Semenjak mama dan kakek meninggal, hidup Ryuna seperti kereta api tanpa rel. Memiliki papa, namun dia tak pernah mencintai mamanya dan menginginkan dirinya. Bagi papanya, hidup dengan mamanya itu hanya sebuah kecelakaan dan paksaan.
Memiliki kepribadian introvert dan pendiam. Ryuna sering kali di-bully dan dipandang remeh oleh teman-teman satu sekolahnya.
Hidup Ryuna terasa komplit.
Ya, komplit untuk semua luka dan derita.
Tapi, sikap lembut Barry padanya membuat Ryuna sering kali marah dan tak membutuhkan belas kasihannya.
Barry menegaskan bahwa dia benar-benar mencintainya. Tapi, semua lelaki di mata Ryuna sama saja. Mereka hanya sosok pria kasar yang berhati dingin.
Apakah Barry juga bersikap dingin seperti papanya suatu hari nanti? Apakah mungkin cinta yang dilontarkan Barry itu tidak semata-mata hanya untuk menjebak lalu mempermalukannya di depan semua orang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kei68, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 10. Pembalasan
Tidak seperti biasanya Ryuna terlihat lesu dan murung, dia menopang dagunya seraya memiringkan kepalanya memandang ke dinding kelas. Viona sempat heran, apakah gerangan Ryuna yang sudah seperti kertas basah. Lembek.
"Ryuna, mau ke kantin nggak? Ayo, nanti keburu penuh.”
"Gue nggak ikut Na, pergi aja.”
"Lo kenapa, Ryuna? Lo lagi ada masalah ya sama Barr..."
"Jangan sebut nama dia lagi.”
"Ya, udah kalau gitu. Ryuna, Yuk lah, kantin." Viona bersikeras untuk membawa gadis itu ke kantin.
"Pergi aja sendiri," jawab Ryuna. Dia mengibaskan tangannya, seperti hendak mengusirnya.
"Ya udah deh, gue pergi dulu. Jangan takut sendirian di kelas ya." Peringatnya penuh misteri. Viona membisikkan suara dedemit dengan pelan, memang jadi merinding mendengarnya. Tapi, Ryuna langsung menyangkalnya.
"Gue nggak takut, udah sana. Pergi! Jangan bikin gue mau lempar lo dengan sepatu cantik ini," Ryuna menggerakkan kaki kirinya, mengode kalau dia akan mengambil sepatunya dan bersiap-siap melayangkannya ke muka Viona.
Viona jadi merinding, langkahnya berjalan meninggalkan kelas. Kini tinggallah Ryuna sendiri di kelas, kepalanya kembali diletakkannya di atas meja menatap luar jendela nan terang.
Birunya langit tertutup oleh awan seputih salju. Tak lama setelah itu, derap langkah seseorang terdengar mendekat dari ambang pintu. Ryuna mengira itu adalah Viona, tapi dia tak bersuara, langkahnya semakin jelas ketika bangku ditarik mendekat ke mejanya, orang itu duduk di sebelahnya.
"Ayo makan." Bariton berat itu menyadarkannya. Mata Ryuna mendelik, seperti tidak asing lagi. Ia mengangkat kepalanya untuk melihat siapa yang baru saja duduk di sebelahnya.
"Lo..."
"Aku nggak ngeliat kamu di kantin. Jadi, aku kesini. Apa kamu bimbang gara-gara aku? Atau kamu lagi sakit?" tanya Barry bertubi-tubi. Dia meletakkan roti isi di depan meja yang masih pada tempatnya, satunya lagi sudah di makan olehnya.
Ryuna terdiam merenung. Pria inilah alasan kenapa dirinya tidak pergi ke kantin, menghindar. Tapi, dia sudah berada di sini. Ia mencebik kesal. Kalau tau begini jadinya, mau aja gue langsung menggelinding ke kantin.
Sadar ditatap, Barry mengangkat kedua alisnya dengan mulut yang masih disumpal oleh roti isi. Dia mengetuk meja agar gadis itu memakan makanan pemberiannya.
