Cinta yang sempurna adalah saat aku berhasil merengkuh mu masuk ke dalam hidupku ❤️
Qisya Anastasya
Dia adalah seorang Gadis cantik berusia 18 tahun yang baru lulus dari sekolah. Ayahnya telah meninggal dunia karena serangan jantung setahun yang lalu bertepatan dengan hari ulang tahunnya.
Hari yang harusnya menjadi momen terbaiknya berubah menjadi hari paling menyedihkan baginya. Karena harus menerima kenyataan pahit yang mau tidak mau harus diterimanya, sedangkan ibu kandungnya entah dimana rimbanya, karena ayahnya tidak pernah menceritakan yang sebenarnya kepadanya tentang alasan apa yang membuat ibunya meninggalkannya semenjak dia kecil.
Tidak sampai disitu kepedihan yang harus dirasakannya, setelah ayah kandungnya meninggal, Qisya harus tinggal dengan adik dari ayahnya yang bernama Martha Arifin beserta suami dan anak perempuannya. Dan ia selalu mendapat perlakuan buruk karena bibinya selalu menganggapnya sebagai benalu yang selalu menyusahkan keluarga mereka.
Qisya selalu bersabar meski setiap hari mendapat cacian dan hinaan dari bibinya karena dia sudah bertekad untuk langsung mencari pekerjaan setelah lulus dari sekolah sehingga bisa cepat keluar dari rumah bibinya. Suatu hari saat hari kelulusan yang sangat dinantikannya itu, mendadak berubah menjadi hari paling mengerikan baginya. Karena tanpa sepengetahuannya, bibinya mengorbankannya dengan menjualnya diam-diam untuk menyelamatkan sepupunya yang mengidap penyakit mematikan leukimia yang tentu saja membutuhkan biaya yang sangat besar untuk operasi dan perawatan.
Menghadapi kenyataan pahit yang harus di hadapinya, membuat Qisya tidak mau menyerah. Karena dia berencana akan melarikan diri dari tempat yang dianggapnya neraka tersebut yang tidak lain adalah sebuah Bar terbesar di Jakarta yang bernama Dragon Night. Dan saat dirinya berhasil melarikan diri dari tempat yang dianggapnya Neraka, tanpa sengaja Qisya bertemu dengan seorang pria bernama Abymana Wijaya Raharja yang telah menyelamatkan hidupnya dengan menebusnya dari tempat prostitusi tersebut. Dan semua itu berhasil mengubah jalan hidupnya untuk selalu berada di samping pria yang telah menyelamatkannya itu.
Abymana Wijaya Raharja
Dia adalah seorang pria tampan berhati dingin, dengan tubuh sixpack dan tinggi 180 cm berkulit putih yang merupakan pewaris utama dari sebuah perusahaan ternama di Jakarta yang tentu saja merupakan tipe pria idaman bagi setiap wanita. Banyak wanita tergila-gila dan rela menyerahkan tubuhnya meski hanya akan dijadikannya one night stand olehnya. Namun cinta Abymana hanya ditujukan pada seorang wanita yang sudah lama menjalin hubungan dengannya semenjak kuliah, yang bernama Sandra Amelia. Dan status keduanya kini telah bertunangan. Namun, sang kekasih yang harus meneruskan studynya di bidang desaigner di Amerika membuat keduanya harus mengalami Long Distance Relationship.
Pertemuan tidak sengaja antara dirinya dengan Qisya yang yang berawal dari balas budi, berakhir dengan perasaan yang membuatnya tidak ingin melepaskan sosok gadis muda yang telah membuatnya jatuh cinta dan tergila-gila dengan pesona gadis itu. Sehingga membuatnya terlalu berlebihan pada setiap hal yang berhubungan dengan Qisya. Dengan dalih balas budi, Abymana berusaha mengikat Qisya agar selalu berada di sisinya dan berjanji tidak akan pernah melepaskannya.
