat Stella sudah sembuh dari penyakit gangguan mentalnya.
Simak ceritanya di novel "Istri Simpanan Guruku" karya Dewi KD, jangan lupa berikan like dan komentar kalian untuk mendukung author 🔥
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi KD, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10
“Ibu mau kemana ?”
Amira melihat Ibunya mengemasi pakaiannya ke dalam koper.
“Ibu mau pergi ke Bali, Sayang ! Kau jaga diri di rumah, ya !” jawab Herlya dengan santainya.
“Ke Bali ?”
“Iya ! Teman Ibu mau menikah lagi ! Dan sebagai teman yang baik, bukan kah Ibu harus mendukung dan ikut merayakan pernikahan teman Ibu ?” jawab Herlya sembari mengemasi pakaiannya.
“Apa sebegitu pentingnya teman Ibu itu ? Sampai-sampai putri Ibu sendiri selalu Ibu abaikan ! Tidak pernah di tanya apa kondisinya dan keluh kesahnya !” ucap Amira yang membuat Herlya langsung menghentikan pergerakan tangannya menyusun pakaian dalam kopernya.
“Apa maksudmu, Amira ? Apakah selama ini Ibu tidak pernah memenuhi semua yang menjadi keinginan mu ? Ibu sudah berusaha selama ini menjadi Ibu yang terbaik untuk mu ! Tapi Kau malah memberikan respon seperti ini pada Ibu !”
Herlya tentu saja tersinggung mendengar ucapan Amira barusan padanya.
“Iya ! Ibu benar Ibu sudah berusaha menjadi Ibu yang terbaik untuk Ku ! Aku saja yang mungkin tidak pernah bersyukur menjadi seorang anak !”
Setelah mengatakan itu Amira langsung pergi meninggalkan Herlya dan masuk ke dalam kamarnya.
“Amira !”
Herly menghela nafasnya, ia kemudian melihat foto pernikahannya bersama mendiang suaminya dulu, siapa lagi kalau bukan Ayah dari Amira.
“Lihat kan bagaimana kurang ajarnya putri mu itu padaku ! Seharusnya dia berterima kasih padaku, dan Kau juga terutama !” tunjuk Herlya pada foto mendiang suaminya seorang diri.
Di kamarnya Amira merebahkan tubuhnya dan menatap langit-langit kamarnya, tak lama ponselnya berbunyi, Amira pun membuka ponselnya.
“Kau belum tidur ?”
Amira tersenyum dalam kecil membaca pesan itu.
“Belum.” Jawab Amira dalam pesan itu.
“Kenapa ? Apa Kau tidak bisa tidur ?”
“Ya ! Karena ada beberapa tugas sekolah yang harus Aku selesaikan !”
“Apa perlu Ku bantu ?”
Amira diam membaca pesan itu dan tak lama orang yang mengirimkan pesan padanya itu menghubunginya melalui panggilan video.
“Berani sekali Dia !”
Amira tersenyum kemudian mengangkat panggilan tersebut.
Orang yang mengubungi Amira adalah Arga !
Ya, sejak pertemuan Amira dan Arga satu minggu lalu. Keduanya kini semakin dekat tak seperti hubungan antara murid dan guru. Keduanya sering berkomunikasi melalui pesan dan pergi berdua untuk makan bersama.
“Kau menghubungi Ku malam-malam begini, bagaimana jika istri mu tahu dan memarahi mu, Pak Guru ?” kata Amira
Arga hanya tersenyum mendengarnya.
“Dia tidak akan bangun, karena sudah meminum obat sebelum tidur !” jawab Arga apa adanya.
Arga tak menutup-nutupi dari Amira bagaimana hubungan rumah tangganya bersama Stella, pada Amira. Amira tentu saja tak peduli akan hal itu, karena bersama Arga yang Amira tahu ia merasakan kenyamanan dan kasih sayang yang tidak ia dapatkan dari Ibunya. Apalagi sejak Ayahnya tiada. Amira merasa haus akan perhatian dan kasih sayang. Begitu ia dekat dengan Arga, hanya satu yang Amira rasakan, Amira merasa di pedulikan dan di perhatikan, itu membuat Amira semakin dekat dengan Arga.
“Kau pasti bosan sekali di rumah itu !” ucap Amira pelan.
“Bukan hanya bosan ! Tapi juga tersiksa dan menderita !” jawab Arga.
“Ah…Aku sampai tidak habis pikir dengan jalan pikiran orang tua mu ! Mereka mengorbankan mu hanya demi harta ! Astaga !” kata Amira
“Ya, seperti itulah mereka !” jawab Arga menghela nafasnya.
“Lusa hari libur dan kemudian tanggal merah ! Apa Kau tidak punya rencana untuk bepergian ?” tanya Arga basa-basi.
“Memangnya Aku mau kemana ? Aktivitas Ku hanya di sekolah dan kembali ke rumah !” jawab Amira apa adanya.
“Kalau begitu, besok setelah pulang sekolah Aku akan menjemput mu, apa Kau mau ikut dengan Ku ?”
“Memangnya Kau mau mengajak Ku kemana ? Kau tidak berniat untuk menculik Ku, kan ?”
“Tentu saja tidak ! Aku hanya ingin mengajak mu berlibur sebentar !”
“Oh begitu rupanya ! Baiklah ! Lagi pula Ibu Ku pergi ke Bali dan tak tahu kapan Dia akan pulang !” jawab Amira.
Arga seakan mendapatkan angin segar mendengarnya.
Amira kemudian melihat jam di dinding sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, sedangkan tugas sekolahnya belum ia kerjakan.
“Aku tutup panggilannya, ya Pak Guru ! Aku harus menyelesaikan tugas sekolah Ku !” kata Amira.
“Baiklah ! Jangan tidur terlalu larut malam !”
“Iya Pak Guru !” jawab Amira tersenyum manis.
“Sampai juga besok di sekolah, Amira ! Selamat malam !”
“Ya, selamat malam !”
Panggilan mereka selesai, dan Amira tersenyum bahagia, ia kemudian menuju meja belajarnya dan mengerjakan tugas sekolahnya dengan hati yang berbunga-bunga.
...****************...
bukan seorang ibu yang baik.
napsu jadinya....
gimana rasanya posisi Dia menjadi Amira.
nanti juga akan ada balasannya.
tetep Amira pertahankan..Libas saja jalang mah. jangan kasih ampun.
apa sekama ini pura2 sakit jiwanya.
jadi aja jiwanya bener2 sakit.