Alya, mahasiswi tingkat akhir yang cerdas dan mandiri, tengah berjuang menyelesaikan skripsinya di tengah tekanan keluarga yang ingin ia segera menikah. Tak disangka, dosen pembimbingnya yang terkenal dingin dan perfeksionis, Dr. Reihan Alfarezi, menawarkan solusi yang mengejutkan: sebuah pernikahan kontrak demi menolong satu sama lain.
Reihan butuh istri untuk menyelamatkan reputasinya dari ancaman perjodohan keluarga, sedangkan Alya butuh waktu agar bisa lulus tanpa terus diburu untuk menikah. Keduanya sepakat menjalani pernikahan semu dengan aturan ketat. Tapi apa jadinya ketika batas-batas profesional mulai terkikis oleh perasaan yang tak terduga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10
Pagi harinya, cahaya matahari masuk menembus celah tirai kamarku, membuatku terpaksa mengerjap pelan. Aku menggeliat, meraih bantal dan memeluknya. Rasanya baru saja aku terlelap, tapi kenyataannya pagi sudah datang.
Aku membuka mata pelan, mendapati tubuhku masih berbaring di ranjang, sementara dari sofa di pojok kamar, Reihan sudah tidak ada.
Aku mengucek mata, mengernyit. “Dia bangun sepagi ini?” gumamku
Bangkit dari ranjang, aku melirik jam dinding. Sudah pukul enam lewat sedikit, pantes saja. Biasanya kalau hari Minggu aku masih bergelung di balik selimut. Tapi sekarang… rasanya mulai sekarang aku harus menyesuaikan diri.
Di meja nakas, ponselku bergetar. Notifikasi dari Farel.
Farel
Gimana jadi ngga?
Aku buru-buru membalasnya, semalam aku belum sempat membalas pesannya.
To farel
Aduh maaf banget yaa,
Aku udah ada janji sama temen hari ini.
Tak perlu menunggu lama dia langsung membalasnya
Farel
It's ok, ngga masalah kok
Kalo ada waktu luang kabarin ya
To farel
Ok sip.
Dulu aku pasti langsung setuju tanpa pikir panjang. Tapi sekarang? Rasanya sudah berbeda.
“Alya.” Suara berat itu membuatku hampir menjatuhkan ponsel.
“I-iya?”
Reihan berdiri di depan pintu, sudah rapi dengan kaos warna hitam dan celana sepotong.Rambutnya masih agak basah, aroma sabun segar menyebar ke ruangan. “Mama nyuruh kita sarapan bareng. Setelah itu, kita siap-siap. Hari ini kita pindah ke rumah saya.”
"Iya"
Aku segera bangkit dari ranjang menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah merasa segar aku mengganti pakaianku dengan setelah rumahan yang biasa aku pakai.
.
.
.
" Devan mana mah" tanyaku karena tidak melihat batang hidung bocah itu
" Ohh, itu baru aja pigi sama teman-temannya"
Reihan duduk di sampingku, tenang seperti biasanya. Gerak-geriknya selalu terlihat rapi dan terkontrol, berbeda jauh dengan aku yang masih canggung. Kami makan dalam hening beberapa saat sebelum mama membuka percakapan lagi.
“Kalian setelah pindah nanti, jangan lupa kabari Mama, ya. Sering-sering juga main kesini"
Aku melirik Reihan sekilas, sebelum menjawab pelan, “Iya, Ma.”
Reihan hanya mengangguk singkat. Ia tampak fokus pada makanannya, seperti tak ingin terlalu banyak bicara. Tapi entah kenapa, justru diamnya itu membuatku semakin sadar akan kehadirannya.
Setelah sarapan aku langsung naik ke atas menuju kamarku, memasukkan beberapa helai pakaian kerena sebagian pakaianku masih ada di kos.
Sedangkan Reihan dia masih berbincang bincang dengan ayah di bawah. Setelah semuanya siap aku langsung menyeret koperku itu kebawah tidak berat karena ukurannya yang kecil.
" Mah"
" Di dapur"
Aku mendekati mama di dapur yang sedang mengupas buah " mah" panggilku lagi
" Kamu kenapa sih"
" Mah bilangin sama mas Reihan Napa, aku disini aja, ngga usah ikut sama dia pindah"
" Mana bisa gitu, kamu tuh udah nikah Alya, sudah sepatutnya kamu tinggal sama suamimu dan patuh samanya"
"Tapi aku belum siap mah" ucapku dengan nada sedikit memelas
" Siap ngga siap itu udah resiko kalo udah nikah"
" Udah nih bawa kedepan, kasih sama papamu dan Reihan"
Aku hanya menatap mama sebentar dan mengambil buah potong itu.
Lagi pula tidak ada gunanya minta tolong sama mama, kan dia juga yang nyuruh aku nikah.
" Pah ini buahnya" ucapku sambil meletakkan buah itu di atas meja.