Dari sini kisah akan di mulai,selamat membaca😉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dianning, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ingin marah tapi tidak mampu
Saat ini Abymana dan Qisya sudah duduk berdampingan di sofa empuk pada sebuah ruangan VIP yang ada di Dragon Night Club', sedangkan Affandi dan asisten Zaki duduk di depannya yang hanya terhalang meja kaca panjang yang di atasnya sudah dipenuhi beberapa botol minuman.
"Sudah lama sekali kita tidak bertemu, Bro? Kamu sama sekali tidak berubah, masih sama seperti dulu. Masih tetap tampan, hanya bentuk tubuhmu saja yang sekarang sedikit berubah karena lebih berisi."
Affandi mengamati penampilan Abymana, lalu mengalihkan pandangannya pada gadis yang duduk di sebelah sahabatnya itu.
'Ternyata gadis ini lebih cantik dari foto yang pernah aku lihat beberapa hari yang lalu. Tapi kenapa dia memakai seragam itu? Sayang sekali aku tidak jadi memiliki gadis ini, kalau bukan Abymana yang menginginkannya, mungkin aku bisa merebutnya.'
'Aku tidak sebanding dengan sahabatku ini, tentu saja gadis ini akan lebih memilih bersama Abymana daripada bersamaku. Meski aku sering bermain-main dengan wanita, tapi wanita yang aku suka selalu menyukai Abymana. Kenapa dari dulu aku selalu kalah satu langkah dari Abymana soal wanita. Sial!" Jerit batin Affandi.
Affandi merasa sangat kecewa karena gagal mendapatkan gadis yang sudah mencuri perhatiannya itu. Namun, tidak mampu berbuat apa-apa, karena menyadari posisinya masih kalah jauh dari sahabat lamanya itu.
"Tentu saja Fan, aku harus membentuk tubuhku, agar wanitaku semakin tergila-gila padaku!"
Setelah mengatakan kalimat yang ambigu, Abymana menatap gadis yang ada di sebelahnya, lalu tangannya menunjuk botol wine yang berada tak jauh dari tempat duduknya.
'Jadi ini yang harus kulakukan, melayani Om ini dengan sebaik mungkin dengan cara mematuhi semua perintahnya termasuk menuangkan minuman seperti ini. Padahal saat ini dia sendiri bisa langsung mengambil minumannya sendiri.'
'Tapi dia sudah menebusku 200 juta, tentu saja dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk menyuruh-nyuruhku. Semangat Qisya, ini lebih baik, daripada kamu harus menjual tubuhmu. Baiklah, anggap saja aku sedang bekerja menjadi pembantu Om tampan ini, semoga dia puas dengan pelayananku, lalu cepat melepaskanku.' Gumam Qisya.
Setelah puas berargumen sendiri di dalam hatinya, Qisya buru-buru menuangkan sedikit wine ke dalam gelas dan menyerahkannya kepada pria di sebelahnya. Seperti drama Korea yang selalu ditontonnya, Qisya menuangkan wine sedikit dengan sangat hati-hati agar tidak sampai tumpah karena kecerobohannya.
"Ini Om," ucap Qisya dan menyerahkan gelas berisi anggur merah kepada Abymana.
Abymana lalu menerima gelas itu dan mulai meneguknya sedikit, lalu kembali memberikannya pada gadis di sebelahnya.
Qisya menerima gelas itu, lalu meletakkannya kembali di atas meja. Pandangan matanya kini fokus mengamati gelas yang ada di atas meja.
Padahal aku hanya menuangnya sedikit saja, tapi tidak dihabiskannya. Minuman ini rasanya kayak apa ya? Dari warnanya saja sudah sangat menggoda, wine ini pasti sangat mahal harganya. Apa Om ini akan membiarkanku mencobanya sedikit. Tapi apa pantas seorang pelayan sepertiku mencoba minuman mahal ini?
"Kamu masih di bawah umur gadis kecil, jadi jangan coba-coba berpikir untuk mencobanya!"
Dengan seringai jahatnya, Abymana tersenyum pada Qisya yang langsung mengerjapkan kedua matanya.