"Aku beli dengan uang halal, jadi tenang aja."
Ryuna kali ini hanya menurut dan mengambil roti isi itu. Mereka sama-sama terdiam dalam mengunyah makanan di dalam mulutnya. Mata teduh milik gadis ini terus memandang Barry dalam diam, klandestin pikirannya berputar-putar berteriak sesuatu di dalam hatinya. Mulut bisa saja berdusta tapi hatinya tidak, kehadirannya mampu membuat dirinya bungkam.
Suka. Suka. Suka. Suka.
Kata-kata itu terus memboyong pikirannya, Ryuna tak lagi menatap Barry dan hanya membuang muka ke luar jendela dengan tatapan kosong. Meski begitu, pikirannya sekarang sedang berperang melawan kata suka itu, jadi menggantikannya dengan menjadi benci.
Benci. Benci. Benci. Benci.
Sampai keesokan harinya pun jantungnya tetap juga tak bisa berkompromi dengan pikirannya saat ini. Ryuna berwajah datar bisa suka kepada seorang pria? Perlu diabadikan karena selama ini dia selalu berhati besi, tak bisa dikendalikan oleh siapa pun. Dalam waktu dua minggu, dia sudah bisa menyukai pria itu.
"Itu bukan masalah besar Ryuna, ya udah biarin aja. Gak usah terlalu peduli kalau memang lo memang gak mau sama dia."
Viona mengibaskan tangannya memberi ketenangan pada sahabatnya. Akhir-akhir ini Ryuna selalu saja memikirkan laki-laki itu, sekeras apa pun hatinya untuk membatasi rasa suka pada Barry, tetap saja pada hari ini tidak dapat membendung perasaan itu lagi.
"Ini semuanya gara-gara dia. Hampir tiap hari dia nemuin gue yang sebenarnya nggak ada keperluan sama sekali."
"Eh, malah salah..."
"Aw...." Ryuna terjatuh saat Shaila entah itu sengaja atau tidak menyenggolnya hingga jatuh.
"Ups... sorry."
Ryuna menatapnya tajam, sudah lelah rasanya ia berbelas kasihan pada perempuan aneh ini. Ini bukan tidak sengaja namanya, tapi sengaja.
"Ryuna, lo nggak apa-apa kan?" Viona lantas membantu Ryuna berdiri.
Di dalam hati Ryuna sudah menahan emosi ingin mendorong dan membalasnya tapi ia masih ingat identitas, membatalkan pemikiran itu karena hanya akan membuat reputasinya buruk, lagi pula di sekitar sini banyak siswa-siswi yang berlalu-lalang.
"Udah, ayo Ryuna kita pergi dari sini." Viona mengajaknya keluar dari kelas, tak ingin membuat suasana hati sahabatnya itu benar-benar hancur hanya karena permasalahan ini. Sebetulnya ia juga marah karena Shaila tak pernah membiarkan Ryuna hidup tenang.
Viona tahu betul bagaimana Ryuna, satu orang saja yang membuatnya bermasalah maka sehari penuh dia akan berubah murung.
"Lo jangan merasa kasihan sama dia Viona. Udahlah, gabung aja sama kami."
"Gue nggak butuh teman seperti kalian yang suka mem-bully orang yang nggak bersalah!" Bentak Viona pada Shaila lalu menarik pergelangan tangan Ryuna pergi ke taman.
Sesampainya di sana, Ryuna memilih duduk diam di bangku panjang, namun suasana hatinya masih memanas. Pandangannya lurus dan tajam, alis matanya masih bertaut, rahangnya mengeras, tangannya terkepal kuat, saat ini dia benar-benar seperti menahan amarah.
"Gue benar-benar kesal!" Ryuna meluapkan semua emosi dengan berteriak kesal. Pikirannya sungguh sangat kalut ketika memikirkan masalah itu lagi.