" Kalian pagi ini berangkatnya" tanya ayah
" Iya pah nanti siang mama sama papa mau berangkat, tapi tunggu Devan pulang dulu "
" Ya udah kalo begitu siap-siap gih"
Aku kembali ke kamar mengambil benda pipih itu melihat notifikasi apa saja yang muncul
Nia 💓
Woii kemana aja lu
Dari semalam chat gua ngga dibales
Are you ok
To Nia 💓
Sorry banget yahh
Semalem gua capek banget jadi ketiduran deh.
Nia 💓
Kamu ngga apa-apa kan
Kalo ada sesuatu biar gua ke kost lu langsung nih
To Nia 💓
Ehh gua ngga papa kok
Santai aja
Nia💓
Ya udah kalo gitu besok kita jumpa di kampus yaa
To Nia 💓
Okkkaayy
Tak lama setelah itu Reihan muncul dari pintu
" Devan udah datang, barang-barangmu sudah semua?"
"Udah"
" Kalo gitu sekarang kita berangkat"
Aku hanya mengangguk mengikuti langkahnya menuruni anak tangga, di ruang tamu sudah ada mama, papa, dan juga Devan.
" Mahhh" aku merentangkan tanganku memeluk sang mama. Memeluknya dengan erat seolah enggan untuk berpisah tak kuasa juga aku menahan nangisku.
" Udah jangan nangis "
Aku hanya diam saja tak sanggup untuk membalas perkataan mama.
"Nanti disana patuhi dan dengarkan suami mu ya, jangan menolak apa yang dia katakan"
Aku hanya mengangguk sebagai balasan yang mama ucapkan.
Beralih ke papa tangisku semakin menjadi-jadi bagaimanapun dia adalah orang yang selalu mendukungku dan papa juga adalah cinta pertamaku
" Udah jangan nangis lagi, kamu tetap kesayangan papa kok"
" Iya pah"
Aku menatap Devan seraya memeluknya " maafin kakak ya aku ada banyak salah, jangan lupain kakak"
" Iya kak, nanti kalo suamimu jahatin kamu bilang aja sama aku biar aku hajar"
Devan mencebik, lalu menepuk dadanya dengan penuh percaya diri. “Serius aku, Kak! Aku bakal jagain kakak meski dari jauh.”
Suasana di ruang tamu mendadak penuh haru. Mama berkali-kali mengelus punggungku, papa menepuk bahuku, sementara Devan terus menatapku dengan wajah seriusnya yang polos
Suasana di ruang tamu penuh haru. Mama berkali-kali mengelus punggungku, papa menepuk bahuku, sementara Devan menatapku dengan tatapan sendu.
Papa lalu menoleh ke arah Reihan yang sejak tadi berdiri dengan wajah tenangnya. Ia menghampiri menantunya itu, menepuk bahu Reihan pelan.
“Reihan,” suara papa terdengar tegas namun tenang, “kamu sekarang sudah jadi sah suami Alya. Kewajiban papa juga sudah berpindah ke kamu. Papa titip anak perempuan papa satu-satunya ya. Jaga dia baik-baik. Kalau ada masalah, selesaikan dengan kepala dingin.”
Reihan menunduk sopan. “Iya, Pa.”
Papa menatap lebih dalam, seolah ingin memastikan ucapannya benar-benar dipahami.
“Dan ingat, Nak… kalau suatu hari nanti kamu merasa sudah tidak cinta lagi sama Alya, jangan biarkan dia menderita. Pulangkan dia ke rumah ini. Keluarga selalu jadi tempatnya kembal"
Hening sejenak. Kata-kata itu membuat dadaku semakin sesak, sekaligus membuat mataku panas lagi. Aku menatap papa dengan berkaca-kaca, merasa begitu dilindungi.
Reihan menghela napas tipis, lalu mengangguk mantap. “Saya mengerti, Pa. Saya janji akan menjaga Alya dengan baik.”
Papa tersenyum tipis, menepuk bahunya sekali lagi. “Papa percaya sama kamu.”
Reihan hanya mengangguk, meski ada sesuatu yang bergetar tipis di dalam dadanya. Nasehat itu sederhana, tapi terasa begitu dalam. Kalau tidak cinta lagi, pulangkan Alya. Kata-kata itu seolah menancap di kepalanya, membuatnya berpikir sejenak.
"Kalo begitu kami pamit dulu yah pah, mah" ucap Reihan seraya menyalin kedua mertuanya itu
" Jagain Kaka gua ya bang" ucap Devan
"Pasti "
Tanpa banyak kata, Reihan kembali menggenggam koper kecil Alya. “Yuk,” ucapnya singkat, suaranya terdengar lebih berat dari biasanya.
Aku mengangguk, mengikuti langkahnya. Air mata masih belum sepenuhnya kering, tapi aku berusaha tersenyum pada mama, papa, dan Devan yang berdiri melambaikan tangan.
.
.
.
Perjalanan menuju rumah Reihan dipenuhi keheningan. Sesekali aku mencuri pandang ke arahnya, tapi ia terlalu fokus menyetir. Di wajahnya tidak ada ekspresi apa-apa, seolah-olah nasehat papa tadi tidak berpengaruh sama sekali.