"Aku tahu apa yang sedang kamu pikirkan, jadi tidak perlu bingung begitu. Tugasmu hanya mematuhi apa yang aku perintahkan, jadi jangan melakukan apapun tanpa perintahku, mengerti!"
"Me-mengerti Om! Om tenang saja, saya tidak akan melupakan itu!"
Meski merasa sangat malu karena pria itu bisa membaca isi pikirannya, namun Qisya berusaha menutupinya dengan menjawab pertanyaan pria itu dengan lantang.
Bunyi ketukan pintu mengalihkan pandangan ketiganya dan memperhatikan Hans yang kini tengah berjalan sambil membawa satu paper bag dan sebuah tas sekolah memasuki ruangan tersebut.
"Ini pesanan Anda Tuan muda. Dan ini adalah tas milik Nona ini, dirinya hanya membawa tas ini saat keluar dari rumah sore tadi!" Hans meletakkan paper bag dan tas sekolah Qisya di atas meja.
Yah ... sebelum masuk ke dalam ruangan VIP itu, Asisten Zaki meminta Hans menyediakan baju ganti untuk Qisya. Karena tuan mudanya tidak suka melihat seragam yang saat ini dikenakan oleh gadis itu.
"Kalau begitu saya permisi Tuan."
Hans berlalu pergi meninggalkan ruangan setelah membungkuk hormat pada Abymana dan Affandi yang merupakan pelanggan nomor satu di Dragon Night Club'.
Qisya langsung berbinar saat melihat tas sekolahnya, karena di dalamnya ada barang berharganya, yaitu ponselnya. Hal pertama yang dipikirkannya adalah menghubungi Azriel kekasihnya. Tangan kanan Qisya langsung terulur ke meja, berniat mengambil tasnya, namun tangannya disentil kuat oleh pria yang dipanggilnya Om itu.
"Auuuw ... Om apa-apaan sih! Sakit tahu nggak, keras banget sih tangannya! Itu kan tas saya Om, jadi saya mau mengambil barang saya. Apa itu salah?"
Qisya bersungut-sungut sambil mengerucutkan bibirnya dan merasa kesal dengan ulah pria itu yang menyentil tangannya.
Aku udah nggak sabar ingin menghubungi Azriel, dia pasti dari tadi menghubungiku. Jangan sampai dia datang ke rumah Tante, karena khawatir aku tidak mengangkat panggilannya itu, bisa runyam nanti semuanya bila Azriel mengetahui aku telah dijual oleh Tante.
"Mulai sekarang, kamu tidak berhak atas dirimu! Apalagi barang-barang tidak pentingmu itu, karena mulai hari ini semua yang ada pada dirimu adalah milikku. Camkan itu baik-baik gadis kecil, aku sudah mengeluarkan uang 200 juta untuk menebusmu dari tempat ini. Jadi kamu sudah tidak boleh berbuat apapun tanpa seijin dariku, apa kamu mengerti?"
"Sekarang cepat kamu ambil paper bag itu, di dalamnya ada baju ganti untukmu! Apa kamu ingin memakai seragam norak itu seharian? Jangan buat aku malu, jadi cepat ganti bajumu!"
Abymana mengeraskan nada suaranya hingga Qisya berjenggit kaget. Tidak sampai disitu, dia pun menatap tajam netra bening gadis yang sudah gemetar ketakutan itu hingga membuatnya langsung mengangguk patuh kepadanya.
Qisya buru-buru bangkit dari sofa dan berjalan keluar ruangan, namun asisten Zaki menahannya.
"Anda bisa berganti pakaian di dalam sana Nona, ruangan ini adalah ruangan VIP dan dilengkapi sebuah kamar dan juga kamar mandi. Jadi Nona tidak perlu keluar dari ruangan ini hanya untuk berganti pakaian!"
Asisten Zaki menunjuk sebuah pintu yang berada disebelah kanan tempat duduknya.
