Di hari anniversary mereka yang ketiga tahun, Grizla ingin menaikkan jabatan suaminya dari Manager menjadi CFO dalam diam.
Tapi malam itu, ia terpaksa mengurung niatnya karena ibu dan adiknya ikut campur di hari perayaan anniversary mereka.
Dan lebih menyakitkan lagi, mertuanya itu membawa wanita asing bersama mereka yang membuat ia tidak nyaman dan membuat ia ragu harus menyerah posisi itu.
Lama kelamaan, suaminya mulai bersikap dingin, tidak ada keharmonisan ruma tangga yang ia dambakan. Akhirnya suaminya selingkuh dengan wanita tersebut yang ternyata satu kantor dengannya, alasan selingkuhnya adalah ia menginginkan seorang anak.
Plot twist-nya adalah, perusahaan itu miliknya, yang mengangkat suaminya sebagai manager adalah dirinya melalui orang Kepercayaan yang menjadi CEO sementara di perusahaan G' Jaya.
"Hari ini buka matamu lebar-lebar, siapa yang telah mengangkat derajatmu!" - Grizla
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17
Di lantai bawah. Antonio melangkah masuk ke ruangannya dengan gaya santai yang sudah menjadi ciri khasnya. Ia melempar jasnya ke sandaran kursi, lalu menekan tombol interkom di mejanya.
"Boni, ke ruanganku sekarang. Bawa draf proyek pengembangan kawasan komersial yang baru. Kita harus merevisinya sebelum rapat direksi minggu depan," perintah Antonio dengan nada menuntut.
Tak lama, Boni masuk. Namun Boni tidak membawa draf yang diminta, asistennya itu yang terkenal dengan sikap tenang dan metodisnya itu datang dengan tangan kosong. Ia berdiri tegak di depan meja Antonio, ekspresi datar.
Antonio mengerutkan kening. "Mana drafnya? Jangan bilang kau belum menyiapkannya. Aku kan sudah minta dari dua hari yang lalu."
Boni menarik napas pendek sebelum menjawab, suaranya tetap terkendali. "Maaf, Tuan Antonio. Saya tidak bisa memberikan draf tersebut kepada Anda."
"Apa maksudmu tidak bisa?" Nada suara Antonio mulai meninggi, merasa otoritasnya ditantang. "Aku atasanmu! Berikan draf itu padaku!"
"Ini bukan soal saya menentang Anda, Tuan," Boni merogoh saku dalam jasnya, mengeluarkan sebuah surat resmi berstempel dari lantai eksekutif.
Ia meletakkannya dengan hati-hati di atas meja Antonio. "Ini tentang instruksi langsung dari buk Siska dan Nyonya G."
Mata Antonio memicing tajam saat ia menyambar surat tersebut. Ia membaca baris demi baris, Wajahnya berubah merah padam menahan amarah yang meledak.
"Apa-apaan ini?!" bentak Antonio, membanting surat itu kembali ke meja hingga menimbulkan suara keras. "Dia mengalihkan wewenang proyek ini langsung padamu? Sebagai Pimpinan Proyek? Tanpa persetujuanku?!"
"Surat itu ditandatangani langsung oleh Nyonya G dan diserahkan kepada saya melalui Nona Siska barusan, Tuan. Sesuai dengan instruksi, saya yang bertanggung jawab penuh atas proyek ini sejak detik dokumen itu disahkan," jawab Boni, tetap menjaga profesionalismenya meski tahu bosnya sedang murka.
Antonio bangkit dari kursinya, mengebrak meja dengan kedua tangannya. "Dia pikir dia siapa bisa memutuskan hal ini tanpa melibatkanku?! Ini proyekku! Ini divisiku!"
"Secara struktural, Nyonya G adalah Presiden Direktur, Tuan. Keputusannya adalah mutlak," ujar Boni, yang meskipun jabatannya lebih rendah, mulai menunjukkan ketegasannya. "Jika Anda memiliki keberatan, Nona Siska menyarankan agar Anda langsung menemui Nyonya G di ruangannya. Namun, sementara itu, saya harus kembali bekerja. Ada banyak persiapan yang harus saya lakukan untuk proyek ini."
Tanpa menunggu persetujuan Antonio, Boni membungkuk sedikit dan berbalik keluar ruangan, meninggalkan mantan atasannya itu dalam keadaan mendidih.
Antonio menendang kursi kerjanya hingga terpelanting ke dinding. "Sialan!" umpatnya kasar. Ia mondar-mandir di ruangannya seperti singa yang terkurung.
"Nyonya G? Siapa dia?... apa yang sedang mereka rencanakan?" desisnya, mencoba memutar otak.
Selama ini, Siska tidak pernah ikut campur urusan internal divisinya. Wanita itu selalu diam, selalu membiarkan Antonio memegang kendali.
Tapi sekarang? Ini bukan sekadar keputusan bisnis. Ini adalah serangan pribadi.
Dan sekarang muncul lagi yang namanya Nyonya G, padahal selama ini perusahaan di pegang oleh Siska, ia tak menduga jika ada orang lain di balik layar.
Ia merapikan dasinya, menyambar kembali jas yang tadi dilemparnya, dan melangkah keluar ruangan dengan langkah lebar. Tujuannya hanya satu: lantai teratas. Ruang kerja Grizla.
Sementara itu, di lantai eksekutif, Grizla sedang menyesap kopinya sambil melihat layar tablet. Pintu ruangannya diketuk, dan Siska masuk dengan tergesa.
"Nyonya," lapor Siska, "Tuan Antonio sedang dalam perjalanan ke atas. Pihak keamanan mengabarkan dia terlihat sangat marah."
Grizla tidak terlihat terkejut sama sekali. Ia meletakkan cangkir kopinya dengan anggun dan tersenyum, sebuah senyum yang jauh dari kata hangat.
"Biarkan saja dia naik, Siska. Jangan dihalangi," kata Grizla pelan. "Aku sudah menyiapkan panggungnya. Sekarang, biarkan sang badut datang untuk menghiburku."
kuy.. yg banyak geh ...😭
yg banyak lagi to Les... nanggung bacanya..
tak kasih kopi nih.. biar terang kontestrasinya... 😂😂🤭
yg semangat upnya, tak kirim kopi..💪
jgn kelamaan grizla yg disiksa di rumah hantu itu..