Bayangkan jika seandainya ia bisa meremuk tubuh gadis itu dan membanting keras tubuhnya hingga hancur berkeping-keping dan mengakhiri semua perdebatan serta permusuhan mereka selama ini, agar tidak ada yang mengganggunya dengan alasan apa pun lagi.
Seseorang yang tak diundang tiba-tiba muncul dari balik pilar. Viona menyadari kehadirannya, tetapi Ryuna masih larut dalam kemarahan.
"Ada yang bisa dibantu?"
Ryuna mengerucutkan bibirnya, suasana hatinya sedang panas ditambah lagi dengan suasana hatinya yang lain. Cintanya telah datang tanpa diundang, benarkah? Barry, lo tau nggak? Sekarang ini gue lagi mau makan orang.
"Gue nggak suka sama lo. Pergi sana!" Amuk Ryuna kesal ketika melihat Barry, pikirannya selalu terbawa ke sebuah perasaan itu.
Barry kelimpungan lalu beralih pandang ke Viona yang tersenyum canggung, tak tahu harus berbuat apa.
Padahal Barry tidak lagi mengungkit permasalahan itu yang emang tidak pernah berubah, Ryuna selalu aja mengungkit-ungkit masalah lama.
"Siapa yang buat Ryuna jadi begini?" Barry bertekuk lutut melihat ekspresi wajah gadis itu yang terlihat jelas sedang kesal .
"Shaila bikin Ryuna jatuh.”
"Siapa Shaila?" tanya Barry. Dia beralih menatap Viona dengan serius, membuatnya menjadi kikuk dengan tatapannya yang intens.
"Teman sekelas.”
Barry tampak berpikir lalu menoleh ke Ryuna. “Cewek yang kemarin itu?"
“Iya.”
Barry kemudian berdiri dan berjalan melewati Viona, ia teringat sesuatu yang membuatnya jadi mundur beberapa langkah, tepat di depan Viona.
"Na, tolong ajak Ryuna ke kelas, biar gue yang ngurus ini." Selepas itu Barry pergi dari sana, dengan kedua tangan yang berada di saku celananya.
"Dia mau ngapain?" Ryuna mengangkat dagu seraya menatap kepergian Barry.
"Mungkin pergi buat balas dendam ke Shaila sama teman-temannya." jawab Viona yang masih tercengang dengan suasana. "Whoah... so sweet banget sih. Lo beruntung di belain Barry.”
Viona tersenyum senang akhirnya Ryuna tidak akan sendirian lagi tahun ini meski ia sempat suka pada Barry, tapi tak apa yang penting Ryuna bahagia. Aman, masih ada Rafan.
...***...
Barry tersenyum simpul, bersembunyi di sebuah ruangan terbuka, namun gelap di sanalah ia melancarkan semuanya.
"Nanti malam jadi kan ke mal? Sekalian jalan-jalan. Gue mau beli baju dengan keluaran terbaru."
Barry yakin itu suara Shaila yang terdengar berlebihan dan berlagak suara yang dilembut-lembutkan.
Dia sama sekali nggak imut. Barry memegangi perutnya yang mendadak mual saat melihat ekspresi Shaila.
Kini ketiga para gadis berkelas itu berada di dalam toilet sedang berdandan. Berdiri di depan kaca lebar di depan mereka.
"Boleh juga tuh, gue juga mau beli lipstik, skincare, dan produk-produk terbaru impor Korea." Sambung Meta sembari menata rambut gelombangnya.
"Gue mau cari makan aja. Gue kangen banget makan keik brownies dan cake matcha miauw." Imbuh Rana dengan manja. Dia sedang mengemut-emut permen.
Kenapa mereka pada lebay ya? Barry masih setianya bersembunyi di tempat yang tidak bisa ditemukan orang.
"Ya udah yuk ke kelas,” ajaknya. Shaila mengakhiri percakapan.
Tanpa mereka sadari, air dan minyak sudah membasahi lantai pintu toilet. Di atas pintu itu sudah terisi seember tepung yang akan memutihkan seluruh tubuh mereka tanpa melakukan perawatan, ada benang transparan yang saling terikat dengan ember di ambang pintu. Mereka bekerja sama untuk memberi pelajaran pada wanita-wanita yang sok cantik itu.
