Audrey mengira hari pernikahan yang ada di depan matanya saat ini akan membawa kebahagiaan. Menikah dengan kekasih yang begitu dicintainya adalah mimpinya sejak dulu. Namun, dalam sekejap mata, hari yang dinanti adalah hari yang begitu menyakitkan baginya. Dimana dia harus menerima kenyataan jika kekasihnya malah memilih bersanding dengan Kakak tirinya. Hatinya rapuh, disaksikan gaun pengantin yang melekat indah di tubuhnya. Seorang Kakak yang ia sayang dengan tega mengkhianatinya tanpa perasaan.
Bagaimana kisah Audrey selanjutnya? Akankah wanita cantik itu depresi atau malah melakukan hal yang tidak bisa di bayangkan. Baca yuk!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mhaya Yanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
GTJ 10
"Apa memang harus seperti ini?" gumam Audrey ketika ia memilih pasrah kala Jason terus saja mencumbui di atas tubuhnya. Berkali-kali ia terpejam dan mengeluarkan suara erotis yang langsung saja membuatnya membekap bibirnya sendiri.
"Bagiamana, Sayang?" tanya Jason menghentikan aktivitasnya. Tatapannya terarah pada Audrey yang terdapat gurat kekecewaannya disana. Yah, wajah Audrey sudah seperti memelas setelah Jason malah menghentikan aktivitas panasnya. "Kenapa diam?" tanyanya lagi ketika Audrey tidak bersuara. Wajah Jason dibuat bingung, akan tetapi di dalam hati ia tersenyum karena Audrey terlihat menikmati aksinya walaupun wanita itu tak berucap.
Audrey memalingkan wajahnya ke arah lain, berusaha menutupi wajahnya yang memerah bak kepiting rebus. Tentu saja ia malu ditatap seperti itu oleh Jason, terlebih ia sadar sedari tadi ia mendesah kenikmatan tanpa ia sadari. "Aku tidak tau!" sahutnya cepat, ia berusaha menggapai selimut untuk menutupi tubuh polosnya.
Namun, belum sempat tangannya memegang selimut tebalnya. Tangan Jason lebih dulu mencekal pergelangan Audrey, bahkan tak segan-segan Jason mengecup tangan itu dari telapak tangan hingga bahu wanitanya. "Permainan kita belum selesai, Sayang!" timpal Jason tersenyum tipis sembari menatap Audrey. "Apa kamu tidak melihatnya?" lanjutnya sembari melihat ke bawah yang diikuti oleh mata Audrey. Mata Audrey tentu saja melotot dibuatnya ketika melihat benda tegak berdiri dan menantang di antara paha Jason.
"Sebesar itu," gumam Audrey tanpa sadar, suara lirihnya tertangkap basah oleh Jason yang tersenyum kecil disana.
"Kamu tidak mau memegangnya, berkenalan dulu sebelum kita bermain lagi!" tukas Jason menuntun tangan Audrey untuk menyentuh asetnya.
Audrey menahan tangannya ketika hampir saja menyentuh benda keramat milik Jason. Kepalanya menggeleng berusaha menolak kemauan Jason. Akan tetapi, bukan Jason namanya jika ia menurut saja dengan apa yang dilakukan Audrey. Yah, meskipun Audrey menolak ketika tangannya ia tarik. Namun, Audrey tidak bisa menolak kala Jason memilih untuk menenggelamkan kepemilikannya di dalam liang Audrey. Tentu saja hal itu membuat Audrey terpekik sempurna, tanpa permisi, Jason membuat tubuh Audrey menegang pada detik itu juga.
"Sakitt..." desis Audrey mencengkram sprei putih yang juga menjadi saksi.
Mendengar suara kesakitan dari bibir Audrey, pria itu terdiam tak meneruskan perjalanan gairahnya. Tubuhnya yang duduk dan terfokuskan pada satu titik, kini kembali mengusung tubuh Audrey.
Tak lupa kedua tangannya menangkup dua sisi wajah Audrey dengan penuh kehangatan. "Pegang punggung ku, jika sakit kamu bisa mencakarnya," titah Jason setelah mengecup singkat dahi dan turun ke mata Audrey yang sudah berair.
"Tapi ak..."
"Percayalah padaku, aku akan melakukannya secara perlahan." Jason berusaha memberi keyakinan dan ketenangan untuk Audrey. Jika tidak, pastinya ia akan terbawa mimpi ketika pusakanya tidak mendapatkan jatahnya malam ini.
Dengan gerakan pelan, Audrey menganggukkan kepalanya dengan pasti. Meskipun dalam benaknya ia masih ragu hanya karena perlakuan Jason di luar dugaan nya, akan tetapi ia teringat akan janjinya. Entahlah, ia takut jika nanti Jason mengecapnya sebagai seseorang yang ingkar janji ketika Audrey tak memberikan sesuatu yang dijaganya selama ini.
"Akhh..." pekik Audrey lagi ketika Jason kembali menghentakkan miliknya. Rasa sakit, perih dan ngilu semuanya menjadi satu di satu tempat. Bahkan, tanpa sadar air matanya mengalir begitu derasnya kala rasa sakit itu semakin kuat dirasa.
Berbeda dengan Jason, meskipun punggungnya perih perihal cakaran yang diberikan Audrey. Namun, bibirnya menampakkan senyuman penuh kebahagiaan. Apalagi ketika pria itu melihat darah segar keluar dari sela kepemilikannya. Rasa bangga yang tiada tandingannya begitu mendominasi wajah tampan dan dewasa itu. "Kamu sekarang milikku, Rey!" batinnya sembari memacu kepemilikannya dengan pelan-pelan tapi pasti.
Bersambung...