Qisya yang merasa sangat malu karena ketidaktahuannya, membuat permukaan kulit wajahnya mulai merona. Dengan kikuk dia pun berjalan ke arah yang ditunjukkan oleh asisten Zaki setelah sebelumnya menjawab perkataan asisten itu.
"Terima kasih Asisten Zaki!"
Qisya pun mulai menghilang dibalik pintu, dan seketika Abymana langsung terbahak, sehingga suara tawanya kini memenuhi ruangan kedap suara tersebut.
"Semua tingkah gadis kecil itu memang sangat lucu. Hari ini aku seperti sedang melihat sebuah hiburan yang bisa mengocok perutku. Bagaimana menurutmu Fan, bukankah dia sangat lucu?"
Abymana beralih menatap sahabatnya yang dari tadi asyik memandang pintu kamar yang dimasuki Qisya.
Mendengar pertanyaan Abymana, Affandi langsung mengalihkan pandangannya pada sahabatnya itu.
"Apa yang akan kamu lakukan terhadap gadis polos itu, Bro? Apa kau akan menikahinya, atau kau hanya akan bersenang-senang dengannya? Aku tidak tahu apa yang terjadi diantara kalian, tapi aku sangat berharap kau tidak akan menyakiti gadis se-polos dia!"
Abymana mengernyitkan kedua alisnya mendengar kata-kata sahabatnya yang terkesan menyukai gadis yang telah ditebusnya itu.
"Kata-katamu menunjukkan bahwa kau saat ini seperti sedang menyukai gadis kecil itu. Jangan bilang kau saat ini menyukainya, karena dia sekarang ini terikat denganku. Entah apa yang akan aku lakukan kepadanya, kau tidak perlu tahu. Yang perlu kau ketahui adalah disini aku dan gadis kecil itu sama-sama saling diuntungkan. Lebih baik kau cari gadis lain saja, karena bukankah itu adalah hobimu yang dari dulu suka mempermainkan perempuan?"
Entah itu pujian atau ejekan, namun Affandi langsung terkekeh dengan perkataan sahabatnya itu.
"Kau memang lebih segalanya dariku Bro, tapi kau kalah jauh dariku soal perempuan. Kenapa kau tidak memanfaatkan ketampanan dan kekuasaanmu untuk mengencani banyak wanita?"
"Aku dengar kabar, kau telah bertunangan dengan seorang wanita cantik. Lalu kenapa kau sekarang berurusan dengan gadis polos itu? Atau kau sekarang ingin mengikuti jejakku dan bermain-main dengan para wanita?"
"Ciih ... aku bukan penjahat kelamin sepertimu Fan! Aku tidak perlu menjelaskannya padamu, lebih baik kau ceritakan padaku kemana saja Kau selama ini. Setelah lulus SMA, kau menghilang tanpa kabar, ada yang bilang kau pindah ke Amerika bersama Ayahmu. Apa itu benar?" Abymana kembali meraih gelas winenya dan sedikit meneguknya.
Sedangkan Affandi memilih mengambil minuman whisky dan mencampurkannya dengan es batu dan mulai meneguknya, rasa panas langsung menjalar di tenggorokannya.
Setelah puas menikmati minumannya, Affandi mulai menatap sahabatnya yang kini tengah duduk bersandar sambil menyilangkan kakinya.
"Ceritanya panjang Bro, tapi intinya aku memang baru 2 minggu ini berada di sini. Karena satu bulan setelah aku lulus SMA, Ayahku membawaku ke Amerika, karena tidak ingin aku bertemu dengan Ibuku. Kamu tahu sendiri kan bagaimana hubungan kedua orang tuaku, mereka akhirnya bercerai saat aku baru lulus SMA."
"Ibuku yang berselingkuh, membuat Ayahku sangat membencinya dan tidak mengijinkanku untuk menemui wanita itu. Yah ... seperti yang kamu lihat, sekarang aku bukan lagi laki-laki labil yang selalu berkeluh kesah mengeluh tentang nasib yang aku alami."