"Kalian terjebak dalam perangkap, siapa suruh gangguin cewek gue." Bisiknya dengan menampilkan senyum damai.
1...
2...
3....
"Aaaaaaaa!!!!"
Barry melepas senyum lega di saat Shaila dan dua temannya berjatuhan di atas lantai marmer yang licin. Untung lantainya nggak lecet. Batinnya. Sembari meringis jijik saat bibir tebal Shaila tepat mendarat ke lantai.
"Sialan!!!" Pekiknya. Shaila dan kedua temannya itu terpeleset karena menginjak lantai licin, sekaligus ember yang ada di atas pintu toilet jatuh lantas mengguyur tubuh mereka.
"Sial! Sial! Awas ya, lo pikir kami nggak tau?! Tunggu aja, gue bakal balas perbuatan lo ini!" Shaila berteriak kesal. Tangannya terkepal kuat, api kemarahan sudah sampai ke ubun-ubun.
“Awas aja ya, tuh orang. Dia pikir kita bakal tinggal diam aja?” Metha memegang rambutnya yang telah memutih. Ia sudah tak cantik lagi, tapi sudah mirip seperti pemantik api. Mulutnya terus mengomel hingga tak sadar air liurnya beterbangan.
Rana hanya diam, tapi raut wajahnya jauh dari kata baik-baik saja. Mereka segera bangkit dari duduknya, sudah dipastikan pinggang mereka serasa mau patah.
"Ini pasti jebakannya si Ryuna."
Shaila dan Metha menoleh ke Rana yang tengah membersihkan rambutnya.
"Apa?" Ia mengepalkan tangannya. "Dasar gadis pendiam yang nggak berguna. Liat aja, gue akan balas lebih kejam lagi Ryuna, awas aja."
Sementara Barry berjalan santai melewati koridor sekolah sepi, puas melihat ekspresi wajah para gadis Medusa itu. Ia tersenyum kecil sembari bergumam dalam hati.
...***...
Pip pip pip.
"Sebagai pembalasannya, gue bakal nyatat waktu di mana mereka udah mengganggu ketenangan orang yang nggak bersalah."
Ryuna disibukkan dengan ponselnya, dua jempolnya terus mengetik di keyboard ponselnya. "Selesai." Kemudian ia menyimpan ponselnya.
Yang tadi ia lakukan untuk mencatat waktu dan tanggal di mana Shaila dengan beraninya terus mengusik kehidupannya.
Tidak tahu apa? Di sekolah ini ada CCTV di bagian-bagian tertentu, untungnya saja Ryuna hafal dengan semua tempat itu dan sebagian besar Shaila mengganggunya di tempat-tempat yang bisa di bilang umum.
Huh, benar-benar otak singkat. Tunggu tanggal mainnya Shaila, gue masih sabar bermain-main sama lo. Ryuna tersenyum puas sembari bersedekap dada lalu melangkah girang ke lorong laboratorium memang kehidupan itu tidaklah mudah untuk di jalani. Tapi, ia tahu bagaimana cara bermain-main dengan waktu. Waktu di saat ia berada di atas dan bersenang-senang.
"Yuhuu...."
"Haaa...!" Ryuna mendelik kaget saat tahu Barry muncul di balik tembok. "Mau ngapain lagi lo di sini?!"
Ryuna berusaha pergi dari sana.
Tapi coba bayangkan, bagaimana mungkin Barry bisa melepaskannya begitu saja? Tentu dengan senang hatinya dia menghalangi jalan Ryuna. "Coba bilang makasih sama aku."
"Sama-sama."
"Yang serius.”
"Kenapa gue harus bilang makasih?” Ryuna tidak akan mau menuruti permintaan lelaki itu. Memangnya dia siapa hingga ia harus mendengarkannya?
Lagi pula tidak ada yang minta untuk dibela, Barry sendiri yang berinisiatif untuk membalas mereka. Ryuna tahu itu, tapi ia hanya berpura-pura tidak tahu.
"Karena aku udah bantuin kamu buat balas dendam ke Shaila dan temannya.” ujar Barry dengan mencondongkan tubuhnya ke Ryuna.
"Gue nggak nyuruh lo buat balas dendam ke mereka, lagian gue bisa sendiri!" Tegasnya. Ryuna menatap cowok itu dengan tatapan tajam.
Barry tersenyum kecil. "Oh, ya? Jadi... gimana caranya?"
"Dengan kaki dan tangan gue ini. Jangan remehin gue yang kecil ini ya."
Barry menyentuh tangan mungil itu yang tanpa diduga Ryuna mendorongnya hingga mundur beberapa langkah, kemudian Ryuna menjauh dari pria nakal itu.
"Jangan sembarangan nyentuh gue!"
Ryuna melengos pergi.
"Aku cuma mau dengar kamu bilang makasih yang baik sama aku." Barry masih menatap gadis itu pergi dengan sombongnya.
"Sama-sama."
Kamu gak tau. Suara kamu, lekuk wajahmu gak pernah lupa setelah 8 tahun kita berpisah. Pipimu yang aku cium itu..., manis sekali. Barry jadi termangu, kenapa Ryuna terlihat seperti memang tidak pernah mengenal dirinya? Apakah mungkin dia benar-benar melupakan dirinya?
Sementara di sebuah ruang perpustakaan, Ryuna berusaha untuk fokus pada apa yang dibacanya. Duduk di salah satu meja panjang perpustakaan dan diam membaca bukunya untuk mengalihkan pikiran anehnya.
Ya, aneh. Kenapa tiba-tiba ia teringat cowok itu? Padahal ia tak terlalu memperhatikannya, apakah mungkin karena akhir-akhir ini dia sering muncul di kehidupannya? Karena itu wajah Barry terus terbayang-bayang di benaknya.
Ryuna menutup bukunya, akhirnya ia menyerah pada perasaannya. Meski ia terus berpura-pura tidak mengenal yang pada kenyataannya ia tahu. Kenapa kamu mesti menolongku lagi, Barry?
Pikirannya menjadi terbawa ke perihal masa lalu di mana dia menarik dirinya ke tepi jalan untuk menyelamatkan hidupnya. Entah datangnya dari mana. Pada saat itu Ryuna kecil berniat untuk bunuh diri, tetapi dengan cepatnya Barry kecil datang begitu cepat. Ia tahu pria itu sebenarnya.
Tapi..., setelah ibunya bercerita, baru Ryuna benar-benar yakin ternyata Barry adalah anak laki-laki itu. Setelah pertemuan yang terakhir itu, Ryuna kecil langsung pergi untuk tidak mau bertemu lagi dengan Barry. Karena dirinya, anak laki-laki itu harus kehilangan pendengarannya, kecelakaan yang seharusnya dirinya yang terluka. Bukan orang baik seperti Barry.
Kadang kala hidup membuatku letih, tapi sampai hari ini aku masih bisa berpikir positif. Kalau misal aku pergi untuk mati, siapa yang akan menjaga mama? Bahkan papa udah gak sayang lagi sama aku dan juga mama.
Terima kasih
semangat dan sukses selalu ya
jgn lupa mmapir ya 🤗😍
Numpang promote juga ya
kalau sempat ke karya ku juga ya guys... terimakasih..
SEMANGAT... JAGA KESEHATAN KALIAN...
Numpang promote juga ya
kalau sempat ke karya ku juga ya guys... terimakasih..
SEMANGAT... JAGA KESEHATAN KALIAN...
sukses iya kak untuk karyanya
jangan lupa mampir di karya pertamaku yang menceritakan tentang cowok letoy yang selalu ditolak sama cewek dalam judul THE FAILED PLAYBOY.
Terimakasih 🙏
salam damai dari keturunan raja