"Aku sudah lelah dengan kehidupanku yang selalu mempermainkan wanita, aku melakukan itu semata-mata karena aku menganggap semua wanita murahan sama seperti wanita "itu"!
"Tapi saat aku pertama kali balik ke tanah air, aku langsung datang ke Club' ini dengan tujuan ingin bersenang-senang dengan para wanita. Namun, tidak disangka aku menemukan selembar foto gadis kecil itu yang menurut cerita Hans dia telah dijual oleh Tantenya sendiri untuk biaya pengobatan putri kandungnya."
"Dan saat mendengar cerita Hans, aku tersadar bahwa tidak semua wanita itu murahan seperti Ibu kandungku. Jadi, aku bertekad untuk menolong gadis itu dengan membelinya, lalu berencana menikahinya."
"Mungkin nanti setelah urusanmu selesai dengan gadis itu, kamu bisa memberikannya padaku. Aku percaya dan sangat yakin kamu tidak akan berbuat jahat padanya. Entah apa yang saat ini kau rencanakan, tapi aku berharap bisa menikahi gadis itu. Dan kau sendiri, bukankah kau akan menikahi tunanganmu itu? Memangnya seperti apa tunanganmu itu? Apa dia lebih cantik dari gadis polos ini?"
Affandi masih memandang serius sahabatnya dan menunggu jawaban dari sahabatnya itu yang saat ini duduk dengan gelisah.
Mendengar pernyataan sahabatnya, air muka Abymana langsung berubah. Entah mengapa perasaannya mulai tidak nyaman dengan yang dikatakan Affandi, seolah dirinya merasa tidak rela bila harus menyerahkan gadis sepolos Qisya kepada laki-laki penjahat kelamin itu.
'Ada apa denganku? Kenapa aku tidak suka saat Affandi bilang akan menikahi Qisya? Bukankah setelah urusanku dengan Qisya selesai, maka aku akan melepaskannya?'
'Lalu kenapa aku saat ini merasa marah dan tidak terima ada laki-laki yang menyukai gadis kecil ini? Tidak ... tidak ... aku akan segera menikahi Sandra, setelah aku berhasil membuatnya kembali kesini lagi! Yah ... mungkin aku hanya merasa kasihan saja dengan gadis kecil itu bila dia menikahi pria bekas seperti Affandi.' Batin Abymana.
Abymana menelan salivanya, suaranya seolah tercekat di tenggorokannya saat ingin mengeluarkan kata-kata yang bertolak belakang dengan hatinya.
"Baiklah Fan, Kau bisa memilikinya setelah urusanku dengan gadis kecil ini selesai. Tapi selama aku belum selesai dengannya, Kau sama sekali tidak boleh mengganggunya. Karena aku akan menyita ponselnya dan tidak akan mengijinkannya berhubungan dengan siapapun selain diriku. Dan perlu kau tahu, sepertinya kau tidak akan mudah mendapatkannya, karena saat ini dia mempunyai seorang pacar!"
Abymana tersenyum datar dan merasa menang karena sudah mengatakan kenyataan bahwa Qisya saat ini sedang mempunyai hubungan spesial dengan teman sekolahnya, berharap sahabatnya itu mau berhenti mengejar gadis itu. Namun, tanggapan dari sahabatnya itu malah semakin membuat emosi di dalam hatinya meluap-luap.
"Tidak ada satu perempuan yang akan menolakku, karena mereka akan jatuh dalam pesonaku hanya dengan satu kedipan mata saja. Asalkan sainganku bukanlah seorang tuan muda dari Raharja Group, maka tidak ada yang akan mengalahkanku."
Affandi tersenyum penuh kemenangan, lalu mengedipkan matanya pada sahabatnya itu.
Sedangkan perasaan Abymana semakin tak menentu. Meski ingin marah, namun dirinya tidak bisa menunjukkannya di depan sahabatnya itu, karena tidak ingin harga dirinya turun di mata sahabatnya.
Bersambung...
DAN LAGI2 LO LANGGAR JANJI LO UNTUK BAHAGIAKN QISYA..